Who Amung Us

Sabtu, 27 Juni 2015

Meneguhkan Langkah Yang *Salah Arah*


https://pixabay.com/en/footsteps-sand-beach-foot-print-732128/

Malam ini, di kamar Putri (Sidomulyo)—begitulah roda hidup berputar, untuk sekarang-sekarang ini daku tak punya kamar lagi, hiks—, aku menyesali keputusanku dulu mengambil jurusan Komunikasi. Benar-benar menyesal. (Aduhai Putri, mengapakah kita ini, bahkan soal perabot pun sama-sama serba ijo milihnya. Ibarat kata, “Kita begitu serupa dalam semua, kecuali dalam cinta.” Wekeke, enggak juga ding. Kan masih banyak juga hal-hal yang berbeda diantara kita. Cieeeh, buahasane.)


Apa pasal?
Semuanya sudah terlambat sekarang, susah diubah lagi, karena waktu tak bisa ditarik ke belakang.
Yah, maaf, perbaiki topik. 

Malam ini, aku menyesal kenapa dulu aku mengambil jurusan S1 Ilmu Komunikasi. Kenapa aku tidak percaya saja sama passion, sama hati nurani..? Ya, jelas, karena emang belom kebuka. Belom bener-bener paham, bidang apa sebenarnya yang paling kuminati. Ya, kalau gitu, kenapa coba enggak manut aja sama hasil yang tercantum di lembar sertifikat hasil tes IQ, minat, dan bakat??!! Ya, jujur aja, waktu mau ndaftar SNAMPTN itu aku benar-benar lupa. Nggak ingat kalau pernah ada tes semacam itu, dan apa rekomendasi yang jadi kesimpulan di sehelai kertas itu. (Aku justru taklid buta pada seorang trainer yang bilang setelah melihatku beberapa saat, mengajak ngobrol beberapa kalimat dengan disaksikan oleh ratusan atau malah ribuan peserta Try Out stan di GOR Gelarsena: cocok jadi guru SD, atau kalau ambil ilmu komunikasi bagus juga. Kalau manajemen pak? Manajemen, hmmm,,, bisa bisa...boleh itu. So, what? Alangkah tidak meyakinkannya. Dan aku begitu percaya.) Baru sadar kembali beberapa waktu lalu ketika membongkar koper mengurus administrasi-entah-apa, eh ga sengaja nemu sang pangeran sertifikat. Waktu membaca ulang setiap patah katanya, rasanya badanku panas dingin. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam perut. Dan ada yang menggeletar di hati. Serta berdesir di pembuluh-pembuluh darah.

Tulisannya kurang lebih... aku lupa. Tapi kayaknya sih bagian kesimpulannya gini, pilihan jurusan: IPA. (Menakjubkan, secara sadar dan sepihak, waktu kenaikan kelas aku nekat memilih sendiri untuk masuk IPS walau nilaiku masih dipertimbangkan untuk bisa masuk IPA. Waktu itu aku punya retorika yang hebat untuk membenarkan keputusanku. Sekarang, dah lupa tuh. Hehehe.) Rekomendasi : 1, kuliah Psikologi. 2, kuliah Kedokteran. 3, kerja.

(Hebat nian yak kesimpulan hasil tes IQ-Minat-Bakat-ku? Psikologi. Kedokteran! Aku aja heran.)

“Oh, pantas saja. Selama ini aku begitu tertarik membaca artikel, buku-buku, hingga meme beraroma psikologi, dan kadang-kadang juga yang nyerempet tentang kesehatan. Itu bahkan sudah direkomendasikan oleh pakar psikologi (yah, okedeh, sebenarnya aku nggak tau persis itu pakar ato orang ecek-ecek ato malah cuman software komputer) yang menilai hasil tes IQ-Minat-Bakat-ku, sejak aku baru saja kecemplung secara agak bodoh di sekolah terfavorit seantero kabupaten yang rupanya malah membuat aku tidak menikmati apa yang biasanya dibilang orang sebagai ‘masa SMA adalah masa yang paling indah’ karena disana, saking masih laparnya aku pada pengetahuan di bidang psikologi—atau katakan sajalah, belum punya konsep self acceptance-sebagai tahap paling awal dalam menciptakan kebahagiaan-sama sekali—, dirikupun, sedihnya, sempat menjadi korban bully. Nggak tanggung-tanggung pulak, nyaris genap 3 tahun. Hiks.”

(OOOOyyy, kenapa ya kepana eh kenapa, kok sekarang aku sukak banget pake hiks. Jadi kesimpulannya, tren ‘Rie’ minggu ini adalah penggunaan diksi/kata ‘hiks’ sodara-sodara.)

Tapi lucunya waktu itu masih belum sadar juga. Masih sempet-sempetnya aku bergalau ria menggagas masa depan.. bahkan membicarakannya dengan ibu seolah-olah itu sudah keputusan finalku. Subhanallah..

Baru tepat malam ini, menjelang pergantian hari, aku tersadar dan merasa benar-benar menyesal. Kenapa S1-ku harus Komunikasi coba?!

Selama ini, aku selalu merasa punya alasan yang kuat untuk kuliah, menjalani semuanya dengan lapang dada, bahkan riang gembira. Hingga aku lulus pun, sempat kerja juga, aku tidak pernah merasa ada yang salah dengan si kece KOMUNIKASI. Padahal sebenarnya ada yang jauh lebih menggoda: namanya si cakep PSIKOLOGI.

Inilah akibatnya sekarang. Tanpa sadar, aku sendiri adalah obyek dari mantan calon penelitian (skripsi gagal maju atao PKM batal naik) yang pernah kurencanakan untuk kulakukan: salah jurusan. Hebatnya, ketidaksadaranku itu bertahan bahkan sampai hampir setahun dari aku lulus. Waw. Totalnya tujuh tahun penuh.

Aku memang baik-baik saja selama kuliah, menikmati semua prosesnya, karena tak kupungkiri aku memang suka seluk-beluk yang diuplek-uplek di Komunikasi. Jarang sekali bolos kecuali kepepet, ngerjain setiap tugas dengan usaha terbaik—yang kadar ‘terbaik’nya rada  fleksibel sih menyesuaikan prioritas, hehe—, berusaha jadi mahasiswa yang aktif di kelas, di perpus, dan di internet demi ilmu, berjuang menyelesaikan tugas akhir dengan berbekal idealisme. Benar-benar penuh tanggung jawab, meski lulusnya tetap lama. Tapi aku mengingkari naluri. Itulah salahnya.

Psikologi. Passion-ku.

Sudah terlambat sekarang. Sudah terlambat kalau aku ingin menjadi spesialis berwawasan global di bidang psikologi. Sebabnya, aku sudah keduluan banyak tokoh lain yang melaju lebih dulu. Tujuh tahun prestisius-ku berlalu begitu saja dengan gairah semu-ku belajar komunikasi. Oke oke, bukan semu lah, hanya kedua.

Sumber daya terbatas. Itu saja alasanku. Dana bisa dibilang tidak ada lagi, tapi masih sangat mungkin mengusahakan beasiswa. Waktu... yah, kuakui aku sudah cukup tua, 24 tahun 2 bulan 15 malam. Waktuku entah masih berapa lama lagi untuk hidup, tapi jelas waktu bebasku untuk menjadi pengelana ilmu semata tanpa tanggung jawab berkeluarga seharusnya sudah tidak lama lagi. Kekuatan, oh my God, sudah lama sekali ternyata aku berhenti olah raga, astaghfirullahal’adzim... Semangat, ah kalau ini bisa diatur insyaallah. Yang pasti adalah, ini saatnya aku harus lebih rasional.

Intinya...

Bismillah, lillah, billah, illallaah!
Lebih baik sekarang aku letakkan mimpi itu. Serahkan pada mereka yang telah menggelutinya jauh lebih dulu. Zaman terus bergerak, dan aku harus pula bergerak, menyesuaikan diri pada kebutuhan dari segalanya yang selalu menuntut perbaikan.

Aku sudah jadi sarjana ilmu komunikasi. Aku tahu semuanya penting di dunia ini, tidak ada yang tidak penting. Maka aku tidak akan berkata-kata soal ban serep lagi. Aku terlanjur punya modal awal yang sama sekali jauh dari buruk, maka modal ini harus dikembangkan lagi untuk memberikan kontribusi yang lebih baik bagi perubahan ke arah yang lebih baik.

Spesialis berwawasan global. Tuhanku, takdirMu-lah yang mengaturku harus mengupas bagian itu di bedah buku profil setahunan yang lalu. TakdirMu pula lah yang mengaturku agar mendengar tentang itu bahkan, seingatku,  sejak 2009-an saat aku masih begitu culun, reaktif, mudah digerakkan, dan serba ingin tahu. Hingga kini, tiga kata itu mulai menancap dalam aliran darahku, menjadi semacam visi yang harus direalkan.

Spesialis berwawasan global. Memang sudah saatnya dicanangkan. Apapun caranya. Aku, Rie, Sarjana Ilmu Komunikasi, harus menjadi “Master Ilmu Komunikasi” dalam gelar internasional. Suatu saat aku pun bisa saja menjadi Doktor, bahkan bukan tak mungkin menjadi Profesor jika Kau mengijinkannya.

Kampus empat musim, di sekitaran akhir musim panas atau awal musim gugur tahun 2016, dengan spesialisasi di bidang yang sudah—dengan sedikit rasa terpaksa dan mau tak mau harus memaksa diri—kuputuskan: KOMUNIKASI.

Agar setidak-tidaknya di dunia ini ada satu manusia yang totalitas menjadi pakar komunikasi islam. Toh takdirMu jugalah yang dulu menjerumuskan langkahku sampai bisa masuk kampus sebagai mahasiswa tulus dan keluar sebagai sarjana bersemangat secara terhormat. Maka kuanggap ini yang terbaik. Karena aku percaya, tuntunanMu dan segala takdirMu adalah selalu yang terbaik.

NB: Jika Engkau berkenan, ya Allah, izinkan aku suatu saat nanti, dan sepanjang sisa hidupku, tetap bisa mencicipi ilmu psikologi, entah apapun itu jenjangnya, apapun sumbernya, bagaimanapun caranya, formal informal atau nonformal sekarang aku tidak peduli lagi. Sebab Engkau yang paling tahu siapa aku.

Sekali lagi: nasi sudah menjadi bubur, maka ‘kan kupastikan ia jadi bubur terenak yang pernah ada!

Kireina ‘istimewa,’ 15-16 Juni 2015, 01.15
Rie Ramadlani

*Fabi-ayyi aala irobbikuma tukadzdzibaan... jadi ini alasannya... kenapa aku nggak jadi kerja di BMT Tumang karena-Mu... aku mulai mengerti sekarang... aku harus fokus.. kudu logis... dan mesti realistis. Terima kasih Tuhan. Kau bukakan mataku dengan cara terbaikMu. Jadikan aku termasuk diantara golongan hamba-hambaMu yang beruntung, yang selalu bersyukur, yang senantiasa berprasangka baik padaMu, dan tentu, yang hanya dan hanya bergantung padaMu.

Bahagia Apapun Pencapaiannya

diambil dari http://health.detik.com/read/2013/04/25/103252/2229984/763/gampang-lupa-kepalkan-tangan-agar-otak-lebih-mudah-mengingat
Setiap pencapaian pasti sesuai dengan  apa yang sudah diusahakan.
Dan setiap ujian pasti sudah disesuaikan dengan level peserta yang  menempuhnya.
Tidak ada yang 100% sama.
Maka tidak ada yang perlu dibanding-bandingkan.

Sahabatku, senang rasanya jika ada diantaramu yang  sempat menemukan luahan hatiku ini. Kamu beruntung, karena tidak semua yang dekat denganku bisa mendapatkan kesempatan itu. Kamu juga beruntung, karena kalaupun kamu tidak atau belum dekat denganku, kamu malah sudah ikut menikmati percikan perenunganku ini.

Dulu, tak jarang aku merasa nelangsa ketika melihat salah satu dari kita meraih sesuatu, terutama jika raihan itu adalah hal yang sangat ingin kuraih juga. Tidak jarang aku merasa dunia ini tidak adil; betapa di saat aku merelakan diri berkorban demi raihan kita bersama, bahkan demi kebersamaan kita, eh malah aku  yang ditinggal. Dan memang sampai sekarang aku masih menjadi yang paling tertinggal, dipandang dari sisi manapun.

Itu iri. Di satu sisi aku ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang kupedulikan. Tapi di sisi lain aku tak rela bahwa kebahagiaan itu bukan aku sendiri yang mencicipinya terlebih dahulu. Apapun alasannya, iri adalah penyakit hati, aku tahu. Dengan adanya rasa iri itu, sulit bagiku menemukan bahagia, meski apa yang kupunya sebenarnya lebih dari yang orang lain rasa.

Tapi kemudian aku sadar, pencapaian yang kita raih sejatinya adalah pilihan kita masing-masing. Prestasi berupa nilai tinggi , IPK cumlaude, kemenangan di perlombaan tertentu, kelulusan tepat waktu, pekerjaan yang bagus, gaji yang mencukupi, cinta dalam pernikahan yang indah, keluarga yang harmonis, tempat tinggal yang mandiri, layak, nyaman, dan tenteram, anak yang menyenangkan dan menyejukkan hati, kebebasan yang menenteramkan, petualangan yang menarik, pengalaman hidup yang penuh kesan,  atau.. sesuatu yang lain yang sulit untuk dijelaskan...

Semua itu sah untuk dipilih sebagai pencapaian diri. Begitupun aku. Aku punya pilihanku sendiri. Tiap-tiap kita punya hak untuk itu. Kebahagiaan. Itu satu kata yang kita cari bersama, meski ada begitu banyak pilihan jalan yang bisa kita ambil untuk menemukannya.

Sesekali menanjak, sesekali menurun, sesekali beristirahat di stasiun persinggahan, sesekali juga berbelok, namun tetap dalam relnya. Rel kita. Karena kereta kita akan kita bawa ke tujuan yang sudah sejak lama kita rencanakan.

Kini, aku sudah benar-benar rela kalian  sampai di sana. Dan aku cukup  bahagia dengan pencapaianku sendiri. Dengan  kecepatanku sendiri. Dengan usahaku sendiri, cucuran keringatku sendiri. Dengan lika-liku indah-ku sendiri, takdirNya yang selalu dan akan selalu adalah yang terbaik untukku. Dengan segala hal yang khas-ku. Aku PUAS dengan SEMUANYA.

Lihat saja, aku juga akan SAMPAI di sana.. meski tempatku barangkali memang berbeda.

Terima kasih dunia.. Aku lega dengan memegang janjiNya.

151013        03.26        ruangtamu, beriring takbir

Selasa, 17 Maret 2015

Generasi

Pagi ini aku berpikir tentang generasi. melihat adik-adikku yang bersiap ke sekolahnya masig-masing. Pus putih yang duduk manis dengan Pus besa usai aku shalat subuh bersama Bapak dan Ibu. Mbah Sis yang sedang menyapu halaman. Para ibu yag berseliweran di jalan mengantarkan anak-anaknya berangkat sekolah. Semua mengingatkanku pada kata "generasi."
Tuhan, apakah aku juga akan mengalami fase itu? Tahap hidup menggenerasikan penduduk bumi. Apakah aku akan mampu?
Dan, bukankah itu juga berarti orang tuaku  akan semakin menua, sepuh, lalu kemudian tiada?
Tuhan, aku tak siap untuk kehilangan.. Rambut Bapak sudah semakin beruban. Keriput ibu semakin banyak. Berdiri merekapun tak lagi tegak.
Tuhan, apa yang telah kulakukan selama ini? Hidup kami seakan-akan menghisap sari kehidupan mereka. Seiring kami yang tumbuh semakin dewasa, menjadi semakin menyenangkan rasanya, mereka, orangtua kami, justru menua. Hancur hatiku rasanya.
Tuhan, ampuni kami yang banyak menyusahkan orang tua kami. Ampuni kesalahan-kesalahan Bapak dan Ibu yang telah begitu menyayangi kami, mengorbankan begitu banyak hal untuk kami. Izinkan kami membalas  kebaikan mereka, memberikan kebahagiaan untuk hidup mereka, meski itu tak sepadan dengan apa yang telah mereka buat bagi kami.

Dan.. Kumpulkan kami di surga-Mu. Aamiin...

160315 07.05

Jumat, 13 Maret 2015

Jawaban soal Mahram

 Tadinya aku sempat galau berat dan bahkan kehilangan semangat untuk mempersiapkan kuliah di luar negeri hanya karena persoalan sepele yang bagiku berat: ketiadaan mahram yang menemani.

Kali ini dapat pencerahan seketika dari siaran program Harmonika dari Tiga Serangkai.. sayangnya aku tadi nggak nyimak pembicaranya siapa.

Pancingan respon:
HARMONIKA brsm Penerbit Tiga Serangkai yuk stay tune dan gabung dial di 711 295 atau sms 081 567 55 921 kita membedah buku yg sangat bagus nih "130 HADITS TENTANG WANITA" 3 penanya terbaik akn mendapatkan buku terbitan 3 serangkai
— bersama Senja Kurnia Fitri.
Pertanyaan:
 di buku itu, ada nggak hadits tentang wajibnya wanita ditemani mahram ketika bersafar? bersafar dan menuntut ilmu itu kan sangat dianjurkan dalam islam.. kalau kuliah di luar negeri tapi masih sendiri itu bagaimana ya hukumnya untuk wanita? sedangkan orangtua ataupun saudara tidak memungkinkan untuk menemani..

Dan jawabannya, sayang tadi gak sempet nyatet, haditsnya ada di halaman 30 kalo ga salah ingat. redaksionalnya ada dua macam, kurang lebih:
1. Janganlah seorang wanita bepergian sejauh 3 hari perjalanan kecuali ditemani mahramnya.
(dari riwayat imam bukhari)
2. (lupa. nanti deh diusahakan nyari bukunya langsung. wong cumak kedepan siytu, ihihi)

Tapi pembicara satunya langsung menambahkan. Dan itu benar-benar menentramkan.
Bepergian lebih dari 3 hari tanpa ditemani mahram memang tidak boleh. Akan tetapi untuk masalah tholabul ilmy ada pertimbangan tersendiri. Asalkan tidak dikhawatirkan masalah keamanan, intinya tidak apa-apa.

"akan ada suatu masa dimana wanita bepergian sendirian dalam sekedup tanpa ditemani mahramnya."


Tapi kalau bisa ke negeri empat musim bersama mahram, alangkah indahnya ;)
Yah, semoga saja dia segera datang, siapapun itu, meskipun aku benar-benar masih belum puas jadi anaknya bapak dan ibuku. :)


Dannn, ajaibnya, aku dapet hadiah buku dari pertanyaan itu, jadi pertanyaan terbaik ketiga rupanya. Judul bukunya Ilmuwan Cilik, subjudul Tubuhku. Penulis Lisa Burke. Penerbit Tiga Ananda grup penerbit Tiga Serangkai .
Yah, bisa bermanfaat buat besok kalau udah punya anak. hehehe

Mahram?

Saya sedang dalam sebuah proses melangkah ke satu tahap kehidupan lagi. Saya ingin melanjutkan pendidikan. Ya, cari beasiswa S2, itu yang kini tengah memenuhi hari-hari saya.
Awalnya adalah seorang teman yang tiba-tiba bertanya, sangat menohok, "Kamu gak pengen S2?"
Aku tidak menjawab. Saat itu memang sama sekali tidak terpikirkan untuk kuliah lagi. Yang sedang saya pikirkan adalah pilihan untuk tetap bekerja di tempat yang sekarang atau cari yang lain yang gajinya lebih memuaskan dan atau waktu kerjanya tidak terlalu panjang. Eh, ditodong pertanyaan seperti itu, aku ya jelas jadi speechless.
Tapi pertnyaan itu menari-nari terus di kepalaku. Kuliah lagi? Apa aku mampu? Mau jadi apa aku nanti kalau sudah S2? Bagaimana dengan karir, dengan orangtua, dan lain sebagainya.
Sampai suatu malam kusampaikan itu ke ibuku, beliau mendukung. Paginya tersampaikan ke bapakku, beliau mendukung. Sampai bahkan aku teringat pada impianku untuk ke negeri empat musim, mulailah terumuskan suatu pencapaian baru: kuliah di luar negeri ah!
Sempat pula mengelist negara-negara yang paling kuinginkan pertama untuk pencapaian tadi; Jerman, Jepang, Malaysia, atau... Yogyakarta.
Besoknya, disampaikan ke ibu, lalu ke bapak, dan luarbiasa,, keduanya sangat menukung walaupun pembicaraan dilakukan terpisah. Maha besar Allah yang telah memberiku orang tua yang teramat baik, pengertian, demokratis, dan mendukung.
Kemudian lanjut searching-searching.. daftar baru pun tersusun. Konsultasi via SMS juga ke bapak-ibu, dan daftarnya diperbarui lagi. Muncullah ini: Australia, Brunei Darussalam, Singapura, Kanada, Arab Saudi. Dengan proses baca-baca, perenungan, pemilahan, akhirnya sayapun mentok.

Saya tadinya lupa, tapi terus diingatkan oleh Allah melalui web King Saud University. Bahwasanya seorang wanita memang seharusnya ditemani oleh mahram manakala bepergian.. Apalagi kok safarnya sampai lintas negara.
Memang selama ini aku sebagai wanita sering menggampangkan masalah ini, karena pertimbangan amannya Indonesia bagi komunitas para wanita. Bepergian dari Klaten ke Solo, Jepara, bahkan Jakarta, aku berani sendiri. Dan tadinya aku pun berpikir sama untuk ke luar negeri sekalian... Tapi sekarang...entahlah, aku tiba-tiba tak bersemangat lagi untuk browsing-browsing. Sambungan internet malah kupakai untuk menulis luahan hati tak penting ini.. Yah, tak apa lah, itung2 meninggalkan jejak sejarah. Kalaupun Allah mentakdirkan aku untuk tidak S2 sekalipun, setidaknya ada bukti untuk anak cucu bahwa seorang pemilik Bangsal Kontemplasi adalah pernah berhasrat untuk S2... demi meraih ridha Allah, dan demi kepercayaan pada janjiNya, bahwa Ia akan mengangkat derajat hambaNya yang berilmu... bahwa cahndeso jarangdolan katrok tur payah ini pernah pula bercita-cita untuk mengintip dunia luar, merantau, mengumpulkan pengalaman.

Sekalian aku tambahkan di sini.. bahwa aku sangat bingung dalam memutuskan tempat yang akan kutuju. Dulu aku memilih mendaftar di Komunikasi UNS dan PGSD UIN Sunan Kalijaga adalah semata-mata pertimbangan dana.
Tapi kedepan, aku tahu aku tidak bisa seperti itu. Apalagi dengan misi utama mencari beasiswa, dana bukan lagi masalah seharusnya. Tapi di luar dana, ada lagi hal-hal seperti cuaca (aku pengen di negeri 4 musim, titik, tapi bapak menyarankan yang dekat-dekat dengan iklim tropis supaya tidak susah penyesuaiannya), guru besar (ini masukan seorang teman), peringkat universitas, fasilitas, biaya hidup, daya tampung.. tambah lagi deadline masukin aplikasi beserta segala berkasnya............
hah hah hah
yang jelas sekarang aku masih fokus pada meningkatkan kemampuan bahasa inggrisku dengan program belajar intensif pagi dan malam di tempat tinggal dengan gadget dan software andalan dari bapak. Susah-susah menyenangkan sih. Kalo bisa gratis, kenapa harus bayar?hehehe.

Perkara nanti aku jadi keluar negeri ato enggak, atau jadi S2 ato enggak, ato mau gimana, urusannya belakangan lah.

Pada detik aku mengetik ini, aku kembali mempertimbangkan S2 Pendidikan Islam konsentrasi Bimbingan Konseling Islam UIN Sunan Kalijaga.

Sebelum menikah dan atau sebelum punya anak... bisa aja tuh jadi guru BK, bisaaa banget. Jam kerja setengah hari saja, gaji guru WB, berpeluang jadi PNS (seperti impian bisu bapak dan ibu yang diamdiam aku tahu) walaupun entah nanti gimana modelnya orang yang jadi suamiku, dan disinkronkan juga dengan idealismeku jadi ibu rumah tangga penuh waktu... Aaahhhh, sudahlah.

Kamis, 12 Maret 2015

Permulaan Kembalinya Hasrat Belajar

Ada sebuah mimpi yang bunyinya "negeri empat musim, suatu hari nanti." Kalau tidak sekarang , lalu kapan lagi?

Jerman, Jepang, Malaysia, Yogyakarta. Macam di semuanya TOEFL pun tak da guna.
Jerman konon tempat terbaik di dunia untuk belajr psikologi. Di sana jelas dingin. Tapi soal makanan halal, keramahan penduduk, tantangan kemandirian..masih berupa tanda tanya. Tentang bahasa, masih 100% buta.
Jepang, kedua. Bisa bercermin dalam kedisiplinan, kerja keras dan profesionalitas, serta rasa bangga pada budaya. Tempat tepat untuk belajr dan mengembalikan integritas diri yang sempat luntur.  Hampir seperti Jerman, makanan halal masih jadi masalah. Tapi setidaknya aku tahu sudah ada komunitas muslim di sana. (ya walaupun  sepertinya di Jerman juga ada kalau niat nyari. Mestinya ada ah dimana-mana di muka bumi). Orangnya ramah dan tulus, asal kita bisa membawa diri. Nah, kalao bahasa, juga 99,9% buta. Ya tapi bisa sih kursus, terus pendalaman praktek bisa sama Pipi.
Malaysia, ketiga. Entah kenapa tiba-tiba negara ini kok ada di list ku. Rumpun bahasa melayu, mirip sama yang dipake sehari-hari. Tak terlalu berat untuk  masalah penyesuaian bahasa. Makanan, budaya.. tak jauh beda. Tapi tantangannya jadi tak seberapa..
Yogyakarta, keempat.  Paling dekat, paling nyata. Tapi tantangannya nyaris tiada. Sekedar menjalani hidup dan dapat gelar, itu saja. Tapi kalau Yogya, berarti itu sama sekali bukan tetang mewujudkan mimpiku. Hanya menenangkan dan menyenangkan orang-orang di sekitarku.

#Oh, apakah aku harus pula bertemu dengan inspiratorku ? Yah barangkali ini salah satu solusi instan yang terasa dangkal.

10 Maret 2015, 01.11 di kamar ibu

Rabu, 25 Februari 2015

Njendhel

Tiba-tiba aku  tersadar bahwa aku tengah mengenangnya, sembari menghayati rasa beku di ujung hidungku. Tepat setelah mewariskan sepotong topimalingggakpenting dari lemari yang akan segera kutinggalkan  itu ke tangan Mama yag rupanya amat menyukainya. Benda itu cocok sekali di hidungnya, bukan di hidungku. Omong-omong, aku jadi kepingin menempelkan potongan koyo di sana, seperti waktu itu. Walau keperluannya berbeda.
Aku Njendhel. Nama itu kudapat 9 tahun yang lalu dalam petualangan empat hari berhujan-hujan tanpa lepas alas kaki. Aku masih ingat betul betapa setelah itu kakiku jadi seperti tahu.
Njendhel. Oh, aku tak peduli lagi filosofi apa di balik kata itu. Sebagaimana aku tak peduli lagi dengan  hilangnya sehelai foto dari puncak masa remaja Njendhel yang berkerudung mungil wara biru, kaus kuning terang, dan celana tentara, berdiri di samping rumpun edelweis dengan latar Merapi. Tak perlu kusangkal, aku memang pernah di sana. Tapi itu dulu.
Sekarang, aku masih suka pada awan, pepohonan, langit beserta bintang-bintang.. bahkan tanah dan debu yang berbeda-beda di setiap petaknya. Aku masih senang menatap gunung dari kejauhan,  burung-burung terbang, belalang yang berlompatan. Pun, sesebal apapun aku pada Pus Putih yang hobi membangunkan orang dengan menggigit  hidung, aku masih tak rela kalau ia harus dibuang. Aku masih suka berbasah-basah dalam hujan, meski tidak pernah lagi di tengah rimbun dedaun hutan. Singkat kata, aku masih sayang pada alam.
Akan tetapi kawan, ada yang  sudah berubah padaku sekarang, yang menjadikan Njendhel hanyalah sepotong episode masa lalu. Aku kini berusaha tak lai bermimpi untuk sampai di titik tertinggi Indonesia, apatah lagi Atap Dunia. Barlah itu dilakukan manusia lain yang lebih bersumber daya. Njendhel yang itu kurasa tak lagi mampu. Seorang instruktur terbaik dari negeri pualam pun  mungkin tidak bisa melatihnya dalam kondisi saat ini. Nyaliku tiada lagi, mimpi itu hanya datang dalam bentuk lelapnya tidur terliar.
Njendhel sudah hilang ditelan waktu bersama sehelai  fotonya, entah dimana. Yang tersisa dari seorang Njendhel hanya PDL hitam di lemarinya yang paling dalam dan seorang asing entah siapa  di ambang usia dewasa yang tampaknya belum hendak tiba. Foto Njendhel, diambil oleh Destia si anak aksel pecinta anime--hilang entah sejak kapan. Dan belum jua kutemukan siapa diriku yang sekarang, yang pasti dia bukan lagi Njendhel.


230215 23.50