Betapa aku ingin kau ada di sini
Melihat setiap lara yang aku rasa
Untuk setiap air mata
Betapa aku ingin kau ada di sini
Mendengar setiap indah yang aku rasa
Demi senyum tawa kita bersama
Betapa aku ingin kau bersamaku di sini
Atau aku bersamamu di sana
Menyimak setiap kisah antara kita
Sepenuh hati
Betapa aku ingin kita bersama
Menjalani hari-hari
Menyibak tabir takdir
Membereskan setiap persoalan yang pernah dan akan ada
Dan menyelesaikan hari dengan seulas senyum atau setitik air mata bahagia
Betapa ingin aku bisa menginderamu
Tanpa malu
Karena kau temanku dan aku temanmu
Selamanya
Who Amung Us
Minggu, 05 Maret 2017
Rabu, 02 November 2016
Film Sudirman
Film apa yang terakhir aku tonton? Sudirman. Udah lama, sih, jarang nonton emang.
Kenapa aku menontonnya? Penasaran tentu saja. Jenderal Sudirman adalah salah satu tokoh idolaku. Aku ingin tahu cerita lebih lengkap dari sudut pandang yang berbeda.
Masih ingat soundtracknya? Sedikit. "Tentaraa jiwa Sudirman, ..., Dalam sakiit tetap berjuang!"
Adegan paling menarik? Waktu rombongan tentara Sudirman pergokan sama tentara Indonesia di hutan, saling curiga, sampai akhirnya sekedup dibuka dan ternyata berisi Jenderal mereka. Adegan setelah itu paling indah :)
Hikmah paling berkesan? Kelihaian. Saat terdesak gara-gara pengkhianatan, dengan segera para tentara yang tengah berlindung di rumah warga itu akting seperti sedang yasinan. Dan ketegasan, betapa si pengkhianat langsung di-dor di tempat. Ahai!
Apa yang paling aku sukai dari film itu? Radionya. Tuh, sekelas Jenderal aja dalam situasi revolusi fisik ternyata sedemikian memperhatikan radio. Sebab justru radiolah salah satu senjata terkuatnya, pemersatu semangat bangsa.
Kepingiiin sekali cerita sama anak-anak. Buat Mbak Rara yang hebat, Mas Rizki yang tahu diri, Mas Rafa yang penyayang binatang, Mas Rafi yang penurut, Mas Radin yang diam-diam cerdas, Mas Kevin yang disiplin, Mbak Michelle yang hormat kepada guru, Mbak Lita yang penyayang, Mbak Greya yang gigih, Mas Faiz yang disiplin dan tangguh, Mas Aldi yang kuat, Mas Hafiz yang peduli, Mbak Hanifah yang jujur, Mbak Inas yang terampil, Mbak Azka yang kreatif, Mas Mandala yang bertanggung jawab, Mas Irfan yang pintar, Mas Sahid yang setia, dan Mbak Milena yang selalu lebih baik... aduh masih kurang satu lagi aku lupa namanya Mbak siapa yang suka pakai kerudung pink senyumnya lebar. Ah, iya... "Mbak April," kata Mbak Rara. Mbak April yang bertanggung jawab.
Maaf Us Ridho tidak bisa lama mendampingi proses belajar kalian. Namun percayalah, kalian akan terus bertemu dengan guru-guru terbaik di sepanjang hidup kalian. Semoga sehat selalu. Selamat tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak sholih yang perannya dinanti untuk kebaikan negeri ini.
Us Rara, titip salam buat anak-anak.. Tolong sampaikan ya Us, aku belum sempat bilang kalau cacing itu bisa cari makan sendiri, gak perlu repot-repot dicarikan daun yang coklat dan sudah empuk buat mereka makan :) itu namanya humus, aku juga lupa bilang :)
Kenapa aku menontonnya? Penasaran tentu saja. Jenderal Sudirman adalah salah satu tokoh idolaku. Aku ingin tahu cerita lebih lengkap dari sudut pandang yang berbeda.
Masih ingat soundtracknya? Sedikit. "Tentaraa jiwa Sudirman, ..., Dalam sakiit tetap berjuang!"
Adegan paling menarik? Waktu rombongan tentara Sudirman pergokan sama tentara Indonesia di hutan, saling curiga, sampai akhirnya sekedup dibuka dan ternyata berisi Jenderal mereka. Adegan setelah itu paling indah :)
Hikmah paling berkesan? Kelihaian. Saat terdesak gara-gara pengkhianatan, dengan segera para tentara yang tengah berlindung di rumah warga itu akting seperti sedang yasinan. Dan ketegasan, betapa si pengkhianat langsung di-dor di tempat. Ahai!
Apa yang paling aku sukai dari film itu? Radionya. Tuh, sekelas Jenderal aja dalam situasi revolusi fisik ternyata sedemikian memperhatikan radio. Sebab justru radiolah salah satu senjata terkuatnya, pemersatu semangat bangsa.
Kepingiiin sekali cerita sama anak-anak. Buat Mbak Rara yang hebat, Mas Rizki yang tahu diri, Mas Rafa yang penyayang binatang, Mas Rafi yang penurut, Mas Radin yang diam-diam cerdas, Mas Kevin yang disiplin, Mbak Michelle yang hormat kepada guru, Mbak Lita yang penyayang, Mbak Greya yang gigih, Mas Faiz yang disiplin dan tangguh, Mas Aldi yang kuat, Mas Hafiz yang peduli, Mbak Hanifah yang jujur, Mbak Inas yang terampil, Mbak Azka yang kreatif, Mas Mandala yang bertanggung jawab, Mas Irfan yang pintar, Mas Sahid yang setia, dan Mbak Milena yang selalu lebih baik... aduh masih kurang satu lagi aku lupa namanya Mbak siapa yang suka pakai kerudung pink senyumnya lebar. Ah, iya... "Mbak April," kata Mbak Rara. Mbak April yang bertanggung jawab.
Maaf Us Ridho tidak bisa lama mendampingi proses belajar kalian. Namun percayalah, kalian akan terus bertemu dengan guru-guru terbaik di sepanjang hidup kalian. Semoga sehat selalu. Selamat tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak sholih yang perannya dinanti untuk kebaikan negeri ini.
Us Rara, titip salam buat anak-anak.. Tolong sampaikan ya Us, aku belum sempat bilang kalau cacing itu bisa cari makan sendiri, gak perlu repot-repot dicarikan daun yang coklat dan sudah empuk buat mereka makan :) itu namanya humus, aku juga lupa bilang :)
Kamis, 13 Oktober 2016
Masa Kecilku
Aku menghabiskan sebagian besar masa kanak-kanakku di Tim-tim, provinsi termuda di Indonesia saat itu.
Bapak dan ibuku menikah saat bapakku belum lulus, masih dalam proses menyelesaikan TA-nya. Dulunya mereka adalah sahabat pena. Tiba-tiba saja bapakku punya ide untuk menikah dengan alasan ada banyak kecocokan. Baru beberapa bulan nikahnya, eh, ibu hamil. Sepertinya benar bahwa menikah adalah salah satu motivasi besar yang bisa mengubah orang. Bapak dengan segera lulus dan wisuda. Dalam proses itu sampai beberapa waktu setelah lulus, bapak kerja serabutan.
Yang paling berkesan yang pernah kudengar adalah, saat pagi bapak berdandan rapi dengan kemeja yang licin tersetrika, lalu pergi. Sampai di tempat kerja, bapak berganti penampakan dengan seragam lapangan: kaos kumal dan celana pendek. Nyetak bata! Saat petang menjelang, bapak bersiap pulang dengan bertukar baju yang rapi dan seragamnya dicuci di tempat. Sampai rumah lagi, tidak ada yang tahu pekerjaan bapak sebenarnya, hingga beberapa waktu.
Beruntung, kemudian ada info lowongan PNS untuk penempatan Tim-tim, cocok dengan kualifikasi yang bapak punya. Meski jauh, bapak ambil. Kami ditinggal beberapa bulan di Jawa sementara bapak menyiapkan fasilitas untuk hidup di sana.
Di sisi lain, selama aku dalam kandungan, ibu menyiapkan banyak hal untukku. Popok dan macam-macam perlengkapan bayi dijahit ibu sendiri. Terampil sekali ibuku dalam urusan itu. Masalah penghematan, memang nomor satu! =)
Tapi menurutku, selain lebih irit, ada juga faktor kepuasan di sana. (Soalnya aku juga cenderung untuk begitu, amat puas bila apa-apa kukerjakan sendiri.) Ah, beruntung sekali aku jadi anak pertama. Barang-barang untukku semua serba baru, hehehe.
Yah, singkat cerita, belum genap satu tahun umurku, kami boyongan ke Tim-tim.
Tak banyak yang kuingat saat itu. Hanya saja aku tahu, jalanan di sana sangat buruk. Mungkin pemerataan pembangunan memang bukan urusan gampang. Soal air: kami hidup di daerah gersang dan panas, diapit pantai dan hutan pegunungan. Cari air, bapak harus bawa jerigen buesar, jalan buerkilo-kilo ke arah gunung. Aku pernah ikut, digendong bapak di pundak.. ingatnya karena ada fotonya, hehe.
Tempat favorit untuk main adalah di halaman depan rumah. Ada banyak tanaman, tapi yang masih kuingat cuma beberapa: pohon trembesi, gambas, kaktus, lidah mertua, *trus perdu hias yang bergetah, batang zigzag daun warna putih hijau, nanamnya distek (patah tulang apa ya?). Satu lagi yang rada eksotis: pohon KOM. Tingginya enak untuk dipanjat-panjat. Ranting-ranting berduri. Buahnya hijau seukuran kelereng, kalau masak warnanya menguning. Rasanya asam, bijinya besar, entah kenapa anak-anak sana sangat suka makan kom (dan juga ketapang. Menurutku itu tuidak uenak!). Di dalam rumah, tepat di tengah dapur, ada pohon juga yang hidup, tidak ditebang, dibiarkan menjulang menerobos atap. Aku lupa pohonnya apa. Di sana ada lebahnya. Aku ingat kami pernah panen madu di situ. Aku paling suka ngemil sarangnya, hehehe.
Depan rumah tempat favorit pertama, sekaligus tempat tragis terjadinya pengempesan BOLA BASKET ASLI BARU KAMI gara-gara terlempar dan kena duri kaktus. Hikz.
Tempat favorit kedua yaitu pantai. Dari belakang rumah ke selatan, melewati beberapa rumah tetangga, hutan kom (yang banyak sapi timor cokelat tanpa gelambir merumputnya), lalu lapangan bandara kecil, dan masuklah ke kawasan luar pantai. Banyak tanaman kasar, diantaranya bulu babi. Lalu di pantainya sendiri, asyik sekali. Pasirnya abu-abu. (Aku sempat bingung waktu pertama kali lihat pantai di Jogja, pasirnya kok krem, hehehe). Aku suka bikin rumah-rumahan/istana pasir, cari keong/cangkang kerang/karang kecil, juga berenang. Pelampungnya pakai jerigen Bim*li kosong yang ditutup rapat. Pernah juga ikut naik perahu nelayan sampai tengah laut. Warna airnya bagus sekali. Biru bersih kehijau-hijauan. Ada banyak yang melayang-layang di bawah perahu. Cantik. Eksotik. Sampai sekarang, aku masih suka bermimpi mengulang kenangan itu.
Rumah-rumahan tanah/pasir pernah jadi mainan yang paling ngetren dalam hidupku. (Lucunya, sekarang setelah dewasa, saat kucoba-coba gambar denah rumah impian, lamaaa sekali waktu yang kuhabiskan. Tidak seperti waktu main dulu, spontan dan jadinya bagus-bagus_menurutku_). Kalau sudah jadi rumahnya, biasanya permainan dilanjutkan dengan orang-orangan. Pakai orang-orangan kertas, yang sudah dicutting tinggal dirangkai, dijual seratusan (waktu itu), yang bajunya bisa diganti-ganti itu. Sampai sekarang mainan jenis ini masih banyak, di SD-SD di Jawa juga.
Tempat selanjutnya yang berkesan adalah Taman Bingung. Ada banyak patung dan tempat duduk dari beton, juga bunga-bunga flamboyan. Kalau dipikir-pikir, apa asyiknya ya tempat itu.? Entah, aku benar-benar tidak ingat. Hanya namanya yang masih terpatri lekat di memori.
Selain itu paling-paling aku main di pohon karsen mbak Lisa, tetangga belakang rumah, masih satu kompleks. Aku kecil suka main tanah-tanahan dan panjat-panjat pohon..ya walaupun kadang-kadang dimarahi ibu kalau main tanah dan gak pernah boleh naik ke pohon asam dekat sekolah. Paling mentok ya cuma karsen mbak Lisa itu. (Aku masih ingat kakaknya mbak Lisa -aku lupa namanya- pernah keramas pakai santan. Rambut keritingnya jadi luembut. Kondisioner alami tuh, mungkin kapan-kapan patut dicoba).
TK-ku agak jauh, di kota. Harus diantar. Biasanya naik sepeda, duduk di boncengan besi di belakang yang dibalut pakai bantal kecil supaya empuk. (Setelah punya adik, terkadang aku di dalangan depan, adik yang di belakang. Kakinya diikat biar tidak celaka masuk ruji.). Seragamnya kuning kombinasi putih. Selalu bawa kotak bekal (satu paket botol minum dan kotak makan, bentuknya gimana ya, kayak rumah beratap lengkung gitu lah), biasanya ada tajin manis-gurih, jeruk, dan telur rebus setengah matang. Telur ayam kami sendiri, yang tinggal ambil dari kandang di halaman atau di sekitar pohon kom. =) Menu selainnya aku tidak ingat.
Di sana dapetin ikan segar itu gampang, murah-murah pula. Aku suka hanya kalau digoreng thok sampai garing. Herannya setelah di Jawa, sussaah sekali untuk suka ikan lagi. Oya, ngomong-ngomong tentang ikan, di bak mandi rumah selalu ada ikan, biar gak banyak nyamuk dan bisa dimakan kapan-kapan. Ikannya ganti-ganti, pernah lele, mujair, sepat, juga ikan mas.
Rumah kami menghadap utara, persis di sudut tikungan jalan besar. Dindingnya tripleks, sebagian batako. Lantai semen mengkilat karena biasa dipel pakai ampas kelapa. (Kelapa disana murah banget, nggak kayak wortel yang kata ibu muahalnya koyok inten). Aku tidak ingat apa aku pernah punya kamar sendiri di sana.
SD-ku dekat. Cukup jalan kaki ke timur beberapa ratus meter.
Aku pernah sekolah di Jepara 2 cawu. Persoalannya operasi amandel. Bisanya cuma di Kudus. Maka sekolahku dipindah sementara ke daerah mbah To. Pasca operasi, oh alangkah bahagianya hidupku, akhirnya boleh makan es krim! (Langsung lah daku ini balas dendam seumur hidup yang selalu pantang es-esan--dan chiki-chiki--) .Bahkan es thung-thung yang lewat di depan rumah mbah juga dibolehkan! Hwahha! Sejak itu, badanku mulai subur, tidak lagi kurus kering ngelolet yang bikin stres ibu. Mulai stop dokter-dokteran dan rumahsakit-rumahsakitan juga.
Sayang, saat itulah di Tim-tim mulai ada huru-hara. Besi merah putih. Fretelin. Brimob. Anjing peliharaan orang sekampung, si Bruno, mati tertembak. Mengenaskan, darahnya berceceran di sepanjang jalan menuju sekolah, semua anak yang lewat lihat. Rumah Edvan dan rumah om Tumon rata tanah, dibakar. Jendela-jendela nako di rumahku pecah semua, habis dilempari batu. Orang-orang mulai pada eksodus. Barang-barang dijual murah-murah, atau dipak, dikirim via pos ke pulau asal masing-masing kalau memungkinkan.
Versiku, ceritanya begini. Tim-tim yang bekas jajahan Portugis, memang sudah jadi bagian dari Indonesia. Tapi banyak dari orang pribumi itu yang terlanjur tinggal, beranak-pinak, dan besar di Portugal. Mereka itu pada mudik ke Tim-tim, lalu protes, maunya punya negara sendiri. Sebenarnya, banyak orang Tim-tim yang nyaman dalam belaian Indonesia. Bayangkan saja, tanah yang gersang dibangun, disuplai segala sumber daya, diberi pendidikan, kesehatan, PERADABAN. Tapi saat referendum itu akhirnya digulirkan, kenyataan berbicara lain. Hasil jajak pendapat: lebih banyak pribumi yang menghendaki Tim-tim berdiri sendiri.
Aku pribadi sih yakinnya mereka yang minta lepas itu pribumi bentukan Portugal ditambah pribumi asli yang berhasil dihasut--bahkan bukan mustahil pakai diancam pula.
(Waktu SMP di Ceper, aku ingat pernah ada bapak-bapak/mas-mas [waktu itu payah deh aku, bener2 gabisa nebak umur orang! Dan timbal baliknya, aku yang masih ABG itu seringkali dipanggil 'ibu' sama karyawan toko. Hngh! Banyangpun, anak ABG disangka ibu-ibu. Kebangetah gak?!] jualan es degan uenak muantep murrah di pinggir jalan sawah yang sepi dan hanya dilewati anak-anak sekolah dan paling banter para petani. Ciri-ciri fisiknya seperti orang Timor. Sejak pertama lihat, aku sudah pingin bertanya. Sesalku, sampai sekarang aku belum berani dan tidak sempat tanya lagi. Orangnya sudah nggak jualan di sana... Padahal kelapa mudanya asli enak bener! #Ketagihan)
Jadilah sayonara Tim-tim (untuk selanjutnya disebut Timor Leste). Kami orang Indonesia harus eksodus. Pulau asli keluarga kami Jawa, maka pulanglah kami ke sana.
Bapak-ibu repot sekali. Adik keduaku belum genap setahun umurnya, harus pula diboyong nyebrang samudera. Aku bertanggung jawab atas tas plastik merah, termos (aku lupa warnanya biru atau pink! #hualah gak phentink!), dan adik balitaku. Pelabuhan banjir orang. Kabin penuh, bahkan geladak, tangga, dan semua spot yang ada, terpakai manusia. Tapi Puji Tuhan, melintasi gilimanuk, sampai juga kami di tanah Jawa. Bahkan sempat lho kami mewujudkan mimpi ibu naik kereta api! Hehehe. Tersisa satu mimpiku kini: naik pesawat terbang. Coba, mabuk udara gak ya? Hehheheheghe.
Selamat tinggal Tim-tim-ku yang eksotis. Gak ada lagi acara main-main ke 'rumah parabola' di gunung. Pengalaman lainnya yang masih membekas bagiku ada beberapa.
Ke Atambua makan jambu monyet, bibir mlonyoh.
Ke Dili atau Kupang naik angkutan dan bis berganti-ganti, mabuk darat.
Ke Kefa (Kefamenanu) dibelikan baju, juga ketemu tante-tante baik hati.
Makanan tambahan sekolah: JAGUNG BOSE, uah gak enak! Jagung direbus sampai empuk, dibubuhi daun-daunan hutan. Lanjut direbus sampai mlotrok. PALING MENTOK DIBUMBU GARAM, ATAU TIDAK SAMA SEKALI.
Tais. Kain tenun tradisional, mahal, bagus. Dibuat oleh pribumi yang canggih. Eh tapi mbak Lisa dan kakaknya, Mbak Ningsih, pernah belajar bikin itu. Aku pernah juga main-mainin alat tenunnya, terus kena marah. Di rumah yang sekarang, beberapa sampel tais masih tersimpan baik. Aku pernah punya satu selendang tais milikku sendiri, hadiah ulang tahun kalau tidak salah. Aku tidak terlalu suka waktu itu, tapi sekarang, kurasa itu salah satu hartaku yang sangat mahal. Made in asli luar negri jeh. Hihihi.
Ke gunung pas ibu ngidam zeboak (di Jawa namanya siwalan), main-main masuk rumah tradisional orang Timor. Penampakannya persis gundukan jerami. Indah, eksotis dari luar, meski sederhana. Tapi pengap nauzubillah, pintu masuk cuma satu, muatnya kalau merangkak. Tanpa jendela.
Main lempar-lempar kelereng di dalam ruang tamu, sampai lampu neon terbaik kami pecah, tangan kanan berdarah. Aku lari dengan maksud sembunyi, malah langsung kepergok ibu begitu saja. Kena marah habis-habisan. Bekas lukanya jadi keloid kecil memanjang, sampai sekarang tidak pernah hilang.
Main petak umpet, sembunyi di balik motor panas, kena knalpot, betis melepuh. Diobati pakai sulfanilamid acid yang super perih. (Sebenarnya dah kapok sama knalpot, tapi hebatnya aku, diulang lagi saat dewasa, bahkan tepat di hari wisuda! Kaki kiri kanan dah pernah dicium knalpot semua.)
Gak sengaja makan daun karsen, mulut nyonyor, dapat albothyl, wah, dahsyat rasanya.
Kaki kiri digigit anjing waktu bersepeda pulang dari membelikan permen adik di warung Bu Ratman, kompleks sebelah. Lima lubang. Disuntik, diperban, pake bolak-balik ke rumah sakit.
Adik pertamaku pernah memprovokasi teman-temannya sekompleks untuk menghilang bareng. Seisi kampung geger, panik. Akhir cerita, mereka semua ditemukan sedang di pantai, kompak sembunyi di perahu-perahu, rata-rata dalam keadaan nyaris telanjang. Anak-anak hebat!
Beberapa kali naik kapal untuk mudik-balik lebaran, yang paling kuingat Dobonsolo dan Kelimutu, mabuk laut. Daan..lain sebagainya. Mulai lelah dan ngantuk nulis dan cerita.
Yah, demikianlah kisah indah masa kecilku di sudut lain bumi ini. Semua orang punya kisah kan.. Bagaimana denganmu, wahai Pengikut rahasia nan setia blog-ku?
--Meja Kerja Rumah Mbah, 12 Juli 2015, dini hari--
Bapak dan ibuku menikah saat bapakku belum lulus, masih dalam proses menyelesaikan TA-nya. Dulunya mereka adalah sahabat pena. Tiba-tiba saja bapakku punya ide untuk menikah dengan alasan ada banyak kecocokan. Baru beberapa bulan nikahnya, eh, ibu hamil. Sepertinya benar bahwa menikah adalah salah satu motivasi besar yang bisa mengubah orang. Bapak dengan segera lulus dan wisuda. Dalam proses itu sampai beberapa waktu setelah lulus, bapak kerja serabutan.
Yang paling berkesan yang pernah kudengar adalah, saat pagi bapak berdandan rapi dengan kemeja yang licin tersetrika, lalu pergi. Sampai di tempat kerja, bapak berganti penampakan dengan seragam lapangan: kaos kumal dan celana pendek. Nyetak bata! Saat petang menjelang, bapak bersiap pulang dengan bertukar baju yang rapi dan seragamnya dicuci di tempat. Sampai rumah lagi, tidak ada yang tahu pekerjaan bapak sebenarnya, hingga beberapa waktu.
Beruntung, kemudian ada info lowongan PNS untuk penempatan Tim-tim, cocok dengan kualifikasi yang bapak punya. Meski jauh, bapak ambil. Kami ditinggal beberapa bulan di Jawa sementara bapak menyiapkan fasilitas untuk hidup di sana.
Di sisi lain, selama aku dalam kandungan, ibu menyiapkan banyak hal untukku. Popok dan macam-macam perlengkapan bayi dijahit ibu sendiri. Terampil sekali ibuku dalam urusan itu. Masalah penghematan, memang nomor satu! =)
Tapi menurutku, selain lebih irit, ada juga faktor kepuasan di sana. (Soalnya aku juga cenderung untuk begitu, amat puas bila apa-apa kukerjakan sendiri.) Ah, beruntung sekali aku jadi anak pertama. Barang-barang untukku semua serba baru, hehehe.
Yah, singkat cerita, belum genap satu tahun umurku, kami boyongan ke Tim-tim.
Tak banyak yang kuingat saat itu. Hanya saja aku tahu, jalanan di sana sangat buruk. Mungkin pemerataan pembangunan memang bukan urusan gampang. Soal air: kami hidup di daerah gersang dan panas, diapit pantai dan hutan pegunungan. Cari air, bapak harus bawa jerigen buesar, jalan buerkilo-kilo ke arah gunung. Aku pernah ikut, digendong bapak di pundak.. ingatnya karena ada fotonya, hehe.
Tempat favorit untuk main adalah di halaman depan rumah. Ada banyak tanaman, tapi yang masih kuingat cuma beberapa: pohon trembesi, gambas, kaktus, lidah mertua, *trus perdu hias yang bergetah, batang zigzag daun warna putih hijau, nanamnya distek (patah tulang apa ya?). Satu lagi yang rada eksotis: pohon KOM. Tingginya enak untuk dipanjat-panjat. Ranting-ranting berduri. Buahnya hijau seukuran kelereng, kalau masak warnanya menguning. Rasanya asam, bijinya besar, entah kenapa anak-anak sana sangat suka makan kom (dan juga ketapang. Menurutku itu tuidak uenak!). Di dalam rumah, tepat di tengah dapur, ada pohon juga yang hidup, tidak ditebang, dibiarkan menjulang menerobos atap. Aku lupa pohonnya apa. Di sana ada lebahnya. Aku ingat kami pernah panen madu di situ. Aku paling suka ngemil sarangnya, hehehe.
Depan rumah tempat favorit pertama, sekaligus tempat tragis terjadinya pengempesan BOLA BASKET ASLI BARU KAMI gara-gara terlempar dan kena duri kaktus. Hikz.
Tempat favorit kedua yaitu pantai. Dari belakang rumah ke selatan, melewati beberapa rumah tetangga, hutan kom (yang banyak sapi timor cokelat tanpa gelambir merumputnya), lalu lapangan bandara kecil, dan masuklah ke kawasan luar pantai. Banyak tanaman kasar, diantaranya bulu babi. Lalu di pantainya sendiri, asyik sekali. Pasirnya abu-abu. (Aku sempat bingung waktu pertama kali lihat pantai di Jogja, pasirnya kok krem, hehehe). Aku suka bikin rumah-rumahan/istana pasir, cari keong/cangkang kerang/karang kecil, juga berenang. Pelampungnya pakai jerigen Bim*li kosong yang ditutup rapat. Pernah juga ikut naik perahu nelayan sampai tengah laut. Warna airnya bagus sekali. Biru bersih kehijau-hijauan. Ada banyak yang melayang-layang di bawah perahu. Cantik. Eksotik. Sampai sekarang, aku masih suka bermimpi mengulang kenangan itu.
Rumah-rumahan tanah/pasir pernah jadi mainan yang paling ngetren dalam hidupku. (Lucunya, sekarang setelah dewasa, saat kucoba-coba gambar denah rumah impian, lamaaa sekali waktu yang kuhabiskan. Tidak seperti waktu main dulu, spontan dan jadinya bagus-bagus_menurutku_). Kalau sudah jadi rumahnya, biasanya permainan dilanjutkan dengan orang-orangan. Pakai orang-orangan kertas, yang sudah dicutting tinggal dirangkai, dijual seratusan (waktu itu), yang bajunya bisa diganti-ganti itu. Sampai sekarang mainan jenis ini masih banyak, di SD-SD di Jawa juga.
Tempat selanjutnya yang berkesan adalah Taman Bingung. Ada banyak patung dan tempat duduk dari beton, juga bunga-bunga flamboyan. Kalau dipikir-pikir, apa asyiknya ya tempat itu.? Entah, aku benar-benar tidak ingat. Hanya namanya yang masih terpatri lekat di memori.
Selain itu paling-paling aku main di pohon karsen mbak Lisa, tetangga belakang rumah, masih satu kompleks. Aku kecil suka main tanah-tanahan dan panjat-panjat pohon..ya walaupun kadang-kadang dimarahi ibu kalau main tanah dan gak pernah boleh naik ke pohon asam dekat sekolah. Paling mentok ya cuma karsen mbak Lisa itu. (Aku masih ingat kakaknya mbak Lisa -aku lupa namanya- pernah keramas pakai santan. Rambut keritingnya jadi luembut. Kondisioner alami tuh, mungkin kapan-kapan patut dicoba).
TK-ku agak jauh, di kota. Harus diantar. Biasanya naik sepeda, duduk di boncengan besi di belakang yang dibalut pakai bantal kecil supaya empuk. (Setelah punya adik, terkadang aku di dalangan depan, adik yang di belakang. Kakinya diikat biar tidak celaka masuk ruji.). Seragamnya kuning kombinasi putih. Selalu bawa kotak bekal (satu paket botol minum dan kotak makan, bentuknya gimana ya, kayak rumah beratap lengkung gitu lah), biasanya ada tajin manis-gurih, jeruk, dan telur rebus setengah matang. Telur ayam kami sendiri, yang tinggal ambil dari kandang di halaman atau di sekitar pohon kom. =) Menu selainnya aku tidak ingat.
Di sana dapetin ikan segar itu gampang, murah-murah pula. Aku suka hanya kalau digoreng thok sampai garing. Herannya setelah di Jawa, sussaah sekali untuk suka ikan lagi. Oya, ngomong-ngomong tentang ikan, di bak mandi rumah selalu ada ikan, biar gak banyak nyamuk dan bisa dimakan kapan-kapan. Ikannya ganti-ganti, pernah lele, mujair, sepat, juga ikan mas.
Rumah kami menghadap utara, persis di sudut tikungan jalan besar. Dindingnya tripleks, sebagian batako. Lantai semen mengkilat karena biasa dipel pakai ampas kelapa. (Kelapa disana murah banget, nggak kayak wortel yang kata ibu muahalnya koyok inten). Aku tidak ingat apa aku pernah punya kamar sendiri di sana.
SD-ku dekat. Cukup jalan kaki ke timur beberapa ratus meter.
Aku pernah sekolah di Jepara 2 cawu. Persoalannya operasi amandel. Bisanya cuma di Kudus. Maka sekolahku dipindah sementara ke daerah mbah To. Pasca operasi, oh alangkah bahagianya hidupku, akhirnya boleh makan es krim! (Langsung lah daku ini balas dendam seumur hidup yang selalu pantang es-esan--dan chiki-chiki--) .Bahkan es thung-thung yang lewat di depan rumah mbah juga dibolehkan! Hwahha! Sejak itu, badanku mulai subur, tidak lagi kurus kering ngelolet yang bikin stres ibu. Mulai stop dokter-dokteran dan rumahsakit-rumahsakitan juga.
Sayang, saat itulah di Tim-tim mulai ada huru-hara. Besi merah putih. Fretelin. Brimob. Anjing peliharaan orang sekampung, si Bruno, mati tertembak. Mengenaskan, darahnya berceceran di sepanjang jalan menuju sekolah, semua anak yang lewat lihat. Rumah Edvan dan rumah om Tumon rata tanah, dibakar. Jendela-jendela nako di rumahku pecah semua, habis dilempari batu. Orang-orang mulai pada eksodus. Barang-barang dijual murah-murah, atau dipak, dikirim via pos ke pulau asal masing-masing kalau memungkinkan.
Versiku, ceritanya begini. Tim-tim yang bekas jajahan Portugis, memang sudah jadi bagian dari Indonesia. Tapi banyak dari orang pribumi itu yang terlanjur tinggal, beranak-pinak, dan besar di Portugal. Mereka itu pada mudik ke Tim-tim, lalu protes, maunya punya negara sendiri. Sebenarnya, banyak orang Tim-tim yang nyaman dalam belaian Indonesia. Bayangkan saja, tanah yang gersang dibangun, disuplai segala sumber daya, diberi pendidikan, kesehatan, PERADABAN. Tapi saat referendum itu akhirnya digulirkan, kenyataan berbicara lain. Hasil jajak pendapat: lebih banyak pribumi yang menghendaki Tim-tim berdiri sendiri.
Aku pribadi sih yakinnya mereka yang minta lepas itu pribumi bentukan Portugal ditambah pribumi asli yang berhasil dihasut--bahkan bukan mustahil pakai diancam pula.
(Waktu SMP di Ceper, aku ingat pernah ada bapak-bapak/mas-mas [waktu itu payah deh aku, bener2 gabisa nebak umur orang! Dan timbal baliknya, aku yang masih ABG itu seringkali dipanggil 'ibu' sama karyawan toko. Hngh! Banyangpun, anak ABG disangka ibu-ibu. Kebangetah gak?!] jualan es degan uenak muantep murrah di pinggir jalan sawah yang sepi dan hanya dilewati anak-anak sekolah dan paling banter para petani. Ciri-ciri fisiknya seperti orang Timor. Sejak pertama lihat, aku sudah pingin bertanya. Sesalku, sampai sekarang aku belum berani dan tidak sempat tanya lagi. Orangnya sudah nggak jualan di sana... Padahal kelapa mudanya asli enak bener! #Ketagihan)
Jadilah sayonara Tim-tim (untuk selanjutnya disebut Timor Leste). Kami orang Indonesia harus eksodus. Pulau asli keluarga kami Jawa, maka pulanglah kami ke sana.
Bapak-ibu repot sekali. Adik keduaku belum genap setahun umurnya, harus pula diboyong nyebrang samudera. Aku bertanggung jawab atas tas plastik merah, termos (aku lupa warnanya biru atau pink! #hualah gak phentink!), dan adik balitaku. Pelabuhan banjir orang. Kabin penuh, bahkan geladak, tangga, dan semua spot yang ada, terpakai manusia. Tapi Puji Tuhan, melintasi gilimanuk, sampai juga kami di tanah Jawa. Bahkan sempat lho kami mewujudkan mimpi ibu naik kereta api! Hehehe. Tersisa satu mimpiku kini: naik pesawat terbang. Coba, mabuk udara gak ya? Hehheheheghe.
Selamat tinggal Tim-tim-ku yang eksotis. Gak ada lagi acara main-main ke 'rumah parabola' di gunung. Pengalaman lainnya yang masih membekas bagiku ada beberapa.
Ke Atambua makan jambu monyet, bibir mlonyoh.
Ke Dili atau Kupang naik angkutan dan bis berganti-ganti, mabuk darat.
Ke Kefa (Kefamenanu) dibelikan baju, juga ketemu tante-tante baik hati.
Makanan tambahan sekolah: JAGUNG BOSE, uah gak enak! Jagung direbus sampai empuk, dibubuhi daun-daunan hutan. Lanjut direbus sampai mlotrok. PALING MENTOK DIBUMBU GARAM, ATAU TIDAK SAMA SEKALI.
Tais. Kain tenun tradisional, mahal, bagus. Dibuat oleh pribumi yang canggih. Eh tapi mbak Lisa dan kakaknya, Mbak Ningsih, pernah belajar bikin itu. Aku pernah juga main-mainin alat tenunnya, terus kena marah. Di rumah yang sekarang, beberapa sampel tais masih tersimpan baik. Aku pernah punya satu selendang tais milikku sendiri, hadiah ulang tahun kalau tidak salah. Aku tidak terlalu suka waktu itu, tapi sekarang, kurasa itu salah satu hartaku yang sangat mahal. Made in asli luar negri jeh. Hihihi.
Ke gunung pas ibu ngidam zeboak (di Jawa namanya siwalan), main-main masuk rumah tradisional orang Timor. Penampakannya persis gundukan jerami. Indah, eksotis dari luar, meski sederhana. Tapi pengap nauzubillah, pintu masuk cuma satu, muatnya kalau merangkak. Tanpa jendela.
Main lempar-lempar kelereng di dalam ruang tamu, sampai lampu neon terbaik kami pecah, tangan kanan berdarah. Aku lari dengan maksud sembunyi, malah langsung kepergok ibu begitu saja. Kena marah habis-habisan. Bekas lukanya jadi keloid kecil memanjang, sampai sekarang tidak pernah hilang.
Main petak umpet, sembunyi di balik motor panas, kena knalpot, betis melepuh. Diobati pakai sulfanilamid acid yang super perih. (Sebenarnya dah kapok sama knalpot, tapi hebatnya aku, diulang lagi saat dewasa, bahkan tepat di hari wisuda! Kaki kiri kanan dah pernah dicium knalpot semua.)
Gak sengaja makan daun karsen, mulut nyonyor, dapat albothyl, wah, dahsyat rasanya.
Kaki kiri digigit anjing waktu bersepeda pulang dari membelikan permen adik di warung Bu Ratman, kompleks sebelah. Lima lubang. Disuntik, diperban, pake bolak-balik ke rumah sakit.
Adik pertamaku pernah memprovokasi teman-temannya sekompleks untuk menghilang bareng. Seisi kampung geger, panik. Akhir cerita, mereka semua ditemukan sedang di pantai, kompak sembunyi di perahu-perahu, rata-rata dalam keadaan nyaris telanjang. Anak-anak hebat!
Beberapa kali naik kapal untuk mudik-balik lebaran, yang paling kuingat Dobonsolo dan Kelimutu, mabuk laut. Daan..lain sebagainya. Mulai lelah dan ngantuk nulis dan cerita.
Yah, demikianlah kisah indah masa kecilku di sudut lain bumi ini. Semua orang punya kisah kan.. Bagaimana denganmu, wahai Pengikut rahasia nan setia blog-ku?
--Meja Kerja Rumah Mbah, 12 Juli 2015, dini hari--
Selasa, 22 Desember 2015
Kalau Hidup Adalah Sebuah Pencarian
Kalau hidup adalah sebuah pencarian, maka mungkinkah hidupku
ini tak banyak sisanya lagi.? Bukannya bermaksud mendahului takdir. Hanya.. inilah perasaanku. Satu demi satu, Tuhanku mulai mempertemukanku
dengan apa-apa yang kucari-cari di sepanjang lampau hidupku.
Ya, hal-hal paling krusial telah tersampaikan,
pertanyaan-pertanyaan tersulit mulai terjawab, satu per satu. Memang belum
semua tempat yang kuingin kunjungi, telah terkunjungi secara fisik. Namun
kuharap suatu hari nanti ide-ideku, pemikiran-pemikiranku,
pengetahuan-pengetahuanku, keyakinan-keyakinanku bisa sampai ke sana, meski
ruh-ku telah berada di barzakh yang semoga saja lapang, terang, dan penuh
ketenangan.
Pagi itu, sekitar sebulan yang lalu, sahabatku AML (yang
sudah pernah makan, bersafar, dan bermalam bersama denganku, meski perkenalan
kami baru berumur kurang dari satu minggu) menegur soal uban di kepalaku, saat
kami sarapan sepiring berdua di komsat
IAIN Serang.
Bukan baru kali itu Tuhan menegur umurku. Sudah sejak
sebulanan sebelumnya aku menyadari keberadaan uban-uban itu. Yah, sepertinya
aku memang sudah tua.. meski ini ada sumbangsih faktor genetis juga.
Janji-janji mulai terpenuhi.. hutang-hutang
juga satu per satu mulai terlunasi, atau untuk yang besar minimal tercicil. Meskipun belum semua.
Namun sayang, aku sadar betul bahwa belum semua tugas
hidupku tertunaikan. Semoga sudah tidak banyak lagi yang tertinggal… sampai nantinya
aku bisa beristirahat dengan tenang.
Tuhan... Kupasrahkan umurku ke tangan-Mu. Terserah Engkau saja, mau berapa panjang atau berapa pendek. Yang kuminta cuma satu, jadikan ia berkah. Panjang ataupun pendek, yang penting umur itu penuh berkah, banyak manfaat. Sehingga seberapapun pendeknya, ia menjadi panjang.
Tidak harus angka umur di berkas kematian itu menunjukkan angka yang besar. Toh buat apa umur panjang kalau nyatanya tidak berkah. Apalagi yang pendek; udah singkat, gak banyak manfaat.
Hhh. Kalau aku masih punya sisa waktu, izinkan aku memprosesnya lebih baik lagi agar bisa lebih optimal dalam menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.. untuk umat.. untuk peradaban.
Mungkin orangtuaku akan bilang cita-cita seperti ini nih ketinggian. Tapi semoga saja tidak. Semoga akan tiba saatnya mereka bersyukur dan berbahagia .. oleh jariyah anaknya .. meski kadarnya tidak seberapa.
Ah...yang terpenting adalah, aku ingin kelak kita semua berkumpul lagi. Di tempat dan suasana yang jauh lebih baik dari yang terbaik saat ini.
Itu jelas butuh usaha keras. Tapi semoga bisa. Pasti bisa, dengan izin-Nya. Maka semoga waktu yang tersisa bisa digunakan sebaik-baiknya.
Jumat, 20 November 2015
Kalahkan Marahmu!
jadi ingat saat2 dulu, hobiii bener jadi sweeper ^^
juga ketika panggilan njendhel.....masi????
tips buat yang lagi marah. maksudnya marah yang bener-bener marah. moga2 jitu, hhe. :p
1: tarik nafas dalam-dalam,tahan selama yg kamu bisa.
2: marahnya jangan diumbar, jangan malah tambah dikobar-kobarkan, jangan juga dibawa menggalau sendirian di jejaring sosial. mending diam sambil menetralisir diri sendiri.
3: kalo marahnya lagi berdiri, coba duduk. kalau lagi duduk, coba rebahan. ganti posisi, biar marahnya berkurang.
4: kalau belum mempan, guyur pake air dingin. marah kan panas tuh, makanya disiram supaya agak adem.
wudhu misalkan. atau kalo nanggung, mandi aja sekalian.
5: masi marah juga? Baca ta'awudz. Dan pergi refreshing bila perlu.
~Kalahkan Marahmu~
#ISLAM
juga ketika panggilan njendhel.....masi????
tips buat yang lagi marah. maksudnya marah yang bener-bener marah. moga2 jitu, hhe. :p
1: tarik nafas dalam-dalam,tahan selama yg kamu bisa.
2: marahnya jangan diumbar, jangan malah tambah dikobar-kobarkan, jangan juga dibawa menggalau sendirian di jejaring sosial. mending diam sambil menetralisir diri sendiri.
3: kalo marahnya lagi berdiri, coba duduk. kalau lagi duduk, coba rebahan. ganti posisi, biar marahnya berkurang.
4: kalau belum mempan, guyur pake air dingin. marah kan panas tuh, makanya disiram supaya agak adem.
wudhu misalkan. atau kalo nanggung, mandi aja sekalian.
5: masi marah juga? Baca ta'awudz. Dan pergi refreshing bila perlu.
~Kalahkan Marahmu~
#ISLAM
Pencarian
Terima kasih Tuhan, dalam perjalanan pencarian ini, Kau pertemukan aku dengan hamba-hamba-Mu yang hebat. Mungkin memang sejatinya tidak ada hamba-Mu yang biasa-biasa saja. Semua memiliki kelebihan-kekurangannya masing-masing. Akan tetapi, sungguh, orang-orang yang Kau pertemukan denganku ini menginspirasi. Mereka tulus, pejuang tanpa pamrih, dan memiliki kesamaan denganku: terkadang sendiri, terkadang tak dianggap. Tapi azzam untuk tetap berbuat itu tak pernah lenyap. Semoga.
Ah, hidup ini... pencarian kah? Tidak.. tidak. Hidup ini sejatinya ibadah, hanya itu. Maka pencarian kali ini, semoga merupakan salah satu bentuk ibadah kami, yang akan menjadi pemberat amal kebaikan bagi kami. Izinkan kami berkumpul, bersaudara dan bertetangga dengan orang-orang baik ini di syurga-Mu, Tuhanku.. yang tinggi, yang sejuk, yang wangi, yang suci.
Ah, hidup ini... pencarian kah? Tidak.. tidak. Hidup ini sejatinya ibadah, hanya itu. Maka pencarian kali ini, semoga merupakan salah satu bentuk ibadah kami, yang akan menjadi pemberat amal kebaikan bagi kami. Izinkan kami berkumpul, bersaudara dan bertetangga dengan orang-orang baik ini di syurga-Mu, Tuhanku.. yang tinggi, yang sejuk, yang wangi, yang suci.
Rabu, 18 November 2015
Yang Kumau
Ini daftar 25 barang yang sedang paling kuinginkan untuk masa-masa dekat ini. Ya, ketimbang blognya membusuk gak pernah dijenguk.. Siapa tahu aja ada yang kesasar baca trus pengen ngasih hadiah gitu, jadi kan nggak perlu bingung milihin barang apa yang kira-kira aku suka buat dihadiahkan ke aku, wong udah jelas ada 25 daftar yang diinginkan ini. (*atau barangkali lebih tepat kalau istilahnya dibutuhkan. Ah enggak ding, ingin ajah. Ewadene ada yang masuk list butuh, biar itu jadi urusan di balik layar. Heheh)
1. sertifikat TOEFL ITP dengan namaku, bernilai >600. dan/atau sarana menujunya
2. buku minhajul muslim
3. 4 paket naik haji untuk waktu keberangkatan terdekat
4. laptop kecil warna hijau/putih yang charger dan baterenya normal.
5. buku etika jamaah
6. buku qur'anic healing technology
7. buku manhaj haroki 1 dan 2
8. kasur spons/busa elastis. (matras). lebih bagus lagi kalau portabel plus enteng.
9. jemper cokelat muda bersih/abu-abu tanpa identitas lembaga. yang bisa membuatku terlihat agak muda ndak kayak embok-embok ndhesit.
10. oven/pemanggang/microwave
11. buku pedoman kurikulum TPA
12. blender buat dihadiahkan ke ibu
13. al-qur'an dompet ungu untuk dihadiahkan ke iak
14. heater listrik stainless steel untuk dihadiahkan ke ill
15. buku anu buat mam
16. tensimeter buat aik
17. akses t buat bapak
18. uang berkah nan sehat, aman dari riba sebesar 7jt ato 2jt buat modal jualan kaos kaki
19. tanaman sidr, nilam, ceri, tin, cendana, cajuput, kayu manis, zaitun, cengkeh, kurma ajwa. ra ketang cumak punya 1 pohon untuk masing-masing item, asal punya. eksotisss geto loch. ^_^
20. GPS atau sesuatu yang ada GPS-nya (bisa saja berbentuk mobil, HP canggih, sepeda, arloji, tablet, dsb)
21. pvc, kompos dan poc buat stoberi, sayuran, dan bunga-bunga
22. tas untuk kemana-mana
23. sepatu 39 karet/plastik (pokoknya bahannya yang kalao kehujanan nggakpapa) hitam/cokelat warna kulit model formal, produk anak bangsa
24. buku naskah/buku sket buat rakya
25. 8 set keranjang baju kotor
Benda-benda ini nantinya kalau sudah kumiliki dan aku mati, niatnya mau diwakafkan untuk kebaikan umat. Pengelolaannya... ehm, serahkan ke yang idup ajalah. Bisa keluarga nasab, bisa keluarga gerak. Wokeh? See ya in the next letters, insyaallah.
1. sertifikat TOEFL ITP dengan namaku, bernilai >600. dan/atau sarana menujunya
2. buku minhajul muslim
3. 4 paket naik haji untuk waktu keberangkatan terdekat
4. laptop kecil warna hijau/putih yang charger dan baterenya normal.
5. buku etika jamaah
6. buku qur'anic healing technology
7. buku manhaj haroki 1 dan 2
8. kasur spons/busa elastis. (matras). lebih bagus lagi kalau portabel plus enteng.
9. jemper cokelat muda bersih/abu-abu tanpa identitas lembaga. yang bisa membuatku terlihat agak muda ndak kayak embok-embok ndhesit.
10. oven/pemanggang/microwave
11. buku pedoman kurikulum TPA
12. blender buat dihadiahkan ke ibu
13. al-qur'an dompet ungu untuk dihadiahkan ke iak
14. heater listrik stainless steel untuk dihadiahkan ke ill
15. buku anu buat mam
16. tensimeter buat aik
17. akses t buat bapak
18. uang berkah nan sehat, aman dari riba sebesar 7jt ato 2jt buat modal jualan kaos kaki
19. tanaman sidr, nilam, ceri, tin, cendana, cajuput, kayu manis, zaitun, cengkeh, kurma ajwa. ra ketang cumak punya 1 pohon untuk masing-masing item, asal punya. eksotisss geto loch. ^_^
20. GPS atau sesuatu yang ada GPS-nya (bisa saja berbentuk mobil, HP canggih, sepeda, arloji, tablet, dsb)
21. pvc, kompos dan poc buat stoberi, sayuran, dan bunga-bunga
22. tas untuk kemana-mana
23. sepatu 39 karet/plastik (pokoknya bahannya yang kalao kehujanan nggakpapa) hitam/cokelat warna kulit model formal, produk anak bangsa
24. buku naskah/buku sket buat rakya
25. 8 set keranjang baju kotor
Benda-benda ini nantinya kalau sudah kumiliki dan aku mati, niatnya mau diwakafkan untuk kebaikan umat. Pengelolaannya... ehm, serahkan ke yang idup ajalah. Bisa keluarga nasab, bisa keluarga gerak. Wokeh? See ya in the next letters, insyaallah.
Langganan:
Postingan (Atom)
