Who Amung Us

Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 Maret 2021

Perpanjang SIM di Luar Daerah Asal 2021

 (Memoar Perantau Magelang Asal Klaten)

Awal Maret, pengingat kalenderku berdering dering. Sebulan lagi, 1 April, batas maksimal aku memperpanjang masa berlaku SIM ku. Sengaja kupasang pengingat jauh-jauh hari supaya longgar mengatur waktu nya. Juga buat nyiapin anggaran nya.

Awalnya sempat mikir, aku bikin SIM nya barengan aja ah sama kontrol rutin ke dokter. Tapi ditimbang timbang, kayaknya waktunya nggak bakalan nyukup 1 hari jadi deh kalau urusan nya 2 macam gitu. Terus mulai deh cari solusi. Pasang status WhatsApp, japri tanya-tanya info SIM ke temen-temen, curhat di grup keluarga, browsing google. Lalu cari waktu yang tepat, sebelum terlambat.

Dari berbagai sumber itu, beragam jawaban yang didapat. Ada teman yang bilang kudu nyiapin biaya 220.000, 185.000, 175.000.. yah, sekitar itulah. Mak jegagik. Perasaan dulu pertama kali bikin SIM baru cuman 240.000. sekarang perpanjangan aja nyampe segitu.

Di grup keluarga, Ibuk sempat mendebat berdasarkan informasi dari internet, biaya perpanjangan SIM hanya 75.000. bapak dan adik sempat juga menebak, kisaran biaya sampai dua ratus ribuan itu mungkin pakai calo.

Okelah, aku akan pastikan sendiri. Hari ini akhirnya aku berangkat. Mumpung ada kesempatan, sudah izin sama atasan semalam, dan kali ini tidak perlu pakai surat izin. Tapi gawatnya, di pagi buta, datang tugas mendadak untuk menggantikan jadwal jaga UCO. 2 permintaan. Yasudah, sepertinya memang lagi banyak yang berhalangan, aku bantu bantu dulu nggak masalah.

Selepas mengawas, baru kucari lagi info tepatnya apa saja yang harus kubawa, dan di mana tempatnya yang harus kutuju. Beruntung ada mbak Vita, mbak Yanti, mbak Janah yang dengan enteng tangan menginformasikan berbagai hal yang kubutuhkan. Hanya perlu bawa KTP dan SIM asli, lalu difotokopi.

10.21 Akupun ke BMT, mengambil uang gaji yang sengaja kusisihkan khusus untuk memperpanjang SIM ini. Aku berangkat dari Pabelan 1, gerbang SMA. Menuju ke area Kota Mungkid, menyusuri deretan bangunan-bangunan kantor pemerintahan.

Mampir dulu isi bensin di Pom Mendut. Jaga-jaga kalau harus kemana-mana, soalnya bensin udah lumayan mepet. Pas lihat ada kios fotokopi di sekitar seberang BNI Mungkid, aku mampir fotokopi KTP dan SIM masing masing rangkap 2. Aku belum tahu sih tepatnya butuh berapa. Habis seribu. Sekarang rata-rata di mana mana fotokopi per lembar 250 rupiah.

Melewati bangjo masjid An Nuur, aku jalan semakin pelan. Mengamati kiri dan kanan jalan sampai ketemu tulisan LPK Jaya Barokah di kanan jalan. Samping LPK itu ada bangunan kecil yang pelataran nya banyak motor,dijaga tukang parkir. Ini persis deskripsi dari Mbak Yanti tadi. Aku pun menyeberang, parkir, dan langsung kelihatan berbagai petunjuk untuk memperpanjang SIM.

Aku masuk ruangan paling kiri, yang ada tulisan pendaftaran dan tes kesehatan. Antri 1 orang saja sambil menyiapkan fotokopi KTP dan SIM ku, aku sudah dipanggil. Ditanyai langsung mau memperpanjang SIM C. Setelah ku konfirmasi, langsung aku disuruh mengukur tinggi badan di alat pengukur, dan ternyata aku 152. (Duh, berubah lagi skalanya. Bikin SIM pertama pas masih ABG dulu, aku 154. Pas tes kerja di PT KAI, aku 149, langsung disuruh pulang, nggak lulus. Sekarang 152. Hhhh)
Lalu aku diminta menimbang berat badan di timbangan sebelahnya, 76. Oh noooo.
Lalu diminta masuk ke ruangan di balik pintu. Di sana aku dipersilakan duduk di kursi merah, lalu dites mata. Pertamanya diminta menutup 1 mata, dan tulisan yang ditunjukkan lumayan kecil. Aku kesulitan membaca hurufnya. Lalu ukuran huruf dinaikkan dan dilihat pakai 2 mata langsung. Lancar. Lalu pindah kursi dan ditanya-tanyai riwayat kesehatan. Setelahnya, aku diminta bayar 50.000 dan diberi surat keterangan kesehatan.

Pindah ke ruangan di deretan tengah. Ada air mineral kemasan di kardus, dan buku tamu. Aku langsung masuk, menyerahkan fotokopi KTP dan SIM beserta surat keterangan kesehatan sebelumnya. Antri. Lalu aku dipanggil, diberi soal tes psikologi dan lembar jawab nya. Ku kerjakan saja. Soal-soalnya tidak sulit. Gambaran umum saja. Aku berusaha jujur, ada beberapa item pertanyaan yang kujawab dengan jawaban negatif, sebagaimana adanya. Untung nggak banyak. Banyakan positifnya tetep. Setelah soal dan LJ ku serahkan, aku diminta menunggu sebentar, lalu dipanggil. Diminta bayar 50.000 dan diberi surat hasil tes psikologi. Setelahnya, aku diarahkan untuk menuju ke gedung SIM loket 1.

Ternyata gedung SIM itu ada di dalam Polres Magelang, dan tempatnya terpisah 100 meter dari lokasi tes itu. Parkir 2x deh, soalnya bapak parkiran tes udah mau tutup sebentar lagi. Daripada saling merepotkan, ya Udin, kubayar ongkos parkir nya, dan kulajukan motorku menuju parkiran SIM dalam Polres. Lingak-linguk sebentar, ada banyak petunjuk dipasang dimana mana. Mudah saja menemukan gedung SIM yang dimaksud. Di pelatarannya, ada bapak polisi sedang memperagakan ujian praktik mengemudikan motor, di lintasan 8. Ada mas-mas bermasker hitam berdiri memperhatikan bapak itu di dalam area lintasan.

Gedung SIM itu tinggi lantainya, ada tangga pendek, dan ada akses jalan miring untuk yang berkursi roda. Aku langsung masuk ke gedung SIM, mengedarkan pandangan sesaat, menuju loket 1. Tidak ada orang. Aku berdiri sebentar di situ, lingak-linguk lagi, sampai ada bapak-bapak berkemeja biasa masuk ke loket 1 itu dan membantuku. Berkas kuserahkan, bapaknya menatanya di map, lalu aku diarahkan untuk mengisi formulir di kursi tunggu, dan membayar di kantin.

Kucari spot yang paling adem terkena jalur tolehan kipas besar. Duduk di situ, merogoh tas, mencari pulpen, minum sepuasnya, lantas mengisi formulir. Selesai, barang-barang ku bereskan, ku siapkan uang 75.000, menuju kantin.

Di kantin, ada ibu polisi duduk di kursi makan, mejanya penuh alat tulis. Sepertinya di situlah pembayarannya. Mengantri 1 orang yang sedang menyelesaikan transaksi, aku pun dipanggil. Berkas ku serahkan, ibunya menandai beberapa hal, lalu menyebutkan biayanya 75.000 untuk perpanjangan SIM C, ditambah 3000 untuk biaya top up e-money yang dipakai untuk membayar biaya perpanjangan SIM itu. Baiqlah, yang 75 di tangan ku serahkan, lalu rogoh-rogoh tas lagi, mencari 3000. Selesai, berkas diberikan kepada ku lagi. Aku diarahkan ke loket 2.

Di loket 2, berkas kuserahkan, dikonfirmasi kembali akan memperpanjang SIM, lalu aku diminta menunggu di tempat mengisi formulir tadi. Aku duduk di tempat yang sama, yang banyak angin nya. Tidak lama, ada bapak polisi memanggil ku dan ibu di belakang ku untuk ke ruang foto. Mengantri sebentar, ada yang sedang dibicarakan, yaitu anak yang belum genap 17 tahun,mau bikin SIM. 17 tahun nya masih besok Agustus. Maka ibu dan anak itu dipahamkan baru boleh datang kembali pada Agustus untuk mengambil SIM nya.

Aku dipanggil! Dikonfirmasi data terbaru ku, nama, TTL, alamat, termasuk pekerjaan (data pekerjaan ku berubah dong dalam 5 tahun ini). Lalu pengambilan sidik jari, tanganku dibasahi hand sanitizer, lalu setiap jari ditempelkan ringan ke sebuah alat kotak berlayar hijau. Setelah itu, tanda tangan di alat kotak berlayar terang. Kemudian foto.

Aku pakai jilbab pink kali ini. Mukaku berminyak, sudah siang, dan aku tidak mengantisipasi jika harus foto SIM hari ini juga. Kupikir tadi kan sudah siang, jadi aku tanya tanya dulu aja prosedur nya gimana, sambil nyicil nyiapin dokumen yang dibutuhkan. Surat-surat tes itu. Eeeeh, jadinya begini. Malah kebeneran sih, sehari bisa langsung jadi. Walaupun dengan jilbab pink, wajah klumut. (Padahal semalam udah berencana mau pakai jilbab merah dan sebelum foto wajib kudu skincare an dulu. Minimal peeling, masker,dan pelembab/krim. Sukur sukur pas mau foto sempet bedakan tipis, biar bening.) Ahahah, namanya aja aku.

Habis foto, mbak polisi mengarahkan ku untuk menunggu di belakang. Aku pun duduk di kursi tunggu tadi. Tapi eh, celingak-celinguk, kok temen ngantri ku tadi nggak ada. Bener nggak ya aku nunggu di sini? Akhirnya aku ke ruangan utama tadi, thingak-thinguk mencari petunjuk dimana loket selanjutnya. Sampai kemudian ada bapak polisi keluar dari salah satu loket, ku cegat, ku tanyai. Ternyata yang dimaksud belakang itu di luar, guys. Ahahahaha. Nggak berani tanya sama petugas di loket foto tadi, karena walaupun ramah, tapi kelihatan sekali kalau mereka sibuk.

Aku pun keluar, menuju loket pengambilan SIM. Malu-malu kutanyakan SIM ku. Bu polisi dengan wajah penuh senyum bilang, "Tadi saya panggil panggil lho mbak"
Hehe, ku jawab jujur.. "nggak tau belakang itu sini Bu, saya malah ke tengah tadi"
Lalu aku berterimakasih dan berpamitan. Sambil kulihat SIM ku, kulihat fotonya maksudnya, aku berjalan menuju parkiran. Waktu tertera di HP pukul 11.55. Ambil motor di parkiran, mahar dua ribu lagi. Beres urusan SIM, aku pulang ke asrama. Lalu menuliskan ini semua.

Total 200.000 keluar hari ini untuk memperpanjang SIM. Ini situasi ku di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, akhir Maret tahun 2021, ya, Guys.

20.000 untuk isi bensin 🀐
1000 untuk fotokopi (ternyata yang dibutuhkan fotokopi KTP 3 dan SIM 1)
50.000 untuk tes kesehatan
50.000 untuk tes psikologi
2000 untuk parkir di lokasi tes
75.000 untuk biaya pembuatan SIM yang masuk ke penerimaan negara bukan pajak
3000 untuk top up e-money yang buat bayar 75.000 ke negara itu
2000 untuk parkir di Polres
Sisanya masih ada recehan buat beli susu ultra rasa Taro πŸ˜‚

(((Mau nyelipin foto ultra milk rasa Taro di sini, tapi bingung caranya, soalnya pakai HP ini. Dulu ada pilihan nya sisipkan foto. Sekarang pindah ke mana yak?)))

Mbareng tak pikir pikir, aku ncen Ra bakat dadi wartawan yaw.

Adoh adoh ngurus Perpanjangan SIM, direwangi pamit atasan, disengkakke pas Ono sak umprit wektu luang.. critane arep gawe konten blog.. eh lha, dokumentasi yang ada di HPku malah karton ultra milk penyet kegencet-gencet πŸ˜€

Alhamdulillah, bisa memperpanjang SIM dengan cepat dan dekat, tanpa harus pulang kampung dulu. KTP ku masih Klaten, bikin SIM di Magelang ternyata bisa bisa aja kok. Gampang juga dan biaya standar, nggak perlu calo sama sekali.

Fixed cost buat memperpanjang SIM di bulan Maret 2021 ini kurang lebih 50.000 untuk tes kesehatan, 50.000 untuk tes psikologi, 75.000 untuk biaya perpanjangan SIM. Jadi, Fixed cost nya sekitar 175.000. Biaya serba serbi nya tergantung pada kearifan lokal daerah masing-masing dan kondisi pribadi masing-masing, hihi. (Soalnya ada yang pakai laminating SIM, ada yang pakai asuransi lakalantas, dan entah apa lagi. Aku tadi sih ada biaya 3000 itu buat biaya transfer lah gampangnya)

Tadi, saat bingung ambil SIM nya dimana itu, aku malah menangkap tulisan, layanan perpanjangan SIM di kantor Polres Kabupaten Magelang, standar waktu nya 68 menit. Wow. Ada standar nya, Guys! Alhamdulillah sekarang kepolisian semakin ramah dan profesional. Di balik segala kekurangan, ada kebaikan nya juga.

Oya, dalam perjalanan menuju parkiran tadi, dari lantai 2 salah satu gedung, terdengar bapak-bapak polisi rame-rame kompak sholawatan. Nyeesss di hati.

Satu hal saja yang kusesalkan. Kenapa hari ini aku bikinnya. Karena jadinya masa aktif SIM ku kepotong maju sepekan. Untuk 5 tahun-5 tahun ke depan. Aturan emang tadi aku nanya dulu sih. Balik lagi nyeleseiin urusan pekan depan pas ulang tahun aja. Jadi gampang nginget-inget nya. Tapi yaudah, Alhamdulillah ala kulli hal. Ini yang terbaik, takdir Allah. Siapa tahu besok-besok dalam pekan ini mendadak sibuk kan? Sekarang udah beres SIM nya, nggak perlu dipikirkan lagi.

Well, aku nulis ini seperempat hari sendiri! Kalian baca berapa menit? Hehe

Senin, 19 Oktober 2020

Keberhasilan Pertama Sebagai Konselor

 

Siswi : Assalamu'alaikum buuu
Ini Siswi dari kelas U
Sebenarnya mau tanya dari lama, tapi lupa terus, ini nggak masuk ke pelajaran BK sih, tapi ganjel aja..
Siswi sering itu Bu, liat YouTube, channel nya Rachel Goddard tema Cutime
Siswi : Belajar banget tentang sex education, ada satu pertanyaan yang ganjal, tapi Siswi gatau mau nanya siapa, nanya Bu Ridla gak apa kan Bu πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯Ί
Siswi : Siswi mau nanya ini Bu, gimana sih previlege Bu Ridla tentang perawan nggak perawan, dilihat dari sisi Islam sama sosial yang berarti non muslim juga
Siswi : πŸ™πŸ˜” makasih Bu, maaf mengganggu
Konselor : Wa'alaikumussalam... Maafkan baru buka WA nya nduk, hp bu Ridla sedang error beberapa hari ini, nggak ada sinyalnya.. ,
Konselor : Hmmm..jadi kepo..
Bu Ridla coba liat2 dulu ya nduk.. Biar ada gambaran, pandangan mereka tu gimana.. Baru nanti coba Bu Ridla kasih pandangan insyaallah
Konselor : Lho.. Boleh banget.. Masuk lho di BK, salah satu bahasan penting BK untuk remaja adalah sex education yang bener.. Bukan sex education ala kaum feminis / liberal / kapitalis
Konselor : Bentar, Bu Ridla usaha cari sinyal dulu buat ngepoin youtube nya Rachel Goddart
Siswi : Iya buu nggak papa
Oke buuu
Konselor : Yang manakah persisnya yang bisa dicontohin?
Bu Ridla bingung milih mau liat yg mana dulu nih di playlist ini

https://www.youtube.com/playlist?list=PL2aI088qJCreVePOssi7IGZMy2x2MyR-9
Rekomen dongs
Siswi : Yang itu Bu, coba yang permintaan maaf
Siswi : Soalnya Siswi lupa" ingat
Kayaknya hampir semua video cutime nya ada ttg itu Bu
Siswi : Sebenarnya Siswi nanya ini sih lebih karna "ternyata banyak ya yang udah having sex sama pacar nya,"
Gitu Bu, makanya nanya gini, kalau nanya ke mamah awkard banget
Konselor : Hmmm... Sebenarnya Bu Ridla kaget juga nduk liat ini tadi. Ternyata udah separah itu ya anak anak remaja masa kini..
Itu ada macem2 sih ceritanya, ada yang udah ibu2, ada yang masih remaja pacar-pacaran gitu, bahkan ada yang anak kelas 4 SD nyeritain pengalamannya
Konselor : Kalau menurut Siswi sendiri gimana tuh fenomena kayak gini?
Siswi : Iya buu sedih banget liat nya
Sebagai sesama perempuan lebih speechless banget Bu, nggak nyangka banget
Konselor : Kasian ya mereka yang di luaran sana, entahlah sex education macam apa yang mereka asup, kok bisa sampai segampang itu..melepaskan keperawanan..

Dan lebih sedihnya lagi, mereka nggak merasa malu.. Segamblang itu mereka ceritakan semua dosa-dosanya ke publik.. Walaupun yaa, nama disensor, tapi kan tetep aja, itu aib
Siswi : Iya buuu, kayak, itu tuh simpel banget gitu Dimata mereka
Miris aja gitu liat nya :(
Konselor : Kayak nggak ada gitu yang perlu dijaga, dirawat, dilindungi, dipelihara..
Konselor : Padahal kan ya, alat reproduksi kita, kemaluan kita, keperawanan kita, itu kan amanah dari Allah kan ya
Konselor : Mungkin mereka nggak pernah kepikiran bakal mempertanggungjawabkan segala amanah kelak di akhirat
Siswi : Iya ya Bu,
Siswi punya temen bukan anak IF sih, dia ikut group nulis gitu, di group itu mereka juga sering sharing dan curhat
Siswi : Ternyata di daerah Kalimantan masih sering anak SD dijadiin pelacur
Aku di ceritain itu, langsung speechless banget Bu yakin
Dan orang tua mereka sendiri yang jadiin mereka pelacur, sedih banget :(
Konselor : Astagfirullah... Innalillahi.... Wa inna ilaihi roji'un
Konselor : Daerah mana itu nduk?
Siswi : Kurang tau Bu, daerah Kalimantan, mungkin yang agak desa gitu ya
Konselor : Tapi itu udah dituliskan nduk? Dalam artian ada harapan dibaca banyak orang?
Konselor : Itu pelanggaran berat itu.. Harus diambil tindakan.. Panjang itu nanti dampaknya, dan panjang juga proses "mengobatinya"
Siswi : Nggak bu
Siswi : Iyaaa sedih banget
Siswi : Tadi Siswi tanya lagi ke temen, katanya daerah Kalimantan Timur kalau gak salah
Siswi : https://www.instagram.com/p/CFGxzUaniZr/?igshid=7tknx7tqicsy

Ini pernah viral sih Bu, tapi ga begitu booming
Konselor : Laa hawla wa laa quwwata illaa billaaaah
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Siswi : Speechless banget kan Bu 😭
Siswi : Kayak, gak nyangka, aku aja yang baca ga nyangka :((
Konselor : Kok bisa ya, itu mas mas  ......... 😭😭😭😭😭😭
Konselor : Tega banget
Siswi : Banget buuu, gatau lagi ga bisa nemu pemikiran nya kok gitu banget :(
Siswi : Ditambah faktor broken home, setertekan apa itu adek nya
Konselor : Seenggaknya sejak awal cerita dan di akhir cerita, ada kesan masnya menyesal dan merasa bersalah.. Cuman mau taubat nasuha apa engga, dan udah taubat apa belum itu masnya πŸ˜–
Konselor : Nah ituuu
Konselor : Dan alangkah dosanya itu nantinya bapaknya sama masnya besok di akhirat
Konselor : Udah ada yang turun tangan nolongin dia belum yahh.. Kasian..
Siswi : Iyaaa, kalau jadi mas nya mungkin aku yang bakal bunuh diri
Siswi : Sekarang dia udah bebas mungkin Bu
Konselor : Maksudnya..........?
Siswi : Mungkin udah bebas dari itu, temen" Abang nya, udah menjalani hidup semestinya
Siswi : Kasian banget Bu :( gatega
Konselor : Semoga.. Aamiin..
Konselor : Bu Ridla tadi mikirnya malah kebalik, kejauhan, tak kira malah udah bunuh diri si adik
Siswi : 😭 wadoh
Siswi : Kemungkinan bertahan hidup kecil banget gak sih Bu kalau gitu?
Konselor : Dari kata-kata ini tadi.. Bu Ridla kebawa jadi parno
Siswi : 😭😭 salah nangkep
Konselor : Bisa dikira-kira begitu.. Itu jelas harus ada yang turun tangan membantu itu.. Wong orang orang yang bertanggung jawab atas dia kok yang malah merusaknya
Kalau nggak ada orang luar yang turun tangan,..
Nggak tau deh gimana kelanjutan nasib si adik
Siswi : :((
Siswi : Setiap baca itu rasanya pengen nangis,
Bersyukur banget hidup di keluarga hangat, bisa masuk Pondok ZZZ, sekolah yang bener, menutup aurat dengan sempurna
:((
Konselor : πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘ sepakat bangetttt
Siswi : Nah, sekarang Siswi mau tanya, previlege Bu Ridla tentang perawan gak perawan gimana sih Bu?
Konselor : Bentar.. "Privilege" tu apa dulu nih maksudnya?
Soalnya Bu Ridla kurang nangkep maksud pertanyaan nya
Siswi : Pandangan Bu Ridla tentang orang yang nggak perawan?
Siswi : Dan perawan itu tuh apasih Bu? Apa mengenai sobek nya selaput dara? Apa first time having sex?
Konselor : Bagi Bu Ridla, keduanya.
Konselor : Ada banyak latar belakang orang.. Setiap orang punya masa lalu, entah itu terang, entah juga kelam.

Bagi Bu Ridla, yang penting adalah bagaimana dia sekarang. Bagaimana pandangan dia sendiri tentang, misal, dia sudah tidak perawan. Apakah dia menyadari itu kesalahan, atau malah bangga? Apakah dia bertaubat dan sungguh tidak lagi mengulangi, atau justru menikmati "toh aku udah engga perawan, jadi ya loss aja, lakuin terus, toh udah nggak ada segelnya, nggak bisa dibalikin lagi."

Karena dalam Islam, ketika pun seorang gadis (yang dia sendiri sadar dirinya sudah tidak perawan) dilamar / dikhitbah oleh laki-laki yang baik agamanya.. Dia dianjurkan menutup aibnya sendiri, tidak menceritakan nya. Kecuali si suami atau calon suami menanyakan kepastian tentang keperawanan itu. (Karena bagi sebagian laki-laki, sungguh keperawanan itu betul betul penting, dan dia bener-bener nggak rela mendapatkan bekas orang).

Dan sebaliknya, Ikhwan sholih pengantin baru yang mendapati istrinya sudah tidak punya selaput dara, oleh Islam disuruh untuk Husnudzon dan introspeksi diri, dimana dia mencari calon istri nya itu, dengan cara bagaimana dia menjemput nya. Lalu dia diperintahkan untuk tetap mengupayakan keutuhan rumah tangga, dan mendidik istrinya itu dengan sebaik baiknya.
Siswi : Setuju sih Bu πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ€²πŸ»
Konselor : Tapi kalau si perempuan yang sudah nggak perawan itu malah bangga, dan malah "loss doll" gitu... Yaaa.. Gimana ya...

Rasanya.. Pengen tak iket, tak kurung di masjid Pondok ZZZ sendirian 😁

Sambil tiap hari ditausiyahin.. Biar taubat
Siswi : 😭😭😭 aku mau ketawa Bu
Konselor : First time having sex itu udah pasti ya. Semua sepakat soal itu.

Tapi.... Allah nyiptain selaput dara (dengan berbagai kondisinya) itu kan pasti ada maksud kan.. Allah kasih itu ke setiap makhluk bernama manusia perempuan, itu sebagai ujian, amanah, dan juga nikmat.

Bayangin coba kalo Allah nggak pernah bikin selaput dara. Betapa kaum-kaum yang loss doll itu akan semakin keterlaluan?

Seenggaknya itulah "segel" fisik yang harus dijaga, itu titipan Allah lho.

Dan alangkah merasa Beruntungnya, dan bayangkan betapa bahagianya, seorang pengantin wanita.. yang di malam pertama nya sukses mempersembahkan kesuciannya untuk sang suami yang sudah halal baginya.

(walaupun Bu Ridla juga belom pernah merasakan emosi kelegaan itu, tapi bisalah dikira-kira, ya nggak? Hehe😁😁)
Siswi : BENER BANGET BUU SETUJU 😭😭😭❤️
Konselor : Btw ada apa to ini...
Tumben banget soalnya, ada yang berani bahas bahas kayak gini secara terbuka...

Biasanya pada suka malu-malu dan memilih mencari tahu sendiri dari mana mana..

Bu Ridla salut ini, Siswi bukan gadis biasa berarti..
😏😏😏😏😏😏
Siswi : Waduh, sebenernya karna sering nonton YouTube nya kak rachel itu, terus Siswi juga punya sahabat yang pandangan nya dewasa

Dia yang ngajarin Siswi tentang pemikiran" masa depan, tentang cinta", tentang sex educate juga, pokoknya klop banget padahal kita seumuran
Siswi : Karna banyak nonton jadi banyak pertanyaan kan Bu, mau tanya ke Mamah rasanya awkward banget
Siswi : Terus Siswi pengen tanya ke guru, akhirnya pilih Bu Ridla soalnya Bu Ridla enak, kesan nya kayak temen sama temen ❤️
Hehehe
Konselor : Assiiiiikkk
Konselor : Deuh jilbab nya Bu Ridla jadi sesak nihh wkwkwk
Konselor : Hayuk atuh, kalau ada bahan diskusi, kita diskusikan aja..
Siswi : Iya buu nanti kalau Mona ada pertanyaan boleh nanya ke Bu Ridla kan?
Konselor : Boleh banget dong, dengan senang hati insyaallah.

Etapi ngobrolin ini sama ortu, bisa dicoba juga loh. Siapa tahu dapat insight insight baru.

Cuman mungkin nanti.. Jangan heran kalo ibu / bapak spontan berekspresi kaget. Kebanyakan orang tua tu lama prosesnya baru betul betul sadar, kalau ternyata anaknya udah besar πŸ˜†πŸ˜†
Siswi : Nah itu Bu takut canggung Siswi tuh, belom berani speak up masalah ginian 😭😭
Konselor : Ya.. Ya.. Ya.. Pelan pelan..
Konselor : Deket nggak sih sama keluarga?
Siswi : Deket kok Bu, tapi kan ini bahasan yang sedikit πŸ™„πŸ™„πŸ™„
Konselor : Yes. Right. πŸ˜πŸ˜πŸ˜πŸ‘ŒπŸ‘Œ
Siswi : Makasih yaa Buu udah memberi Siswi pencerahan πŸ˜ƒπŸ˜ƒπŸ˜ƒ love buat Bu Ridla ❤️
Siswi : Udah nggak ganjal lagi, nambah wawasan juga xixixi
Konselor : Alhamdulillaah πŸ˜ƒπŸ‘
Konselor : Mohon izin, bolehkah obrolan kita Bu Ridla jadikan konten di blog?
Anonim tentunya
Seru ini soalnya
Jarang jarang ada momen kayak gini Bu Ridla temuin
Siswi : Iya buu nggak apa
Konselor : Alhamdulillaah πŸ‘πŸ‘πŸ‘makasih 😘😘
Semoga bermanfaat untuk orang banyak

Mistisme #1 Pasca Masuk Pathfinder

Aku seorang konselor yang malam ini baru saja, dan sedang, diterjang kasus luar biasa. Beberapa waktu sebelumnya, juga ada kasus berat, yang aku masih kelabakan menyikapinya. 


Konseling Konseling ini.. Bermakna memang. Namun melelahkan. 


Oke insyaallah akan kumaksimalkan waktu waktu terakhir ku di sini untuk berkontribusi. 


Namun aku tahu, tidak selamanya aku akan di sini. Terlalu melelahkan, bukannya flow, Arete, Ikigai yang aku rasakan. Rasa bersemangat, meluap-luap, rasa yakin untuk terus menekuni semua ini.... 


Meski entah kapan juga aku akan ambil keputusan seberani resign. Dalam status ini. 


Atau.... Sebentar, sebentar. Apakah semua konselor pada dasarnya juga merasakan ini? 

Merasakan kelelahan dan konsekuensi beban ini? Perlu kucari tahu ini. 


Oh aku tahu. Berarti aku perlu lebih mencermati "respon spontan diriku pasca Konseling selesai.." Terlebih dahulu. Baru aku bisa merenungkannya lebih dalam lagi. Sebelum aku mengambil keputusan yang lebih jauh lagi. 


Apakah aku begitu puas dan lega? Atau upah emosional nya jauh tidak sebanding dengan beban kerja nya? 


Tapi masalahnya aku belum pernah "menyelesaikan" Konseling ku. Karena saking masih kurangnya ilmu. Karena aku doing by learning. 


Yah, jalani saja dulu. Dan kita lihat, apa yang akan terjadi. 

Minggu, 18 Oktober 2020

Studi Kasus Remaja Bermasalah

Teman-teman, hari ini aku sedang menempuh UTS Semester 2 di jurusan BKI STIT Ihsanul Fikri Mungkid. Ada soal yang menarik menurutku, dan sayang sekali kalau aku nggak punya rekaman/dokumentasi dari pekerjaan ini. 

Maka kali ini, setelah sekian lama tidak posting konten di blog ini (karena aku lagi getol-getolnya mikirin serba-serbi konten, baik untuk Youtube, Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Yah, aku adalah tipe orang yang nggak sembarangan posting konten yang sama di semua media yang aku punya. Kalau bisa, setiap media punya konsentrasi yang berbeda, gaya penyampaian/penyajiannya juga berbeda, walaupun pastinya mengandung inti minat yang saling beririsan), aku akan membagikan tulisan ringan tugas kuliah, anggap saja begitu. Ini untuk dokumentasiku sendiri sih, syukur syukur kalau bermanfaat untuk yang membaca.


Nih, soalnya    _V_


Realitarakyat.com – Masih ingat siswi SMP yang bunuh balita 5 tahun dan jenazahnya disimpan dalam lemari? Ya, ABG yang berinisial NF (15). Ia kini sedang hamil 14 minggu atau 3,5 bulan. Ia ternyata adalah korban pelecehan seksual.Bahkan, kini sedang hamil 14 minggu atau 3,5 bulan. Mirisnya, pelaku pelecehan seksual terhadap NF terbongkar berjumlah tiga orang dan merupakan orang terdekatnya. “Ya betul (NF merupakan korban pelecehan seksual).NF berada dalam dua posisi sekaligus, yaitu sebagai pelaku pembunuhan dan menjadi korban kekerasan seksual,” kata Harry , Kamis (14/05/2020).Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan psikologis di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, NF juga diketahui tengah hamil. “(NF) menjadi korban kekerasan seksual oleh tiga orang terdekatnya, hingga kini hamil 14 minggu” ungkap Harry.Harry berharap, kasus pelecehan seksual tersebut diselidiki oleh kepolisian guna mengungkap alasan NF membunuh tetangganya. Kini, NF mendapatkan layanan rehabilitasi sosial di Balai Anak Handayani sembari menunggu proses peradilan.“Kasus kedua (pelecehan seksual) juga perlu diselidiki untuk mendapatkan kesimpulan logis mengapa anak ini melakukan tindak kekerasan,” tutur Harry.NF (15) nekat membunuh APA (5) karena terinspirasi dari film pembunuhan. APA diketahui dibunuh di rumah NF di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat, pada 5 Maret 2020 lalu.1. Tersangka menyerahkan diri ke polisiPeristiwa pembunuhan itu terungkap ketika NF menyerahkan diri ke Polsek Taman Sari, Jakarta Barat, Jumat (06/03/2020). Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Heru Novianto mengatakan, kepada polisi, NF mengaku telah membunuh tetangganya sendiri dan menyimpannya di dalam lemari di kamarnya.“Korban bermain dengan tersangka, kemudian tersangka membunuh korban.Setelah itu, tersangka memasukkan korban ke dalam lemari baju yang ada di dalam kamar tersangka,” ungkap Heru.Selanjutnya, polisi melimpahkan tersangka ke Polsek Sawah Besar guna penyelidikan lebih lanjut.2. Sempat diduga menjadi korban penculikan Orangtua korban sempat menduga anaknya menjadi korban penculikan karena tak kunjung pulang ke rumah usai bermain ke rumah NF. Korban dan tersangka diketahui bertetangga.Kemudian, orangtua korban melaporkan peristiwa dugaan penculikan itu kepada Ketua RT setempat. Ketua RT 04/RW 06 Sawah Besar, Sofyan mengatakan, orangtua korban bersama warga mencari keberadaan korban ke rumah tersangka NF. Bahkan, mereka juga mengecek kamar tersangka.“Jadi memang orangtuanya (korban) ini lapor ke saya, bilang anaknya enggak pulang-pulang. Akhirnya kita cari, kita juga sempat ke atas (kamar tersangka) cuma lihat kamar kosong,” kata Sofyan.Keluarga korban baru mengetahui peristiwa pembunuhan yang menimpa anaknya ketika polisi mendatangi TKP pada Jumat pagi.“Pas Jumat pagi itu, ada polisi datang dari Polsek Taman Sari, saya juga enggak tahu (kalau korbam dibunuh), katanya anaknya (tersangka) lapor dan menyerahkan diri,” ungkap Sofyan.3. Korban dibunuh secara sadis Heru mengatakan, tersangka membunuh korban ketika korban bermain ke rumah tersangka. Bahkan, kepada polisi, tersangka mengaku secara sadar membunuh korban. Heru menjelaskan, APA yang berkunjung ke rumah tersangka dibunuh dengan cara ditenggelamkan ke dalam bak mandi, dicekik, dan dimasukkan ke dalam lemari di kamarnya.Sebelumnya, tersangka sempat berniat membuang jenazah korban. Namun, tersangka mengurungkan niatnya tersebut dan tetap menyimpan jenazah korban dalam lemari. “Awalnya mau dibuang karena sudah menjelang sore, akhirnya disimpan di dalam lemari,” ungkap Heru. 




-------------------------------------------------------

Melihat deskripsi studi kasus ini, silahkan teman teman temukan Masalah utama nya, kemudian masalah masalah yang mengikutinya, sedangkan untuk langkah penanganan pertama adalah apa......kemudian sebagai konselor muslim apa yang akan teman teman lakukan untuk membantu permasalahan ini......


Nah, berikut ini jawabanku πŸ˜„πŸ˜„


Masalah utamanya adalah NF mengalami kehidupan yang tidak kondusif untuk berkembangan remaja. Entah bagaimana ceritanya, dia menjadi korban pelecehan seksual oleh lebih dari satu orang, dan mereka justru adalah orang-orang terdekatnya. NF juga terbiasa menyaksikan kekerasan, salah satunya dari film pembunuhan, sampai dia terinspirasi untuk membunuh APA. Dari ilustrasi gambar di berita ini juga tampak bahwa secara psikologis NF sangat tidak sehat. Dengan kata lain, NF memiliki kelainan jiwa akibat dari pengalaman hidup yang tidak wajar/tidak menyenangkan.


Masalah yang mengikutinya antara lain NF menjadi terjerat kasus hukum karena dia telah membunuh dengan sengaja, lingkungan sekitar tempat tinggal/tetangga-tetangga dan teman-temannya pasti akan menjauh atau membencinya, dan ancaman untuk terus mengalami pelecehan seksual, serta kehamilan remaja yang harus dia tanggung sendirian.


Langkah penanganan pertama adalah NF perlu dijauhkan dari lingkungan dimana dia selama ini dirusak. Diberi semacam "rumah aman" dimana dia dapat menjalani hari-harinya tanpa ancaman keburukan lingkungan sekitar. Dalam hal ini, setelah menjalani pemeriksaan fisik dan psikologis di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jaktim, NF mendapatkan layanan rehabilitasi sosial di Balai Anak Handayani sembari menunggu proses peradilan. Ini adalah langkah yang tepat. 


Sebagai seorang konselor muslim, jika saya yang harus menangani kasus NF di Balai Anak Handayani, maka saya akan membantu masalah ini dengan menggali kisah hidupnya, menggali/mendorong NF menceritakan perasaan-perasaannya, kesakitan-kesakitannya, kekecewaan-kekecewaannya, dendam-dendamya. Kemudian, jika data sudah lengkap, dan NF sudah berhasil katarsis, maka mulai menginjak step berikutnya, yakni memecahkan persoalan. Saya akan mengajak dia memaafkan masa lalu, membuang emosi-emosi buruk yang selama ini memenuhi jiwanya. Setelah itu, saya akan mengajak NF bertaubat, kembali pada Allah, memohon ampunan atas semua yang selama ini telah terjadi, dan memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang-orang yang telah berbuat jahat/ikut andil dalam merusak jiwa NF. Jika sudah kondisi zero, saya akan mulai mengajak dia merancang sikap yang baru untuk menghadapi hari-hari barunya.


Sebagai pembunuh, NF mungkin akan tetap dihukum, tapi perlu dipastikan dia mendapatkan keadilan, minimal dengan ditempatkan di penjara khusus anak, dan di sana dia harus tetap mendapatkan bimbingan/rehabilitasi sosial. Bukankah LP seharusnya benar-benar menjadi Lembaga Pemasyarakatan? Bukan sebatas dikurung bersama dengan orang-orang pelaku kejahaan lainnya. Sehingga,  setelah keluar dari LP, diharapkan NF dan para tahanan anak lainnya akan siap terjun ke masyarakat sebagai seorang individu yang sehat, dan bisa memberi kontribusi positif.

Jumat, 03 Juli 2020

Rapi? Peka? Bagaimana?

Tau nggak, apa yang paling mengejutkan sekaligus membahagiakan saat dulu di LKI? Salah satunya adalah ketika suatu hari aku mengunjungi sekre, begitu kubuka pintunya, taraa, terpampanglah sekretariat yang bersih dan rapi, bahkan wangi, sampai-sampai aku akhirnya tahu bahwa sekre kami itu beralas karpet hitam. Nyaman sekali.

Soalnya, biasanya sekre itu selalu sumpek, penuh barang, berdebu, lebih cocok dinamakan gudang. Eh lha kok ternyata bisa disulap jadi tempat nongkrong yang bikin betah, tempat berkarya yang banyak ideku lahir di sana.

Salut dan hormat buat siapapun yang ikut serta beres-beres waktu itu.

Aku masih ingat ada kertas asturo bertuliskan struktur organisasi yang dibuat oleh Ikawati. Sempat dihujat, yang seketika itu juga, penghujatnya kumarahi.

Aku kok suka marah-marah, ya, pas di kampus dulu? Di LKI, hobi marah-marah sama kadep ku. Di Biro AAI, marah sama sekretaris kaderisasi. Di rumah, marah-marah kalau pas aku lagi sibuk, diganggu. Kena marah, setiap saat ketika bukan sedang tidak kena marah.

Ahh, sekre itu. Markaz LKI.. rapi sekali..!
Kapan ya aku bisa kayak gitu?

Aku nggak bisa beres-beres. Nggak pernah bisa beres. Apalagi rapi-rapi. Aku nggak ngerti caranya gimana supaya jadi rapi. Apalagi kalau sendiri. Aku nggak tahu apa dulu yang harus dimulai. Dalam hal beres-beres ya.

Aku juga sering nggak nyambung. Nggak peka, ora mudengan, kata orang sini. Nggak tanggap, kata keluargaku.

Ketika dibahas, aku cuma ketawa-tawa mengakui. Tapi saat sendiri, dan mengingat berbagai informasi yang kudapat setelah dewasa, bahwa setiap teriakan orang tua, setiap kemarahan orang tua, setiap pertengkaran orang tua, ketika anak masih di rentang usia dini hingga SMP, setiap bentakan, setiap hardikan itu memutus 1 sinaps, hubungan antar neuron, sel otak yang terhubung dengan neuron lainnya.
(Apalagi aku tahu, aku disalahkan, dipersalahkan, atas sesuatu yang benar-benar di luar kuasa ku. Aku tahu persis aku tidak salah, tapi aku tidak mengerti kenapa aku harus dimarahi. Tahu nggak? Yang ada hanya sakit hati! Sakit sekali di dada dan di leher belakang mulut, bikin nggak bisa ngomong apa apa)

Pada saat seperti itu, yang Aku bisa hanya mengalirkan air mata.
Aku nggak tau harus melepaskan beban ini dengan cara apa.
Harus pada siapa aku membeberkannya..
Pada Allah? Lalu memaafkan masa lalu? Itu hanya teori. Dan aku tidak mengerti bagaimana menerapkan itu teori dalam kehidupan nyata ku ini.

Aku kadang. merasa lumayan cerdas sesekali, ketika bisa memecahkan persoalan pelik yang membutuhkan logika, analisis, dan waktu jeda untuk berpikir.

Tapi sekaligus juga aku merasa teramat sangat bodoh sekali ketika sedetik momen terlewat di mana aku seharusnya berbuat sesuatu, seperti mengambilkan tisu lebih tepat waktu di saat lawan bicara matanya berkaca-kaca dan hidungnya memerah (sebelum air matanya menitik betulan).. Atau ketika gelas tersenggol, dan sebelum airnya tumpah mungkin aku bisa memegangnya atau menyingkirkannya dari jangkauan anak kecil.. Atau ketika acara selesai dan bu pembicara berlalu tanpa menenteng tentengan, sementara snack ada di depanku..  Apalagi di momen-momen masak bareng keluarga. (Makanya aku bisanya masak sendirian. Tapi aku kerja apa-apa itu lama. Jadinya orang orang pada nggak sabaran. Biasanya sok mau bantu. Tapi terus aku dimarahin karena dianggap nggak bisa diajak kerja sama.)
Lalu ketika sedang bakar-bakar BBQ-an, ada yang mengangsurkan tisu atau saus bumbu, tapi aku bengong tak paham harus ngapain selama sedetik..

Cuma sedetik! Tapi dalam sedetik itu, momen tindakan spontan terpaksa harus diambil alih oleh orang lain yang mungkin lebih jauh posisinya. Dan sedetik itu menjadikan aku merasa dan terlihat sangat bodoh dan tidak paham apa-apa. Tidak peka.

Apakah betul teori itu? Syaraf-syaraf otakku banyak yang putus, sehingga aku selalu loading lama di saat seharusnya aku melakukan tindakan spontan? Apakah itu betul??!

Ingin sekali aku menyalahkan keadaan. Tapi bagaimana caranya aku juga tidak tahu. Aku hanya membusuk di sini, menua dalam kebodohan tanpa keterampilan hidup sama sekali.

Aku tahu,  tidak bijak kalau aku menyalahkan. Tapi selebihnya aku harus gimana, entah juga!

Rabu, 01 Mei 2019

Rindu Masa-Masa Itu


Ah, aku jadi kangen suasana kosan. Kangen TV semut nya. Kangen lorong penuh ranjau motor kalau kebelet tengah malam. Kangen jadi tukang parkir.

Kangen nyuci segunung (gombal seminggu) dan njemur di lantai atas, rebutan spot sama mbak-mbak. Kangen jungkir balik manajemen waktu pas musim air mati. Kangen ngungsi mandi ke NH.

Kangen piket ngepel, piket ngosek kamar mandi, piket buang sampah, piket imam..

 Ya Allah lama sekali aku nggak ngimami..
Ya Allah indah sekali, aku pernah jadi imam, merdu, bacaan tartil hasil (dan proses) belajar tahsin tiap Rabu malam. (Kangen surat izin takmiroh yang kutempel dengan bangga di mading kos, izin spesial untuk melanggar jam malam dalam rangka menuntut ilmu Quran. Bangga banget eh bisa keluar malam dengan izin resmi dari takmiroh 😈. Juga kangen dirosah muhadatsah setiap Jumat pagi.)

Aku di sana biasanya ngimami pakai surat yang sedang ku hafal. Bacaan nya panjang panjang, ya walaupun semua juga masih yang di juz 30 ajah.. Plus awalan Ar Rohman dan ayat tertentu Al Baqarah, Al Anfal, Ali Imron, At Taubah, Yasin, Ash Shaff, Al Mulk. Kecuali kalau pas keliatan pada capek atau buru-buru, baru pakai yang pendek2.

Ya Allah, sudah lama sekali itu. Aku nggak pernah hafalan lagi sekarang.

Rasanya senang, bisa khusyu sholat bareng teman-teman. Aku senang jadi imam, dan geerku sih kayaknya temen-temen juga seneng kalau pas aku yang jadi imam. Ah semua juga seneng, siapa pun yang jadi imam, asalkan bukan dirinya sendiri yang harus piket imam.

Kangen ketok-ketok pintu kamar temen-temen kalau mau subuh.

Kangen susah payah naikin motor buat parkir massal sementara di teras. Kalau pas udah malem tapi lorong masih dipake ngumpul sementara mata ku udah lengket.. Atau pas siang bolong tapi ujan.

Kangen susah payah mundurin motor turun dari teras, kalau pas yang ngeluarin kurang perhitungan. Udah Nanggung cuman sampai teras, madepnya malah ke dalam pulak. Haadduhh, syusyah beta pun urusan.

Kangen liat mbak2 kedatangan tamu ikhwan. Xixixixi, ngomong jauh-jauhan, mas nya di tangga, mbak nya di teras. Nggak saling lihat.

Kangen jadi juru nerima pembelian galon
😣
Ya Allah aku pernah setrong! πŸ˜₯

Kangen rempong nya ngepel teras kalau pas bertepatan dengan mas-mas takmir lagi ngepel tangga NA 😨
Ya Allah itu repot sekali.. Antara mau nunggu tapi buru-buru, mau buru-buru tapi malu, takut juga keliatan auratnya.  Harus presisi atur tempat buat naruh ember nya biar nggak keliatan dari NA pas lagi meres gombal pel nya. Juga harus ati2 pas ngepel biar nggak keliatan tangan dan kaki nya dari NA. Hahahah

Kangen isya dan subuh di NA bareng Bu Kos. Bahkan kangen budhe2 yang kalau Sholat kedengaran sekali komat-kamit bacaannya, bikin salah satu mbak kos ilfil, katanya jadi nggak khusyu, terganggu lah gitu. Emang kenceng bgt yang blekuthuk blekuthuk.

Kangen kajian pagi NH. Akidah, Fiqih, tafsir, kontemporer, kemuslimahan kalau Jumat.

Kangen ikut kajian kampung bapak-bapak ibu-ibu tetangga kos. Mungkin aku satu-satunya sepanjang sejarah, mahasiswa ngekos yang ikutan pengajian keliling warga. Pernah ngajakin ade2 kos, Prima kayaknya pernah mau, tapi cuma 1x, abis itu aku sendiri lagi.  Pengajian Yang penuh uang dilempar-lempar 😰.

Trus kenyang dengan snack berat, kadang malah ada makan, tanpa susah jadi panitia. Disambut dengan tangan terbuka, ditunggu tunggu, kalau nggak dateng besoknya ditanyain sama ibu2..

Ternyata itu semua sudah lama sekali ya Allah...
Dunia sudah berubah.
Izinkan hamba berbenah..

Makan Ku Selama Kuliah

Warung ijo nasi goreng Legendaris itu sudah tidak ada di lokasi yang dulu. Entah pindah tempat, alih konsep, atau tutup selamanya.

Jadi, tadi aku tu lewat depan kampus. Lewat doang, bareng rombongan safar Boyolali - Karanganyar nganter boyongan manten. Kepo akutuh, budaya kita tu gimana.. Soalnya sering dengar ngeterke manten, tapi baru kali ini tadi aku merasakan.

Di perjalanan, tetiba aku inget masa-masa di kampus. Aku kangen makanan sana.

Aku jadi pingin sungkem sama bu Ardayu.. Selama 4 tahun ngekos + 2 tahun nglajo urus skripsi, makanan yang aku konsumsi, terbanyak adalah hasil masakan bu Ardayu.

Aku suka beli makan di Bu Ardayu. Meskipun posisi warung nya persis di tanjakan yang agak menyulitkan untuk berhenti, belok, dan parkir, tapi tidak menyurutkan langkah untuk beli makanan di sana. Porsi nya mengenyangkan, rasanya tidak mengecewakan, menunya bervariasi tapi ajeg, dadi isoh dicegerke.

Aku bisa makan hampir semua olahan Bu Ardayu. Cuman beberapa yang sering kuhindari: urap dan santan. Sama ikan-ikanan. Juga sambal. (eh, Tapi itu waktu itu ya.. Sekarang aku udah lebih gampang makan nya, gak banyak yang gak doyan.)

Sop, sayur bening, oseng kacang panjang, sayur buncis + Wortel, sayur asem, oseng daun pepaya, terong balado, labu siam, dan lain-lain. Lauk? Beraneka macam tempe atau tahu. Tempe goreng, tempe tepung, tempe bacem, orek tempe, kering tempe kriuk&/kentang, tahu goreng, tahu krispi, tahu bacem. Ituu aja diputer-puter 3x sehari, 7 hari seminggu, 28-31 hari sebulan. Di luar jadwal pulang tentunya, dan atau rezeki dari aneka seminar, Training, workshop, diskusi, dll, atau juga makan bersama teman, rihlah, reuni, kajian, daaan, traktirannn, yeayyy. Biasanya menu telur, lele, ayam, itu kudapatkan tanpa membeli sendiri dengan sengaja.

Sesekali, jika sedang ingin menghadiahi diri sendiri atas suatu keberhasilan kecil, aku makan di Bu Cok. Pojokan jalan perempatan. Kalau di Bu Cok, nasinya uennnaaaakk, wangi, pulen.. Menthik wangi kayake. Selalu, pokoknya nasinya sangat memanjakan selera. Trus pakai cah taoge+tahu, sayur jamur tiram, sama mungkin tempe goreng atau tahu krispi kalau ada. Itu ennakk. Tapi porsi nya kecil kalau diambilkan. Kalau ambil sendiri, aduh, harganya jadi mahal kalau porsi nasiku yang normal itu ditambah sayuran yang kebanyakan. πŸ˜ƒ Oya, terakhir ke sana, Bu Cok udah nggak jualan. Entah kenapa.

Kalau lagi ngirit, aku beli di ngoresan, jalan menuju As Gross, kanan jalan, ada gerobag, yang jualan nggak jilbaban. (padahal Bu Ardayu dan Bu Cokro juga Nggak jilbaban loh xixixi). Kalau di situ, favorit ku beli terong balado. Lauknya.. Tempe bacem biasanya. Tapi rasanya agak gimana gitu tempe bacem nya. Suatu hari mbak kos ada yang bilang, kalau beli di situ takutnya nggak jaminan halal. Sejak itu aku nggak pernah lagi beli di gerobag situ.

Kalau lagi kere sakpole, beli maem nya di nasi goreng warung ijo tadi. Murrraahh meriah, enak gilak, tapi kurang sehat, kurang serat+vitamin +mineral. Ehehehehehehehe. Tapi asli, enak. Gimana enggak, wong masaknya aja pake arang. Wah, sangit gurih gimanaa gitu. Tapi ya lama banget masaknya, kudu super duper sabar.

Oya, kalau ke sana (warung ijo) itu biasanya ngepasi selain pas kantong kering, juga pas libur nggak sholat. Soalnya bukanya sore banget, jelang maghrib. Itu udah harus dateng, antri pesen. Sama ambil tempat. Soalnya kalau sampai nggak kebagian tempat, kita harus duduk di trotoar/batu-batu/sak ketemune panggon, kalau pun sudah kebagian makan. Kalau nggak buru-buru pesen di awal, misal abis maghrib kita baru dateng, tempat nya udah penuh, bisa-bisa nasi goreng nya juga udah abis πŸ˜‘

Abis pesen, nunggu lamaaa sampai mateng trus dibagi jatah pesenan masing-masing. Makan, laporan, bayar. Nanti habis isya udah tutup biasanya. Habis nasinya.

Aku jarang juga sih ke sana. Cuma beberapa kali. Yang paling sering tu sama Rini. Bahkan entah berapa kali itu, dia yang traktir. Nasi goreng yang enag banged ditambah lalap timun+kol dan telur dadar, uaaahh nikmatnya masyaallah.

Yang masak ibunya, yang ngeladeni anaknya, adek cuantik, mulus bgt kulitnya (kok bisa ya? Pengennn) , sayang nggak jilbaban..

Oya, satu lagi, kalau makan di sana, kita bakal disamperin pengamen. Secara ya, aku kalau ke sana itu cuman bawa kepingan uang logam sisa-sisa yang masih bisa ditemukan di berbagai celah tas dan saku.. Itupun jumlahnya udah ngepres banget, kadang buat minum nya aja nggak cukup. Jadilah, aku sering nolak, atau diem. Pastinya Rini yang terus ngerogoh2 dompet buat ngasih ke pengamen nya. Heuheuheu.

Oya, kalau sarapan beda lagi. Aku awalnya suka beli di Ibu Kos. Biasanya gelar meja di depan rumahnya, depan masjid NA. Jadi tinggal keluar kos berapa langkah, udah dapet sarapan. Tapi emang rasanya emmmh, gimana ya, kurang cocok sama lidah ku. Kayak kurang bumbu atau salah bumbu gitu. Hampir semua jenis masakannya terasa aneh. Biasanya sih aku beli nasi pecel+kering tempe. Kadang tambah 1 tempe tepung dan atau perkedel kalau pas banyak duit.

Lama-lama aku tau kalau di perempatan seberang nya Bu Cok, ada warung khusus sarapan. Aku cocok banget sama pecel nya. Lauknya kering tempe kriuk+kentang. Agak kemanisan sih, pecel dan keringnya, tapi enak. Porsi kecil tapi murahh. Nggak keitung beli lauk kalau sayur nya pecel + kering. Kadang ditambah perkedel atau tahu krispi yang bentuknya kayak kupu-kupu. Pernah juga beli ketan di sana, enak.

Kalau pulang sore, kadang dititipi mbak2 kos, teh puanas mongah di Mas Same. Ehya, terakhir kali keliling ke sana, aku lihat usaha Mas Same berkembang pesat, ada beberapa cuci motor pun.

Kadang juga teh di hik Surya Utama tu, enag jugak.

Kalau lagi banyak uang, suka beli cemilan: molen isi kacang ijo favorit ku. Beli di mas cina Surya 2. Sejak nikah, trus mudik, trus kayaknya nggak balik lagi deh. Pernah lihat istri nya, ya Alloh cantik sekali. Pernah satu kali pas aku amat sangat kere sekali, aku dikasih mi instan nya Rina. Waktu itu kita belum sekamar, dia masih di kamar belakang dekat kamar mandi. Mi instan itu, demi supaya kenyang, kan harus dimasak. Kalau dikremus garingan, nggak kenyang malah begah. Aku nggak doyan mi instan biasa non seduh yang dimasak model seduh pakai air rebusan dari heater. Kagak mateng atuh. Methothor bikin kembung.

Akhirnya dengan mengucap bismillah, aku memberanikan diri melangkah ke warung mas cina. Aku minta tolong dimasakin mi itu. πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…

Bingung lah dia kasih tarif jasa. Akhirnya diminta ngasih Rp 500 aja. Bayang pun, masakin, repot, modal gas, air.. Peralatan.. Mbungkusin pulak pakai plastik, susah kan, panass,. Cuman diharga 500😱

Alhamdulillah, kenyang. 😭
Habis itu aku malu banget, lamaaa nggak berani ke sana. (Itu tuh bulan puasa soalnya, siang-siang.. Warung nya gak buka padahal. Kauganggu minta tolong dimasakin mi hahahah). Habis itu dia nikah, isterinya sempat tinggal bareng di warung itu, tapi habis itu terus pergi nggak balik-balik. Molen nya ngangeni ya Allah. Enak lezat bergizi. Bentuknya unik pula, bulet. Kalau yang molen pisang sih nggak suka, biasa aja soalnya.

Kalau pengen kasih hadiah buat prestasi, kadang aku juga beli jus. Biasanya yang murah tu di pojokan tikungan dari NA ke Surya 3. Warung baru. Sepertinya berkembang, jadi ada soto dll nya. Awalnya pas jaman ku itu cuman jus. Paling sering jambu merah, yang murah meriah. Kadang Wortel + tomat. Atau alpukat. Kalau lagi pengen yang paling mewah, strawberi πŸ˜‰

Kalau pas situ kosong atau nggak buka, dan sebelum situ jualan, aku beli di jus Marie depan ote-ote. Awal masuk jalan Surya Utama. Kalau di sana, Opsinya yang biasa ku beli.. Sama sih. Heheheh. Pernah juga belakangan setelah NH yang versi baru mulai jadi, aku beli di gerobag bagus belakang kampus. Namanya apa ya? Dekat deretan fotokopi Hasbona, kos-kosan dan sebagainya itu. Sekarang tambah besar kayaknya. Nambah karyawan juga. Alhamdulillah.

Belakangan, kalau aku lagi pengen menghambur-hamburkan uang, misalnya lagi sakit, nggak nafsu makan, manja, atau apalah, aku beli Sop Matahari di warung lesehan Sakina nun jauh setelah As Gross masih masuk lagi.

Oya btw aku pernah beli juga di seberang Ar Royyan putra. Apa itu namanya, lupa. Pas Ety dan Irine usul rapat Kaderisasi sambil makan-makan. Kita makan di sana. Setelah itu, kalau pas ada tastqif, dauroh, atau acara lain di area sana, kadang aku beli di sana. Mahal sih. Tapi berkelas gitu.

Ohya, tragisnya, aku hampir selalu makan sendirian di warung. Kalau dibawa pulang, nah itu baru makannya bareng temen-temen kos.
Hebad kand? Syedihh.. 

Minggu, 14 April 2019

Hei Idealisme

Tata ulang waktu mu, Cinta.. Energi mu..
Bukankah kau sendiri yang bilang, kau ingin hidup untuk dakwah, kau ingin mengabdi untuk umat. Lantas kemana semua itu.?

Kau pernah begitu tangguh menanggung banyak hal. Apa tak bisa seperti itu lagi?

Memang setiap orang bisa berubah. Banyak yang berubah darimu. Beberapa positif, tapi sebagian juga negatif.

 Sadarlah, sekarang ego mu tinggi sekali. Dulu kau bisa berkorban untuk yang lain. Sekarang? Semuanya berkorban untuk mu. Apa-apaan itu?

Mereka hanya meminta sedikit waktu yang kau bisa sisihkan.

Kalau untuk hal ringan yang menyenangkan dan risikonya kecil begini saja kau tidak bisa, tidak mau, acuh, dan abai. Bagaimana kelak kau harus bertanggungjawab atas sesuatu yang lebih besar?

Manajemen kembali waktu dan energi mu. Mungkin benar ragamu tak setangguh dulu. Tapi apa iya mental mu sekarang selemah itu?
Selamanya selemah itu?

Mau sampai kapan?

15 April 2012 09.11

Sudahlah Sudah


Baju yang serasi itu
Kunjungan dan penjengukan itu
Semua hanya kebetulan.
Ujian untuk ku agar bisa lulus menjaga hati..

Ketika adikku dengan sungguh-sungguh mengatakan bahwa dia sudah ingin punya someone fighting for.

Berarti.. Dia belum.

Well yah, kalau mau mengasihani diri..
Aku belum punya someone fighting for me.
Ha ha ha hi hi

17 Februari 2019 15.56

Begini Aku Menikmati Pekerjaan ku

Ya Allah, hari yang berakhir indah
Well, belum berakhir sebetulnya, ini masih sore
Tapi aktivitas mengajar ku sudah terlaksana, usai, tuntas, dan bahagia

Kelas 8i2 memang istimewa
Aku mengajar mereka di jam terakhir, setelah seharian berjibaku di semua kelas lainnya.

Yang sulit ditangani memang ada.
Tapi banyak yang sholih nya mempesona.
Kayak gini ya rasanya kalau ada penyejuk hati. πŸ˜ƒ
Robbana hablana min azwajina wadzurriyyatina qurrota a'yun waj'alna lil muttaqiina imaama.

Aku takjub dengan kelas ini.
Banyak penyair nya..!
Meski banyak juga yang tadi dan kemarin kedapatan menjiplak karya temannya.

Ya Allah, ekspresi mereka..
Tak terlukiskan indahnya.
Membuncah rasa puas di dada.

Meski hampir separuh kelas tidak hadir.
Banyak urusan nya.
Tapi pulang dari sana, rasanya ringan dan lega.

Satu catatan ku.
Jangan pernah lupa minta pada Allah pada pagi sebelum hari dimulai
Agar Dia atur segala urusan kita
Dia selesai kan segala tugas kita.
Dia cukupkan segala keperluan kita
Dia bukakan jalan keluar untuk segala persoalan kita
Dia limpahkan rezeki yang halal dan barokah.
Dia beri kita sehat dan semangat.
Lalu kerjakan bagian kita. Ikhtiar, ikhlas, doa, tawakal. Dengan sebaik yang kita bisa.
Biar Allah yang selesaikan sisanya.

31 Januari 2019

Kamis, 11 April 2019

Jawab untuk Tanya


Ya Allah, aku baca Pergi
Ilegal sebetulnya
Tapi ya Allah, aku dapat inspirasi.

Bisa jadi dia memang merasakan perasaan yang sama.. 
Tapi dia terperangkap dalam kerumitan kisah hidupnya. 
Seperti Samad, Bapak Bujang si Babi Hutan.

Bisa jadi dia sedang mempersiapkan segala sesuatu nya, entah untuk siapa.
Atau sempat bingung di persimpangan pilihan pilihan.

Yang jelas, aku sudah melepas.
Kurelakan tak mendengar jawaban.
Biar Engkau saja yang menjawab tanya ku, Tuhan
Biar Kau yang mengirim jawaban
Yang tidak lagi mengundang pertanyaan.

Siapa pun dia, jika dia adalah jawaban Mu untuk ku,
Mohon tumbuhkan cinta yang barokah di antara kami.
Kemudian jadikan cinta barokah itu menyubur di bumi, dan menyinari rumah kami di firdaus Mu yang tertinggi.

Minggu, 24 Februari 2019

Tempat Terbaik Alhamdulillah

Allah memberi ku karunia berupa tempat terbaik dimanapun aku berada.

Oekusi, Ambeno. Awal hidup yang... Panjang ceritanya 
πŸ˜…
Yang jelas aku bisa menjalani masa kecil yang menyenangkan meskipun ada yang berat juga. Aku jadi anak yang kuat. Desa Palaban, sudut kompleks yang sepertinya aku nyaman di sana. Termasuk daerah yang paling aman ketika terjadi huru-hara. Di saat daerah lain sudah hancur, bahkan beberapa tetangga rumahnya rata dengan tanah, sepetak rumah kami masih bisa ditinggali. Aku baru merasakan Timor-Timur itu tidak lagi aman adalah ketika sudah sampai di pelabuhan. Kacau, tak nyaman, menakutkan. Tapi sebelumnya, tempat kami itu ya nyaman sekali. Semua ada di rumah kita. Hehe, aku belum ngerti susahnya urusan orang tua.

Jepara, di sana aku menemukan akar. Bersentuhan dengan alam yang berbeda, membuat aku sadar bahwa yang ku miliki luar biasa.

Solo, dimana aku memulai langkah menemukan jati diri. Dimana aku mencetak jejak, menatah sejarah. Bahwa aku pernah ada. Bertemu banyak teman, yang di antara mereka ada yang menjadi teman setia. Menghimpun ide, merangkai asa, menekuni suka cita perjuangan masa muda.

Solo yang bersejarah.
Solo yang menyejarah.

Klaten. Dimana aku mengalami banyak hal. Pedesaan yang dekat dengan kota. Mudah dan bebas mengakses segala fasilitas.

Magelang. Tempat yang pernah secara random kucita-citakan. Pusat pemerintahan, namun nyaman, dilingkung persawahan. Dimana kesibukan nyaris tiada jeda. Namun lega, memahami bahwa hidup ini bermakna, dan bahwa aku juga bisa. Dekat dengan orang - orang sholih nan mensholihkan.

Dimana pun, aku ditempa.
Karya Allah lah semua.

Robbi anzilni munzalam mubarokaw wa Anta khoirul munziliin

Kamis, 10 Januari 2019

Peniti 8i2


10 jam mengajar hari ini,


full tanpa jeda selain istirahat pertama dan kedua.

Full semangat. Ku hemat energi di setiap jeda, rebahan tentunya

Hingga tiba di jam terakhir.

Peniti Jilbab ku lepas.

Aku riweuh membetulkan jilbab.. Memunggungi mereka. Berkali - kali

"Kenapa to bu?" Salah satu bertanya.

Peniti nya lepas, Kata ku. (Ada yang bilang uh ribet)

"Emang ikhwan ada yang punya peniti kah?" Aku pesimis.

Ternyata ada. Padahal aku sudah pesimis duluan.

Ada, tapi guedhe guedhe kayak yang buat meniti tas jebol.

Yaudah lah. Mereka kan bukan butuh guru yang rapi jali penampilan nya tanpa cela imoet bak boneka. Mereka butuh guru yang mengajar dengan merdeka, seperti apapun peniti yang nyangkut di jilbab nya.

Aku nunggu mereka menyiapkan peniti nya.
Lama.
Eh ada yang malah ngasih kaca.

Well aku bingung itu kaca buat apa.

Kutaruh di atas lemari saja.

Oh rupanya aku dipremakke bocah-bocah lanang kuwi.

Pikir mereka pasti, bu guru  akan butuh kaca seadanya buat bercermin.

(Uh, tambah ribet, kata ku)

O-ow

Hehey

Maaf ya nak, malah kutaruh di atas lemari

Ku pakai peniti raksasa itu seadanya

Beres.

Dan aku lanjut ngajar seperti biasa.

Oya, karena aku mulai capai, bagian yang di kelas - kelas sebelumnya ku bahas langsung secara dikte, di kelas terakhir ini ku minta mereka mengerjakan di buku tugas. Tepat sesaat setelah kecelakaan peniti ku lepas. Maka ku ambil jeda untuk mengurus nya.

Lalu setelah nya, ku abadikan dengan hati berbunga riang.

Kamis, 25 Oktober 2018

Nostalgia Jumat Siang



Aku sedang bersantai di asrama ketika Masjid Mujahidin mulai riuh oleh nuansa Jumat siang. Tiba-tiba terlintas memori Jumat siang bertahun-tahun lalu yang bersejarah bagi hidupku.
Momen Jumat siang yang mengesankan.

Kamu ingat, 'skripsi' kita?  Yang kita kerjakan sama-sama, berenam. Aku masih ingat, PESIAR judulnya.

Siang itu, jam satu, seharusnya menjadi deadline pengumpulan terakhir 'skripsi' itu. Aku koordinator akhwat, ada lah rasa bertanggungjawab. Maka wajar jika aku pontang-panting mengupayakan agar 'skripsi' itu bisa terkumpul tepat waktu.

2 akhwat temanku semua tidak standby di kampus hari itu. Akhwat fak lain, masing-masing padat dengan urusan mereka tentu. Yah, temanku tidak banyak memang. Maka seperti biasanya, aku mantap mengandalkan diriku sendiri.

Proses pengerjaan yang kita lakukan menurutku lumayan baik. Kita beberapa kali syura, sempat melibatkan pembimbing juga, dan mengerjakannya bersama. Meski kadang diwarnai debat kusir. Ada juga fase pembagian tugas. Masing-masing dari kita mengerjakan bagian nya sendiri-sendiri. Itu tahap mendekati akhir.

File terakhir diupdate di tim ikhwan. Di kosmu. Sesudah itu giliranku mengumpulkan semua, checking akhir, mengeprint, dan mengumpulkan ke tim penilai.

Siang itu, sekitar jam 10.30, setelah berkali-kali menghubungi mu demi memastikan progres penyelesaian 'skripsi'  (yang kau balas sambil nyetrika, lalu kumarahi karena menurut yang kupahami, menyetrika itu tidak boleh disambi, demi penghematan energi), akhirnya aku memacu motor Ksatria Legendaris ku ke Jalan Kabut. Aku sempat memutari kompleks itu 2x, memastikan aku tidak salah alamat. Mau bagaimana lagi, di sana sepi sekali, tidak ada yang bisa ditanyai.

Sampailah aku di rumah bercat {putih atau krem ya?} dengan kusen, pintu, dan jendela cokelat tua. Kurasa aku sudah yakin, betul ini tempatnya. Lalu kuucap salam dengan lantang. Kupastikan suaraku tegas, tidak lembut mendayu.

Sesaat, keluarlah Mas A**** dengan (oh no) bercelana pendek. Malah aku yang malu. Dia santai aja nanya, apa yang bisa dibantu. Kujawab saja tegas, mau ambil flashdisc di kamu. Lalu masuklah mas itu ke dalam lagi. Aku menunggu di luar sambil terus menerormu via SMS untuk segera menyerahkan file itu karena sebentaaar lagi keburu tiba saatnya Jumatan. Aku juga terus konfirmasi pada mbak pembimbing dan tim penilai soal progres kita.

Flashdisc kudapat, aku langsung meluncur lagi ke rental untuk checking akhir dan ngeprint. Kalau tidak salah di Surya Utama. Alangkah crowded. Aku bergelut dengan keringat, kegugupan, tangan yang dingin dan gemetaran. Komputer, printer, flashdisc, HP di hadapan ku, menjadi saksi bisu perjuangan siang itu.

Di tengah proses itu, adzan pertama berkumandang. Aku masih sempat-sempatnya memastikan kalian sudah ke masjid. Semua via SMS. Ealah, kayaknya aku besok kalau udah jadi emak, bakal lebih rempong lagi deh ketimbang ibukku (yang tingkat rempong nya udah waow banget). Memang menguji kesabaran pasangan, tapi itu bentuk perhatian.

Keringat semakin membanjir. Tapi akhirnya usai juga. Print. Jilid. Bayar. Meluncur lagi mencari alamat mbak2 yang jadi tempat pengumpulan 'skripsi'. Aku lupa-lupa ingat, tapi sepertinya hari itu aku sedang berhalangan, jadi bebas tidak sholat. Stress juga sih hari-hari menjelang deadline itu.

Tapi kemudian, alhamdulillah, terjadi hal indah tak terduga saat kita semua dikumpulkan dalam sidang.

Kalian bertiga yang presentasi. Dengan gugup. (Sebelum maju, kau sempat berpesan padaku yang kurang lebih intinya "Aja mateni kanca dhewe.")

Penilai melontarkan pertanyaan yang menguji penguasaan kita terhadap 'skripsi' yang kita buat. Judul kita dikritik.

Kalian mempertahankan judul itu dengan (maaf) agak payah. Jawaban tidak logis, ngelantur ke topik lain pula. Macam politisi yang ditanyai, melipir jawabnya.

Akhirnya dari barisan pemirsa, aku berinisiatif mengacungkan tangan sambil berdiri, meminta izin untuk membantu menjawab. Aku ingat mukamu waktu itu sudah memelas sekali, kayaknya khawatir banget aku bakal melanggar pesanmu sebelum maju tadi. Ahhihihi, lucu sekali.

Aku menjawab seperti gayaku biasanya. Tegas, mantap, yakin, dan setengah memaksa orang untuk sepaham. PESIAR itu memang judul yang aku usulkan, dan seluruh tim kita sepakat menerimanya. Maka tidak sulit bagiku untuk menjelaskan.

Alhamdulillah, Penilai bisa menerima jawabanku.

Presentasi kelompok lain pun ditampilkan silih berganti. Banyak yang kurang jelas terdengar dari tempat kita.

Di akhir sesi, sepertinya beberapa hari selepas sidang itu, Akh Luhur memberi penghargaan kepada peserta terbaik. Yang akhwat aku. Aku nangis seketika. Kalau yang begini saja sudah yang terbaik, lantas bagaimana yang lain? Separah apakah kita?

Yah, singkat cerita, kebersamaan 'skripsi' kita pun purna.

Ada oleh-oleh foto gelas pecah. Tak carine kapan kapan insyaallah.

Hmm.. Dan aku kembali ke dunia nyata. Sholat dhuhur bersama anak-anak. Menghiba berbalut air mata, mendoakan kita, meminta ikhlas, dan meminta takdir terbaik untuk kita.

Apa kabar kau di sana?
Aku ingin memantau
Tapi tak mau lagi bikin malu
Jadi begini saja
Kembali seperti biasa
Seolah tak pernah ada pengakuan apa-apa
Anggap saja pernah friendzone. Cukuplah
Sekarang hapus zone nya
Friend saja
Selesai
Semoga takdir terbaik untuk mu, untuk ku, untuk kita

Jumat, 26 Januari 2018

Sendiri

Sendiri adalah saat-saat yang paling kunikmati. Aku nyaman sekali ketika sendiri. Setelah sepanjang waktu berkutat dengan beraneka rupa manusia, mencurahkan segala dalam diriku, menguras energi, maka saat sendiri, me time, menjadi jeda istirahat yang paling kunanti.

Aku selalu ingin melayani orang lain. Mungkin karenanya aku terkuras. Tapi dari situlah muncul bahagia yang bisa kuresapi saat kembali sendiri. Merasa berarti.

Sering aku ikut tes kepribadian, hasilnya aku ini ambivert. Perpaduan antara introvert dan ekstrovert. Setengah-setengah. Tidak total. Tapi ini menjadi unik. Dan aku senang menjadi ambivert. Aku bisa memahami baik tipe orang introvert maupun yang ekstrovert. Aku bisa nyambung dengan keduanya. Walaupun sama-sama menghabiskan energi untuk menghadapinya.

Aku senang sendiri. Aku merasa tenang, bebas, lepas, tanpa beban. Tidak ada yang harus diberi perhatian selain diriku sendiri. Kusuka itu.

Namun kadang aku suka juga membayangkan jika ada yang selalu bersamaku. Akankah aku akan lebih bahagia? Lebih lelah sih pasti. Tapi mungkin bahagianya juga lebih. Jika cinta dan Ridha-Nya menaungi kami. Dan yang selalu kubayangkan untuk bisa bersamaku itu: kamu.

Mungkin ini salah satu hikmahnya aku masih sendiri. Aku masih diberi waktu banyak untuk menikmati nyamannya sendiri. Barangkali nanti saat tak sendiri lagi, aku tak kuat jika tidak dipuaskan dulu me time saat masih sendiri.

Aku tidak ngapa-ngapain ketika sendiri. Sebagian besar waktuku kuhabiskan untuk merenungkan hari-hari beserta peristiwa-peristiwa yang kulalui akhir-akhir ini. Momen istimewa. Lalu dikaitkan dengan pengalaman di masa sebelumnya yang pernah terjadi. Kira-kira ada hikmah apa. Kira-kira kenapa orang itu begitu atau begini. Juga memastikan kembali bahwa aku yakin dengan keputusan-keputusan yang telah kuambil. Lantas beranjak, memikirkan orang-orang terdekat. Yang terakhir berinteraksi, yang pernah intens berinteraksi lalu lama tak jumpa lagi, orang-orang yang pernah berjasa, orang-orang yang pernah --sepertinya--terluka olehku, masalah-masalah diantara kami, masalah mereka dengan orang lain... apa yang sekiranya bisa kubantu untuk mereka.. Kemudian merenungkan visi, menguntai mimpi. Mau apa lagi, apa saja yang sudah tercapai, bagaimana, apa saja kesulitan yang berhasil kuatasi.. Lantas menggaungkan syukur, betapa Dia Baik sudah menjadikanku sekuat ini.

Aku senang dalam keramaian. Memperhatikan, atau diperhatikan. Tapi itu memakan energi yang luar biasa. Setelahnya, aku akan sangat lelah. Pelarianku adalah mencari kesempatan untuk bisa sendiri. Karena sendiri adalah caraku menghimpun kembali energi. Dengan sholat, berdoa lama-lama, curhat lama-lama dalam hening, tanpa bicara. Atau berkontemplasi. Sendiri.

Makanya aku senang-senang saja saat harus nglaju jauh. Tidak ada kata berat hati. Tidak capek. Malah bahagia. Karena aku sangat menikmati saat-saat sendiri di atas motor, mengarungi jarak yang memakan cukup banyak waktu. Sendiri. Itulah kesempatanku menghimpun kekuatan, antara melepas kelelahan setelah bersama orang-orang 'tadi' dan bersiap menghadapi orang-orang 'nanti'.

Refreshingku mudah, motoran beberapa waktu. Aneh sepertinya bagi banyak orang. Tapi yah, inilah aku. Kuharap kamulah yang membaca ini, dan semoga kamu jadi bisa memahami.

Rabu, 24 Januari 2018

Jangan Cemaskan yang Belum Terjadi

Aku sekarang kembali aktif FB. Saat kulihat berandaku, wah. Berseliweran status-status para ibu. Jadi tergeregah.

Seharusnya aku tak perlu khawatir. Aku tidak pernah sendiri. Allah selalu mengirim pertolongan dari arah yang tidak disangka-sangka. Banyak dari mereka, teman-teman FBku, yang sudah punya anak, dan mereka bisa menjalani perannya. Maka pasti aku juga akan bisa menjalani peranku, dimanapun itu.

Allah tidak pernah dzolim, Dia tak kan memberi amanah yang tak mampu kita pikul. Sekarang aku sedang positif dan optimis. Semoga bukan manik sih.

Hmm... Penyakit ini... Inikah yang jadi penghalang? Ah sudahlah. Toh tidak ada orang yang sempurna. Terserah kamu mau menerima atau tidak. Aku memang begini. Semua selalu menguatkan, karena segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan.

Sabtu, 07 Oktober 2017

Puisi #9

Santunmu
Senyummu
Ruhul mas'uliyah itu

Kau yang menyuapkan sedotan teh manis panas itu
Saat aku terkapar tak berdaya
Menjadi kenangan abadi

Aku selalu merasa spesial
Mungkin sih karena geerku saja
Tapi dari caramu memperlakukanku
Aku selalu merasa spesial
Istimewa, benar adanya

Keluarga terdekatku ada yang sakit
Kau jenguk
Bahkan kau gerakkan teman-teman agar ikut

Kau pernah menawarkan uang saku untuk pegangan
Saat malam seusai acara di panti asuhan
Suatu hari di ramadhan 2011

Kau berkali kali menawarkan diri untuk menjemputku
Tapi karena egoku, ingin kujaga sekuat tenaga supaya tidak ada apa apa diantara kita
Sayangnya usaha itu ternyata sia sia
Terlanjur ada sesuatu di hatiku

Adakah engkau tahu?

Untukmu...
Datanglah...
Jadilah hero buatku...
Tak perlu dengar pengaruh syaithan yang hendak menghambat langkahmu..
Jemput aku..

Kita tidak tahu, berapa lama waktu tersisa untuk kita

Rabu, 16 Agustus 2017

Dari Foto

Menyimak senyummu, meski hanya dalam gambar, telah cukup melipur rinduku. Toh apa lagi yang bisa aku harapkan, kan? Walau setelahnya aku mesti istighfar berkali-kali.

Aku merasa tidak mengenalmu. Aku hanya bisa menebak-nebak, kamu itu seperti apa sebenarnya. Dulu kupikir gaya kita jauh berbeda. Kamu jauh di atasku, kamu punya kehidupan yang serba lebih daripadaku. Kukira begitu.

Tapi hari ini kurenungkan lagi. Kalau dipikir-pikir, kamu sederhana juga sih orangnya. Memang gaya, itu kamu apa adanya, tapi tidak berlebihan. Tahun kapan itu, baju barumu warna ungu, kamu pakai terus setiap ada event yang sepertinya penting menurutmu. Sekarang, sudah sejak beberapa bulan, tampaknya kemeja abu-abu itu pakaian terbaik dan terbaru yang menjadi trade mark-mu.

Aku? Entahlah. Orang lebih bisa menilai. Aku hanya pakai apa yang bisa kupakai. Di sini sekolah, berseragam, jadi rutin ya itu itu saja yang dipakai. Baju-baju yang spesial atau penuh kenangan, tapi tidak layak untuk kutampilkan di Pondok, kutinggal di rumah. Biar orang rumah yang luwes memanfaatkan.

Baju favorit, saat ini tidak ada. Favorit oh ya.. PSH Oranye. Saking sukanya, kueman-eman, jarang dipakai. Bagus dan nyaman, tapi masih sangat baru kesannya, walau sudah bertahun-tahun jadi bajunya ibuku, tapi karena jarang dipakai, rasanya masih seperti baru. Sayang kalau sering-sering kupakai, nanti jadi kinclong bekas setrikaan. Aku belum bisa seperfect ibu kalau menyetrika.

Senyummu... menyimpan kisah. Aku ingin menyimak kisah itu. Tapi bagaimana?

Ah sudahlah. Kata ibu, mungkin waktuku tidak banyak lagi. Kunikmati saja sisa masa lajangku sebaik-baiknya. Kamu, kalau memang jodohku, pasti akan datang, bukan? Kalau toh bukan kamu, maka pasti akan ada yang datang. Dan Allah sudah janjikan, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Maka tugasku hanya satu: menjadi orang baik. Dengan upaya terbaik. Dan untukmu, jadilah baik. Tetaplah jadi baik. Semoga kamu dipertemukan-Nya dengan yang terbaik. Begitu pula denganku. Semoga.

See ya

Jumat, 11 Agustus 2017

Gaji Pertama

Waktu melesat cepat. Tak terasa sudah sebulan lebih aku di sini. Dalam lingkungan baru, lingkaran kehidupan, kesibukan, dan pergaulan yang baru. Dan aku larut dalam dunia baru ini, tanpa harus menjadi diri yang baru.

Aku bisa jadi diri sendiri apa adanya. Tidak ada rasa terpaksa harus menampilkan sosok diri"ku" yang berbeda. Aku menikmati pekerjaanku. Lelah memang, lelah sekali. Melebihi lelahku saat sibuk di kampus dulu. Tetapi hari berganti tanpa kusadari. Bukankah itu pertanda nyaman dan betah? Maka terus kujalani saja, dengan tetap memohon ridha orang tua.

Momentumnya ditandai dengan keluarnya slip gaji pertama. Slip gaji yang kuterima dengan segenap rasa bahagia. Cukuplah halal dan berkah menjadi kriteria yang paling kuharap untuk rezeki berupa materi. Maka ketika slip gaji kuterima, lalu saat akan mencairkan uangnya di BMT ternyata BMT-nya tutup, aku tetap tersenyum sabar. Dan aku tetap pulang dengan rasa percaya diri yang tidak terkurangi.

Kupersembahkan (slip) gaji pertamaku ke hadapan ibu. Harap-harap cemas kunantikan ekspresinya. Segala puji bagi Allah, ibu tersenyum bangga. Aku tahu persis, bukan nominal uangnya yang mendorong ibu berekspresi demikian, melainkan penerimaanku dan kebanggaanku atas pekerjaanku yang membuat ibu pun menerima.

Memang jumlahnya tidak banyak bagi teman-teman yang sudah terbiasa dengan penghasilan di atas UMK. Tetapi aku sudah nyaman dengan iklimnya. Semoga tetap begini seterusnya, dan aku tidak akan pernah kecewa bekerja di sini.

Puas itu relatif yah.

Dalam beberapa kesempatan, ibu, Bapak, adik-adik, dan teman-teman masih sering mengirimi informasi lowongan kerja. Banyak yang menarik. Sayangnya, aku sudah tidak punya cukup waktu untuk menebar lamaran seperti dulu.

Waktu benar-benar berharga sekarang. Yang paling kujaga tentu waktu tidurku: harus cukup. Jangan sampai hal buruk terjadi. Lebih baik mencegah daripada terlanjur menjadi masalah.

Masih soal info-info lowongan. Kalau saja aku berniat untuk cabut dari sini, mungkin akan kuperjuangkan untuk melamar disana-sini, dengan konsekuensi mengurangi waktu tidur. Namun resikonya terlalu tinggi. Lagipula aku memang sudah tak berniat pergi. Kalaupun aku akan pergi dari sini, mungkin itu karena pindah dan karena nikah. Semoga jodohku bukan teman kerja di sini. Semoga dia itu kamu. (Ahh, doaku masih nakal aja. Sampai kapan ya.?)

Nah, slip gaji. Secarik kertas itu saja yang kuberikan (lebih tepatnya, kuperlihatkan) di kepulanganku tempo hari. Bukan lembaran uang yang bisa langsung dibelanjakan. Namun lelahku serasa langsung hilang, luruh berganti kepuasan, saat melihat senyum ibu terkembang.

Bagi kami, memang lebih baik begini: saling terbuka. Keluargaku biarlah tahu berapa penghasilanku. Dan kelak, insyaallah di bulan kedua, baru akan kuterimakan lembar-lembar rupiahnya untuk melipur rasa. Utuh sebulan gaji. Lantas di bulan-bulan setelahnya, rencanaku insyaallah akan kubagi sekian persen penghasilan untuk menyokong kebutuhan keluarga, alokasi untuk tabungan haji dan nikah (kalau tabungan ini, sudah dimulai dari bulan ini. Sudah lama ding.. tapi terus uangnya terbang), dana sosial, dan kebutuhan pribadi harian yang harus dipenuhi.

Semoga ini bisa berjalan lancar Ya Allah... Terima kasih atas semuanya.. terima kasih atas segala jalan yang Kau bukakan... terima kasih atas rezeki berupa keluarga, kesehatan, semangat, dokter, teman-teman, murid-murid, anak asuh asrama, suplai gizi, tempat tinggal, air, energi, kesibukan, atasan, sarpras, dan semuua kebaikan yang telah Kau berikan untuk hamba... Hamba sadar, ada begitu banyak doa yang berpilin hingga Arsy-Mu bergetar karenanya. Bukan karena doaku semata. Semoga doamu ada di antaranya.

Hari ini, setelah beberapa lama slip gaji kuterima, akhirnya aku belanja. Ada voucher belanja seharga lima puluh ribu rupiah yang bisa dibelanjakan di Fikri Mart, Toko Swalayan mini Pesantren yang kemungkinan dikelola sebagai koperasi.beli beberapa item barang. Ternyata habisnya 56.000. Oke, karena voucher hanya berlaku untuk satu kali belanja, maka belanjaanku kuanggap cukup. Nombok 6000 dari sisa uang saku yang ibu berikan padaku. Sebagian barang yang kubeli, sudah kuniatkan untuk kuantarkan pulang kapan-kapan. Membantu menyokong kebutuhan rumah, itu misiku.

Dan malam pun berlari cepat ekali. Sudah saatnya aku tidur. Aku harus tidur. Dan berisiap tuk berjibaku dengan RPP esok pagi.

Hei kamu, apa kabar??

Jumat, 28 Juli 2017

Homonim, Homofon, Homograf

Oleh-oleh ringan dari sepotong surga di Mungkid: SMAITIF.

Kenapa aku mengambil topik  itu (Homonim, homofon, homograf) dalam kontestasi microteaching (halah) tadi pagi, secara rada mendadak dengan nyaris pantas dibilang benar-benar nol--tanpa--persiapan.

Itu adalah topik paling berkesan semasa aku SMA, yang mungkin tidak akan pernah terlupa seumur hidupku nantinya.

Episode ngewel di depan kelas. Bareng Bayu PiEm (Prabowo Mukti). Alahalah, guweh masih apal namenyeh, name lengkapnyeh. Weheheh. Salah satu cowok paling tuinggi, kerempeng, pendiam, dan grogian di kelas X A.. Yang [salah satunya juga] paling sering dipacok-pacokke denganku. NB: hampir setiap murid cowok di kelasku, sejak kelas 4 SD sampai lulus SMA, pernah dipacok-pacokke sama aku. Sial sekali nasib kami. Alhamdulillah-nya, tidak pernah ada yang jadian. Nasib yang sial tapi selamat, bahagia kan ujungnya?

Nah, si Bayu PMM dan aku, secara random ditunjuk Bu Guru untuk maju ke depan kelas. Sepele sekali urusannya: nulis 1 pasang kata homonim.

Aku maju sudah dalam keadaan ndredeg panas dingin. Sampai papan tulis, naik ancik-anciknya, pegang spidol, tanganku gemetaran, otakku macet. Blank.

Masih untung aku nggak pingsan waktu itu. Deuh.. betapa aku dulu gak pedean, selalu demam panggung, menghindari kontak sosial... Sedangkan sekarang, seperti Doraemon, aku ingin begini, aku ingin begitu, jadi guru, jadi motivator, jadi konselor, jadi ahli fiqih kontemporer, daan lain sebagainya. Metamorfosis "kawah jingga" itu luar biasa Ya Allah, terima kasih banyaaak, segala puji hanya untuk-Mu.

Di depan kelas, bermenit-menit, aku hanya mengacungkan spidol gemetaran sampai tanganku kesemutan, dan tidak satu kata homonim-pun ketemu untuk dituliskan. Padahal eh padahal, kekayaan diksiku dari kecil lumayan lho, di atas rata-rata teman sekelas. Nilai tertulisku selalu bagus kalau pelajaran Bahasa. Tapi kalau lisan, beda ceritanya. Apalagi giliran harus maju ke depan kelas, hancurlah sudah.

Malunya...
Bermenit-menit yang tak terlupakan sepanjang sisa usia.
Akhirnya aku disuruh Bu Guru balik ke tempat duduk... dengan menanggung malu dan segunung rasa bersalah. Luar biasa. Dan Bayu PM pun sama tidak berhasilnya.

Maka dari kisah tersebut  aku jadi belajar. Kujadikan kelas microteachingku tadi mengalir dengan kesederhanaan dan suasana alamiah.
Aku puas.
Meski banyak hal di luar rencana..
Yang rencananya pun dibikin mendadak..
Thanks to Allah lagi, aku dapat giliran lumayan belakangan untuk bisa mengambil pengalaman "guru" sebelumnya, dan cukup pertengahan (belum akhir) sehingga masih kebagian "murid" untuk kuajak bersenang-senang.

Belajar itu senang.

Itulah guru yang ideal menurutku...
Yang bisa membuat siswanya
belajar dengan senang
sehingga senang belajar.

Ngomong-ngomong homofon itu 2 kata yang tulisan dan bunyi nya sama, tapi artinya beda. Contoh : bisa (racun &  dapat).

Kalau homofon, 2 kata yang bunyinya sama tapi tulisannya beda. Misal : sanksi (hukuman)   & sangsi (ragu).

Nah homograf, 2 kata yang tulisannya sama tapi bunyinya beda. Seperti apel (nama buah) & apel (pertemuan).


200617