Seorang Ibu memberikan gawai bermerek iPhone pada anaknya yang berusia 13 tahun, namun ada surat kontrak perjanjian yang menyertainya. Apakah isi perjanjiannya itu?
Ini saya kasih buat Anda, Maaaf dalam bahasa Inggris. Versi Bahasa Indonesianya akan saya bagikan di seminar tanggal 27 Agustus ya... (setelah di edit versi Bunda Deassy Marlia Destiani)
_____
To My 13-Year-Old, An iPhone Contract From Your Mom, With Love
By Janell Burley Hofmann
Dear Gregory
Merry Christmas! You are now the proud owner of an iPhone. Hot Damn! You are a good and responsible 13-year-old boy and you deserve this gift. But with the acceptance of this present comes rules and regulations. Please read through the following contract. I hope that you understand it is my job to raise you into a well rounded, healthy young man that can function in the world and coexist with technology, not be ruled by it. Failure to comply with the following list will result in termination of your iPhone ownership.
I love you madly and look forward to sharing several million text messages with you in the days to come.
1. It is my phone. I bought it. I pay for it. I am loaning it to you. Aren’t I the greatest?
2. I will always know the password.
3. If it rings, answer it. It is a phone. Say hello, use your manners. Do not ever ignore a phone call if the screen reads “Mom” or “Dad.” Not ever.
4. Hand the phone to one of your parents promptly at 7:30 p.m. every school night and every weekend night at 9:00 p.m. It will be shut off for the night and turned on again at 7:30 a.m. If you would not make a call to someone’s land line, wherein their parents may answer first, then do not call or text. Listen to those instincts and respect other families like we would like to be respected.
5. It does not go to school with you. Have a conversation with the people you text in person. It’s a life skill. *Half days, field trips and after school activities will require special consideration.
6. If it falls into the toilet, smashes on the ground, or vanishes into thin air, you are responsible for the replacement costs or repairs. Mow a lawn, babysit, stash some birthday money. It will happen, you should be prepared.
7. Do not use this technology to lie, fool, or deceive another human being. Do not involve yourself in conversations that are hurtful to others. Be a good friend first or stay the hell out of the crossfire.
8. Do not text, email, or say anything through this device you would not say in person.
9. Do not text, email, or say anything to someone that you would not say out loud with their parents in the room. Censor yourself.
10. No porn. Search the web for information you would openly share with me. If you have a question about anything, ask a person — preferably me or your father.
11. Turn it off, silence it, put it away in public. Especially in a restaurant, at the movies, or while speaking with another human being. You are not a rude person; do not allow the iPhone to change that.
12. Do not send or receive pictures of your private parts or anyone else’s private parts. Don’t laugh. Someday you will be tempted to do this despite your high intelligence. It is risky and could ruin your teenage/college/adult life. It is always a bad idea. Cyberspace is vast and more powerful than you. And it is hard to make anything of this magnitude disappear — including a bad reputation.
13. Don’t take a zillion pictures and videos. There is no need to document everything. Live your experiences. They will be stored in your memory for eternity.
14. Leave your phone home sometimes and feel safe and secure in that decision. It is not alive or an extension of you. Learn to live without it. Be bigger and more powerful than FOMO (fear of missing out).
15. Download music that is new or classic or different than the millions of your peers that listen to the same exact stuff. Your generation has access to music like never before in history. Take advantage of that gift. Expand your horizons.
16. Play a game with words or puzzles or brain teasers every now and then.
17. Keep your eyes up. See the world happening around you. Stare out a window. Listen to the birds. Take a walk. Talk to a stranger. Wonder without googling.
18. You will mess up. I will take away your phone. We will sit down and talk about it. We will start over again. You and I, we are always learning. I am on your team. We are in this together.
It is my hope that you can agree to these terms. Most of the lessons listed here do not just apply to the iPhone, but to life. You are growing up in a fast and ever changing world. It is exciting and enticing. Keep it simple every chance you get. Trust your powerful mind and giant heart above any machine. I love you. I hope you enjoy your awesome new iPhone.
Surat ini ada di laman :
http://www.huffingtonpost.com/janell-burley-hofmann/iphone-contract-from-your-mom_b_2372493.html
___
Nah buat Anda yang ingin tahu penjelasannya seberapa penting sih orangtua membuat komitmen bersama sebelum memberikan gawai pada anak, silahkan ikutan kuliah prenting online via grup wa bersama saya dan mas Firman Syah (Sutradara Ketika Mas gagah Pergi).
Bukan hanya cara membuat kontrak perjanjian dengan anak seperti ini saja yang Anda pelajari, tapi masih banyak hal positif lainnya untuk Anda aplikasikan dalam keluarga.
Segera amankan seatnya, karena hanya tinggal beberapa hari lagi. Ahad, 27 Agustus 2017 jam 12.30 sd selesai. Biaya 49.000
Klik link berikut jika pengen ikutan
http://bit.ly/2wAWiCu
dari grup WA one day one sirah,
agustus 2017
Who Amung Us
Sabtu, 02 September 2017
TIDAK ADA WANITA YANG SEMPURNA
Yang merasa bapak2 monggo dibaca :
Nggak ada tebu yang kedua kepalanya manis.
- Kalau kamu memilih bersama wanita yang bekerja, kamu perlu menerima dia tidak bisa di rumah membersihkan rumah.
- Kalau kamu memilih bersama ibu rumah tangga yang menjaga dan merawat rumah, kamu perlu menerima kalo dia tidak menghasilkan uang.
- Kalau kamu memilih bersama wanita penurut, kamu harus menerima kalo dia bergantung padamu dan tidak mandiri.
- Kalau kamu memilih bersama wanita pemberani kamu harus menerima kalo dia keras kepala dan punya pemikiran sendiri.
- Kalau kamu memilih bersama wanita cantik, kamu harus menerima kalau pengeluarannya juga banyak.
- Kalau kamu memilih bersama wanita hebat, kamu juga harus menerima kalau dia itu keras dan tak terkalahkan.
Gak ada wanita yang sempurna, itu hanya ada dalam mimpimu saja.
Jangan sering mengeluh kalo istrimu suka menghamburkan uang, atau mengeluh kalau istri orang lain pandai mengirit uang. Apa memelihara angsa dan bebek itu modalnya sama?
Lelaki jaman sekarang itu, semuanya berharap wanita lemah lembut, perhatian dan cantik, punya badan bagus, mandiri dan bisa mencari uang, selain itu juga menjaga rumah tangga, hormat pada orang tua, baik hati pada anggota keluargamu.
Tapi coba, kutanyakan, kalo keinginanmu sebegitu banyak, apa kelebihanmu? Apa kamu tinggi dan tampan? Atau kamu punya tabungan tak terbatas jumlahnya? Atau kamu juga orang yang lemah lembut, perhatian, setia dan menyayangi istri?
Kalo kamu tidak punya semua itu, jangan menuntut orang lain sempurna!
#wanitaituistimewa
#copas 🌷🌷🌷💃🏽💃🏽💃🏽
Dari grup WA Keluarga Surya
Agustus 2017
Yang Aku Ingin
Halal menatap wajahmu
Tenang dan menenangkan di sisimu
Saling menggenggam dalam suka maupun duka
Belajar memahami keunikanmu
Belajar menempatkan diri sebagai pendampingmu
Belajar dewasa bersamamu
Tidak pintar masak
Apa-apa jijik
Lamban
Lemah secara mental maupun fisik
Mudah terbawa emosi, naik turun tidak pasti
Itu semua yang aku punya
Aku memang berharap bisa bersamamu
Mengarungi hidup ini yang bagaikan a long journey
Saling menguatkan di kala lemah
Saling menopang saat akan terjatuh
Meniti terjalnya jalan ini bersama
Apa yang bisa kuberi padamu?
Aku tak tahu
Aku tak menjanjikan apapun
Hanya ada kucuran rasa yang butuh muara
Aku yakin kamu tahu
Adakah kamu juga begitu?
Aku tak hendak "ngoyak-oyak"
Sebab jodoh itu sudah Dia tentukan siapanya
Kapan dan bagaimana bertemunya
Harapku, dan aku yakin itu yang akan terjadi
Kita akan dibersamakan dengan jodoh itu
Pada saat yang paling tepat
Saat kita telah sama-sama siap
Agar saat kita menanggung amanah besar pernikahan, kita bisa tunaikan hak dan kewajiban secara adil
Komitmen memang menakutkan
Tapi jika Cinta-Nya yang menjadi landasan,
Apa lagi yang mesti ditakutkan?
Aku begitu takut punya anak
Begitu khawatir akan berjuta tanggung jawab yang akan seketika melekat
Begitu pula dengan bersuami
Aku kerap cemas dengan hak para suami yang harus ditunaikan istri
Apa aku bisa..
Tapi kalau kita kembali pada asalnya
Kenapa kita menikah
Siapa yang mempertemukan
Siapa yang memberi rizki
Kekuatan apa yang menggerakkan hidup kita
Maka harusnya, tidak ada lagi yang perlu kita khawatirkan, bukan?
Ah, mudah dikatakan
Pelaksanaannya butuh kamu dan aku take action together
Dan mari kita lihat hasilnya
Ikhtiar sepanjang hidup kita,
Apakah kelak akan mendukung persatuan kita kembali di syurga?
Syurga yang hanya karena Rahmat-Nya bisa kita masuki
Semoga aku bisa memasukinya dengan Kasih-Nya bersamamu
Dan halal berpandang-pandangan di atas dipan-dipan yang hijau sutranya
Seiring sejalan, sampai langkah kita sampai di firdaus, setinggi-tingginya syurga
Aamiin..
DN 2 setengah, Malam tasyrik pertama di ihsanul fikri
Badan pegal dengan sisa bau daging dimana-mana bekas kerjaan tadi seharian
Mata yang hendak lekat tapi tak segera juga
Mengingat-Mu.. mengingat kelakuan burukku.. mereka-reka langkah selanjutnya..
Syahdu
Aku hanya ingin halal untukmu
Tenang dan menenangkan di sisimu
Saling menggenggam dalam suka maupun duka
Belajar memahami keunikanmu
Belajar menempatkan diri sebagai pendampingmu
Belajar dewasa bersamamu
Tidak pintar masak
Apa-apa jijik
Lamban
Lemah secara mental maupun fisik
Mudah terbawa emosi, naik turun tidak pasti
Itu semua yang aku punya
Aku memang berharap bisa bersamamu
Mengarungi hidup ini yang bagaikan a long journey
Saling menguatkan di kala lemah
Saling menopang saat akan terjatuh
Meniti terjalnya jalan ini bersama
Apa yang bisa kuberi padamu?
Aku tak tahu
Aku tak menjanjikan apapun
Hanya ada kucuran rasa yang butuh muara
Aku yakin kamu tahu
Adakah kamu juga begitu?
Aku tak hendak "ngoyak-oyak"
Sebab jodoh itu sudah Dia tentukan siapanya
Kapan dan bagaimana bertemunya
Harapku, dan aku yakin itu yang akan terjadi
Kita akan dibersamakan dengan jodoh itu
Pada saat yang paling tepat
Saat kita telah sama-sama siap
Agar saat kita menanggung amanah besar pernikahan, kita bisa tunaikan hak dan kewajiban secara adil
Komitmen memang menakutkan
Tapi jika Cinta-Nya yang menjadi landasan,
Apa lagi yang mesti ditakutkan?
Aku begitu takut punya anak
Begitu khawatir akan berjuta tanggung jawab yang akan seketika melekat
Begitu pula dengan bersuami
Aku kerap cemas dengan hak para suami yang harus ditunaikan istri
Apa aku bisa..
Tapi kalau kita kembali pada asalnya
Kenapa kita menikah
Siapa yang mempertemukan
Siapa yang memberi rizki
Kekuatan apa yang menggerakkan hidup kita
Maka harusnya, tidak ada lagi yang perlu kita khawatirkan, bukan?
Ah, mudah dikatakan
Pelaksanaannya butuh kamu dan aku take action together
Dan mari kita lihat hasilnya
Ikhtiar sepanjang hidup kita,
Apakah kelak akan mendukung persatuan kita kembali di syurga?
Syurga yang hanya karena Rahmat-Nya bisa kita masuki
Semoga aku bisa memasukinya dengan Kasih-Nya bersamamu
Dan halal berpandang-pandangan di atas dipan-dipan yang hijau sutranya
Seiring sejalan, sampai langkah kita sampai di firdaus, setinggi-tingginya syurga
Aamiin..
DN 2 setengah, Malam tasyrik pertama di ihsanul fikri
Badan pegal dengan sisa bau daging dimana-mana bekas kerjaan tadi seharian
Mata yang hendak lekat tapi tak segera juga
Mengingat-Mu.. mengingat kelakuan burukku.. mereka-reka langkah selanjutnya..
Syahdu
Aku hanya ingin halal untukmu
Rabu, 16 Agustus 2017
Dari Foto
Menyimak senyummu, meski hanya dalam gambar, telah cukup melipur rinduku. Toh apa lagi yang bisa aku harapkan, kan? Walau setelahnya aku mesti istighfar berkali-kali.
Aku merasa tidak mengenalmu. Aku hanya bisa menebak-nebak, kamu itu seperti apa sebenarnya. Dulu kupikir gaya kita jauh berbeda. Kamu jauh di atasku, kamu punya kehidupan yang serba lebih daripadaku. Kukira begitu.
Tapi hari ini kurenungkan lagi. Kalau dipikir-pikir, kamu sederhana juga sih orangnya. Memang gaya, itu kamu apa adanya, tapi tidak berlebihan. Tahun kapan itu, baju barumu warna ungu, kamu pakai terus setiap ada event yang sepertinya penting menurutmu. Sekarang, sudah sejak beberapa bulan, tampaknya kemeja abu-abu itu pakaian terbaik dan terbaru yang menjadi trade mark-mu.
Aku? Entahlah. Orang lebih bisa menilai. Aku hanya pakai apa yang bisa kupakai. Di sini sekolah, berseragam, jadi rutin ya itu itu saja yang dipakai. Baju-baju yang spesial atau penuh kenangan, tapi tidak layak untuk kutampilkan di Pondok, kutinggal di rumah. Biar orang rumah yang luwes memanfaatkan.
Baju favorit, saat ini tidak ada. Favorit oh ya.. PSH Oranye. Saking sukanya, kueman-eman, jarang dipakai. Bagus dan nyaman, tapi masih sangat baru kesannya, walau sudah bertahun-tahun jadi bajunya ibuku, tapi karena jarang dipakai, rasanya masih seperti baru. Sayang kalau sering-sering kupakai, nanti jadi kinclong bekas setrikaan. Aku belum bisa seperfect ibu kalau menyetrika.
Senyummu... menyimpan kisah. Aku ingin menyimak kisah itu. Tapi bagaimana?
Ah sudahlah. Kata ibu, mungkin waktuku tidak banyak lagi. Kunikmati saja sisa masa lajangku sebaik-baiknya. Kamu, kalau memang jodohku, pasti akan datang, bukan? Kalau toh bukan kamu, maka pasti akan ada yang datang. Dan Allah sudah janjikan, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Maka tugasku hanya satu: menjadi orang baik. Dengan upaya terbaik. Dan untukmu, jadilah baik. Tetaplah jadi baik. Semoga kamu dipertemukan-Nya dengan yang terbaik. Begitu pula denganku. Semoga.
See ya
Aku merasa tidak mengenalmu. Aku hanya bisa menebak-nebak, kamu itu seperti apa sebenarnya. Dulu kupikir gaya kita jauh berbeda. Kamu jauh di atasku, kamu punya kehidupan yang serba lebih daripadaku. Kukira begitu.
Tapi hari ini kurenungkan lagi. Kalau dipikir-pikir, kamu sederhana juga sih orangnya. Memang gaya, itu kamu apa adanya, tapi tidak berlebihan. Tahun kapan itu, baju barumu warna ungu, kamu pakai terus setiap ada event yang sepertinya penting menurutmu. Sekarang, sudah sejak beberapa bulan, tampaknya kemeja abu-abu itu pakaian terbaik dan terbaru yang menjadi trade mark-mu.
Aku? Entahlah. Orang lebih bisa menilai. Aku hanya pakai apa yang bisa kupakai. Di sini sekolah, berseragam, jadi rutin ya itu itu saja yang dipakai. Baju-baju yang spesial atau penuh kenangan, tapi tidak layak untuk kutampilkan di Pondok, kutinggal di rumah. Biar orang rumah yang luwes memanfaatkan.
Baju favorit, saat ini tidak ada. Favorit oh ya.. PSH Oranye. Saking sukanya, kueman-eman, jarang dipakai. Bagus dan nyaman, tapi masih sangat baru kesannya, walau sudah bertahun-tahun jadi bajunya ibuku, tapi karena jarang dipakai, rasanya masih seperti baru. Sayang kalau sering-sering kupakai, nanti jadi kinclong bekas setrikaan. Aku belum bisa seperfect ibu kalau menyetrika.
Senyummu... menyimpan kisah. Aku ingin menyimak kisah itu. Tapi bagaimana?
Ah sudahlah. Kata ibu, mungkin waktuku tidak banyak lagi. Kunikmati saja sisa masa lajangku sebaik-baiknya. Kamu, kalau memang jodohku, pasti akan datang, bukan? Kalau toh bukan kamu, maka pasti akan ada yang datang. Dan Allah sudah janjikan, laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik. Maka tugasku hanya satu: menjadi orang baik. Dengan upaya terbaik. Dan untukmu, jadilah baik. Tetaplah jadi baik. Semoga kamu dipertemukan-Nya dengan yang terbaik. Begitu pula denganku. Semoga.
See ya
Sabtu, 12 Agustus 2017
Untuk yang Sedang Lemah dalam Beramanah
Bismillaah...
Untuk yang sedang lemah dalam beramanah
(Salim A.Fillah)
Dulu,merasa ditinggal,tidak dipedulikan, pengurus pada tidak peka pada kebutuhan, ditambah lagi persoalan profesionalitas harus dipertahankan. Kau kira akademisku berjalan lancar? begitu kiranya ketika amanah dan dakwah menjadi kambing hitam. Dakwah hanya jadi bualan semua hanya karena lelah karena lilah, niatan dan janji اَللّهُ yang terabaikan
Amal yaumi yang seharusnya terjiwai, namun hanya sekedar rutinitas tak menancap dihati. Boro boro tahajud seminggu sekali, yg ada syuro hampir tiap hari. Katanya sih untuk ummat ini, tapi aku lupa sama kewajiban diri. Harusnya liqo semakin giat, tapi dateng sering telat, atau malah futurnya kumat
👣Kepadamu yg telah ku bawa bersamaku meniti jalan ini,
Maaf telah melibatkanmu dalam perjalanan yang begitu melelahkan,
Perjalanan yang kerap membuat kita harus menangis darah,
Perjalanan yang lebih sering membilurkan luka,
Perjalanan yang kerap membuat kita merasa ingin berhenti dan kembali ke garis awal atau menepi...
Kepadamu yg telah kubawa bersamaku meniti jalan ini,
Maaf pernah berfikir meninggalkanmu seorang diri,
Menempuh segala perjalanan hidupmu sendirian
Bukan benar-benar meninggalkanmu,
Membiarkanmu berproses di jalan ini,
Hanya untuk membuatmu memahami likunya,
Hanya untuk membuatmu bertahan diatas kakimu,
Hanya untuk membuatmu tegar dalam melangkah.
Sebab kelak,
Ada masa dimana kita benar-benar akan sendiri
Menapaki jalan ini.
Ada masa dimana kita hanya punya Allah untuk dapat bertahan
Ada masa dimana kita harus berkata
"Hei... ini aku dan jalanku"
Masa dimana menjadi benar-benar terasing di keramaian dunia.
Masa dimana kita melukis cahaya yang berbeda dari mereka.
Kepadamu yg telah kubawa bersamaku meniti jalan ini,
Inilah jalan yg kita tempuh sekarang,
Jalan yg lebih banyak duri yg akan kita temui,
Jalan yg lebih terjal dan mendaki,
Jalan yg akan menguras airmata, semangat dan harapan semu,
Namun, inilah juga jalan yg akan membawa kita ke puncak,
Menikmati segala keindahan dari atas tanpa penghalang,
Yang akan mengubah airmata menjadi tawa kebahagiaan, melahirkan harapan baru yang pasti.
Setelah perjuangan dan pengorbanan telah kita lalui.
Kepadamu yg telah kubawa bersamaku meniti jalan ini,
Genggam tanganku erat jangan ragu
Ketika kau merasa letih dan tak sanggup berdiri,
Disaat kau ingin berhenti,
Menolehlah,
Disitu masih ada aku,
Yg masih bersamamu ketika memulai perjalanan panjang ini.
Dan akan tetap tersenyum kepadamu, menganggukkan kepala.
Bahwa kau bisa terus berjalan tanpa takut, tanpa ragu.
Sebab Allah juga bersamamu.
Kepadamu yg telah kubawa bersamaku meniti jalan ini.
Inilah jalan kita.
Kita memang akan menjadi berbeda,
Tak lagi sama dengan mereka,
Akan di asingkan,
Namun karena itulah kita menjadi permata,
Dijalan ini.
Di Jalan Dakwah. Jalan Cahaya.
Jangan takut dikatakan sok alim, karena mengajak orang lain berhijrah.
Tetapi takutlah akan teguran Allah, jika kita sudah berhijrah tetapi tidak mengajak orang lain untuk berhijrah juga.
jalan cinta para pejuang
Ikhwahfillah, Rangkullah sahabatmu sekali lagi, Bisa jadi ia menjadi lemah, sebab engkau tak lagi peduli
Untuk yang tegar di jalan dakwah
Menyelami samudera Alquran
Jalan cinta para pejuang
🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃
Dari WA Group SMAIT Ihsanul Fikri
Dikirim oleh Bunda Marhamah Amini
Untuk yang sedang lemah dalam beramanah
(Salim A.Fillah)
Dulu,merasa ditinggal,tidak dipedulikan, pengurus pada tidak peka pada kebutuhan, ditambah lagi persoalan profesionalitas harus dipertahankan. Kau kira akademisku berjalan lancar? begitu kiranya ketika amanah dan dakwah menjadi kambing hitam. Dakwah hanya jadi bualan semua hanya karena lelah karena lilah, niatan dan janji اَللّهُ yang terabaikan
Amal yaumi yang seharusnya terjiwai, namun hanya sekedar rutinitas tak menancap dihati. Boro boro tahajud seminggu sekali, yg ada syuro hampir tiap hari. Katanya sih untuk ummat ini, tapi aku lupa sama kewajiban diri. Harusnya liqo semakin giat, tapi dateng sering telat, atau malah futurnya kumat
👣Kepadamu yg telah ku bawa bersamaku meniti jalan ini,
Maaf telah melibatkanmu dalam perjalanan yang begitu melelahkan,
Perjalanan yang kerap membuat kita harus menangis darah,
Perjalanan yang lebih sering membilurkan luka,
Perjalanan yang kerap membuat kita merasa ingin berhenti dan kembali ke garis awal atau menepi...
Kepadamu yg telah kubawa bersamaku meniti jalan ini,
Maaf pernah berfikir meninggalkanmu seorang diri,
Menempuh segala perjalanan hidupmu sendirian
Bukan benar-benar meninggalkanmu,
Membiarkanmu berproses di jalan ini,
Hanya untuk membuatmu memahami likunya,
Hanya untuk membuatmu bertahan diatas kakimu,
Hanya untuk membuatmu tegar dalam melangkah.
Sebab kelak,
Ada masa dimana kita benar-benar akan sendiri
Menapaki jalan ini.
Ada masa dimana kita hanya punya Allah untuk dapat bertahan
Ada masa dimana kita harus berkata
"Hei... ini aku dan jalanku"
Masa dimana menjadi benar-benar terasing di keramaian dunia.
Masa dimana kita melukis cahaya yang berbeda dari mereka.
Kepadamu yg telah kubawa bersamaku meniti jalan ini,
Inilah jalan yg kita tempuh sekarang,
Jalan yg lebih banyak duri yg akan kita temui,
Jalan yg lebih terjal dan mendaki,
Jalan yg akan menguras airmata, semangat dan harapan semu,
Namun, inilah juga jalan yg akan membawa kita ke puncak,
Menikmati segala keindahan dari atas tanpa penghalang,
Yang akan mengubah airmata menjadi tawa kebahagiaan, melahirkan harapan baru yang pasti.
Setelah perjuangan dan pengorbanan telah kita lalui.
Kepadamu yg telah kubawa bersamaku meniti jalan ini,
Genggam tanganku erat jangan ragu
Ketika kau merasa letih dan tak sanggup berdiri,
Disaat kau ingin berhenti,
Menolehlah,
Disitu masih ada aku,
Yg masih bersamamu ketika memulai perjalanan panjang ini.
Dan akan tetap tersenyum kepadamu, menganggukkan kepala.
Bahwa kau bisa terus berjalan tanpa takut, tanpa ragu.
Sebab Allah juga bersamamu.
Kepadamu yg telah kubawa bersamaku meniti jalan ini.
Inilah jalan kita.
Kita memang akan menjadi berbeda,
Tak lagi sama dengan mereka,
Akan di asingkan,
Namun karena itulah kita menjadi permata,
Dijalan ini.
Di Jalan Dakwah. Jalan Cahaya.
Jangan takut dikatakan sok alim, karena mengajak orang lain berhijrah.
Tetapi takutlah akan teguran Allah, jika kita sudah berhijrah tetapi tidak mengajak orang lain untuk berhijrah juga.
jalan cinta para pejuang
Ikhwahfillah, Rangkullah sahabatmu sekali lagi, Bisa jadi ia menjadi lemah, sebab engkau tak lagi peduli
Untuk yang tegar di jalan dakwah
Menyelami samudera Alquran
Jalan cinta para pejuang
🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃🌷🍃
Dari WA Group SMAIT Ihsanul Fikri
Dikirim oleh Bunda Marhamah Amini
Betapa
Betapa aku ini isinya aib semata
Orang kadang lihat aku baik-baiknya
Padahal kalau mereka tahu sedikit aja dari aibku,
Niscaya tidak akan ada yang mau dekat-dekat denganku
Umbar senyum kadang kala
Ringan tangan saat itulah moodnya
Sopan bertutur suatu ketika
Dan itulah yang lebih banyak orang lihat
Padahal dalam sepi, aku ...
Terima kasih Tuhan, Kau tutup aibku
Kau simpan biar hanya kita yang tahu
Namun kelak jua kan kulaporkan di hari penghitungan
Setiap tingkah buruk yang di mata orang Kau sembunyikan
Akan tiba saatnya semua terbongkar
Betapa menjijikkan
Tuhan, kalau boleh aku meminta
Matikanlah aku dalam keadaan terbaik
Yang memberi kunci syurga tanpa hisab
Sehingga tak perlu kutanggung malu atas segala aibku
Namun Tuhan,
Aku sadar diri
Betapa kotor diri ini
Betapa tidak tahu diri permintaanku tadi
Sungguh, betapa Engkau Maha Bijaksana, Maha Rahim, Maha Bathin..
Secuil saja aibku terbuka di dunia,
Mungkin bagiku dunia runtuh seketika
Tutuplah Tuhanku, Tutupi aibku
Biar hanya kita berdua aja yang tahu
Cukup itu. Dan lalu,
Izinkan aku bertemu Wajah-Mu.
Orang kadang lihat aku baik-baiknya
Padahal kalau mereka tahu sedikit aja dari aibku,
Niscaya tidak akan ada yang mau dekat-dekat denganku
Umbar senyum kadang kala
Ringan tangan saat itulah moodnya
Sopan bertutur suatu ketika
Dan itulah yang lebih banyak orang lihat
Padahal dalam sepi, aku ...
Terima kasih Tuhan, Kau tutup aibku
Kau simpan biar hanya kita yang tahu
Namun kelak jua kan kulaporkan di hari penghitungan
Setiap tingkah buruk yang di mata orang Kau sembunyikan
Akan tiba saatnya semua terbongkar
Betapa menjijikkan
Tuhan, kalau boleh aku meminta
Matikanlah aku dalam keadaan terbaik
Yang memberi kunci syurga tanpa hisab
Sehingga tak perlu kutanggung malu atas segala aibku
Namun Tuhan,
Aku sadar diri
Betapa kotor diri ini
Betapa tidak tahu diri permintaanku tadi
Sungguh, betapa Engkau Maha Bijaksana, Maha Rahim, Maha Bathin..
Secuil saja aibku terbuka di dunia,
Mungkin bagiku dunia runtuh seketika
Tutuplah Tuhanku, Tutupi aibku
Biar hanya kita berdua aja yang tahu
Cukup itu. Dan lalu,
Izinkan aku bertemu Wajah-Mu.
Jumat, 11 Agustus 2017
Gaji Pertama
Waktu melesat cepat. Tak terasa sudah sebulan lebih aku di sini. Dalam lingkungan baru, lingkaran kehidupan, kesibukan, dan pergaulan yang baru. Dan aku larut dalam dunia baru ini, tanpa harus menjadi diri yang baru.
Aku bisa jadi diri sendiri apa adanya. Tidak ada rasa terpaksa harus menampilkan sosok diri"ku" yang berbeda. Aku menikmati pekerjaanku. Lelah memang, lelah sekali. Melebihi lelahku saat sibuk di kampus dulu. Tetapi hari berganti tanpa kusadari. Bukankah itu pertanda nyaman dan betah? Maka terus kujalani saja, dengan tetap memohon ridha orang tua.
Momentumnya ditandai dengan keluarnya slip gaji pertama. Slip gaji yang kuterima dengan segenap rasa bahagia. Cukuplah halal dan berkah menjadi kriteria yang paling kuharap untuk rezeki berupa materi. Maka ketika slip gaji kuterima, lalu saat akan mencairkan uangnya di BMT ternyata BMT-nya tutup, aku tetap tersenyum sabar. Dan aku tetap pulang dengan rasa percaya diri yang tidak terkurangi.
Kupersembahkan (slip) gaji pertamaku ke hadapan ibu. Harap-harap cemas kunantikan ekspresinya. Segala puji bagi Allah, ibu tersenyum bangga. Aku tahu persis, bukan nominal uangnya yang mendorong ibu berekspresi demikian, melainkan penerimaanku dan kebanggaanku atas pekerjaanku yang membuat ibu pun menerima.
Memang jumlahnya tidak banyak bagi teman-teman yang sudah terbiasa dengan penghasilan di atas UMK. Tetapi aku sudah nyaman dengan iklimnya. Semoga tetap begini seterusnya, dan aku tidak akan pernah kecewa bekerja di sini.
Puas itu relatif yah.
Dalam beberapa kesempatan, ibu, Bapak, adik-adik, dan teman-teman masih sering mengirimi informasi lowongan kerja. Banyak yang menarik. Sayangnya, aku sudah tidak punya cukup waktu untuk menebar lamaran seperti dulu.
Waktu benar-benar berharga sekarang. Yang paling kujaga tentu waktu tidurku: harus cukup. Jangan sampai hal buruk terjadi. Lebih baik mencegah daripada terlanjur menjadi masalah.
Masih soal info-info lowongan. Kalau saja aku berniat untuk cabut dari sini, mungkin akan kuperjuangkan untuk melamar disana-sini, dengan konsekuensi mengurangi waktu tidur. Namun resikonya terlalu tinggi. Lagipula aku memang sudah tak berniat pergi. Kalaupun aku akan pergi dari sini, mungkin itu karena pindah dan karena nikah. Semoga jodohku bukan teman kerja di sini. Semoga dia itu kamu. (Ahh, doaku masih nakal aja. Sampai kapan ya.?)
Nah, slip gaji. Secarik kertas itu saja yang kuberikan (lebih tepatnya, kuperlihatkan) di kepulanganku tempo hari. Bukan lembaran uang yang bisa langsung dibelanjakan. Namun lelahku serasa langsung hilang, luruh berganti kepuasan, saat melihat senyum ibu terkembang.
Bagi kami, memang lebih baik begini: saling terbuka. Keluargaku biarlah tahu berapa penghasilanku. Dan kelak, insyaallah di bulan kedua, baru akan kuterimakan lembar-lembar rupiahnya untuk melipur rasa. Utuh sebulan gaji. Lantas di bulan-bulan setelahnya, rencanaku insyaallah akan kubagi sekian persen penghasilan untuk menyokong kebutuhan keluarga, alokasi untuk tabungan haji dan nikah (kalau tabungan ini, sudah dimulai dari bulan ini. Sudah lama ding.. tapi terus uangnya terbang), dana sosial, dan kebutuhan pribadi harian yang harus dipenuhi.
Semoga ini bisa berjalan lancar Ya Allah... Terima kasih atas semuanya.. terima kasih atas segala jalan yang Kau bukakan... terima kasih atas rezeki berupa keluarga, kesehatan, semangat, dokter, teman-teman, murid-murid, anak asuh asrama, suplai gizi, tempat tinggal, air, energi, kesibukan, atasan, sarpras, dan semuua kebaikan yang telah Kau berikan untuk hamba... Hamba sadar, ada begitu banyak doa yang berpilin hingga Arsy-Mu bergetar karenanya. Bukan karena doaku semata. Semoga doamu ada di antaranya.
Hari ini, setelah beberapa lama slip gaji kuterima, akhirnya aku belanja. Ada voucher belanja seharga lima puluh ribu rupiah yang bisa dibelanjakan di Fikri Mart, Toko Swalayan mini Pesantren yang kemungkinan dikelola sebagai koperasi.beli beberapa item barang. Ternyata habisnya 56.000. Oke, karena voucher hanya berlaku untuk satu kali belanja, maka belanjaanku kuanggap cukup. Nombok 6000 dari sisa uang saku yang ibu berikan padaku. Sebagian barang yang kubeli, sudah kuniatkan untuk kuantarkan pulang kapan-kapan. Membantu menyokong kebutuhan rumah, itu misiku.
Dan malam pun berlari cepat ekali. Sudah saatnya aku tidur. Aku harus tidur. Dan berisiap tuk berjibaku dengan RPP esok pagi.
Hei kamu, apa kabar??
Aku bisa jadi diri sendiri apa adanya. Tidak ada rasa terpaksa harus menampilkan sosok diri"ku" yang berbeda. Aku menikmati pekerjaanku. Lelah memang, lelah sekali. Melebihi lelahku saat sibuk di kampus dulu. Tetapi hari berganti tanpa kusadari. Bukankah itu pertanda nyaman dan betah? Maka terus kujalani saja, dengan tetap memohon ridha orang tua.
Momentumnya ditandai dengan keluarnya slip gaji pertama. Slip gaji yang kuterima dengan segenap rasa bahagia. Cukuplah halal dan berkah menjadi kriteria yang paling kuharap untuk rezeki berupa materi. Maka ketika slip gaji kuterima, lalu saat akan mencairkan uangnya di BMT ternyata BMT-nya tutup, aku tetap tersenyum sabar. Dan aku tetap pulang dengan rasa percaya diri yang tidak terkurangi.
Kupersembahkan (slip) gaji pertamaku ke hadapan ibu. Harap-harap cemas kunantikan ekspresinya. Segala puji bagi Allah, ibu tersenyum bangga. Aku tahu persis, bukan nominal uangnya yang mendorong ibu berekspresi demikian, melainkan penerimaanku dan kebanggaanku atas pekerjaanku yang membuat ibu pun menerima.
Memang jumlahnya tidak banyak bagi teman-teman yang sudah terbiasa dengan penghasilan di atas UMK. Tetapi aku sudah nyaman dengan iklimnya. Semoga tetap begini seterusnya, dan aku tidak akan pernah kecewa bekerja di sini.
Puas itu relatif yah.
Dalam beberapa kesempatan, ibu, Bapak, adik-adik, dan teman-teman masih sering mengirimi informasi lowongan kerja. Banyak yang menarik. Sayangnya, aku sudah tidak punya cukup waktu untuk menebar lamaran seperti dulu.
Waktu benar-benar berharga sekarang. Yang paling kujaga tentu waktu tidurku: harus cukup. Jangan sampai hal buruk terjadi. Lebih baik mencegah daripada terlanjur menjadi masalah.
Masih soal info-info lowongan. Kalau saja aku berniat untuk cabut dari sini, mungkin akan kuperjuangkan untuk melamar disana-sini, dengan konsekuensi mengurangi waktu tidur. Namun resikonya terlalu tinggi. Lagipula aku memang sudah tak berniat pergi. Kalaupun aku akan pergi dari sini, mungkin itu karena pindah dan karena nikah. Semoga jodohku bukan teman kerja di sini. Semoga dia itu kamu. (Ahh, doaku masih nakal aja. Sampai kapan ya.?)
Nah, slip gaji. Secarik kertas itu saja yang kuberikan (lebih tepatnya, kuperlihatkan) di kepulanganku tempo hari. Bukan lembaran uang yang bisa langsung dibelanjakan. Namun lelahku serasa langsung hilang, luruh berganti kepuasan, saat melihat senyum ibu terkembang.
Bagi kami, memang lebih baik begini: saling terbuka. Keluargaku biarlah tahu berapa penghasilanku. Dan kelak, insyaallah di bulan kedua, baru akan kuterimakan lembar-lembar rupiahnya untuk melipur rasa. Utuh sebulan gaji. Lantas di bulan-bulan setelahnya, rencanaku insyaallah akan kubagi sekian persen penghasilan untuk menyokong kebutuhan keluarga, alokasi untuk tabungan haji dan nikah (kalau tabungan ini, sudah dimulai dari bulan ini. Sudah lama ding.. tapi terus uangnya terbang), dana sosial, dan kebutuhan pribadi harian yang harus dipenuhi.
Semoga ini bisa berjalan lancar Ya Allah... Terima kasih atas semuanya.. terima kasih atas segala jalan yang Kau bukakan... terima kasih atas rezeki berupa keluarga, kesehatan, semangat, dokter, teman-teman, murid-murid, anak asuh asrama, suplai gizi, tempat tinggal, air, energi, kesibukan, atasan, sarpras, dan semuua kebaikan yang telah Kau berikan untuk hamba... Hamba sadar, ada begitu banyak doa yang berpilin hingga Arsy-Mu bergetar karenanya. Bukan karena doaku semata. Semoga doamu ada di antaranya.
Hari ini, setelah beberapa lama slip gaji kuterima, akhirnya aku belanja. Ada voucher belanja seharga lima puluh ribu rupiah yang bisa dibelanjakan di Fikri Mart, Toko Swalayan mini Pesantren yang kemungkinan dikelola sebagai koperasi.beli beberapa item barang. Ternyata habisnya 56.000. Oke, karena voucher hanya berlaku untuk satu kali belanja, maka belanjaanku kuanggap cukup. Nombok 6000 dari sisa uang saku yang ibu berikan padaku. Sebagian barang yang kubeli, sudah kuniatkan untuk kuantarkan pulang kapan-kapan. Membantu menyokong kebutuhan rumah, itu misiku.
Dan malam pun berlari cepat ekali. Sudah saatnya aku tidur. Aku harus tidur. Dan berisiap tuk berjibaku dengan RPP esok pagi.
Hei kamu, apa kabar??
Langganan:
Postingan (Atom)