Who Amung Us

Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2020

Mistisme #1 Pasca Masuk Pathfinder

Aku seorang konselor yang malam ini baru saja, dan sedang, diterjang kasus luar biasa. Beberapa waktu sebelumnya, juga ada kasus berat, yang aku masih kelabakan menyikapinya. 


Konseling Konseling ini.. Bermakna memang. Namun melelahkan. 


Oke insyaallah akan kumaksimalkan waktu waktu terakhir ku di sini untuk berkontribusi. 


Namun aku tahu, tidak selamanya aku akan di sini. Terlalu melelahkan, bukannya flow, Arete, Ikigai yang aku rasakan. Rasa bersemangat, meluap-luap, rasa yakin untuk terus menekuni semua ini.... 


Meski entah kapan juga aku akan ambil keputusan seberani resign. Dalam status ini. 


Atau.... Sebentar, sebentar. Apakah semua konselor pada dasarnya juga merasakan ini? 

Merasakan kelelahan dan konsekuensi beban ini? Perlu kucari tahu ini. 


Oh aku tahu. Berarti aku perlu lebih mencermati "respon spontan diriku pasca Konseling selesai.." Terlebih dahulu. Baru aku bisa merenungkannya lebih dalam lagi. Sebelum aku mengambil keputusan yang lebih jauh lagi. 


Apakah aku begitu puas dan lega? Atau upah emosional nya jauh tidak sebanding dengan beban kerja nya? 


Tapi masalahnya aku belum pernah "menyelesaikan" Konseling ku. Karena saking masih kurangnya ilmu. Karena aku doing by learning. 


Yah, jalani saja dulu. Dan kita lihat, apa yang akan terjadi. 

Sabtu, 01 Juni 2019

Sebuah Suara

Ridla Surya Ramadlani
"Enggan Tumbang"
Foto ini diambil di serambi masjid Mujahidin, malam 22 Ramadan 1440 H. Tapi aku lupa, peristiwa dalam puisi ini terjadi pada malam keberapa. 

Aku masih ingat sekali
Isya tarawih di iktikaf tempo hari
Khusyu, syahdu
Aku larut dalam suasana haru
Terbawa suaranya yang amat merdu

Larut segala lelah
Larut segala resah
Larut segala gundah
Larut seuntai - nyaris- kesah
Indah...

Sudah lama sekali
Aku tidak salat senikmat ini
Walillahil hamd Ya Robbi,
Sampaikan terima kasih ku untuk pemilik suara ini

Nadanya mirip dengan ku
Warnanya begitu teduh, lembut, sejuk, merdu
Namun muatannya, aku yakin hafalannya banyak.
Salat kami lama, tapi nikmat.
Sempat ada satu jeda, di mana sepertinya dia terlupa,
Tapi jamaah ada yang mengingatkannya, lalu bacaannya lanjut, lebih lama.

Ya Allah, aku jadi punya satu doa baru.
Tadinya aku mau nekad doa begitu.. Tapi aku sadar siapa diriku.
Aku tersungkur dalam sujud pilu
Dan hanya sanggup lirih menyebut nama-Mu
Sungguh, tadinya aku ingin memintanya
Tapi Rabb, aku malu
Engkau pasti lebih tahu
Tak perlulah aku sok tahu.
Takutnya itu termasuk nafsu.
Salah-salah, kena dosa aku.
Istaghfiru..

Izinkan aku merangkai
Satu lagi doa teruntai

Ya Allah,
aku ingin suami yang jika bersamanya, surga-Mu menjadi lebih dekat bagi kami berdua..
Dan bagi kami sekeluarga..
Surga di dunia, surga di akhirat.

Kalau boleh kutambahkan,
Aku ingin ya Allah,
Suamiku seorang Qori', yang hafidz, yang da'i.
Yang ketika salat ku bermakmum padanya,
Aku bisa khusyu
Menghadap pada-Mu.
Yang ketika aku menyimak murojaah nya,
Aku selalu bangga,
Namun juga malu dan terpacu memperbaiki hafalan ku.
Yang jika dia bertutur dan berkisah, terhimpunlah banyak hikmah.
Yang jika dia berdakwah,
Hati manusia tergerak menuju-Mu.
Yang jika aku jadi isterinya, tenteramlah hatinya, tenteram  pula hatiku.

Rabu, 01 Mei 2019

Rindu Masa-Masa Itu


Ah, aku jadi kangen suasana kosan. Kangen TV semut nya. Kangen lorong penuh ranjau motor kalau kebelet tengah malam. Kangen jadi tukang parkir.

Kangen nyuci segunung (gombal seminggu) dan njemur di lantai atas, rebutan spot sama mbak-mbak. Kangen jungkir balik manajemen waktu pas musim air mati. Kangen ngungsi mandi ke NH.

Kangen piket ngepel, piket ngosek kamar mandi, piket buang sampah, piket imam..

 Ya Allah lama sekali aku nggak ngimami..
Ya Allah indah sekali, aku pernah jadi imam, merdu, bacaan tartil hasil (dan proses) belajar tahsin tiap Rabu malam. (Kangen surat izin takmiroh yang kutempel dengan bangga di mading kos, izin spesial untuk melanggar jam malam dalam rangka menuntut ilmu Quran. Bangga banget eh bisa keluar malam dengan izin resmi dari takmiroh 😈. Juga kangen dirosah muhadatsah setiap Jumat pagi.)

Aku di sana biasanya ngimami pakai surat yang sedang ku hafal. Bacaan nya panjang panjang, ya walaupun semua juga masih yang di juz 30 ajah.. Plus awalan Ar Rohman dan ayat tertentu Al Baqarah, Al Anfal, Ali Imron, At Taubah, Yasin, Ash Shaff, Al Mulk. Kecuali kalau pas keliatan pada capek atau buru-buru, baru pakai yang pendek2.

Ya Allah, sudah lama sekali itu. Aku nggak pernah hafalan lagi sekarang.

Rasanya senang, bisa khusyu sholat bareng teman-teman. Aku senang jadi imam, dan geerku sih kayaknya temen-temen juga seneng kalau pas aku yang jadi imam. Ah semua juga seneng, siapa pun yang jadi imam, asalkan bukan dirinya sendiri yang harus piket imam.

Kangen ketok-ketok pintu kamar temen-temen kalau mau subuh.

Kangen susah payah naikin motor buat parkir massal sementara di teras. Kalau pas udah malem tapi lorong masih dipake ngumpul sementara mata ku udah lengket.. Atau pas siang bolong tapi ujan.

Kangen susah payah mundurin motor turun dari teras, kalau pas yang ngeluarin kurang perhitungan. Udah Nanggung cuman sampai teras, madepnya malah ke dalam pulak. Haadduhh, syusyah beta pun urusan.

Kangen liat mbak2 kedatangan tamu ikhwan. Xixixixi, ngomong jauh-jauhan, mas nya di tangga, mbak nya di teras. Nggak saling lihat.

Kangen jadi juru nerima pembelian galon
😣
Ya Allah aku pernah setrong! 😥

Kangen rempong nya ngepel teras kalau pas bertepatan dengan mas-mas takmir lagi ngepel tangga NA 😨
Ya Allah itu repot sekali.. Antara mau nunggu tapi buru-buru, mau buru-buru tapi malu, takut juga keliatan auratnya.  Harus presisi atur tempat buat naruh ember nya biar nggak keliatan dari NA pas lagi meres gombal pel nya. Juga harus ati2 pas ngepel biar nggak keliatan tangan dan kaki nya dari NA. Hahahah

Kangen isya dan subuh di NA bareng Bu Kos. Bahkan kangen budhe2 yang kalau Sholat kedengaran sekali komat-kamit bacaannya, bikin salah satu mbak kos ilfil, katanya jadi nggak khusyu, terganggu lah gitu. Emang kenceng bgt yang blekuthuk blekuthuk.

Kangen kajian pagi NH. Akidah, Fiqih, tafsir, kontemporer, kemuslimahan kalau Jumat.

Kangen ikut kajian kampung bapak-bapak ibu-ibu tetangga kos. Mungkin aku satu-satunya sepanjang sejarah, mahasiswa ngekos yang ikutan pengajian keliling warga. Pernah ngajakin ade2 kos, Prima kayaknya pernah mau, tapi cuma 1x, abis itu aku sendiri lagi.  Pengajian Yang penuh uang dilempar-lempar 😰.

Trus kenyang dengan snack berat, kadang malah ada makan, tanpa susah jadi panitia. Disambut dengan tangan terbuka, ditunggu tunggu, kalau nggak dateng besoknya ditanyain sama ibu2..

Ternyata itu semua sudah lama sekali ya Allah...
Dunia sudah berubah.
Izinkan hamba berbenah..

Makan Ku Selama Kuliah

Warung ijo nasi goreng Legendaris itu sudah tidak ada di lokasi yang dulu. Entah pindah tempat, alih konsep, atau tutup selamanya.

Jadi, tadi aku tu lewat depan kampus. Lewat doang, bareng rombongan safar Boyolali - Karanganyar nganter boyongan manten. Kepo akutuh, budaya kita tu gimana.. Soalnya sering dengar ngeterke manten, tapi baru kali ini tadi aku merasakan.

Di perjalanan, tetiba aku inget masa-masa di kampus. Aku kangen makanan sana.

Aku jadi pingin sungkem sama bu Ardayu.. Selama 4 tahun ngekos + 2 tahun nglajo urus skripsi, makanan yang aku konsumsi, terbanyak adalah hasil masakan bu Ardayu.

Aku suka beli makan di Bu Ardayu. Meskipun posisi warung nya persis di tanjakan yang agak menyulitkan untuk berhenti, belok, dan parkir, tapi tidak menyurutkan langkah untuk beli makanan di sana. Porsi nya mengenyangkan, rasanya tidak mengecewakan, menunya bervariasi tapi ajeg, dadi isoh dicegerke.

Aku bisa makan hampir semua olahan Bu Ardayu. Cuman beberapa yang sering kuhindari: urap dan santan. Sama ikan-ikanan. Juga sambal. (eh, Tapi itu waktu itu ya.. Sekarang aku udah lebih gampang makan nya, gak banyak yang gak doyan.)

Sop, sayur bening, oseng kacang panjang, sayur buncis + Wortel, sayur asem, oseng daun pepaya, terong balado, labu siam, dan lain-lain. Lauk? Beraneka macam tempe atau tahu. Tempe goreng, tempe tepung, tempe bacem, orek tempe, kering tempe kriuk&/kentang, tahu goreng, tahu krispi, tahu bacem. Ituu aja diputer-puter 3x sehari, 7 hari seminggu, 28-31 hari sebulan. Di luar jadwal pulang tentunya, dan atau rezeki dari aneka seminar, Training, workshop, diskusi, dll, atau juga makan bersama teman, rihlah, reuni, kajian, daaan, traktirannn, yeayyy. Biasanya menu telur, lele, ayam, itu kudapatkan tanpa membeli sendiri dengan sengaja.

Sesekali, jika sedang ingin menghadiahi diri sendiri atas suatu keberhasilan kecil, aku makan di Bu Cok. Pojokan jalan perempatan. Kalau di Bu Cok, nasinya uennnaaaakk, wangi, pulen.. Menthik wangi kayake. Selalu, pokoknya nasinya sangat memanjakan selera. Trus pakai cah taoge+tahu, sayur jamur tiram, sama mungkin tempe goreng atau tahu krispi kalau ada. Itu ennakk. Tapi porsi nya kecil kalau diambilkan. Kalau ambil sendiri, aduh, harganya jadi mahal kalau porsi nasiku yang normal itu ditambah sayuran yang kebanyakan. 😃 Oya, terakhir ke sana, Bu Cok udah nggak jualan. Entah kenapa.

Kalau lagi ngirit, aku beli di ngoresan, jalan menuju As Gross, kanan jalan, ada gerobag, yang jualan nggak jilbaban. (padahal Bu Ardayu dan Bu Cokro juga Nggak jilbaban loh xixixi). Kalau di situ, favorit ku beli terong balado. Lauknya.. Tempe bacem biasanya. Tapi rasanya agak gimana gitu tempe bacem nya. Suatu hari mbak kos ada yang bilang, kalau beli di situ takutnya nggak jaminan halal. Sejak itu aku nggak pernah lagi beli di gerobag situ.

Kalau lagi kere sakpole, beli maem nya di nasi goreng warung ijo tadi. Murrraahh meriah, enak gilak, tapi kurang sehat, kurang serat+vitamin +mineral. Ehehehehehehehe. Tapi asli, enak. Gimana enggak, wong masaknya aja pake arang. Wah, sangit gurih gimanaa gitu. Tapi ya lama banget masaknya, kudu super duper sabar.

Oya, kalau ke sana (warung ijo) itu biasanya ngepasi selain pas kantong kering, juga pas libur nggak sholat. Soalnya bukanya sore banget, jelang maghrib. Itu udah harus dateng, antri pesen. Sama ambil tempat. Soalnya kalau sampai nggak kebagian tempat, kita harus duduk di trotoar/batu-batu/sak ketemune panggon, kalau pun sudah kebagian makan. Kalau nggak buru-buru pesen di awal, misal abis maghrib kita baru dateng, tempat nya udah penuh, bisa-bisa nasi goreng nya juga udah abis 😑

Abis pesen, nunggu lamaaa sampai mateng trus dibagi jatah pesenan masing-masing. Makan, laporan, bayar. Nanti habis isya udah tutup biasanya. Habis nasinya.

Aku jarang juga sih ke sana. Cuma beberapa kali. Yang paling sering tu sama Rini. Bahkan entah berapa kali itu, dia yang traktir. Nasi goreng yang enag banged ditambah lalap timun+kol dan telur dadar, uaaahh nikmatnya masyaallah.

Yang masak ibunya, yang ngeladeni anaknya, adek cuantik, mulus bgt kulitnya (kok bisa ya? Pengennn) , sayang nggak jilbaban..

Oya, satu lagi, kalau makan di sana, kita bakal disamperin pengamen. Secara ya, aku kalau ke sana itu cuman bawa kepingan uang logam sisa-sisa yang masih bisa ditemukan di berbagai celah tas dan saku.. Itupun jumlahnya udah ngepres banget, kadang buat minum nya aja nggak cukup. Jadilah, aku sering nolak, atau diem. Pastinya Rini yang terus ngerogoh2 dompet buat ngasih ke pengamen nya. Heuheuheu.

Oya, kalau sarapan beda lagi. Aku awalnya suka beli di Ibu Kos. Biasanya gelar meja di depan rumahnya, depan masjid NA. Jadi tinggal keluar kos berapa langkah, udah dapet sarapan. Tapi emang rasanya emmmh, gimana ya, kurang cocok sama lidah ku. Kayak kurang bumbu atau salah bumbu gitu. Hampir semua jenis masakannya terasa aneh. Biasanya sih aku beli nasi pecel+kering tempe. Kadang tambah 1 tempe tepung dan atau perkedel kalau pas banyak duit.

Lama-lama aku tau kalau di perempatan seberang nya Bu Cok, ada warung khusus sarapan. Aku cocok banget sama pecel nya. Lauknya kering tempe kriuk+kentang. Agak kemanisan sih, pecel dan keringnya, tapi enak. Porsi kecil tapi murahh. Nggak keitung beli lauk kalau sayur nya pecel + kering. Kadang ditambah perkedel atau tahu krispi yang bentuknya kayak kupu-kupu. Pernah juga beli ketan di sana, enak.

Kalau pulang sore, kadang dititipi mbak2 kos, teh puanas mongah di Mas Same. Ehya, terakhir kali keliling ke sana, aku lihat usaha Mas Same berkembang pesat, ada beberapa cuci motor pun.

Kadang juga teh di hik Surya Utama tu, enag jugak.

Kalau lagi banyak uang, suka beli cemilan: molen isi kacang ijo favorit ku. Beli di mas cina Surya 2. Sejak nikah, trus mudik, trus kayaknya nggak balik lagi deh. Pernah lihat istri nya, ya Alloh cantik sekali. Pernah satu kali pas aku amat sangat kere sekali, aku dikasih mi instan nya Rina. Waktu itu kita belum sekamar, dia masih di kamar belakang dekat kamar mandi. Mi instan itu, demi supaya kenyang, kan harus dimasak. Kalau dikremus garingan, nggak kenyang malah begah. Aku nggak doyan mi instan biasa non seduh yang dimasak model seduh pakai air rebusan dari heater. Kagak mateng atuh. Methothor bikin kembung.

Akhirnya dengan mengucap bismillah, aku memberanikan diri melangkah ke warung mas cina. Aku minta tolong dimasakin mi itu. 😅😅😅

Bingung lah dia kasih tarif jasa. Akhirnya diminta ngasih Rp 500 aja. Bayang pun, masakin, repot, modal gas, air.. Peralatan.. Mbungkusin pulak pakai plastik, susah kan, panass,. Cuman diharga 500😱

Alhamdulillah, kenyang. 😭
Habis itu aku malu banget, lamaaa nggak berani ke sana. (Itu tuh bulan puasa soalnya, siang-siang.. Warung nya gak buka padahal. Kauganggu minta tolong dimasakin mi hahahah). Habis itu dia nikah, isterinya sempat tinggal bareng di warung itu, tapi habis itu terus pergi nggak balik-balik. Molen nya ngangeni ya Allah. Enak lezat bergizi. Bentuknya unik pula, bulet. Kalau yang molen pisang sih nggak suka, biasa aja soalnya.

Kalau pengen kasih hadiah buat prestasi, kadang aku juga beli jus. Biasanya yang murah tu di pojokan tikungan dari NA ke Surya 3. Warung baru. Sepertinya berkembang, jadi ada soto dll nya. Awalnya pas jaman ku itu cuman jus. Paling sering jambu merah, yang murah meriah. Kadang Wortel + tomat. Atau alpukat. Kalau lagi pengen yang paling mewah, strawberi 😉

Kalau pas situ kosong atau nggak buka, dan sebelum situ jualan, aku beli di jus Marie depan ote-ote. Awal masuk jalan Surya Utama. Kalau di sana, Opsinya yang biasa ku beli.. Sama sih. Heheheh. Pernah juga belakangan setelah NH yang versi baru mulai jadi, aku beli di gerobag bagus belakang kampus. Namanya apa ya? Dekat deretan fotokopi Hasbona, kos-kosan dan sebagainya itu. Sekarang tambah besar kayaknya. Nambah karyawan juga. Alhamdulillah.

Belakangan, kalau aku lagi pengen menghambur-hamburkan uang, misalnya lagi sakit, nggak nafsu makan, manja, atau apalah, aku beli Sop Matahari di warung lesehan Sakina nun jauh setelah As Gross masih masuk lagi.

Oya btw aku pernah beli juga di seberang Ar Royyan putra. Apa itu namanya, lupa. Pas Ety dan Irine usul rapat Kaderisasi sambil makan-makan. Kita makan di sana. Setelah itu, kalau pas ada tastqif, dauroh, atau acara lain di area sana, kadang aku beli di sana. Mahal sih. Tapi berkelas gitu.

Ohya, tragisnya, aku hampir selalu makan sendirian di warung. Kalau dibawa pulang, nah itu baru makannya bareng temen-temen kos.
Hebad kand? Syedihh.. 

Minggu, 14 April 2019

Hei Idealisme

Tata ulang waktu mu, Cinta.. Energi mu..
Bukankah kau sendiri yang bilang, kau ingin hidup untuk dakwah, kau ingin mengabdi untuk umat. Lantas kemana semua itu.?

Kau pernah begitu tangguh menanggung banyak hal. Apa tak bisa seperti itu lagi?

Memang setiap orang bisa berubah. Banyak yang berubah darimu. Beberapa positif, tapi sebagian juga negatif.

 Sadarlah, sekarang ego mu tinggi sekali. Dulu kau bisa berkorban untuk yang lain. Sekarang? Semuanya berkorban untuk mu. Apa-apaan itu?

Mereka hanya meminta sedikit waktu yang kau bisa sisihkan.

Kalau untuk hal ringan yang menyenangkan dan risikonya kecil begini saja kau tidak bisa, tidak mau, acuh, dan abai. Bagaimana kelak kau harus bertanggungjawab atas sesuatu yang lebih besar?

Manajemen kembali waktu dan energi mu. Mungkin benar ragamu tak setangguh dulu. Tapi apa iya mental mu sekarang selemah itu?
Selamanya selemah itu?

Mau sampai kapan?

15 April 2012 09.11

Sudahlah Sudah


Baju yang serasi itu
Kunjungan dan penjengukan itu
Semua hanya kebetulan.
Ujian untuk ku agar bisa lulus menjaga hati..

Ketika adikku dengan sungguh-sungguh mengatakan bahwa dia sudah ingin punya someone fighting for.

Berarti.. Dia belum.

Well yah, kalau mau mengasihani diri..
Aku belum punya someone fighting for me.
Ha ha ha hi hi

17 Februari 2019 15.56

Begini Aku Menikmati Pekerjaan ku

Ya Allah, hari yang berakhir indah
Well, belum berakhir sebetulnya, ini masih sore
Tapi aktivitas mengajar ku sudah terlaksana, usai, tuntas, dan bahagia

Kelas 8i2 memang istimewa
Aku mengajar mereka di jam terakhir, setelah seharian berjibaku di semua kelas lainnya.

Yang sulit ditangani memang ada.
Tapi banyak yang sholih nya mempesona.
Kayak gini ya rasanya kalau ada penyejuk hati. 😃
Robbana hablana min azwajina wadzurriyyatina qurrota a'yun waj'alna lil muttaqiina imaama.

Aku takjub dengan kelas ini.
Banyak penyair nya..!
Meski banyak juga yang tadi dan kemarin kedapatan menjiplak karya temannya.

Ya Allah, ekspresi mereka..
Tak terlukiskan indahnya.
Membuncah rasa puas di dada.

Meski hampir separuh kelas tidak hadir.
Banyak urusan nya.
Tapi pulang dari sana, rasanya ringan dan lega.

Satu catatan ku.
Jangan pernah lupa minta pada Allah pada pagi sebelum hari dimulai
Agar Dia atur segala urusan kita
Dia selesai kan segala tugas kita.
Dia cukupkan segala keperluan kita
Dia bukakan jalan keluar untuk segala persoalan kita
Dia limpahkan rezeki yang halal dan barokah.
Dia beri kita sehat dan semangat.
Lalu kerjakan bagian kita. Ikhtiar, ikhlas, doa, tawakal. Dengan sebaik yang kita bisa.
Biar Allah yang selesaikan sisanya.

31 Januari 2019

Rabu, 24 Januari 2018

Jangan Cemaskan yang Belum Terjadi

Aku sekarang kembali aktif FB. Saat kulihat berandaku, wah. Berseliweran status-status para ibu. Jadi tergeregah.

Seharusnya aku tak perlu khawatir. Aku tidak pernah sendiri. Allah selalu mengirim pertolongan dari arah yang tidak disangka-sangka. Banyak dari mereka, teman-teman FBku, yang sudah punya anak, dan mereka bisa menjalani perannya. Maka pasti aku juga akan bisa menjalani peranku, dimanapun itu.

Allah tidak pernah dzolim, Dia tak kan memberi amanah yang tak mampu kita pikul. Sekarang aku sedang positif dan optimis. Semoga bukan manik sih.

Hmm... Penyakit ini... Inikah yang jadi penghalang? Ah sudahlah. Toh tidak ada orang yang sempurna. Terserah kamu mau menerima atau tidak. Aku memang begini. Semua selalu menguatkan, karena segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan.

Selasa, 23 Mei 2017

Nikmate dodolan iku refreshing


Nikmate dodolan iku refreshing
Melaju bersama Ksatria Legendaris-ku
Bertemu langit luas, awan pohon & persawahan
Dibelai angin, dipeluk rintik gerimis

Menyapa berbalas sapa, silaturahim
Bertemu wajah baru, mengakrabi yang lainnya
Senyum berbalas senyum

Ikhtiar Dia hargai
Rizki semoga terus Dia Tambahi

220117, sore di Jalanan pulang

Senin, 08 Mei 2017

Hidup = Upaya

Bulan lalu nonton Silver Linings Playbook dan Infinity Polar Bear, atas inisiatifku sendiri. Tahun lalu sempat nonton A Beautiful Mind atas rekomendasi seorang teman.

Ketiganya mengandung moral cerita yang lumayan, dan penggambaran kehidupan orang-orang yang kurang beruntung (dalam hal tertentu) namun diberkahi (dalam hal lain).

Sejatinya dalam hidup tidak ada kesempurnaan. Yang ada hanya upaya menyempurnakan rasa rela dan menerima..apapun kondisi yang Tuhan berikan pada kita.

Hidup ini Upaya untuk mendaki terus-menerus menuju alam kesempurnaan manusia..menuju tempat dimana kita bisa bertemu dengan wajah Tuhan Yang Maha Indah.. Hidup ini upaya sekuat-kuatnya untuk memberikan yang terbaik supaya Dia ridha.

Ya, hidup ini upaya.

Lihat kisah orang-orang yang melegenda. Sejarah mencatat mereka, karena upaya yang mereka lakukan sepanjang hidupnya, dan upaya orang-orang di sekitar mereka yang peduli. Helen Keller. Sybil. Kartini. Dan masih banyak lagi nama.

Masing-masing membuat upaya terbaiknya. Sesuai dengan zamannya, sesuai dengan masalah yang dihadapi, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Begitupun setiap manusia yang lainnya. Ada zaman, ada masalah, dan ada potensi yang bisa diboost untuk menjadi solusi.

Tidak harus hal sebesar yang diperjuangkan Kartini. Setiap individu punya skalanya sendiri-sendiri. Cukup mulai dengan diri sendiri, selesaikan masalah yang ada dalam diri kita sendiri..lalu kalau sudah, beranjaklah. Ada orang yang butuh waktu seperempat, setengah, atau seluruh hidupnya untuk menyelesaikan masalah dalam dirinya sendiri, berdamai, dan bekerja sama dengan seluruh yang ada dalam dirinya ..sampai kemudian beranjak mengurus hal-hal kecil dan besar di luar dirinya.

Itu sah-sah saja. Tidak ada yang menuntut kita jadi hebat, jadi cepat, jadi menarik atau apapun itu. Cukup jalani apa yang ada di hadapan kita hari ini, atur rencana untuk esok hari, dan persiapkan jika ternyata tak ada lagi esok hari.

Mungkin sebaiknya tulisan ini kusudahi, daripada semakin tidak terarah dan hilang fokus. Mengulangi inti: hidup adalah kesempatan untuk memberi upaya terbaik kita, dalam apapun kondisinya.

Klaten, 5 Mei 2017
Di kasur ibuk, ba'da isya

Rabu, 19 Agustus 2015

(Lagi) Jadi Akhwat Jangan Cengeng

Ngambil sajak karangan Farhan Izzudin lagi nih. Judulnya Jadi Akhwat jangan cengeng. Ini dia :

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Dikasih amanah malah melarikan diri..
Diajak syuro bilang ada ijin syar’i..
Afwan ane ada agenda syar’i.. Afwan lagi nguleg sambel trasi..
Disuruh ikut aksi, malah pergi naik taksi..
Sambil lambai-lambai, bilang dadaaah…yuk mari…..
Terus dakwah gimana? Diakhiri???

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Sekilas gayanya sih haroki berlagak Izzis..
Tapi hati kok Seismic? Sungguh ironis…
Mendayu-dayu kaya’ film romantis..
Kesehariannya malah jadi narsis..
Jauh dari kamera jadi dikira ge eksis..
Hati-hati kalo ditolak, bikin dramatis..

Jadi Akhwat jangan cengeng...
Dikit-dikit SMS ikhwan dengan alasan dapet gratisan
Rencana awal cuma kasih info kajian
Lama-lama nanya kabar harian.. wah, investigasi beneran!
Bisa-bisa dikira pacaran!
Sampai kepikiran dijadikan pasangan…
Ga’ usah ngaco-ngaco gitu deh kawan!

Jadi Akhwat jangan cengeng...
Abis nonton film palestina semangat empat lima..
Eh pas disuruh jadi mentor, pergi lenyap kemana??
Semangat jadi pendukung luar biasa..
Tapi nggak siap jadi yang pelakunya.. yang diartikan sama dengan nelangsa..
Yah…bikin kecewa...

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Ngumpet-ngumpet berduaan..
Eh, awas lho yang ketiga setan…
Trus, dikit-dikit aleman minta dibeliin jajan..
Emang sih nggak pegangan tangan..
Cuma pandang-pandangan tapi bermesraan..
Wah, kaya’ film india aja gan!
Kalo ketemu Murabbiyah atau binaan?
Mau taruh di mana tuh muka yang kemerah-merahan?
Oh malunya sama Murabbi atau binaan?
Sama Allah? Buang aja ke lautan..
Yang penting mah bisa sayang-sayangan…
Na’udzubillah tenan…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Sedekah dikira buang duit. .
Katanya sih biar ngirit, tapi kok shoping tiap menit??
Langsung sengit kalo dibilang pelit…
Mendingan buat dzikir komat-kamit…
Malah keluar kata-kata nyelekit…
Aduh…bikin hati sodaranya sakit…

Jadi Akhwat jangan cengeng...
Semangat dakwah ternyata bukan untuk amanah..
Tapi buat berburu ikhwan yang wah gitu dah ..
Pujaan dapet, terus walimah..
Dakwah pun say goodbye dadaaah..
Dakwah yang dulu benar-benar ditinggalkah?
Dakwah kawin lari.. karena kebelet nikah..
Duh duh... amanah..amanah…
Dakwah.. dakwah..
Kalah sama ikhwan yang wah..

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Buka facebook liatin foto ikhwan..
Dicari yang jenggotan..
Kalo udah dapet trus telpon-telponan..
Tebar pesona akhwat padahal tampang pas-pasan..
"Assalammu'alaykum akhi, salam ukhuwah.. udah kerja? Suka bakwan?"
Disambut baik sama akhi, mulai berpikir untuk dikasih bakwan ..
Ikhwannya meng-iya-kan..
Mau-mau aja dibeliin bakwan..
Asik, ngirit uang kost dan uang makan...
Langsung deh siapin acara buat walimahan!
Prinsipnya yang dulu dikemanakan???


Jadi Akhwat jangan cengeng...
Ilmu cuma sedikit ajah..
Udah mengatai Ustadzah..
Nyadar diri woi lu tuh cuma kelas bawah..
Baca qur'an tajwid masih salah-salah..
Lho kok udah berani nuduh ustadzah..
Semoga tuh cepet-cepet dikasih hidayah…

Jadi Akhwat jangan cengeng...
Status facebook tiap menit beda..
Isinya tentang curahan hatinya..
Nunjukkin diri kalau lagi sengsara..
Minta komen buat dikuatin biar ga’ nambah nelangsa..
Duh duh.. status kok bikin putus asa..
Dikemanakan materi yang dikasih ustadzah baru saja?

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Ngeliat akhwat-akhwat yang lain deket banget sama ikhwan, jadi pengen ikutan..
Hidup jadi suram seperti di padang gersang yang penuh godaan..
Mau ikutan tapi udah tau kayak gitu nggak boleh.. tau dari pengajian..
Kepala cenat-cenut pusing beneran…
Oh kasihan.. Mendingan jerawatan…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Ngeliat pendakwah akhlaknya kayak artis metropolitan..
Makin bingung nyari teladan..
Teladannya bukan lagi idaman..
Hidup jadi kelam tak berbintang bahkan diguyur hujan..
Mau jadi putih nggak kuat untuk bertahan..
Ah biarlah kutumpahkan semua dengan caci makian..
Akhirnya aku ikut-ikutan jadi artis metropolitan..
Teladan pun sekarang ini susah ditemukan..

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Diajakain dauroh alasannya segunung…
Kalo disuruh shopping tancap gas langsung...
Hatipun tetap cerah walaupun mendung
Maklum banyak ikhwan sliweran yang bikin berdetak cepat nih jantung..
Kalo pas tilawah malah terkatung-katung…
Duh.. bingung...bingung…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Bangga disebut akhwat.. hati jadi wah..
Tapi jarang banget yang namanya tilawah..
Yang ada sering gosip ngomongin sesama ikhwah…
Wah... wah… ghibah… ghibah…
Eh, malah timbul fitnah…
Segera ber-istighfar lah…

Jadi Akhwat jangan cengeng..
Dulunya di dakwah banyak amanah..
Sekarang katanya berhenti sejenak untuk menyiapkan langkah..
Tapi entah kenapa berdiamnya jadi hilang arah..
Akhinya timbul perasaan sudah pernah berdakwah..
Merasa lebih senior dan lebih mengerti tentang dakwah..
Anak baru dipandang dengan mata sebelah..
Akhirnya diam dalam singgasana kenangan dakwah..
Dari situ bilang.. Dadaaahhh.. Saya dulu lebih berat dalam dakwah..
Lanjutin perjuangan saya yah...

Jadi Akhwat jangan cengeng...
Nggak punya duit Liqo males datang..
Nggak ada motor yaa...misi halaqah dibuang…
Murabbiyah ikhlas, hati malah senang…
Binaan juga nggak ada satupun yang mau datang..
Jenguk binaan malah pada pergi malang melintang…
Oh…kasiyan… Mau ngapain sekarang???

Oh noo...

Jadi Akhwat jangan cengeng...
Jadi Akhwat jangan cengeng...
Jadi Akhwat jangan cengeng...
Jadi Akhwat jangan cengeng...
Jadi Akhwat jangan cengeng...

Ukhti... banyak sekali sebenarnya masalah Akhwat..
Dimanapun harokahnya.. .

Ukhti.. Di saat engkau tak mengambil bagian dari dakwah ini..
Maka akan makin banyak Akhwat lain yang selalu menangis di saat mereka mengendarai motor.. Ia berani menangis karena wajahnya tertutup helm... Ia menangis karena tak kuat menahan beban amanah dakwah..

Ukhti.. Di saat engkau kecewa oleh orang yang dulunya engkau percaya.. Akhwat-akhwat lain sebenarnya lebih kecewa dari mu.. mereka menahan dua kekecewaan.. kecewa karena orang yang mereka percaya.. dan kecewa karena tidak diperhatikan lagi olehmu.. tapi mereka tetap bertahan.. menahan dua kekecewaan.. . karena mereka sadar.. kekecewaan adalah hal yang manusiawi.. tapi dakwah harus selalu terukir dalam hati..

Ukhti.. disaat engkau menjauh dari amanah.. dengan berbagai alasan.. sebenarnya, banyak akhwat di luar sana yang alasannya lebih kuat dan masuk akal berkali-kali lipat dari mu.. tapi mereka sadar akan tujuan hidup.. mereka memang punya alasan.. tapi mereka tidak beralasan dalam jalan dakwah.. untuk Allah.. demi Allah.. mereka.. di saat lelah yang sangat.. masih menyempatkan diri untuk bangun dari tidurnya untuk tahajjud.. bukan untuk meminta sesuatu.. tapi mereka menangis.. curhat ke Allah.. berharap Allah meringankan amanah mereka.. mengisi perut mereka yang sering kosong karena uang habis untuk membiayai dakwah...

Ukhti.. Sungguh.. dakwah ini jalan yang berat.. jalan yang terjal.. Rasul berdakwah hingga giginya patah.. dilempari batu.. dilempari kotoran.. diteror.. ancaman pembunuhan.. ... dakwah ini berat ukhti.. dakwah ini bukan sebatas teori.. tapi pengalaman dan pengamalan.. . tak ada kata-kata 'Jadilah..!' maka hal itu akan terjadi.. yang ada 'jadilah!' lalu kau bergerak untuk menjadikannya. . maka hal itu akan terjadi.. itulah dakwah... ilmu yang kau jadikan ia menjadi...

Ukhti.. jika saudaramu selalu menangis tiap hari..
Bolehkah mereka meminta sedikit bantuanmu..? meminjam bahumu..? berkumpul dan berjuang bersama-sama. ..?
Agar mereka dapat menyimpan beberapa butir tangisnya.. untuk berterima kasih padamu..
Juga untuk tangis haru saat mereka bermunajat kepada Allah dalam sepertiga malamnya..
"Yaa Allah.. Terimakasih sudah memberi saudara seperjuangan kepadaku.. demi tegaknya Perintah dan laranganMu.. . Kuatkanlah ikatan kami..."

"Yaa Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta kepada-Mu, bertemu dalam taat kepada-Mu, bersatu dalam da’wah kepada-Mu, berpadu dalam membela syariat-Mu."

"Yaa Allah, kokohkanlah ikatannya, kekalkanlah cintanya, tunjukillah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan cahaya-Mu yang tidak pernah pudar."

"Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal kepada-Mu. Hidupkanlah hati kami dengan ma’rifat kepada-Mu. Matikanlah kami dalam keadaan syahid di jalan-Mu."

"Sesungguhnya Engkaulah Sebaik-baik Pelindung dan Sebaik-baik Penolong. Yaa Allah, kabulkanlah. Yaa Allah, dan sampaikanlah salam sejahtera kepada junjungan kami, Muhammad SAW, kepada para keluarganya, dan kepada para sahabatnya, limpahkanlah keselamatan untuk mereka."

Aamiin Allahumma aamiin.

~~~
Semoga bermanfaat...


***


5 tahun yang lalu aku memposting sajak ini sembari berusaha mengikhlaskan. Saat itu aku sama sekali tak menyangka bahwa 5 tahun kemudian aku akan mempostingnya kembali seraya mengharapkan keikhlasan.


Meski ini bukan musim hujan..tapi..adakah air mata itu sempat menitik karenaku, kawan?

Sabtu, 27 Juni 2015

Bahagia Apapun Pencapaiannya

diambil dari http://health.detik.com/read/2013/04/25/103252/2229984/763/gampang-lupa-kepalkan-tangan-agar-otak-lebih-mudah-mengingat
Setiap pencapaian pasti sesuai dengan  apa yang sudah diusahakan.
Dan setiap ujian pasti sudah disesuaikan dengan level peserta yang  menempuhnya.
Tidak ada yang 100% sama.
Maka tidak ada yang perlu dibanding-bandingkan.

Sahabatku, senang rasanya jika ada diantaramu yang  sempat menemukan luahan hatiku ini. Kamu beruntung, karena tidak semua yang dekat denganku bisa mendapatkan kesempatan itu. Kamu juga beruntung, karena kalaupun kamu tidak atau belum dekat denganku, kamu malah sudah ikut menikmati percikan perenunganku ini.

Dulu, tak jarang aku merasa nelangsa ketika melihat salah satu dari kita meraih sesuatu, terutama jika raihan itu adalah hal yang sangat ingin kuraih juga. Tidak jarang aku merasa dunia ini tidak adil; betapa di saat aku merelakan diri berkorban demi raihan kita bersama, bahkan demi kebersamaan kita, eh malah aku  yang ditinggal. Dan memang sampai sekarang aku masih menjadi yang paling tertinggal, dipandang dari sisi manapun.

Itu iri. Di satu sisi aku ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang kupedulikan. Tapi di sisi lain aku tak rela bahwa kebahagiaan itu bukan aku sendiri yang mencicipinya terlebih dahulu. Apapun alasannya, iri adalah penyakit hati, aku tahu. Dengan adanya rasa iri itu, sulit bagiku menemukan bahagia, meski apa yang kupunya sebenarnya lebih dari yang orang lain rasa.

Tapi kemudian aku sadar, pencapaian yang kita raih sejatinya adalah pilihan kita masing-masing. Prestasi berupa nilai tinggi , IPK cumlaude, kemenangan di perlombaan tertentu, kelulusan tepat waktu, pekerjaan yang bagus, gaji yang mencukupi, cinta dalam pernikahan yang indah, keluarga yang harmonis, tempat tinggal yang mandiri, layak, nyaman, dan tenteram, anak yang menyenangkan dan menyejukkan hati, kebebasan yang menenteramkan, petualangan yang menarik, pengalaman hidup yang penuh kesan,  atau.. sesuatu yang lain yang sulit untuk dijelaskan...

Semua itu sah untuk dipilih sebagai pencapaian diri. Begitupun aku. Aku punya pilihanku sendiri. Tiap-tiap kita punya hak untuk itu. Kebahagiaan. Itu satu kata yang kita cari bersama, meski ada begitu banyak pilihan jalan yang bisa kita ambil untuk menemukannya.

Sesekali menanjak, sesekali menurun, sesekali beristirahat di stasiun persinggahan, sesekali juga berbelok, namun tetap dalam relnya. Rel kita. Karena kereta kita akan kita bawa ke tujuan yang sudah sejak lama kita rencanakan.

Kini, aku sudah benar-benar rela kalian  sampai di sana. Dan aku cukup  bahagia dengan pencapaianku sendiri. Dengan  kecepatanku sendiri. Dengan usahaku sendiri, cucuran keringatku sendiri. Dengan lika-liku indah-ku sendiri, takdirNya yang selalu dan akan selalu adalah yang terbaik untukku. Dengan segala hal yang khas-ku. Aku PUAS dengan SEMUANYA.

Lihat saja, aku juga akan SAMPAI di sana.. meski tempatku barangkali memang berbeda.

Terima kasih dunia.. Aku lega dengan memegang janjiNya.

151013        03.26        ruangtamu, beriring takbir

Kamis, 31 Juli 2014

Tanah Airku


Tanah airku tidak kulupakan
Kau terkenang selama hidupku
walaupun aku pergi jauh
tidak kau hilang dari kalbu..
tanah ku yang ku cintai, engkau kubanggai

walaupun banyak negeri kujalani
yang mahsyur permai di kata orang
tetapi kampung dan rumahku
disanalah ku rasa senang

tanahku yang kucintai
Engkau kuhargai!
ngopi dari http://penulis165.esq-news.com/sites/default/files/imagecache/620x/2012/01/img/tanah-air.jpg

Aku Ingin Orang Tuaku Naik Haji

Aku Ingin Orang Tuaku Naik Haji
Nasyid by ...??



......
Sempat kulihat Ayah menempel gambar Ka'bah di Agendanya
Tersentuh aku
Halus tangan itu menggenggam erat gambar Ka'bah itu...

Aku ingin orang tuaku naik haji, dengan lelahku
Aku ingin orang tuaku ke tanah suci
walau hanya satu kali

Allah,
izinkanlah aku...
Perluaslah pintu rezekiku..
Beri aku kesempatan...
tuk wujudkan impian itu


Aku ingin orang tuaku naik haji, dengan lelahku
Aku ingin orang tuaku ke tanah suci
walau hanya satu kali


*-*

Senin, 02 Juni 2014

Bagaimanapun, Kutahu Jalan Masih Panjang

Pendakian puncak pertama sudah dimulai sejak awal tahun ini. Banyak sudah tanjakan, tikungan, dan percabangan yang tertempuh, menjadi gurat-gurat sejarah. Tidak terasa 2014 sudah mendekati titik tengah perjalanannya, menuju satu tikungan besar yang akan jadi jalur tunggal ke puncak itu.

Dan di sinilah aku kini. Di satu bukit indah yang tidak landai. Namun yang indah tetaplah indah. Aku benar-benar belajar untuk mampu menikmati pendakian ini. Tidak benar kalau dibilang mudah. Namun sebuah pendakian tetaplah pendakian. Ia tercipta untuk kunikmati. Selamanya.

Cartenz Pyramid bolehlah terpetikan. Tapi si kaki kecil bertangan kecil berwajah menengadah, akan terus menengadah. Sampai Tuhan yang menghentikan waktu untuknya. Sampai tidak diperkenankan lagi ada bentuk pendakian apapun untuknya. 

Puncakku sudah kupilih.
Boleh pelan, tapi pasti, aku akan sampai di puncak itu. Untuk kemudian melanjutkan maraton petualangan ke puncak-puncak lainnya. Itu pasti.
diambil dari http://www.kidnesia.com/var/gramedia/storage/images/kidnesia/indonesiaku/propinsi/papua/tempat-menarik/pegunungan-jayawijaya/658888-1-ind-ID/Pegunungan-Jayawijaya.jpg


- Hangatnya Dhuha, Jalan Slamet Riyadi Solo, 2 Juni 2014 -

Minggu, 19 Januari 2014

BaTas; Pembuktian

"Tanpa terasa waktu bergerak dengan cepat. Menembus batas waktu. Menguak peristiwa demi peristiwa kehidupan tanpa sangsi dan tanpa barangkali. Terkadang aku ingin menawar, tapi kenyataan telah memberi harga pasti.
Secara pasti aku jadi dewasa, jatuh cinta, lalu menikah, dan buah cinta kini telah tumbuh di rahimku.
Kehidupan, kau telah membuat aku bahagia, tapi di saat yang sama apakah aku juga sekaligus harus mengutuk kamu karena kekasih tercintaku kau renggut tanpa peduli betapa hatiku akan sedih dan sendiri?
Dengan pongah aku merasa mampu mengubah dunia. Dengan buah kehidupan berasa dalam rahimku, aku melangkah pasti untuk mengyelesaikan segala masalah yang terjadi di sini.
Aku terperangah. Jari-jariku membatu. Tanganku mengguratkan pikiran dan perasaan. Beratus pertanyaan singgah di kepala. Apakah ini berarti aku tak lagi harus menuliskan sesuatu? Apakah ini berarti aku harus mulai tegak berdiri dan melakukan sesuatu? Hhh, kehidupan... Bukalah mata dan hatiku. Tuntunlah aku menyelami makna yang terkandung di belakang segala yang kulihat di sini."

Inilah semangat yang berasal dari kegelisahan seorang Jaleswari. Kegetiran hidup bisa membawanya menemukan makna-makna baru perjuangan, pengorbanan, hingga ketegaran. Tidak manja. Tidak kalah oleh dirinya sendiri. Meski semua harus diawali dengan merangkak, tertatih, lalu berjalan pelanpelan. Namun ketika tiba saatnya berlari, dia tahu bagaimana caranya.

Hidup, bisa membuat kita dewasa. Seharusnya. Kenyataannya? Tanyakan pada dirimu sendiri, dimana letak masalahnya. Lalu cobalah menyelesaikannya sendiri. Pasti bisa. Seperti Jaleswari.

*Cuplikan monolog dalam film BATAS.

Senin, 16 September 2013

Lapang Dada


Dalam hidup, banyak hal kita temukan yang tidak sesuai dengan harapan. Menghadapinya kadang membuat banyak orang tidak berbahagia.

Padahal, kunci bahagia itu sederhana.. yakni ketika kita mampu menyikapi kenyataan dengan berbesar hati.

Sabar dan syukur memang cenderung berjalan beriringan. Tak mesti duka saja yang harus dijawab dengan sabar dan suka saja yang dijawab dengan syukur. Sebab, saat duka dan sabar hadir, maka setelahnya kebesaran hati itupun pantas tuk kita syukuri.

*Maha Besar Allah yang mengaruniakan kelapangan hati untuk hambaNya yang Dia kehendaki.

Minggu, 15 September 2013

Tiada yang Mustahil

Pergi haji, menikah, termasuk juga belajar di mancanegara, atau engabdikan diri di pelosok terdalam negeri ini..



Dalam logika manusia, semua itu berat. Bukan cuma lumayan sukar, hal-hal supermahal itu bisa jadi nyaris mustahil bahkan, untuk dilakukan dengan tenggat waktu, bagi sebagian kalangan.
Tapi itulah logika manusia.
Logika Langit, bisa beda.

*Jangan takut bermimpi!
*Dan, tak perlu takut pula menghadapi kenyataan, meski yang ditemukan tak selalu  sesuai dengan harapan!



Sabtu, 14 September 2013

Buah Mirip Apel

ngambil dari google, gambar apel

Aku bagai menemukan Buah yang rasanya mirip Apelku dulu. Asam-manisnya bikin kepincut. Meski untuk melahapnya  kini butuh usaha yang JAAUH lebih luar biasa. Tapi yang pasti, aku merasakan hadirnya taste (ruh) itu lagi. 
Nyata, jernih, manis, ada sepat-sepat-pahitnya, asam, kriyus-kriyus, seru pokoknya (macem rujak, nguehehe)


Dan.. Soundtrack F****I tiba-tiba terngiang-ngiang di sepotong perjalanan:

"Tak seperti bintang di langit
tak seperti indah pelangi
karena diriku bukanlah mereka
ku apa adanya

Wajahku kan memang begini
sikapku jelas tak sempurna
kuakui ku bukanlah mereka
ku apa adanya

Menjadi diriku dengan segala kekurangan
Menjadi diriku atas kelebihanku

Terimalah aku seperti apa adanya
Aku hanya insan biasa
tak mungkin sempurna

Tetap ku bangga atas apa yang kupunya
setiap waktu kunikmati
anugerah hidup yang kumiliki"

*Menjadi Diriku~Edcoustic

***Kesimpulan sementara (eh, hipotesis ya berarti?hehe):
"Ternyata tidak terlalu susah mengikis cinta masa lalu (meski tak harus sepenuhnya menjadi 'sekedar' masa lalu[sebab masa lalu itulah yang membentuk setiap diri pada masa kini]),
jika di saat ini kita memang telah BERANI memutuskan untuk mencintai apa yang ada di hadapan."

#Kita cuma perlu sedikit lebih fokus, sedikit lebih merelakan, sedikit lebih mempercayakan.. dan kembali pada "Ngapain kita di sini..?"

140913 02.38 @belangijo

Minggu, 01 September 2013

Soundtrack Kartun Favorit "SHOOT"


https://www.google.co.id/search?q=kartun+shoot&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ei=efcjUomwOMfHrQegzYHIDQ&ved=0CFoQsAQ&biw=1360&bih=641#facrc=_&imgdii=_&imgrc=YJ-HqCblUVWRhM%3A%3BLhauyrJm5GjX0M%3Bhttp%253A%252F%252F3.bp.blogspot.com%252F-dUtKeDzoqZk%252FTg3Z30zLeSI%252FAAAAAAAAABw%252FY24tSLS5TEg%252Fs320%252Fbig-captain-tsubasa-song-of-kickers-shoot-1-ost.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Flittlenewslittle.blogspot.com%252F2012%252F05%252F10-film-kartun-terfavorit-pada-masanya.html%3B320%3B320
Setiap saat bayang selalu hadir menerpa
Walau pikiranku selalu dipenuhi kebohongan
Namun semua, membuatku sangat suka
Karena semua beban berat tak kurasakan

Rasa itu selalu ada dalam hatiku
Membuat gelora membara di setiap langkahku
Genggam erat semangat di tiap nafasku
Oh kini, semuanya telah mulai berubah...

Kebahagiaan bukan kebohongan
Kan kubuktikan semuanya pada-MU
Bahwa diriku telah banyak berubah
Karena diri-MU

Kepercayaan kunci kemenangan
Kan kutuliskan di dalam ingatan
Memberi Kasih dan Kekuatan
Hingga ku bahagia.