Who Amung Us

Minggu, 18 Oktober 2020

Studi Kasus Remaja Bermasalah

Teman-teman, hari ini aku sedang menempuh UTS Semester 2 di jurusan BKI STIT Ihsanul Fikri Mungkid. Ada soal yang menarik menurutku, dan sayang sekali kalau aku nggak punya rekaman/dokumentasi dari pekerjaan ini. 

Maka kali ini, setelah sekian lama tidak posting konten di blog ini (karena aku lagi getol-getolnya mikirin serba-serbi konten, baik untuk Youtube, Instagram, Facebook, dan WhatsApp. Yah, aku adalah tipe orang yang nggak sembarangan posting konten yang sama di semua media yang aku punya. Kalau bisa, setiap media punya konsentrasi yang berbeda, gaya penyampaian/penyajiannya juga berbeda, walaupun pastinya mengandung inti minat yang saling beririsan), aku akan membagikan tulisan ringan tugas kuliah, anggap saja begitu. Ini untuk dokumentasiku sendiri sih, syukur syukur kalau bermanfaat untuk yang membaca.


Nih, soalnya    _V_


Realitarakyat.com – Masih ingat siswi SMP yang bunuh balita 5 tahun dan jenazahnya disimpan dalam lemari? Ya, ABG yang berinisial NF (15). Ia kini sedang hamil 14 minggu atau 3,5 bulan. Ia ternyata adalah korban pelecehan seksual.Bahkan, kini sedang hamil 14 minggu atau 3,5 bulan. Mirisnya, pelaku pelecehan seksual terhadap NF terbongkar berjumlah tiga orang dan merupakan orang terdekatnya. “Ya betul (NF merupakan korban pelecehan seksual).NF berada dalam dua posisi sekaligus, yaitu sebagai pelaku pembunuhan dan menjadi korban kekerasan seksual,” kata Harry , Kamis (14/05/2020).Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan psikologis di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, NF juga diketahui tengah hamil. “(NF) menjadi korban kekerasan seksual oleh tiga orang terdekatnya, hingga kini hamil 14 minggu” ungkap Harry.Harry berharap, kasus pelecehan seksual tersebut diselidiki oleh kepolisian guna mengungkap alasan NF membunuh tetangganya. Kini, NF mendapatkan layanan rehabilitasi sosial di Balai Anak Handayani sembari menunggu proses peradilan.“Kasus kedua (pelecehan seksual) juga perlu diselidiki untuk mendapatkan kesimpulan logis mengapa anak ini melakukan tindak kekerasan,” tutur Harry.NF (15) nekat membunuh APA (5) karena terinspirasi dari film pembunuhan. APA diketahui dibunuh di rumah NF di kawasan Sawah Besar, Jakarta Pusat, pada 5 Maret 2020 lalu.1. Tersangka menyerahkan diri ke polisiPeristiwa pembunuhan itu terungkap ketika NF menyerahkan diri ke Polsek Taman Sari, Jakarta Barat, Jumat (06/03/2020). Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Heru Novianto mengatakan, kepada polisi, NF mengaku telah membunuh tetangganya sendiri dan menyimpannya di dalam lemari di kamarnya.“Korban bermain dengan tersangka, kemudian tersangka membunuh korban.Setelah itu, tersangka memasukkan korban ke dalam lemari baju yang ada di dalam kamar tersangka,” ungkap Heru.Selanjutnya, polisi melimpahkan tersangka ke Polsek Sawah Besar guna penyelidikan lebih lanjut.2. Sempat diduga menjadi korban penculikan Orangtua korban sempat menduga anaknya menjadi korban penculikan karena tak kunjung pulang ke rumah usai bermain ke rumah NF. Korban dan tersangka diketahui bertetangga.Kemudian, orangtua korban melaporkan peristiwa dugaan penculikan itu kepada Ketua RT setempat. Ketua RT 04/RW 06 Sawah Besar, Sofyan mengatakan, orangtua korban bersama warga mencari keberadaan korban ke rumah tersangka NF. Bahkan, mereka juga mengecek kamar tersangka.“Jadi memang orangtuanya (korban) ini lapor ke saya, bilang anaknya enggak pulang-pulang. Akhirnya kita cari, kita juga sempat ke atas (kamar tersangka) cuma lihat kamar kosong,” kata Sofyan.Keluarga korban baru mengetahui peristiwa pembunuhan yang menimpa anaknya ketika polisi mendatangi TKP pada Jumat pagi.“Pas Jumat pagi itu, ada polisi datang dari Polsek Taman Sari, saya juga enggak tahu (kalau korbam dibunuh), katanya anaknya (tersangka) lapor dan menyerahkan diri,” ungkap Sofyan.3. Korban dibunuh secara sadis Heru mengatakan, tersangka membunuh korban ketika korban bermain ke rumah tersangka. Bahkan, kepada polisi, tersangka mengaku secara sadar membunuh korban. Heru menjelaskan, APA yang berkunjung ke rumah tersangka dibunuh dengan cara ditenggelamkan ke dalam bak mandi, dicekik, dan dimasukkan ke dalam lemari di kamarnya.Sebelumnya, tersangka sempat berniat membuang jenazah korban. Namun, tersangka mengurungkan niatnya tersebut dan tetap menyimpan jenazah korban dalam lemari. “Awalnya mau dibuang karena sudah menjelang sore, akhirnya disimpan di dalam lemari,” ungkap Heru. 




-------------------------------------------------------

Melihat deskripsi studi kasus ini, silahkan teman teman temukan Masalah utama nya, kemudian masalah masalah yang mengikutinya, sedangkan untuk langkah penanganan pertama adalah apa......kemudian sebagai konselor muslim apa yang akan teman teman lakukan untuk membantu permasalahan ini......


Nah, berikut ini jawabanku 😄😄


Masalah utamanya adalah NF mengalami kehidupan yang tidak kondusif untuk berkembangan remaja. Entah bagaimana ceritanya, dia menjadi korban pelecehan seksual oleh lebih dari satu orang, dan mereka justru adalah orang-orang terdekatnya. NF juga terbiasa menyaksikan kekerasan, salah satunya dari film pembunuhan, sampai dia terinspirasi untuk membunuh APA. Dari ilustrasi gambar di berita ini juga tampak bahwa secara psikologis NF sangat tidak sehat. Dengan kata lain, NF memiliki kelainan jiwa akibat dari pengalaman hidup yang tidak wajar/tidak menyenangkan.


Masalah yang mengikutinya antara lain NF menjadi terjerat kasus hukum karena dia telah membunuh dengan sengaja, lingkungan sekitar tempat tinggal/tetangga-tetangga dan teman-temannya pasti akan menjauh atau membencinya, dan ancaman untuk terus mengalami pelecehan seksual, serta kehamilan remaja yang harus dia tanggung sendirian.


Langkah penanganan pertama adalah NF perlu dijauhkan dari lingkungan dimana dia selama ini dirusak. Diberi semacam "rumah aman" dimana dia dapat menjalani hari-harinya tanpa ancaman keburukan lingkungan sekitar. Dalam hal ini, setelah menjalani pemeriksaan fisik dan psikologis di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jaktim, NF mendapatkan layanan rehabilitasi sosial di Balai Anak Handayani sembari menunggu proses peradilan. Ini adalah langkah yang tepat. 


Sebagai seorang konselor muslim, jika saya yang harus menangani kasus NF di Balai Anak Handayani, maka saya akan membantu masalah ini dengan menggali kisah hidupnya, menggali/mendorong NF menceritakan perasaan-perasaannya, kesakitan-kesakitannya, kekecewaan-kekecewaannya, dendam-dendamya. Kemudian, jika data sudah lengkap, dan NF sudah berhasil katarsis, maka mulai menginjak step berikutnya, yakni memecahkan persoalan. Saya akan mengajak dia memaafkan masa lalu, membuang emosi-emosi buruk yang selama ini memenuhi jiwanya. Setelah itu, saya akan mengajak NF bertaubat, kembali pada Allah, memohon ampunan atas semua yang selama ini telah terjadi, dan memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang-orang yang telah berbuat jahat/ikut andil dalam merusak jiwa NF. Jika sudah kondisi zero, saya akan mulai mengajak dia merancang sikap yang baru untuk menghadapi hari-hari barunya.


Sebagai pembunuh, NF mungkin akan tetap dihukum, tapi perlu dipastikan dia mendapatkan keadilan, minimal dengan ditempatkan di penjara khusus anak, dan di sana dia harus tetap mendapatkan bimbingan/rehabilitasi sosial. Bukankah LP seharusnya benar-benar menjadi Lembaga Pemasyarakatan? Bukan sebatas dikurung bersama dengan orang-orang pelaku kejahaan lainnya. Sehingga,  setelah keluar dari LP, diharapkan NF dan para tahanan anak lainnya akan siap terjun ke masyarakat sebagai seorang individu yang sehat, dan bisa memberi kontribusi positif.

Jumat, 03 Juli 2020

Rapi? Peka? Bagaimana?

Tau nggak, apa yang paling mengejutkan sekaligus membahagiakan saat dulu di LKI? Salah satunya adalah ketika suatu hari aku mengunjungi sekre, begitu kubuka pintunya, taraa, terpampanglah sekretariat yang bersih dan rapi, bahkan wangi, sampai-sampai aku akhirnya tahu bahwa sekre kami itu beralas karpet hitam. Nyaman sekali.

Soalnya, biasanya sekre itu selalu sumpek, penuh barang, berdebu, lebih cocok dinamakan gudang. Eh lha kok ternyata bisa disulap jadi tempat nongkrong yang bikin betah, tempat berkarya yang banyak ideku lahir di sana.

Salut dan hormat buat siapapun yang ikut serta beres-beres waktu itu.

Aku masih ingat ada kertas asturo bertuliskan struktur organisasi yang dibuat oleh Ikawati. Sempat dihujat, yang seketika itu juga, penghujatnya kumarahi.

Aku kok suka marah-marah, ya, pas di kampus dulu? Di LKI, hobi marah-marah sama kadep ku. Di Biro AAI, marah sama sekretaris kaderisasi. Di rumah, marah-marah kalau pas aku lagi sibuk, diganggu. Kena marah, setiap saat ketika bukan sedang tidak kena marah.

Ahh, sekre itu. Markaz LKI.. rapi sekali..!
Kapan ya aku bisa kayak gitu?

Aku nggak bisa beres-beres. Nggak pernah bisa beres. Apalagi rapi-rapi. Aku nggak ngerti caranya gimana supaya jadi rapi. Apalagi kalau sendiri. Aku nggak tahu apa dulu yang harus dimulai. Dalam hal beres-beres ya.

Aku juga sering nggak nyambung. Nggak peka, ora mudengan, kata orang sini. Nggak tanggap, kata keluargaku.

Ketika dibahas, aku cuma ketawa-tawa mengakui. Tapi saat sendiri, dan mengingat berbagai informasi yang kudapat setelah dewasa, bahwa setiap teriakan orang tua, setiap kemarahan orang tua, setiap pertengkaran orang tua, ketika anak masih di rentang usia dini hingga SMP, setiap bentakan, setiap hardikan itu memutus 1 sinaps, hubungan antar neuron, sel otak yang terhubung dengan neuron lainnya.
(Apalagi aku tahu, aku disalahkan, dipersalahkan, atas sesuatu yang benar-benar di luar kuasa ku. Aku tahu persis aku tidak salah, tapi aku tidak mengerti kenapa aku harus dimarahi. Tahu nggak? Yang ada hanya sakit hati! Sakit sekali di dada dan di leher belakang mulut, bikin nggak bisa ngomong apa apa)

Pada saat seperti itu, yang Aku bisa hanya mengalirkan air mata.
Aku nggak tau harus melepaskan beban ini dengan cara apa.
Harus pada siapa aku membeberkannya..
Pada Allah? Lalu memaafkan masa lalu? Itu hanya teori. Dan aku tidak mengerti bagaimana menerapkan itu teori dalam kehidupan nyata ku ini.

Aku kadang. merasa lumayan cerdas sesekali, ketika bisa memecahkan persoalan pelik yang membutuhkan logika, analisis, dan waktu jeda untuk berpikir.

Tapi sekaligus juga aku merasa teramat sangat bodoh sekali ketika sedetik momen terlewat di mana aku seharusnya berbuat sesuatu, seperti mengambilkan tisu lebih tepat waktu di saat lawan bicara matanya berkaca-kaca dan hidungnya memerah (sebelum air matanya menitik betulan).. Atau ketika gelas tersenggol, dan sebelum airnya tumpah mungkin aku bisa memegangnya atau menyingkirkannya dari jangkauan anak kecil.. Atau ketika acara selesai dan bu pembicara berlalu tanpa menenteng tentengan, sementara snack ada di depanku..  Apalagi di momen-momen masak bareng keluarga. (Makanya aku bisanya masak sendirian. Tapi aku kerja apa-apa itu lama. Jadinya orang orang pada nggak sabaran. Biasanya sok mau bantu. Tapi terus aku dimarahin karena dianggap nggak bisa diajak kerja sama.)
Lalu ketika sedang bakar-bakar BBQ-an, ada yang mengangsurkan tisu atau saus bumbu, tapi aku bengong tak paham harus ngapain selama sedetik..

Cuma sedetik! Tapi dalam sedetik itu, momen tindakan spontan terpaksa harus diambil alih oleh orang lain yang mungkin lebih jauh posisinya. Dan sedetik itu menjadikan aku merasa dan terlihat sangat bodoh dan tidak paham apa-apa. Tidak peka.

Apakah betul teori itu? Syaraf-syaraf otakku banyak yang putus, sehingga aku selalu loading lama di saat seharusnya aku melakukan tindakan spontan? Apakah itu betul??!

Ingin sekali aku menyalahkan keadaan. Tapi bagaimana caranya aku juga tidak tahu. Aku hanya membusuk di sini, menua dalam kebodohan tanpa keterampilan hidup sama sekali.

Aku tahu,  tidak bijak kalau aku menyalahkan. Tapi selebihnya aku harus gimana, entah juga!

Selasa, 04 Juni 2019

Jika Aku Jatuh Cinta

Puisi Sayyid Qutb Ketika Ia Jatuh Cinta

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu. 

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-MU,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.
Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya.
Kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.
Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

(As-Syahid Sayyid Qutb)

Sabtu, 01 Juni 2019

Sebuah Suara

Ridla Surya Ramadlani
"Enggan Tumbang"
Foto ini diambil di serambi masjid Mujahidin, malam 22 Ramadan 1440 H. Tapi aku lupa, peristiwa dalam puisi ini terjadi pada malam keberapa. 

Aku masih ingat sekali
Isya tarawih di iktikaf tempo hari
Khusyu, syahdu
Aku larut dalam suasana haru
Terbawa suaranya yang amat merdu

Larut segala lelah
Larut segala resah
Larut segala gundah
Larut seuntai - nyaris- kesah
Indah...

Sudah lama sekali
Aku tidak salat senikmat ini
Walillahil hamd Ya Robbi,
Sampaikan terima kasih ku untuk pemilik suara ini

Nadanya mirip dengan ku
Warnanya begitu teduh, lembut, sejuk, merdu
Namun muatannya, aku yakin hafalannya banyak.
Salat kami lama, tapi nikmat.
Sempat ada satu jeda, di mana sepertinya dia terlupa,
Tapi jamaah ada yang mengingatkannya, lalu bacaannya lanjut, lebih lama.

Ya Allah, aku jadi punya satu doa baru.
Tadinya aku mau nekad doa begitu.. Tapi aku sadar siapa diriku.
Aku tersungkur dalam sujud pilu
Dan hanya sanggup lirih menyebut nama-Mu
Sungguh, tadinya aku ingin memintanya
Tapi Rabb, aku malu
Engkau pasti lebih tahu
Tak perlulah aku sok tahu.
Takutnya itu termasuk nafsu.
Salah-salah, kena dosa aku.
Istaghfiru..

Izinkan aku merangkai
Satu lagi doa teruntai

Ya Allah,
aku ingin suami yang jika bersamanya, surga-Mu menjadi lebih dekat bagi kami berdua..
Dan bagi kami sekeluarga..
Surga di dunia, surga di akhirat.

Kalau boleh kutambahkan,
Aku ingin ya Allah,
Suamiku seorang Qori', yang hafidz, yang da'i.
Yang ketika salat ku bermakmum padanya,
Aku bisa khusyu
Menghadap pada-Mu.
Yang ketika aku menyimak murojaah nya,
Aku selalu bangga,
Namun juga malu dan terpacu memperbaiki hafalan ku.
Yang jika dia bertutur dan berkisah, terhimpunlah banyak hikmah.
Yang jika dia berdakwah,
Hati manusia tergerak menuju-Mu.
Yang jika aku jadi isterinya, tenteramlah hatinya, tenteram  pula hatiku.

Jumat, 24 Mei 2019

Di2c, Medio 2019



Sekali lagi terbukti : apa yang dari hati, akan sampai ke hati.

Hal pertama yang muncul adalah rasa haru.  Membayangkan bagaimana kalian menyisihkan uang jajan, mengumpulkan nya, dan mengkoordinasikan dengan teman-teman seasrama. Membelinya, entah dengan cara apa. Menatanya sedemikian rupa.

Dan aku nyaris menangis melihat surat yang terselip. Bukan apa-apa.. Aku khawatir surat itu sobek, karena aku nggak ngerti urutan lipatan nya. Bagus banget euy.. Ini gimana mbuka nya biar nggak sobek atuh? Bisa bentuk love gitu. 😃

Lalu...

"Malaikat?"

Ya Allah, sempurna kaca-kaca memenuhi mata. Kalian hanya tidak tahu aibku, Nak.

Membacanya, kaca-kaca itu luruh, menitik ke bawah.

Aku bukannya tak pernah marah atau tak bisa marah. Aku hanya sedang belajar untuk menjadi seorang dewasa yang bertanggungjawab atas kalian.

Yang aku tahu selama ini.. Kalian itu ada, bukan untuk dimarahi. Bukan untuk dibentak, disakiti. Kalian adalah amanah, untuk dididik dengan baik. Dan beginilah caraku mendidik. Aku masih belajar menjadi guru yang baik.

Aku belum tahu cara yang paling baik. Tapi setidaknya, kujalani dulu saja yang aku bisa.

Aah.. Terharu, Nduk.. Ini cocok betul, aku butuh. Insyaallah bermanfaat.

Selamat pindahan besok. Baik-baik di kamar baru ya.. 😃

Rabu, 01 Mei 2019

Rindu Masa-Masa Itu


Ah, aku jadi kangen suasana kosan. Kangen TV semut nya. Kangen lorong penuh ranjau motor kalau kebelet tengah malam. Kangen jadi tukang parkir.

Kangen nyuci segunung (gombal seminggu) dan njemur di lantai atas, rebutan spot sama mbak-mbak. Kangen jungkir balik manajemen waktu pas musim air mati. Kangen ngungsi mandi ke NH.

Kangen piket ngepel, piket ngosek kamar mandi, piket buang sampah, piket imam..

 Ya Allah lama sekali aku nggak ngimami..
Ya Allah indah sekali, aku pernah jadi imam, merdu, bacaan tartil hasil (dan proses) belajar tahsin tiap Rabu malam. (Kangen surat izin takmiroh yang kutempel dengan bangga di mading kos, izin spesial untuk melanggar jam malam dalam rangka menuntut ilmu Quran. Bangga banget eh bisa keluar malam dengan izin resmi dari takmiroh 😈. Juga kangen dirosah muhadatsah setiap Jumat pagi.)

Aku di sana biasanya ngimami pakai surat yang sedang ku hafal. Bacaan nya panjang panjang, ya walaupun semua juga masih yang di juz 30 ajah.. Plus awalan Ar Rohman dan ayat tertentu Al Baqarah, Al Anfal, Ali Imron, At Taubah, Yasin, Ash Shaff, Al Mulk. Kecuali kalau pas keliatan pada capek atau buru-buru, baru pakai yang pendek2.

Ya Allah, sudah lama sekali itu. Aku nggak pernah hafalan lagi sekarang.

Rasanya senang, bisa khusyu sholat bareng teman-teman. Aku senang jadi imam, dan geerku sih kayaknya temen-temen juga seneng kalau pas aku yang jadi imam. Ah semua juga seneng, siapa pun yang jadi imam, asalkan bukan dirinya sendiri yang harus piket imam.

Kangen ketok-ketok pintu kamar temen-temen kalau mau subuh.

Kangen susah payah naikin motor buat parkir massal sementara di teras. Kalau pas udah malem tapi lorong masih dipake ngumpul sementara mata ku udah lengket.. Atau pas siang bolong tapi ujan.

Kangen susah payah mundurin motor turun dari teras, kalau pas yang ngeluarin kurang perhitungan. Udah Nanggung cuman sampai teras, madepnya malah ke dalam pulak. Haadduhh, syusyah beta pun urusan.

Kangen liat mbak2 kedatangan tamu ikhwan. Xixixixi, ngomong jauh-jauhan, mas nya di tangga, mbak nya di teras. Nggak saling lihat.

Kangen jadi juru nerima pembelian galon
😣
Ya Allah aku pernah setrong! 😥

Kangen rempong nya ngepel teras kalau pas bertepatan dengan mas-mas takmir lagi ngepel tangga NA 😨
Ya Allah itu repot sekali.. Antara mau nunggu tapi buru-buru, mau buru-buru tapi malu, takut juga keliatan auratnya.  Harus presisi atur tempat buat naruh ember nya biar nggak keliatan dari NA pas lagi meres gombal pel nya. Juga harus ati2 pas ngepel biar nggak keliatan tangan dan kaki nya dari NA. Hahahah

Kangen isya dan subuh di NA bareng Bu Kos. Bahkan kangen budhe2 yang kalau Sholat kedengaran sekali komat-kamit bacaannya, bikin salah satu mbak kos ilfil, katanya jadi nggak khusyu, terganggu lah gitu. Emang kenceng bgt yang blekuthuk blekuthuk.

Kangen kajian pagi NH. Akidah, Fiqih, tafsir, kontemporer, kemuslimahan kalau Jumat.

Kangen ikut kajian kampung bapak-bapak ibu-ibu tetangga kos. Mungkin aku satu-satunya sepanjang sejarah, mahasiswa ngekos yang ikutan pengajian keliling warga. Pernah ngajakin ade2 kos, Prima kayaknya pernah mau, tapi cuma 1x, abis itu aku sendiri lagi.  Pengajian Yang penuh uang dilempar-lempar 😰.

Trus kenyang dengan snack berat, kadang malah ada makan, tanpa susah jadi panitia. Disambut dengan tangan terbuka, ditunggu tunggu, kalau nggak dateng besoknya ditanyain sama ibu2..

Ternyata itu semua sudah lama sekali ya Allah...
Dunia sudah berubah.
Izinkan hamba berbenah..

Makan Ku Selama Kuliah

Warung ijo nasi goreng Legendaris itu sudah tidak ada di lokasi yang dulu. Entah pindah tempat, alih konsep, atau tutup selamanya.

Jadi, tadi aku tu lewat depan kampus. Lewat doang, bareng rombongan safar Boyolali - Karanganyar nganter boyongan manten. Kepo akutuh, budaya kita tu gimana.. Soalnya sering dengar ngeterke manten, tapi baru kali ini tadi aku merasakan.

Di perjalanan, tetiba aku inget masa-masa di kampus. Aku kangen makanan sana.

Aku jadi pingin sungkem sama bu Ardayu.. Selama 4 tahun ngekos + 2 tahun nglajo urus skripsi, makanan yang aku konsumsi, terbanyak adalah hasil masakan bu Ardayu.

Aku suka beli makan di Bu Ardayu. Meskipun posisi warung nya persis di tanjakan yang agak menyulitkan untuk berhenti, belok, dan parkir, tapi tidak menyurutkan langkah untuk beli makanan di sana. Porsi nya mengenyangkan, rasanya tidak mengecewakan, menunya bervariasi tapi ajeg, dadi isoh dicegerke.

Aku bisa makan hampir semua olahan Bu Ardayu. Cuman beberapa yang sering kuhindari: urap dan santan. Sama ikan-ikanan. Juga sambal. (eh, Tapi itu waktu itu ya.. Sekarang aku udah lebih gampang makan nya, gak banyak yang gak doyan.)

Sop, sayur bening, oseng kacang panjang, sayur buncis + Wortel, sayur asem, oseng daun pepaya, terong balado, labu siam, dan lain-lain. Lauk? Beraneka macam tempe atau tahu. Tempe goreng, tempe tepung, tempe bacem, orek tempe, kering tempe kriuk&/kentang, tahu goreng, tahu krispi, tahu bacem. Ituu aja diputer-puter 3x sehari, 7 hari seminggu, 28-31 hari sebulan. Di luar jadwal pulang tentunya, dan atau rezeki dari aneka seminar, Training, workshop, diskusi, dll, atau juga makan bersama teman, rihlah, reuni, kajian, daaan, traktirannn, yeayyy. Biasanya menu telur, lele, ayam, itu kudapatkan tanpa membeli sendiri dengan sengaja.

Sesekali, jika sedang ingin menghadiahi diri sendiri atas suatu keberhasilan kecil, aku makan di Bu Cok. Pojokan jalan perempatan. Kalau di Bu Cok, nasinya uennnaaaakk, wangi, pulen.. Menthik wangi kayake. Selalu, pokoknya nasinya sangat memanjakan selera. Trus pakai cah taoge+tahu, sayur jamur tiram, sama mungkin tempe goreng atau tahu krispi kalau ada. Itu ennakk. Tapi porsi nya kecil kalau diambilkan. Kalau ambil sendiri, aduh, harganya jadi mahal kalau porsi nasiku yang normal itu ditambah sayuran yang kebanyakan. 😃 Oya, terakhir ke sana, Bu Cok udah nggak jualan. Entah kenapa.

Kalau lagi ngirit, aku beli di ngoresan, jalan menuju As Gross, kanan jalan, ada gerobag, yang jualan nggak jilbaban. (padahal Bu Ardayu dan Bu Cokro juga Nggak jilbaban loh xixixi). Kalau di situ, favorit ku beli terong balado. Lauknya.. Tempe bacem biasanya. Tapi rasanya agak gimana gitu tempe bacem nya. Suatu hari mbak kos ada yang bilang, kalau beli di situ takutnya nggak jaminan halal. Sejak itu aku nggak pernah lagi beli di gerobag situ.

Kalau lagi kere sakpole, beli maem nya di nasi goreng warung ijo tadi. Murrraahh meriah, enak gilak, tapi kurang sehat, kurang serat+vitamin +mineral. Ehehehehehehehe. Tapi asli, enak. Gimana enggak, wong masaknya aja pake arang. Wah, sangit gurih gimanaa gitu. Tapi ya lama banget masaknya, kudu super duper sabar.

Oya, kalau ke sana (warung ijo) itu biasanya ngepasi selain pas kantong kering, juga pas libur nggak sholat. Soalnya bukanya sore banget, jelang maghrib. Itu udah harus dateng, antri pesen. Sama ambil tempat. Soalnya kalau sampai nggak kebagian tempat, kita harus duduk di trotoar/batu-batu/sak ketemune panggon, kalau pun sudah kebagian makan. Kalau nggak buru-buru pesen di awal, misal abis maghrib kita baru dateng, tempat nya udah penuh, bisa-bisa nasi goreng nya juga udah abis 😑

Abis pesen, nunggu lamaaa sampai mateng trus dibagi jatah pesenan masing-masing. Makan, laporan, bayar. Nanti habis isya udah tutup biasanya. Habis nasinya.

Aku jarang juga sih ke sana. Cuma beberapa kali. Yang paling sering tu sama Rini. Bahkan entah berapa kali itu, dia yang traktir. Nasi goreng yang enag banged ditambah lalap timun+kol dan telur dadar, uaaahh nikmatnya masyaallah.

Yang masak ibunya, yang ngeladeni anaknya, adek cuantik, mulus bgt kulitnya (kok bisa ya? Pengennn) , sayang nggak jilbaban..

Oya, satu lagi, kalau makan di sana, kita bakal disamperin pengamen. Secara ya, aku kalau ke sana itu cuman bawa kepingan uang logam sisa-sisa yang masih bisa ditemukan di berbagai celah tas dan saku.. Itupun jumlahnya udah ngepres banget, kadang buat minum nya aja nggak cukup. Jadilah, aku sering nolak, atau diem. Pastinya Rini yang terus ngerogoh2 dompet buat ngasih ke pengamen nya. Heuheuheu.

Oya, kalau sarapan beda lagi. Aku awalnya suka beli di Ibu Kos. Biasanya gelar meja di depan rumahnya, depan masjid NA. Jadi tinggal keluar kos berapa langkah, udah dapet sarapan. Tapi emang rasanya emmmh, gimana ya, kurang cocok sama lidah ku. Kayak kurang bumbu atau salah bumbu gitu. Hampir semua jenis masakannya terasa aneh. Biasanya sih aku beli nasi pecel+kering tempe. Kadang tambah 1 tempe tepung dan atau perkedel kalau pas banyak duit.

Lama-lama aku tau kalau di perempatan seberang nya Bu Cok, ada warung khusus sarapan. Aku cocok banget sama pecel nya. Lauknya kering tempe kriuk+kentang. Agak kemanisan sih, pecel dan keringnya, tapi enak. Porsi kecil tapi murahh. Nggak keitung beli lauk kalau sayur nya pecel + kering. Kadang ditambah perkedel atau tahu krispi yang bentuknya kayak kupu-kupu. Pernah juga beli ketan di sana, enak.

Kalau pulang sore, kadang dititipi mbak2 kos, teh puanas mongah di Mas Same. Ehya, terakhir kali keliling ke sana, aku lihat usaha Mas Same berkembang pesat, ada beberapa cuci motor pun.

Kadang juga teh di hik Surya Utama tu, enag jugak.

Kalau lagi banyak uang, suka beli cemilan: molen isi kacang ijo favorit ku. Beli di mas cina Surya 2. Sejak nikah, trus mudik, trus kayaknya nggak balik lagi deh. Pernah lihat istri nya, ya Alloh cantik sekali. Pernah satu kali pas aku amat sangat kere sekali, aku dikasih mi instan nya Rina. Waktu itu kita belum sekamar, dia masih di kamar belakang dekat kamar mandi. Mi instan itu, demi supaya kenyang, kan harus dimasak. Kalau dikremus garingan, nggak kenyang malah begah. Aku nggak doyan mi instan biasa non seduh yang dimasak model seduh pakai air rebusan dari heater. Kagak mateng atuh. Methothor bikin kembung.

Akhirnya dengan mengucap bismillah, aku memberanikan diri melangkah ke warung mas cina. Aku minta tolong dimasakin mi itu. 😅😅😅

Bingung lah dia kasih tarif jasa. Akhirnya diminta ngasih Rp 500 aja. Bayang pun, masakin, repot, modal gas, air.. Peralatan.. Mbungkusin pulak pakai plastik, susah kan, panass,. Cuman diharga 500😱

Alhamdulillah, kenyang. 😭
Habis itu aku malu banget, lamaaa nggak berani ke sana. (Itu tuh bulan puasa soalnya, siang-siang.. Warung nya gak buka padahal. Kauganggu minta tolong dimasakin mi hahahah). Habis itu dia nikah, isterinya sempat tinggal bareng di warung itu, tapi habis itu terus pergi nggak balik-balik. Molen nya ngangeni ya Allah. Enak lezat bergizi. Bentuknya unik pula, bulet. Kalau yang molen pisang sih nggak suka, biasa aja soalnya.

Kalau pengen kasih hadiah buat prestasi, kadang aku juga beli jus. Biasanya yang murah tu di pojokan tikungan dari NA ke Surya 3. Warung baru. Sepertinya berkembang, jadi ada soto dll nya. Awalnya pas jaman ku itu cuman jus. Paling sering jambu merah, yang murah meriah. Kadang Wortel + tomat. Atau alpukat. Kalau lagi pengen yang paling mewah, strawberi 😉

Kalau pas situ kosong atau nggak buka, dan sebelum situ jualan, aku beli di jus Marie depan ote-ote. Awal masuk jalan Surya Utama. Kalau di sana, Opsinya yang biasa ku beli.. Sama sih. Heheheh. Pernah juga belakangan setelah NH yang versi baru mulai jadi, aku beli di gerobag bagus belakang kampus. Namanya apa ya? Dekat deretan fotokopi Hasbona, kos-kosan dan sebagainya itu. Sekarang tambah besar kayaknya. Nambah karyawan juga. Alhamdulillah.

Belakangan, kalau aku lagi pengen menghambur-hamburkan uang, misalnya lagi sakit, nggak nafsu makan, manja, atau apalah, aku beli Sop Matahari di warung lesehan Sakina nun jauh setelah As Gross masih masuk lagi.

Oya btw aku pernah beli juga di seberang Ar Royyan putra. Apa itu namanya, lupa. Pas Ety dan Irine usul rapat Kaderisasi sambil makan-makan. Kita makan di sana. Setelah itu, kalau pas ada tastqif, dauroh, atau acara lain di area sana, kadang aku beli di sana. Mahal sih. Tapi berkelas gitu.

Ohya, tragisnya, aku hampir selalu makan sendirian di warung. Kalau dibawa pulang, nah itu baru makannya bareng temen-temen kos.
Hebad kand? Syedihh..