Who Amung Us

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Juni 2019

Jika Aku Jatuh Cinta

Puisi Sayyid Qutb Ketika Ia Jatuh Cinta

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu. 

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-MU,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya.
Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

(As-Syahid Sayyid Qutb)

Sabtu, 01 Juni 2019

Sebuah Suara

Ridla Surya Ramadlani
"Enggan Tumbang"
Foto ini diambil di serambi masjid Mujahidin, malam 22 Ramadan 1440 H. Tapi aku lupa, peristiwa dalam puisi ini terjadi pada malam keberapa. 

Aku masih ingat sekali
Isya tarawih di iktikaf tempo hari
Khusyu, syahdu
Aku larut dalam suasana haru
Terbawa suaranya yang amat merdu

Larut segala lelah
Larut segala resah
Larut segala gundah
Larut seuntai - nyaris- kesah
Indah...

Sudah lama sekali
Aku tidak salat senikmat ini
Walillahil hamd Ya Robbi,
Sampaikan terima kasih ku untuk pemilik suara ini

Nadanya mirip dengan ku
Warnanya begitu teduh, lembut, sejuk, merdu
Namun muatannya, aku yakin hafalannya banyak.
Salat kami lama, tapi nikmat.
Sempat ada satu jeda, di mana sepertinya dia terlupa,
Tapi jamaah ada yang mengingatkannya, lalu bacaannya lanjut, lebih lama.

Ya Allah, aku jadi punya satu doa baru.
Tadinya aku mau nekad doa begitu.. Tapi aku sadar siapa diriku.
Aku tersungkur dalam sujud pilu
Dan hanya sanggup lirih menyebut nama-Mu
Sungguh, tadinya aku ingin memintanya
Tapi Rabb, aku malu
Engkau pasti lebih tahu
Tak perlulah aku sok tahu.
Takutnya itu termasuk nafsu.
Salah-salah, kena dosa aku.
Istaghfiru..

Izinkan aku merangkai
Satu lagi doa teruntai

Ya Allah,
aku ingin suami yang jika bersamanya, surga-Mu menjadi lebih dekat bagi kami berdua..
Dan bagi kami sekeluarga..
Surga di dunia, surga di akhirat.

Kalau boleh kutambahkan,
Aku ingin ya Allah,
Suamiku seorang Qori', yang hafidz, yang da'i.
Yang ketika salat ku bermakmum padanya,
Aku bisa khusyu
Menghadap pada-Mu.
Yang ketika aku menyimak murojaah nya,
Aku selalu bangga,
Namun juga malu dan terpacu memperbaiki hafalan ku.
Yang jika dia bertutur dan berkisah, terhimpunlah banyak hikmah.
Yang jika dia berdakwah,
Hati manusia tergerak menuju-Mu.
Yang jika aku jadi isterinya, tenteramlah hatinya, tenteram  pula hatiku.

Selasa, 23 April 2019

Brbrbr

Selamat malam, masa lalu yang pernah indah
Mari kita saling meninggalkan

Aku akan berusaha tetap waras
Dan jangan sampai tumbang

Mngmngmng

Tak kupungkiri
Aku rindu
Namun aku tahu
Rindu ini candu
Aku ingin bebas
Menyongsong masa depan ku
Maka kubuang, kumatikan segala cara
Yang bisa menghubungkan kita
Toh kalau jodoh, nggak akan kemana
Kita pasti bakal nikah juga.
Tapi kalau bukan jodohnya
Aku tak mau buang waktu
Aku tak rela bila akan terluka.
Cukuplah bagiku Allah
Hati ini, rasa ini
Dia yang cipta.
Biar Dia saja yang menjaga
Dan memenuhi segalanya

Minggu, 14 April 2019

Sudahlah Sudah


Baju yang serasi itu
Kunjungan dan penjengukan itu
Semua hanya kebetulan.
Ujian untuk ku agar bisa lulus menjaga hati..

Ketika adikku dengan sungguh-sungguh mengatakan bahwa dia sudah ingin punya someone fighting for.

Berarti.. Dia belum.

Well yah, kalau mau mengasihani diri..
Aku belum punya someone fighting for me.
Ha ha ha hi hi

17 Februari 2019 15.56

Kamis, 10 Januari 2019

Peniti 8i2


10 jam mengajar hari ini,


full tanpa jeda selain istirahat pertama dan kedua.

Full semangat. Ku hemat energi di setiap jeda, rebahan tentunya

Hingga tiba di jam terakhir.

Peniti Jilbab ku lepas.

Aku riweuh membetulkan jilbab.. Memunggungi mereka. Berkali - kali

"Kenapa to bu?" Salah satu bertanya.

Peniti nya lepas, Kata ku. (Ada yang bilang uh ribet)

"Emang ikhwan ada yang punya peniti kah?" Aku pesimis.

Ternyata ada. Padahal aku sudah pesimis duluan.

Ada, tapi guedhe guedhe kayak yang buat meniti tas jebol.

Yaudah lah. Mereka kan bukan butuh guru yang rapi jali penampilan nya tanpa cela imoet bak boneka. Mereka butuh guru yang mengajar dengan merdeka, seperti apapun peniti yang nyangkut di jilbab nya.

Aku nunggu mereka menyiapkan peniti nya.
Lama.
Eh ada yang malah ngasih kaca.

Well aku bingung itu kaca buat apa.

Kutaruh di atas lemari saja.

Oh rupanya aku dipremakke bocah-bocah lanang kuwi.

Pikir mereka pasti, bu guru  akan butuh kaca seadanya buat bercermin.

(Uh, tambah ribet, kata ku)

O-ow

Hehey

Maaf ya nak, malah kutaruh di atas lemari

Ku pakai peniti raksasa itu seadanya

Beres.

Dan aku lanjut ngajar seperti biasa.

Oya, karena aku mulai capai, bagian yang di kelas - kelas sebelumnya ku bahas langsung secara dikte, di kelas terakhir ini ku minta mereka mengerjakan di buku tugas. Tepat sesaat setelah kecelakaan peniti ku lepas. Maka ku ambil jeda untuk mengurus nya.

Lalu setelah nya, ku abadikan dengan hati berbunga riang.

Senin, 24 Desember 2018

Wahamku

Pernahkah kamu berlari mengejar bus?
Aku pernah.

Entah busnya yang terlalu lambat
Atau kakiku yang terlampau  cepat

Mengapa tak ku biarkan saja bus itu pergi?
Bus serupa kan masih ada lagi
Masalahnya..
Bus itu,
Simulasi masa depan ku.

Kamis, 25 Oktober 2018

Nostalgia Jumat Siang



Aku sedang bersantai di asrama ketika Masjid Mujahidin mulai riuh oleh nuansa Jumat siang. Tiba-tiba terlintas memori Jumat siang bertahun-tahun lalu yang bersejarah bagi hidupku.
Momen Jumat siang yang mengesankan.

Kamu ingat, 'skripsi' kita?  Yang kita kerjakan sama-sama, berenam. Aku masih ingat, PESIAR judulnya.

Siang itu, jam satu, seharusnya menjadi deadline pengumpulan terakhir 'skripsi' itu. Aku koordinator akhwat, ada lah rasa bertanggungjawab. Maka wajar jika aku pontang-panting mengupayakan agar 'skripsi' itu bisa terkumpul tepat waktu.

2 akhwat temanku semua tidak standby di kampus hari itu. Akhwat fak lain, masing-masing padat dengan urusan mereka tentu. Yah, temanku tidak banyak memang. Maka seperti biasanya, aku mantap mengandalkan diriku sendiri.

Proses pengerjaan yang kita lakukan menurutku lumayan baik. Kita beberapa kali syura, sempat melibatkan pembimbing juga, dan mengerjakannya bersama. Meski kadang diwarnai debat kusir. Ada juga fase pembagian tugas. Masing-masing dari kita mengerjakan bagian nya sendiri-sendiri. Itu tahap mendekati akhir.

File terakhir diupdate di tim ikhwan. Di kosmu. Sesudah itu giliranku mengumpulkan semua, checking akhir, mengeprint, dan mengumpulkan ke tim penilai.

Siang itu, sekitar jam 10.30, setelah berkali-kali menghubungi mu demi memastikan progres penyelesaian 'skripsi'  (yang kau balas sambil nyetrika, lalu kumarahi karena menurut yang kupahami, menyetrika itu tidak boleh disambi, demi penghematan energi), akhirnya aku memacu motor Ksatria Legendaris ku ke Jalan Kabut. Aku sempat memutari kompleks itu 2x, memastikan aku tidak salah alamat. Mau bagaimana lagi, di sana sepi sekali, tidak ada yang bisa ditanyai.

Sampailah aku di rumah bercat {putih atau krem ya?} dengan kusen, pintu, dan jendela cokelat tua. Kurasa aku sudah yakin, betul ini tempatnya. Lalu kuucap salam dengan lantang. Kupastikan suaraku tegas, tidak lembut mendayu.

Sesaat, keluarlah Mas A**** dengan (oh no) bercelana pendek. Malah aku yang malu. Dia santai aja nanya, apa yang bisa dibantu. Kujawab saja tegas, mau ambil flashdisc di kamu. Lalu masuklah mas itu ke dalam lagi. Aku menunggu di luar sambil terus menerormu via SMS untuk segera menyerahkan file itu karena sebentaaar lagi keburu tiba saatnya Jumatan. Aku juga terus konfirmasi pada mbak pembimbing dan tim penilai soal progres kita.

Flashdisc kudapat, aku langsung meluncur lagi ke rental untuk checking akhir dan ngeprint. Kalau tidak salah di Surya Utama. Alangkah crowded. Aku bergelut dengan keringat, kegugupan, tangan yang dingin dan gemetaran. Komputer, printer, flashdisc, HP di hadapan ku, menjadi saksi bisu perjuangan siang itu.

Di tengah proses itu, adzan pertama berkumandang. Aku masih sempat-sempatnya memastikan kalian sudah ke masjid. Semua via SMS. Ealah, kayaknya aku besok kalau udah jadi emak, bakal lebih rempong lagi deh ketimbang ibukku (yang tingkat rempong nya udah waow banget). Memang menguji kesabaran pasangan, tapi itu bentuk perhatian.

Keringat semakin membanjir. Tapi akhirnya usai juga. Print. Jilid. Bayar. Meluncur lagi mencari alamat mbak2 yang jadi tempat pengumpulan 'skripsi'. Aku lupa-lupa ingat, tapi sepertinya hari itu aku sedang berhalangan, jadi bebas tidak sholat. Stress juga sih hari-hari menjelang deadline itu.

Tapi kemudian, alhamdulillah, terjadi hal indah tak terduga saat kita semua dikumpulkan dalam sidang.

Kalian bertiga yang presentasi. Dengan gugup. (Sebelum maju, kau sempat berpesan padaku yang kurang lebih intinya "Aja mateni kanca dhewe.")

Penilai melontarkan pertanyaan yang menguji penguasaan kita terhadap 'skripsi' yang kita buat. Judul kita dikritik.

Kalian mempertahankan judul itu dengan (maaf) agak payah. Jawaban tidak logis, ngelantur ke topik lain pula. Macam politisi yang ditanyai, melipir jawabnya.

Akhirnya dari barisan pemirsa, aku berinisiatif mengacungkan tangan sambil berdiri, meminta izin untuk membantu menjawab. Aku ingat mukamu waktu itu sudah memelas sekali, kayaknya khawatir banget aku bakal melanggar pesanmu sebelum maju tadi. Ahhihihi, lucu sekali.

Aku menjawab seperti gayaku biasanya. Tegas, mantap, yakin, dan setengah memaksa orang untuk sepaham. PESIAR itu memang judul yang aku usulkan, dan seluruh tim kita sepakat menerimanya. Maka tidak sulit bagiku untuk menjelaskan.

Alhamdulillah, Penilai bisa menerima jawabanku.

Presentasi kelompok lain pun ditampilkan silih berganti. Banyak yang kurang jelas terdengar dari tempat kita.

Di akhir sesi, sepertinya beberapa hari selepas sidang itu, Akh Luhur memberi penghargaan kepada peserta terbaik. Yang akhwat aku. Aku nangis seketika. Kalau yang begini saja sudah yang terbaik, lantas bagaimana yang lain? Separah apakah kita?

Yah, singkat cerita, kebersamaan 'skripsi' kita pun purna.

Ada oleh-oleh foto gelas pecah. Tak carine kapan kapan insyaallah.

Hmm.. Dan aku kembali ke dunia nyata. Sholat dhuhur bersama anak-anak. Menghiba berbalut air mata, mendoakan kita, meminta ikhlas, dan meminta takdir terbaik untuk kita.

Apa kabar kau di sana?
Aku ingin memantau
Tapi tak mau lagi bikin malu
Jadi begini saja
Kembali seperti biasa
Seolah tak pernah ada pengakuan apa-apa
Anggap saja pernah friendzone. Cukuplah
Sekarang hapus zone nya
Friend saja
Selesai
Semoga takdir terbaik untuk mu, untuk ku, untuk kita

Selasa, 03 Juli 2018

10 years

Almost ten years
As a priority
Not an option
Never

But i dont know
What's next

...

Masa depan
Yang kita selalu buta tentangnya

...

Sabtu, 07 Oktober 2017

Puisi #9

Santunmu
Senyummu
Ruhul mas'uliyah itu

Kau yang menyuapkan sedotan teh manis panas itu
Saat aku terkapar tak berdaya
Menjadi kenangan abadi

Aku selalu merasa spesial
Mungkin sih karena geerku saja
Tapi dari caramu memperlakukanku
Aku selalu merasa spesial
Istimewa, benar adanya

Keluarga terdekatku ada yang sakit
Kau jenguk
Bahkan kau gerakkan teman-teman agar ikut

Kau pernah menawarkan uang saku untuk pegangan
Saat malam seusai acara di panti asuhan
Suatu hari di ramadhan 2011

Kau berkali kali menawarkan diri untuk menjemputku
Tapi karena egoku, ingin kujaga sekuat tenaga supaya tidak ada apa apa diantara kita
Sayangnya usaha itu ternyata sia sia
Terlanjur ada sesuatu di hatiku

Adakah engkau tahu?

Untukmu...
Datanglah...
Jadilah hero buatku...
Tak perlu dengar pengaruh syaithan yang hendak menghambat langkahmu..
Jemput aku..

Kita tidak tahu, berapa lama waktu tersisa untuk kita

Minggu, 24 September 2017

Tak Jelas Judulnya

Satu per satu,
Yang pernah ku perhitungkan
Melangkah lebih dulu

Pilihan yang tersisa tinggal sedikit
Kamu tetap yang terbaik
Serasa mengerucut

Jika saja hidup ini seperti permainan game sederhana,
Mungkin kita akan berakhir bersama

Tapi entah

Hidup ini diatur oleh Yang Maha Kuasa
Dan aku tak berdaya, hanya ikut alur takdirNya

Kita akan berakhir bagaimana?
Positif ataupun negatif,
Semoga semua tetap bahagia

Sabtu, 02 September 2017

Yang Aku Ingin

Halal menatap wajahmu
Tenang dan menenangkan di sisimu
Saling menggenggam dalam suka maupun duka
Belajar memahami keunikanmu
Belajar menempatkan diri sebagai pendampingmu
Belajar dewasa bersamamu

Tidak pintar masak
Apa-apa jijik
Lamban
Lemah secara mental maupun fisik
Mudah terbawa emosi, naik turun tidak pasti
Itu semua yang aku punya

Aku memang berharap bisa bersamamu
Mengarungi hidup ini yang bagaikan a long journey
Saling menguatkan di kala lemah
Saling menopang saat akan terjatuh
Meniti terjalnya jalan ini bersama

Apa yang bisa kuberi padamu?
Aku tak tahu
Aku tak menjanjikan apapun
Hanya ada kucuran rasa yang butuh muara
Aku yakin kamu tahu
Adakah kamu juga begitu?

Aku tak hendak "ngoyak-oyak"
Sebab jodoh itu sudah Dia tentukan siapanya
Kapan dan bagaimana bertemunya
Harapku, dan aku yakin itu yang akan terjadi
Kita akan dibersamakan dengan jodoh itu
Pada saat yang paling tepat
Saat kita telah sama-sama siap
Agar saat kita menanggung amanah besar pernikahan, kita bisa tunaikan hak dan kewajiban secara adil
Komitmen memang menakutkan
Tapi jika Cinta-Nya yang menjadi landasan,
Apa lagi yang mesti ditakutkan?

Aku begitu takut punya anak
Begitu khawatir akan berjuta tanggung jawab yang akan seketika melekat
Begitu pula dengan bersuami
Aku kerap cemas dengan hak para suami yang harus ditunaikan istri
Apa aku bisa..

Tapi kalau kita kembali pada asalnya
Kenapa kita menikah
Siapa yang mempertemukan
Siapa yang memberi rizki
Kekuatan apa yang menggerakkan hidup kita
Maka harusnya, tidak ada lagi yang perlu kita khawatirkan, bukan?

Ah, mudah dikatakan
Pelaksanaannya butuh kamu dan aku take action together
Dan mari kita lihat hasilnya
Ikhtiar sepanjang hidup kita,
Apakah kelak akan mendukung persatuan kita kembali di syurga?
Syurga yang hanya karena Rahmat-Nya bisa kita masuki
Semoga aku bisa memasukinya dengan Kasih-Nya bersamamu
Dan halal berpandang-pandangan di atas dipan-dipan yang hijau sutranya

Seiring sejalan, sampai langkah kita sampai di firdaus, setinggi-tingginya syurga
Aamiin..

DN 2 setengah, Malam tasyrik pertama di ihsanul fikri
Badan pegal dengan sisa bau daging dimana-mana bekas kerjaan tadi seharian
Mata yang hendak lekat tapi tak segera juga
Mengingat-Mu.. mengingat kelakuan burukku.. mereka-reka langkah selanjutnya..
Syahdu
Aku hanya ingin halal untukmu

Sabtu, 12 Agustus 2017

Betapa

Betapa aku ini isinya aib semata
Orang kadang lihat aku baik-baiknya
Padahal kalau mereka tahu sedikit aja dari aibku,
Niscaya tidak akan ada yang mau dekat-dekat denganku

Umbar senyum kadang kala
Ringan tangan saat itulah moodnya
Sopan bertutur suatu ketika
Dan itulah yang lebih banyak orang lihat
Padahal dalam sepi, aku ...

Terima kasih Tuhan, Kau tutup aibku
Kau simpan biar hanya kita yang tahu
Namun kelak jua kan kulaporkan di hari penghitungan
Setiap tingkah buruk yang di mata orang Kau sembunyikan
Akan tiba saatnya semua terbongkar
Betapa menjijikkan

Tuhan, kalau boleh aku meminta
Matikanlah aku dalam keadaan terbaik
Yang memberi kunci syurga tanpa hisab
Sehingga tak perlu kutanggung malu atas segala aibku

Namun Tuhan,
Aku sadar diri
Betapa kotor diri ini
Betapa tidak tahu diri permintaanku tadi

Sungguh, betapa Engkau Maha Bijaksana, Maha Rahim, Maha Bathin..
Secuil saja aibku terbuka di dunia,
Mungkin bagiku dunia runtuh seketika

Tutuplah Tuhanku, Tutupi aibku
Biar hanya kita berdua aja yang tahu
Cukup itu. Dan lalu,
Izinkan aku bertemu Wajah-Mu.

Rabu, 05 Juli 2017

Berpuisi #6

Aku senang kalau dia punya sesuatu untuk dia raih.
Aku senang kalau dia bahagia dengan hidupnya.
Aku senang kalau dia jadi lebih baik dari hari ke hari,
Lewat apapun jalannya.
Lewat apapun yang dia pilih.
Nggak kudu sama aku.
Aku tetap bahagia, bahkan dengan menyadari bahwa kami punya jalan sendiri-sendiri.


Bilik Ganti kini, Supermoon Pertengahan November 2016

Selasa, 13 Juni 2017

Laju Roda

Tanpamu, roda masih berputar
Termasuk duniaku, ia tidak terhenti
Aku menjalaninya sebiasamungkin
Aku khawatir, aku yang dulu semata karenamu
Dan bukan Dia penyebabku yang utama
Maka aku terus menghadapi semua sebiasa mungkin
Murni karena bodohku
Belumbisa mendeteksi diagnosa hatiku

Tanpamu, semua masih baik-baik saja
Hanya...
Tidak seberwarna waktu itu
Sewaktu ada kamu

Problema, dinamika, proyksi, antusiasme, proses perjuangan, jatuh bangun kemenangan kegagalan, visi, dan asa
Semua sama, tetap ada
Hatiku tetap berroller coaster juga
Yang tidak ada cuma kamu,
Rasa indah yang istimewa itu,
Hasrat ingin mendukung, menolong, menyelamatkan menjaga,
Rasa diri berharga

Itulah bedanya

Maka semoga saja
antara aku dan kamu waktu itu
Memang hanya antara kita
Bukan faktor untukamal-aalku
Dan tanpa bermaksud geer, nih, ya,
Bukan faktor juga untkamal-amalmu
Karena alangkah meruginya kita
Bila "demikianlah" adanya

Biarkan roda kita melaju begitu saja, apa adanya
di atas jalan kehidupan
Tak ada perlu permasalahkan masa lalu
Hadapi apa yang di hadapan
Jalani dengan keridhaan

Takdir tak mungkin kita paksa
Takdir sudah dituliskan
Kerjakan saja tugas kita
Jaga diri dalam kebaikan
Abdullah & Khalifah
Tunaikanlah

Sampai jumpa di syurga, Kawan



Dari rumah, perjalanan sampai depan PMI,di waktu Dhuha 17 Ramadhan 1438 H
Ridla Surya Ramadlani

Minggu, 28 Mei 2017

Time Does Fly

https://bukanhoax.com/kajian-tentang-waktu-edisi-tahun-baru/

Mengurus sampah
Wortel, timlo... Antara pedas ataukah tidak
Menarik nafas kuat-kuat, menghembusnya dengan cepat
Kepala ngeper if something stressing you out
Melipat karpet, tikar, bendera
Gulungan charger As*s kembali dalam gulungan (i know it needs effort, not just like usual)
Membuang sisa aqua dari gelasnya dengan colokan jari
Menatap langit yang sedang biru, atau berjingga-lembayung
Helm
Sepatu
Tisu
Mengingatkanku kamu
Aish, menyedihkan
Semua memori itu sangat personal
Berhaga bagiku, entah denganmu
Kubagi saja biar lega
Dan sekarang tiba-tiba sudah sekarang
Tidak pernah ada langkah mengawali
Bahkan dengan rela melepas pergi
Kapanpun, kemanapun, tak berwenang menahan
Sepertinya ada prinsip yang sama-sama kita pegang
Kita saling melindungi dengan ini
Biar kata melukai diri sendiri
Tapi kalau berarti semua tetap terjaga
Maka tak apa
Semoga kita bertemu di surga
Bukan berarti bersama di dunia tidak kuinginkan
Berusaha yakin
Konsistensi pada kebaikan akan mengantar pada takdir baik
Kita belum tahu apa mau-Nya
Aku tak tahu apa kau baik untukku
Maka biar
Toh entahlah...
Aku benar-benar merasa mencintai
Tapi nyatanya aku belum benar-benar tahu
Bagaimana caranya mencintai
mu
Dan yang lebih utama
I have no idea
Apa aku baik untukmu, apa kita baik untuk kita, untuk dunia
Time does fly
Baanyak yang berubah
Ada yang hilang dariku
Ada juga yang muncul sudah beberapa waktu
Penyakit itu
Aku maklum kalau siapapun akan step back
Kau layak bersama dengan yang lebih baik
Aku tak yakin bisa melakukan yang terbaik
Entah itu apa adanya aku, ataupun aku yang mencoba membersamaimu
Best wishes for you
Cukup itu

Selasa, 02 Mei 2017

Berpuisi #2

Pergilah
Yang di sini tak cukup baik
Angin kan meniup, meniada
Ombak menyapu pasir
   berikut istananya
Titik-titik air kan bertemu sesamanya
   membawa serpih yang pergi
   Melarut, meniada
Dan yang tak pergi semakin dewasa
Mengingatmu... mengingat saat-saat terbaik
Biarlah pergi
Selamat jalan
Selamat tinggal
Rela
Semoga yang akan datang lebih baik

140417




Minggu, 05 Maret 2017

Berpuisi

Betapa aku ingin kau ada di sini
Melihat setiap lara yang aku rasa
Untuk setiap air mata

Betapa aku ingin kau ada di sini
Mendengar setiap indah yang aku rasa
Demi senyum tawa kita bersama

Betapa aku ingin kau bersamaku di sini
Atau aku bersamamu di sana
Menyimak setiap kisah antara kita
Sepenuh hati

Betapa aku ingin kita bersama
Menjalani hari-hari
Menyibak tabir takdir
Membereskan setiap persoalan yang pernah dan akan ada
Dan menyelesaikan hari dengan seulas senyum atau setitik air mata bahagia

Betapa ingin aku bisa menginderamu
Tanpa malu
Karena kau temanku dan aku temanmu
Selamanya