Who Amung Us

Sabtu, 30 September 2017

Mempertahankan Rumah Tangga

MATERI KELUARGA SAMAWA :
Mempertahankan Rumah Tangga adalah Seni Memainkan Peran

بسم الله الرحمن الرحيم
الســـلام عليــكم ورحــمة اﻟلّـہ وبركاته

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَ نَتُوْبُ إِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بلله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نَبِيَّ بَعْدَه


MEMASUKI sebuah pernikahan bukan hal yang mudah. Kita ditempa begitu banyak pelajaran hidup yang belum pernah terbayangkan sebelumnya.

Ada yang langsung siap dengan berbagai kondisi, tak jarang juga yang terkaget-kaget dengan 'pelajaran baru' yang asing baginya.

Usia tidak secara otomatis bisa menjadi patokan suatu kedewasaan. Justru pengalaman dan yang lebih penting memiliki nyali tuk mengarunginyalah yang membuat kita lebih bisa bertahan. Tak jarang pernikahan yang sudah dewasa dan ekonomi mapan pun tak menjadi jaminan pernikahan itu langgeng dan minim perselisihan.

Tentu setiap pasangan berbeda menyikapi problematika rumah tangganya. Masalah satu dengan lainnya tak bisa di generalisir.

Misalnya sama-sama masalah ekonomi yang tak cukup.

Si istri ridha membantu suaminya walaupun kemudian pendapatan si istri lebih besar dan mereka tak mempermasalahkannya.
🔹Ada lagi dengan latar yang sama, si istri merasa seperti sapi perahan hingga cuma dia saja yg berusaha. Walau sebenarnya suami juga sudah berusaha.

Dan pada kasus yang sama justru si suami merasa 'kelaki-lakiannya terganggu' karna si istri harus ikut mencari nafkah.

Ada juga si istri yang lebih besar penghasilannya itu membantu suaminya,dan keluarga mereka tak masalah justru dari pihak keluarga perempuan merasa keberatan dan mengusik ketenangan keluarga kecil mereka.

Kalo mau ditarik garis peran yang sebenarnya, memang idealnya yang mencari nafkah adalah suami dan itu hukumnya wajib. Jika seorang istri ridha apapun yang didapatnya tanpa mengeluh kurang, ya tentu tak perlu lagi si istri membantu mencari nafkah tambahan.

Tapi jika keluarga itu merasa perlu peran istri untuk membantu perekonomian keluarga dan tak mempermasalahkan penghasilan istri lebih besar, tentu ini tak menjadi konflik karna saling membangun satu sama lain.

Tapi jika suami tak mampu mencukupi kebutuhan keluarga tapi si istri terus saja merasa dia yang lelah mencari tambahan, sebaiknya berfikir ulang, tujuan apa sebenarnya yang ingin dibangun.

Ya, semua jalan adalah pilihan. Itu baru dari contoh ekonomi. Tapi konflik ekonomi masih banyak lagi. Termasuk life style dan lain-lain.

Belum lagi jika permasalahan keluarga yang lainnya. 'Rumput tetangga lebih hijau'. Dan masih banyak lagi.

Mempertahankan rumah tangga adalah seni. Seni memainkan peran. Banyak lelakon yang kita perankan. Memiliki komitmen dalam rumahtangga sebagai rule yg sakral tuk dilanggar, salah satu cara mempertahankan rumahtangga. Bagaimana jika di langgar padahal tetap ingin mempertahankan rumahtangga? Masing-masing pihak harus legowo tuk kembali membangun komitmen awal lagi. Maka, tak perlu mengungkit hal yang sudah disepakati tuk tutup buku. Namun ini butuh waktu recovery. Jika tak mampu dan tetap terluka, maka jangan berharap rumahtangga itu mampu bangkit dari permasalahan sesudahnya.

Apapun keputusan yang kita ambil, renungkan panjang,  baik buruknya, sehingga tak lagi menjadi penyesalan yang tak berkesudahan. Karena sejatinya, rumah tangga merupakan proses belajar yang tiada henti dan tanpa lelah. Sehingga mempertahankannya adalah kelulusan setelah kehidupan.


•┈┈•┈┈•⊰✿📚✿⊱•┈┈•┈┈•

Wallaahu A'lam Bish-Showwaab...
Wallaahu Waliyyut Taufiq

Semoga bermanfaat bagi Penulis dan bagi Para Pembaca Yang Budiman. Baarokallaahu Fiikum. Hadanallaahu Wa Iyyaakum Jamii'an. Yassarallaahu Lanal Khairo Haitsuma Kunna...

سبحا نك اللهم وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

•═════ஜ✽✿۩❁۩✿✽ஜ═════•

~ Abu Hashif Wahyudin Al-Bimawi ~

Bone - Sulawesi Selatan
Kamis, 8 Muharrom 1438 H / 28 September 2017 M


Silakan SHARE pada yang lain yang belum mengetahui, agar Anda pun bisa dapat bagian pahala

 •┈••••┈••• ◈✹🍁☝

Renungan Copas WA

[09:48, 1/10/2017] +62 856-4703-7462: 🤔
RENUNGAN

Hidup selalu terbungkus oleh banyak lapisan. Kita hanya melihat lapisan luar & tidak tahu isi dalamnya...

Kita hanya melihat, wah.... pengusaha itu hebat, rumahnya besar, mobilnya mewah, hidupnya bahagia sekali...
... Padahal dia lagi stress & hidupnya penuh hutang, kerja keras hanya buat bayar bunga pinjaman, semua asetnya sudah jadi milik bank...

Huaaa... pasangan anggun yg hadir di acara reuni itu begitu serasi & mempesona, mrk pasti hidup harmonis & bahagia...
Padahal hidup mrk penuh dgn kebencian, saling menuduh, menghianati & menyakiti, bahkan sudah dlm proses perceraian & bagi harta...

Lihat pemuda itu, lulusan Harvard dgn nilai cumlaude, pasti mudah dpt kerja, gaji besar, hidupnya pasti bahagia...
Padahal dia kena PHK sudah 10x, jadi korban fitnah di lingkungan kerjanya. Sudah 2 bulan belum dapat job baru...

Woww... Ibu muda itu, selalu ke pub clubbing & diskotik, dia punya byk waktu, gak perlu pusingin kerjaan rumah, hidupnya enjoy banget, dia pasti bahagia....
Padahal batinnya hampa & kesepian, jiwanya merintih. suaminya tak pernah menghargai & mengasihinya...

Lihat tetangga kita anaknya sudah besar2 semua, bapak ibunya sudah boleh santai & tenang, mrk pasti bahagia, namun kenyataannya org tua mrk tak pernah bisa tidur nyenyak, anak2nya tak berbakti, suka judi & narkoba.

Kita selalu tertipu oleh keindahan di luar & tdk tahu realita yg di dalam.

Sesungguhnya semua keluarga punya masalah. Semua org punya cerita duka. Begitulah hakekat hidup.

Janganlah menggosip tentang masalah org, sebenarnya siapapun tidak mau mengalami masalah tp manusia tak luput dr masalah.

Jangan mengeluh krn masalah. Hayatilah makna dibalik semua masalah maka semua masalah akan membuat hidup menjadi bermakna!

Jangan bandingkan hidupmu dgn orang lain, krn orang lain belum tentu lebih bahagia dari kita......

SEBUAH MASAKAN, menjadi SEDAP, karna
DIMASUKKAN bumbu-bumbu yg "dipilih" oleh KOKI yg memasaknya.

Begitupun, SEBUAH KEHIDUPAN, menjadi INDAH karna MASUKNYA ORANG-ORANG yg Tuhan "ijinkan" dalam kehidupan seseorang.

Ada yg MASUK spt KUNYIT, walau penampilan nya jelek, tapi sanggup memberi "WARNA INDAH" yg sulit dilupakan.

Ada yg MASUK spt BAWANG MERAH yg semakin lama bersamanya, semakin banyak
"AIR MATA" yg tertumpah.

Ada yang MASUK, spt LADA walau nampak kecil halus, tapi memberi "KEHANGATAN”.

Ada juga yg MASUK, spt CABAI, yg "menipu"
dengan warnanya yg menarik tapi membuat "KERINGAT" bercucuran DAN PEDIH.

Ada yg keras dan harus digilas, ada yg lembut dan cukup ditaburkan. Ada yg hadir hanya sebagai pengharum dan ada juga yg hadir untuk menentukan rasa.

JAGALAH dan JANGAN SIA-SIAKAN..
Mereka yg MASUK memberi KEBAIKAN dalam hidupmu ..!

SYUKURILAH dan JANGANLAH MEMBENCI..
mereka yg MASUK "menyakiti" hidupmu, karna, merekapun juga "berperan" MENYEDAPKAN pribadimu.!

SEMUANYA ITU, Tuhan ijinkan "MASUK", untuk MERUBAH, segala yg "tidak baik" yg ada dalam pribadimu, Utk MENJADI lebih BAIK..! Tuhan mengolahmu dan membentukmu untuk jadi sajian yang sedap bagi semua orang. Namun kehadiran dirimu juga turut menjadi penyedap bagi hidup orang lain.

Hidup itu hanya tentang melihat dan dilihat, jadi jangan hanya melihat apa yang terlihat...
Jangan mudah menyimpulkan dari apa yang terlihat..

Ayo, mulai sekarang bersyukur senantiasa dengan apa yang ada pada kita...

Stop Comparing ... !!!

Minggu, 24 September 2017

Tak Jelas Judulnya

Satu per satu,
Yang pernah ku perhitungkan
Melangkah lebih dulu

Pilihan yang tersisa tinggal sedikit
Kamu tetap yang terbaik
Serasa mengerucut

Jika saja hidup ini seperti permainan game sederhana,
Mungkin kita akan berakhir bersama

Tapi entah

Hidup ini diatur oleh Yang Maha Kuasa
Dan aku tak berdaya, hanya ikut alur takdirNya

Kita akan berakhir bagaimana?
Positif ataupun negatif,
Semoga semua tetap bahagia

8 AGRESIVITAS PADA ANAK

Cinta Anak
8 AGRESIVITAS PADA ANAK
1. Menjambak
Rambut menjadi sasaran empuk sikap agresif anak, karena lazimnya mudah dilihat, dijangkau, dipegang, dan ditarik-tarik oleh anak. Apalagi jika rambut yang dimiliki “lawannya” panjang dan lebat.
Penanganan :
Orang tua hendaknya menanyakan kepada anak, mengapa ia tega menjambak rambut temannya. Bisa saja anak merasa kesal, misalnya karena pandangannya saat menonton teve terhalang oleh rambut si teman tersebut. Akhirnya, tak ada jalan lain, ia menjambak rambutnya.
2. Memukul
Inilah cara yang paling sering dilakukan anak untuk menunjukkan agresivitasnya. Apalagi selama ini banyak film beraroma keras yang ditontonnya di televisi. Tak heran jika anak merasa kesal, ia mengungkapkannya lewat cara memukul.
Penanganannya :
Cegah perilaku tersebut. Saat anak mau memukul, orang tua harus segera menangkap tangannya, lalu katakan, “Memukul itu tindakan yang tidak baik, karena bisa menyakiti. Jangan kamu lakukan itu, ya?” Beri juga batasan apa saja yang boleh dan tak boleh dilakukan saat bermain bersama teman-temannya.
Jelaskan pula, kalau ia menginginkan mainan yang ada di tangan temannya, mintalah secara baik-baik. Bukannya mendorong atau memukul sang teman. Demikian pula jika permainan itu harus mengantre, maka orang tua menjelaskan kepada nak bahwa dirinya harus antre terlebih dulu.
Jika anak tetap juga memukul, maka orang tua harus segera membawa anak pulang ke rumah. Jangan tunggu sampai dia melakukannya 2 atau 3 kali, baru orang tua bereaksi. Anak harus tahu peraturan yang dikatakan orang tua berlaku konsisten.
Ajak anak untuk berdialog. Jelaskan, dia boleh bermain mobil-mobilan lagi, asal dia berjanji tidak mengulangi tindakan agresifnya. Cara ini jauh lebih efektif daripada orang tua berteriak-teriak atau bahkan memukul anak.
3. Mencubit
Meskipun jarang, cubitan juga merupakan cara ampuh bagi anak untuk “berkomunikasi” dengan teman lainnya. Apakah ia menginginkan sesuatu, kesal atau melampiaskan reaksi emosinya.
Penanganan :
Sama denganmenangani perilaku memukul, yaitu denganmencegah danmemberi penjelasan bahwa perilaku tersebut sangatlah buruk. Ajari juga untuk mengungapkan keinginannya lewat kata-kata.
4. Menggigit
Menggigit adalah salah satu bentuk refleks anak saat menghadapi ancaman yang dating kepadanya. Di usia ini, fase oral masih berpengaruh. Ia akan menemukan kenikmatan lewat gigitan mulutnya. Tak jarang pula, ada rasa penasaran tentang apa yang dihadapinya, “Seperti apa, sih, rasanya kulit? Mungkin manis.”
Penanganan :
Tanyakan pada anak, kenapa dia sampai menggigit, karena bukan tak mungkin penyebabnya adalah rasa lapar. Katakan kepadanya, “Kalau kamu ingin makan, bilang saja.”
Penting diperhatikan, jangan sekali-kali membalas gigitan anak dengan gigitan, karena orang tua secara tidak langsung mengajarkan cara balas dendam.
Pun, jangan sekali-kali menganjurkan anak untuk membalas apa yang telah dilakukan temannya. Kalau anak kita digigit, jangan memintanya untuk balas menggigit. Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah.
5. Merusak Mainan
Ada juga anak yang bersikap agresif terhadap mainan. Jika dosodorkan satu kepadanya, maka ia akan segera mempreteli, merusak, bahkan membanting mainan tersebut. Gejalanya, semua mainan yang disodorkan tanpa ba-bi-bu magi akan langsung dirusaknya.
Penanganan :
Orang tua harus jeli melihat sikap seperti ini. Bukan tak mungkin hal itu dilakukan karena didorong rasa keingintahuan yang besar. Sikap ini jelas tidak berdampak negative, bahkan bisa mengasah kreativitas anak. Dengan cara begitu, anak jadi tahu komponen-komponen dalam mainan tersebut alias ia semakin tahu tentang mainannya. Penyebab lain, bisa saja anak sudah bosan dengan mainan-mainan tersebut.
Sebelumnya, orang tua harus memberi penjelasan saat menghadiahi anaknya mainan. Terangkan, mainan ini boleh dibongkar, tpai tidak boleh dirusak. Jika tidak, anak akan berpikir, semua mainan bisa diperlakukan seperti itu.
6. Menyakiti Binatang
Bisa terjadi, tangan dan kaki si batita seperti tak pernah mau berhenti menjahili binatang. Kadang memukul, menendang, menceburkannya ke air, bahkan mengikatnya di atas pohon.
Agresivitas semacam ini, yang menyasar benda-benda hidup, seperti binatang memang sudah harus diwaspadai. Bisa saja di lain waktu, ia menerapkan agresivitasnya pada manusia, dan terus menjalar hingga ia dewasa kelak. Bukan mustahilkalau dibiarkan, anak akan menemukan kesenangan terhadap apa yang dilakukannya, missal senang melihat ayam yang dilemparnya berciap-ciap kesakitan. Ini, sudah tidak wajar.
Penanganan :
Jelaskan kepada anak, binatang juga memiliki indera perasa seperti halnya manusia. Saat dipukul, dia juga akan merasa sakit, atau binatang juga merasa tidak nyaman jika diikat.
7. Menjerit
Menjerit merupakan salah satu ekspresi anak dalam mengungkapkan emosi. Tak jarang perilaku ini dibarengi perilaku agresif lainnya, seperti menangis, memukul dan menggigit. Biasanya, muncul saat ia menginginkan sesuatu yang tidak bisa diraih, atau saat dirinya merasa tidak diperhatikan. Misalnya, saat anak minta dibelikan jajanan, mulanya ia hanya menarik-narik baju orang tua, tapi karena tidak direspon, ia akan menjerit seraya menggigit tangannya.
Penanganan :
Orang tua harus selalu merespon sikap anak. Jika ia menginginkan sesuatu, segera penuhi keinginannya. Jika orang tua memang menganggap permintaannya tidak perlu dipenuhi, berikan pejelasan kepadanya, seperti, “Wah, Ibu enggak bisa membelikanmu barang itu, karena terlalu mahal. Cari barang lain saja, ya?”
8. Meludah
Walaupun jarang, sikap ini termasuk salah satu bentuk agresivitas yang dilakukan anak. Sikap demikian biasanya muncul pada saat ia melihat ancaman atau ketidaknyamanan terhadap dirinya. Sikap ini jelas negative, selain menjijikkan, juga dinilai sangat tidak sopan. Sikap ini biasanya diperoleh lewat peniruan dari lingkungan.
Penanganan :
Jika melihat kejadian tersebut, orang tua hendaknya memberikan penjelasan bahwa kebiasaan itu sangatlah buruk dan tidak pantas dilakukan. Jika tidak mempan juga, beri ia sanksi, misalnya dengan melarangnya bermain bersama mainan kesukaannya untuk sementara waktu.
PENYEBAB AGRESIFITAS
a. Frustasi
"Usia 2 atau 3 tahun merupakan usia transisi awal, yang ditandai dengan keinginan besar pada diri anak untuk menjadi mandiri. Tapi di sisi lain, kemampuan bahasa anak belumlah optimal. Kemampuan verbal dan perbendaharaan kosakatanya masih terbatas. la tidak bisa mengungkapkan sesuatu yang diinginkan atau yang tidak diinginkan dengan jelas alias bahasanya tidak mudah dimengerti orang dewasa."
Nah, kedua perkembangan ini bak jurang pemisah yang menyebabkan anak terpaksa mengeluarkan jurus-jurus maut agresifnya. Cara itu diyakini anak sebagai cara yang paling mudah dan efektif dalam mengungkapkan emosi atau keinginannya. Misal, Andri menggigit Dina karena ia menginginkan mainan yang sedang dipegang oleh temannya itu. Atau, ia tak suka makanan yang disodorkan ibunya. Namun karena ibunya tidak segera mengganti makanan tersebut, akhirnya si anak melemparkan makanan dan piringnya kepada si ibu.
b. Meniru
Anak umur 3 tahun ke bawah sangat suka meniru. Semua tenonena di dalam lingkungar dipotretnya sebagai acuan rntuk bersikap dan bertingkah-laku. Misalnya, saat melihat orang tua marah lalu memukul kakaknya, maka si kecil pun mencoba meniru perlakuan tersebut. la beranggapan, saat marah berarti saya boleh memukul, dong.
c. Eksistensi Tak Diakui
Sifat agresif juga bisa muncul karena tidak ada respon atas sikapnya. Saat anak menggigit orang tua karena kesal, orang tua justru tertawa-tawa melihat sikapnya. Cara ini jelas membuat anak bingung, apakah tindakan yang dilakukan itu positif atau justru berdampak negatif? "Akibatnya, pada kesempatan lain, anak juga akan menggigit temannya jika merasa kesal atau keinginannya tak terpenuhi."
Selain itu, agresivitas juga dilakukan jika cara-cara normal tidak ditangapi. Misal, "Ma Adek enggak suka film itu." Tapi ibunya cuek saja. Anaknya mengulangi lagi hingga kedua dan ketiga, tapi tidak juga dijawab. Akhirnya, "Prang!" si anak melemparkan botol kepada sang ibu atau memukul.
d. Ego Masih Besar
Anak usia ini masih memandang sesuatu dari sudut pandangnya sendiri (egosentris). Saat anak menginginkan sesuatu, semua harus terpenuhi. Demikian pula saat ada mainan di hadapannya, semua harus menjadi miliknya. Bila ada yang mengganggu atau melarang dan anak merasa tak senang, maka munculah jurus agresifnya, entah memukul, menjerit, atau dilampiaskan dengan sikap negatif lainnya. Kalau ditanya anak akan menjawab, "lni mainanku, kok, direbut, sih.”
e. Tidak Tahu Akibat
Anak belum tahu bahwa sikap agresif tidaklah baik. la hanya tahu bahwa sesudah itu temannya pasti menangis, tapi hanya sebatas itu. Kalau penjelasan lewat kata-kata dirasa tidak mempan, berikan contoh konkret bahwa menggigit itu menyakitkan. lngat, memberi contoh tidak boleh sama dengan tindakan membalas yang harus dihindari. Gigitlah tangan anak dengan pelan, setelah itu beri penjelasan, "Tuh, digigit itu sakit, kan? Makanya jangan menggigit orang sembarangan."
f. Belajar Bertahan
Anak di usia ini sudah mulai belajar mempertahankan diri. Hal itu dilakukan jika ia merasa mendapat gangguan atau ancaman dari Iuar. Caranya, dengan menunjukkan perilaku-perilaku agresif. Misal, saat melihat mainannya diusik, ia akan merebutnya kembali. Kalau perlu dengan memukul atau mendorong si teman tersebut.
g. Asyik Melihat Sebab Akibat
Anak usia ini kadang menikmati apa yang telah dilakukannya. Saat ia melihat teman tersebut menangis akibat ulahnya, saat itulah timbul rasa senangnya. Karena asyik, maka ia akan terus melakukan perbuatan tersebut. Terlebih bila orang tua membiarkan perilaku agresivitasnya. Padahal kebiasaan ini perlu diwaspadai karena keasyikan menyakiti orang lain akan berdampak negatif terhadap perkembangan mental anak. Bukan tidak mungkin, sifat ini akan terus terbawa hingga dewasa. Anak jadi senang menyakiti orang lain.
Sumber: Nakita No.213/V/Mei 2003

⁠⁠⁠Otot Kebahagiaan


Pernah nggak anda dengar orang ngomong,"Wah ini orang masa kecilnya kurang bahagia!" Mungkin ngomongnya langsung kepada anda atau anda mungkin pernah bilang begitu juga kepada orang lain.

Kalau sampai ada yang ngomong gitu ke anak saya, sungguh saya akan protes. Karena segenap upaya telah saya lakukan kepada anak-anak kami untuk membahagiakan mereka. Tujuannya sederhana, agar otot bahagia mereka terlatih.

Jika otot bahagia sudah kekar, kuat dan terbentuk, maka otot semacam ini mampu mengangkat beban apapun. Orang semacam ini punya banyak memori bahagia dalam hidupnya. Hasilnya, ia terbiasa untuk menikmati hidup.

Apakah hanya jalan-jalan, piknik dan kasih hadiah?? Oooh tentu tidak. Saat anak pertama kami berusia 6 bulan, ia sudah terbiasa berziarah baik ke makam kakeknya, leluhur atau para ulama, usia 2 tahun, is sudah diajak ke kamp pengungsian saat banjir besar melanda Jakarta. Usia 3 tahun, ia sudah diajak mendaki gunung hingga ke puncak. Demikian pula kedua adiknya.

Jadi, apakah harus melulu ke mal, objek wisata dan jalan-jalan saja?? Nggak juga.

Mereka sering kami ajak berpetualang agar memiliki banyak memori baik dalam hidupnya. Kalau waktunya terbatas, seringkali kami hanya lepas di playground, mereka juga sering dilibatkan dalam aktifitas kami baik dalam maupun luar negeri. Saya ingin ajarkan mereka bahwa bekerja sembari senang-senang itu juga bisa.

Kami kenalkan dengan para tokoh, selebritis hingga ulama. Biarkan mereka terbiasa berada ditengah-tengah orang hebat. Kadang kami gilirkan siapa yang harus ambil tiket parkir, bayar tol, berbagi ke pengemis dan keliling tetangga membagikan bingkisan. Biarkan mareka terasah kecerdasan emosinya.

Kami kadang masuk hutan, mencari air terjun, memberi makan binatang, main masak-masakan sampai masak bareng-bareng (seringnya sih pesta seafood), itikaf di masjid, berlayar, karaokean, main hujan bareng dan hal-hal sepele lainnya.

Saya hanya ajak mereka untuk merasakan. Merasakan semua jenis moda transportasi. Perahu, kapal perang hingga becak dan bajai, segala merk Mobil. Abangnya keranjingan Lamborghini dan anak kedua kami bahkan pernah mengencingi Jaguar terbaru hehehe. Ajaklah ke pameran - pameran biarkan mereka melihat, merasakan, mengalami hal-hal baru.

Tapi ingat, jangan berikan kesempatan apapun yang berpotensi merusak kebahagiaan mereka. Sejak lahir, tak kami berikan sedikitpun kesempatan menyaksikan acara-acara di televisi. Tidak ada tivi menyala di rumah kami. Kecuali film yang sudah kami pilih di YouTube. Meskipun kadang mereka suka melihat tivi, tapi kami harus edukasi kembali perihal apa yang mereka tonton.

Kami hanya instruktur. Kami pelatih mereka agar otot bahagianya kokoh dan kuat. Waktu kita singkat, boleh jadi mereka sebentar lagi lebih sibuk dengan teman-temannya. Sementara fase terpenting dalam hidup mereka tak boleh hanya berisi gadget, tivi, mal, dan ingatan bahwa orang tuanya sibuk bekerja.

Salam Spektakuler!

[BULLYING] ANAK KITA : PELAKU, KORBAN ATAU PENONTON?



Sekitar sebulan yang lalu di Sukabumi-Jawa Barat, SR anak kelas 2 SD tewas dibully teman sebayanya. Berawal dari sering ejek, korban dan para pelaku menjadi sering terlibat perkelahian. Terakhir, korban tak hanya dipukuli. Ketika sudah terkapar, telinga korban disumbat menggunakan keripik dan disiram dengan minuman ringan.
http://kaltim.tribunnews.com/2017/08/09/sadis-anak-sd-jadi-korban-bully-teman-sebayanya-hingga-tewas-telinga-korban-disumbat-pakai-ini?page=3

Belum lagi nyeri dihati hilang, dua pekan yang lalu persisnya 4 September terjadi hal yang lebih parah di Bekasi. ST (7) dan BN (7) melakukan perbuatan tak senonoh terhadap teman perempuannya ketika jam istirahat sekolah. Korban sedang ke toilet untuk buang air, tapi mendadak kedua pelaku menerobos masuk dan mencabuli korban. Kemudian tiga temannya datang lagi namun tidak melerai, malah menonton.
Perbuatan cabul itu pun dilakukan beberapa menit hingga jam istirahat habis. Usai melakukan perbuatannya, pelaku mengancam jika korban melaporkan.
https://www.merdeka.com/peristiwa/2-bocah-sd-di-bekasi-cabuli-temannya-di-toilet-sekolah.html

Bagaimana perasaan Anda dan apa yang Anda pikirkan?

Lepas dari peristiwa diatas, dalam beberapa bulan terakhir ini, beberapa teman-teman dalam grup FB Parenting with Elly Risman and Family mengajukan pertanyaan tentang bullying dan berharap saya menulis tentang hal ini, karena mereka semakin kawatir terhadap anak-anak mereka menghadapi situasi sekitar yang semakin tidak bersahabat dan nyaman bagi anak anaknya.

APA ITU BULLYING?

Menurut Dan Olweus (www.Kidscape.Org.Uk), Bullying adalah:
Aktifitas berbentuk agresi/kekerasan dengan tujuan untuk menyakiti orang lain baik secara fisik maupun mental yang dilakukan secara berulang-ulang.

Jadi perilaku bullying ini benar-benar disadari oleh pelakunya. Mereka dengan sengaja melakukan kegiatannya untuk melukai & menanamkan ketakutan melalui ancaman dan menciptakan teror!
Masalahnya, pelaku ini usianya semakin muda, demikian juga korbannya: 7 tahun. Kenyataan inilah yang menggetarkan jiwa saya dan pastilah juga Anda, sesama orang tua.

YANG MANA ANAK KITA?

Bullying hanya terjadi bila ada : 3 Peran dan 1 Tragedi. Peran-peran tersebut adalah : PELAKU, KORBAN, dan PENONTON, yang untuk memudahkan dalam tulisan ini selanjutnya akan kita sebut sebagai PKP.

Pada umumnya banyak orang tua tidak langsung mengenali peran yang dilakukan oleh anak-anaknya. Bahkan ketika anak menjadi korban sekalipun ada orang tua yang baru sadar anaknya jadi korban ketika kondisinya sudah sangat parah. Apalagi kalau anaknya cuma jadi PENONTON! Yang tentunya sangat tidak mudah dikenali, terutama kalau komunikasi dalam keluarga terhambat, minimal tidak hangat dan tergesa-gesa.. Padahal sesungguhnya masing-masing peran jika tidak diatasi, ada efeknya bukan hanya sekarang tapi juga jangka panjang!

APA YANG JADI PENYEBAB ANAK BISA JADI P-K-P: PELAKU, KORBAN ATAU PENONTON?

Pertumbuhan dan perkembangan kita sebagai anak manusia, kata ahli ditentukan oleh 20% faktor turunan dan 80% faktor Lingkungan.
Jadi apapun anak kita: P-K atau P bisa saja kan ada unsur turunannya baik dari garis kita maupun pasangan kita. Tapi yang lebih menentukan adalah yang 80% yang terdiri dari unsur: KELUARGA, MEDIA , PEER GROUP, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT.

Marilah kita urai sedikit dari masing-masing aspek tersebut :

A. KELUARGA:

Kajian yang kami lakukan dari berbagai sumber, menunjukkan bahwa banyak sekali penyebab datang dari sumber keluarga yang bisa kita jadikan cermin untuk berkaca dengan diri kita sendiri.

1. Orang tua tidak siap jadi orang tua, banyak masalah dari masa lalu sehingga dalam mengasuh tidak sengaja mengulang secara otomatis kebiasan dari pengasuhannya sendiri di waktu kecil. Pengasuhan yang dilakukan tanpa ilmu yang memadai dan jarang dilakukan BERDUA suami istri. Umumnya anak disubkontrakkan ke tangan orang lain yang notabene kurang segala-galanya dibandingkan dengan orang tuanya sendiri. Jadi sejak awal anak sudah memiliki berbagai bentuk kecemasan, kurang kelengketan, perhatian dan kasih sayang. Semua tergesa-gesa. Masalah tak sempat teruraikan dan tertangani dengan seksama. Tahu-tahu anak sudah harus bersekolah.

2. Umumnya orang tua tidak sadar bahwa seharusnya mereka merumuskan dan menyepakati TUJUAN PENGASUHAN anak mereka sebagai penunjuk arah kemana anak ini akan dibawa dan anak yang bagaimana yang akan dihasilkan. Akibatnya mengasuh bagaimana lingkungan terdekat mengasuh anak mereka.. Kita hanyut bersama arus yang deras… ber-HP anak orang ber-HP juga anak kita. Punya peralatan games anak orang, begitu juga kita usahakan anak kita. Pengasuhan yang gak punya prinsip sama sekali!

3. Komunikasi BURUK : tergesa-gesa dan seadanya! Bagaimana bisa mengenali keunikan anak dan menyapanya, menyadari bahwa antara adik dan kakak saja berbeda tidak sempat. Itulah sebabnya kita tidak peka terhadap bahasa tubuh yang ditunjukkan anak, tak sempat menebak dan mendengarkan perasaan mereka, apalagi duduk membahasnya dengan dialog dari hati ke hati. Apa yang terjadi kalau kita bicara tak sengaja, kita menggunakan apa yang kami sebut sebagai 12 Gaya Populer Orangtua Berbicara Pada Anaknya, yaitu: Memerintah, Menyalahkan, Meremehkan, Membandingkan, Mencap/label, Mengancam, Menasehati, Membohongi, Menghibur, Mengeritik, Menyindir & Menganalisa.

Kalau anda sebagai anak, apa kira-kira perasaan Anda kalau bertahun-tahun orang tua Anda berkomunikasi dengan Anda seperti itu?
Kalau begitu Anda bisa mencatat sekarang di HP Anda: apa saja kemungkinan perasaan anak Anda sekarang ini?
Nah semua uraian diatas, kira kira akan mendorong anak kita menjadi Pelaku, Korban atau Penonton? Yang mana?

Belum lagi pada kenyataannya perkawinan tidak semuanya berjalan mulus.
Situasi rumah ada yang penuh stres: pertengkaran, agresi dan permusuhan.
Hubungan antar saudara yang buruk, perlakuan tak patut terhadap tenaga penunjang RT dan berbagai hal lainnya.
Kita lupa bahwa anak-anak belajar dari : Mendengar – Melihat - Merasa - Berbuat… baru Berfikir. Sesuai dengan tahapan perkembangan otaknya.
Dititik ini kita bisa menanyakan lagi pada diri sendiri apa yang terjadi di keluarga memproduksi anak yang mana dari P-K-P.

4. Pendidikan agama tidak dilakukan sendiri oleh orang tua, sehingga banyak sekali hal mendasar tentang keyakinan terhadap Allah, kecintaan pada Rasul dan Kitab sucinya tak terbentuk. Pembentukan akhlak, baik sesama manusia: Orang tua dan guru, teman dan yang lebih muda tak terajarkan dengan baik sesuai nash nya. Apalagi menyangkut akhlak dengan binatang dan isi alam lainnya. Perbuatan baik, dan tidak baik, Syurga dan Neraka tak sempat dibahas, ibadah yang baik tak sempat di contohkan. Hari habis dengan belajar, PR dan Les, PR dan Les. Hari berganti Minggu, bulan dan Tahun dan Tahun.. tahu tahu anak pra remaja!

5. Umumnya orang tua tak menyiapkan anaknya memasuki baligh. Tidak tahu bahwa hal itu terjadi lebih cepat karena gizi dan rangsangan dari media. Mereka akan berkilah : ”Aduh.. Gak nyangka cepet banget. Kirain masih setahun dua lagi?” Lha, emang persiapannya cuma seminggu? Apa yang terjadi? Anak ‘sexually active’ tanpa bekal sama sekali. Padahal hatinya padat dengan dendam kesumat dan berbagai perasaan negatif, banyak beban yang dirasa menekan. Apa yang terjadi?
Air laut saja tak bisa ditekan angin. Maka akan terjadi gelombang yang tinggi dan bergulung-gulung, menggulung apa saja dipermukaannya . Kalau sampai menghempas pantai, maka semua ditelannya! Itu air, bagaimana dengan jiwa dan rasa manusia.

B. MEDIA

Sudahlah begitu, dengan alasan cinta, kasian supaya nggak ketinggalan dari teman-temannya, kita fasilitasi anak-anak kita dengan berbagai macam games, HP, atau laptop yang dengan itu mereka bisa mengakses atau bermain games. Kalau tidak sanggup ya kasih uang Rp 3000 – 5000 untuk ke rental PS atau warnet. Luar biasa banyaknya games yang dimainkan anak yang sarat kekerasan. Tidak pantas kalau saya berikan contoh-contoh games tersebut di sini. Tapi kalau dalam seminar tentang ‘Bullying’ dan ‘Kecanduan Games’, ini saya bahas dengan cermat. Yang saya ingin jelaskan adalah karena banyak dan lamanya anak bermain games itu membuat mereka tidak bisa lagi membedakan mana: ”realitas dunia maya, mana reakitas dunia nyata”. Mereka melakukan apa yang mereka nikmati di dunia maya ke dunia nyata. Nonjok dan nendang terus. Mengapa? Karena kalau dalam permainan seperti smack down akan ada tanda “bip” dipojok atas yang menunjukkan warna. Kalau kuning tonjokan hanya : bahaya. Tapi kalu merah berarti pendarahan dalam. Penonton dalam games gak boleh dan gak bisa menolong, dia hanya menyaksikan saja. Ingat kasus anak perempuan yang dianiaya dalam kelas di Bukit Tinggi yang sangat viral? Mengapa teman lain dalam kelas itu tidak menolong, karena begitulah dalam permainannya. Ini baru satu media. Kalau kita bahas yang lain , tulisan ini harus berseri… Jadi, kita sedang memproduksi anak yang mana ? P-K atau P?

C. PEER GROUP

Selain belajar dari rumahnya, anak tentu belajar dari teman-temannya terutama di lingkungan rumah dan di sekolah. Tentu Anda semua bukan saja sudah paham dengan ini bahkan banyak yang anaknya telah mengalami pengaruh dan perlakuan buruk ini. Karenanya tidak perlu saya bahas lebih lanjut.

D. BERATNYA BEBAN PELAJARAN DI SEKOLAH

Bayangkan datang dari keluarga seperti itu, anak menghadapi pula beban berat sekolah, terutama kalau mereka baru 6 th sudah duduk di SD kelas 1. Aduhai berarti sejak usia 5 sudah les calistung dong. Anda sebagai ibu yang mendampingi anaknya belajar pasti tahu “berat”nya pelajaran sekarang!
Jam pelajaran yg jauh lebih panjang dari jam belajar Anda dahulu. Belum lagi ada sekolah yang masih membebani anak dengan PR dan Les. Kadang-kadang dari sekolah tidak ada PR, eh orang tuanya mewajibkan anaknya mengikuti les macam-macam dan umumnya LES MATA PELAJARAN lagi… Khawatir tidak sukses di masa depan dari sekarang bikin anaknya > kalau kue : ‘bantet’ duluan – bagaimana mau mekar dan suka atau cinta belajar?
Lha ini anak siapa ya? Bisa dan punya hak serta berani tidak ya anak ini, mengatakan: tidak, kasih alasan, atau melawan? Harus patuh kan? Jadi perasaannya bagaimana? Belum kalau ada pula perlakuan guru yang kurang patut bahkan ‘nakal’. Akan jadi apa anak kita? Kita sedang mencetak yang mana? : P-K atau P?

E. MASYARAKAT

Tidak usahlah jauh-jauh. Berita TV saja. Banyak orang tidak terpikirkan bertahun-tahun pemberitaan dan pembahasan tentang kejahatan dan tindak korupsi yang dilakukan menteri, pimpinan partai, anggota dewan, pejabat daerah, berbagai lapisan penegak hukum, tokoh masyarakat, artis dan lain-lain, berakibat apa pada jiwa anak-anak kita. Jangan bilang anak kita tidak menyaksikan apa yang terjadi pada sidang paripurna di dewan yang terhormat. Mana orang tua yang mau duduk dan menjelaskan dengan baik baik semua fenomena ini? Abis waktu dengan peer2 dan les2. Tidakkah kita bertanya pada diri sendiri :’Apa yang dipelajari anakku dari semua ini?” Apa kontribusi semua yang terjadi dimasayarakat kita terhadap perilaku anak kita? membentuk mereka jadi P-K atau P?

JENIS – JENIS BULLYING

Ada 6 jenis Bullying yaitu :
1. FAMILY BULLYING
2. SCHOOL BULLYING (Didalam maupun diluar sekolah)
3. BOARDING BULLYING
4. CYBER BULLYING
5. SEXUAL BULLYING
6. BULLYCIDE - BULLY ‘TILL SUICIDE ( Bully sampai bunuh diri!)

Anda tidak lupa khan sudah banyak anak kita baik yang terbunuh di sekolahnya atau di luar sekolah hampir setiap tahun ajaran baru? Dan mereka yang bunuh diri karena di bully seperti yang terakhir terjadi di Pakan Baru, yang dilakukan anak SMA karena tidak tahan diejek ayahnya mengalami gangguan jiwa.

JADI BAGAIMANA? APA YANG BISA KITA LAKUKAN?

Inilah mengapa sulit sekali bagi saya menjawab pertanyaan bagaimana menghindari anak kita agar tidak jadi korban. Pertanyaan ini menunjukkan bahwa si penanya:

1. Tidak punya perkiraan atau mungkin tidak mengetahui bahwa anaknya bukan hanya bisa jadi Korban tetapi juga berpotensi juga jadi Pelaku atau Penonton .

2. Tidak mudah untuk menguraikan dalam satu dua kalimat apa yang saja yang menjadi penyebab berbagai jenis bullying ini seperti yang saya jelaskan di atas, kan?

Langkah sederhana yang saya sarankan segera bisa Anda lakukan adalah sebagai berikut :

a. Menyelamlah kedalam diri & mengembaralah ke masa lalu, lihat apa yang terjadi pada diri Anda dan
b. Selesaikan urusan dengan diri sendiri dan bantu selesaikan urusan masa lalu pasangan Anda!
c. Sepakati : Pengasuhan berdua – Dual parenting
d. Rumuskan ulang Tujuan Pengasuhan dan sepakati. Jalankan- Evaluasi dan Perbaiki. Mengasuh harus punya prinsip. Jangan jadi orang kebanyakan!
e. Pulangkan ayah kerumahnya dan jadikan dia pemimpin yang memegang komando pendidikan agama anak-anaknya. Ayah harus ingat benar bahwa beliaulah yang akan mempertanggung jawabkan iman dan akhlak istri dan anaknya di Mahkamah Allah nanti. Ini juga yang mengharuskan kita mengubah dan memperbaiki pola pengasuhan anak laki-laki kita.
f. Persiapkan anak untuk Baligh. Jangan lupa, bila anak sudah baligh berarti dia sudah Mukallaf: berlaku hukum yang ditentukan Allah atas dirinya dan berarti mereka dewasa muda BUKAN REMAJA! Maka untuk itu apakah cukup persiapannya hanya seminggu?
g. Siapkan anak untuk bijak berteknologi. Anda jangan jadi orang tua yang latah memberikan perangkat teknologi karena orang lain melakukannya pada anaknya. Malu lah kalau jadi orang tua yang malas, cari gampang: agar bisa melanjutkan berkomunikasi dengan teman dan melakukan pekerjaan lainnya kasih saja HP ke anak. Belikan games biar dia asyik dengan HP jadi Anda tidak terganggu.
Mereka bukan saja melihat, belajar dan meniru kekerasan tetapi juga pornografi. Tidakkah sangat mungkin mereka pada usia 7 tahun melakukan sexual bullying seperti dilakukan anak SD kelas 2 di Bekasi yang sudah kita singgung diatas? Selain itu anak itu akan sangat mungkin mengalami disfungsi otak bagian depan karena pornografi yang sudah pasti merusak kemampuan mengendalikan diri, sehingga bisa bertingkah laku seperti binatang. Kalau diumpamakan mobil “REMnya BLONG”

Sungguh hidup adalah pilihan, kita punya hak sepenuhnya untuk melakukan pilihan tapi juga yang harus berani menanggungkan dan menjalani konsekuensinya.
Begitu dululah pembahasan kita tentang Bullying, Insha Allah kalau ada umur dan kesempatan akan kita sambung di lain waktu tentang bagaimana mengenali tanda-tanda apakah anak kita Pelaku, Korban atau Penonton? Apa dampaknya dan bagaimana tipsnya mengatasi Bullying dan menjadi sahabat anak menghadapi Bullying?
Saling doa ya

Salam hangat

Elly Risman

Kiat Dekat dengan Anak dan Mendidiknya


‎من يحب أن يقي أبناءه
‎من الأمراض النفسية فليتبع الخطوات هذه وسترى النتيجة...
Bagi anda yang ingin menjaga anak-anaknya dari penyakit kejiwaan, ikutilah beberapa kiat berikut ini dan Anda akan melihat hasil yang nyata.

‎برنامج بناء العلاقة مع الأبناء :
Program membentuk interaksi intensif dengan anak

‎١- عشرين دقيقة يومياً حوار مع الأبناء باعتبارهم أصدقاء ( بدون نصح ولا حديث عن المدرسة ولا توجيه ) .
1) Ngobrollah bersama anak2 20 menit per hari seperti layaknya ngobrol dengan seorang teman (tanpa memberi nasehat, tanpa membicarakan ttg sekolahan atau arahan apapun)

‎٢- التعبير عن مشاعر الود والحب من الأباء للأبناء من ٥ - ١٠ مرات يومياً .
2) Ungkapkan perasaan kasih sayang dari ayah terhadap anaknya 5-10 kali per hari.

‎٣- مدح الأبناء يومياً خمس مرات على سلوك إيجابي فعله .
3) Pujilah anak setiap hari 5x atas perilaku positif yang dilakukannya.

‎٤- مدح الأبناء يومياً خمس مرات على الشكل الخارجي ( ابتسامته - شعره- عينيه - أي شيء فيه ) .
4) Pujilah anak2 setiap hari 5x terhadap hal2 yang nampak (seperti senyumannya, rambutnya, matanya, atau yang lainnya)

‎٥- مرتان اسبوعيا مشاركة الابن نشاط خارج البيت حتى لو استغرق خمس دقائق ( مشي - رياضة - تمشيه - لفّه بالسيارة ) .
5) Seminggu 2x ikutsertakan anak2 pada aktifitas diluar rumah walaupun 5 menit (spt jalan2 dan olahraga)

‎٦- ثلاث دقائق يومياً لتثبيت القيم قبل النوم :
‎-كنت سعيداً عندما رأيتك اليوم تفعل كذا.
‎- مساعدتك لأختك الصغيرة كان جميلا منك.
‎- وفاءك بالاتفاق جميل.
6. Sebelum tidur, 3 menit setiap hari tanamkan nilai-nilai kepada anak seperti:
- Nak, ayah senang sekali hari ini kamu melakukan ini dan itu..
- Ayah senang kamu sudah membantu adik perempuanmu
- Ayah senang kamu jadi anak yang taat dan patuh.

‎٧- مرتان أسبوعياً عشاء مع العائلة في البيت أو خارجه يكون وقته طويل حتى يتم الحديث والتحاور مع العائلة بوقت أكثر .
7. Seminggu 2x makan malam bersama anggota keluarga baik didalam atau diluar rumah. Sebaiknya waktunya agak longgar sehingga obrolan dan diskusi dg anggota keluarga porsi waktunya lebih banyak.

‎٨- من (١-٣) دقائق يومياً [ كلي آذان صاغية ] وتتنفذ على النحو التالي:
‎-الجلوس مع الابن في مكان هاديء واطلب منه أن يقول كل ما يريد بلا قيود ولا نقاش ولا أرد عليه ولا أقاطعه ولا تعقيد وحينما تنتهي ٣ دقائق انتهت الجلسة.
8) 1-3 menit perhari lakukan hal berikut (dan anda menjadi pendengar setia):
- Duduklah bersama anak anda ditempat yang tenang dan persilahkan si anak untuk mengutarakan apapun tanpa ada tekanan atau diskusi. Tidak mengomentari atau memotong pembicaraannya. Setelah 3 menit berlalu selesai pula obrolan anda dengan anak anda.

‎٩- عبّر عن حبك لإبنك من خلال السلوكيات اليومية :
‎( خمس لمسات يومياً ) :
‎- اللمس على نهاية رأس الابن
‎وتعني " الرأفة والرحمة "
‎- وضع اليد على الرأس " الفخر"
‎- وضع اليد على الجبين "التهدئة"
‎- وضع اليد على الوجنتين" الشوق"
‎- مسكة اليد " تقوية العلاقة والحب"
‎- إذا كان غضبان أو وجود مشاعر سلبية "امسح بيدك على صدرة "
9. Ekspresikan cinta Anda pada anak atas perilaku2nya sehari-hari : (5 sentuhan perhari)
- Belailah kepala bagian belakang anak (sebagai bentuk kasih sayang)
- letakkan tangan di kepala anak (bentuk kebanggaan)
- letakkan tangan diatas kening anak (bentuk ketenangan)
- letakkan tangan dikedua pipi anak (bentuk kasih sayang)
- genggam tangan anak utk menguatkan hubungan & cinta anda
- kalau anaknya lagi marah atau ada perasaan kesal atau gak enak (tepuk dadanya secara lembut)

‎أربع قبلات يومياً :
‎-في الجبين " الاستقبال "
‎-في الرأس" فخر واعتزاز"
‎-في الخد " الشوق"
‎- في اليد "الاستقبال والشوق"
Empat ciuman setiap hari:
- kecupan kening saat menyambut kedatangan anak anda (pulang sekolah atau dari manapun)
- kecupan kepala anak utk menumbuhkan rasa percaya dirinya
- ciuman di pipinya sebagai ekspresi rasa rindu.
- ciuman di tangan untuk menyambut dan mengekspresikan sayang.

‎واربع ضمات احتضان متفرقه خلال اليوم .
Empat dekapan berbeda2 selama sehari

‎كان الرسول ﷺ قدوتنا في بناء العلاقة وكان نموذجاً رائعاً للتربية ؛
‎كان يقبّل فاطمة الزهراء كلما رآها وقبل جبينها ويدها واحتضنها في بيته وفي مسجده وأمام الصحابة.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam , adalah suritauladan kita dalam membina hubungan dan menjadi contoh terbaik dalam mendidik anak.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam selalu mencium Fathimah Az Zahraa setiap kali bertemu, mengecup keningnya, mencium tangannya dan mendekapnya di dalam rumahnya atau ketika di masjidnya dihadapan para sahabat.

‎أخيراً : ابني علاقة مع ابنك حتى يصبح بين يديك محباً مطيعاً وخلوقاً وباراً فبهذا البرنامج تبني شخصيته وتتعرف على ذاته وتقوي محبته وتصبح الأب النموذج الأمثل في نظره
‎وتتلاشى كل المدمرات للعلاقة التي كنت تمارسها من قبل أو كانت سبباً في اضطراب شخصيته أو عناده أو عنفه أو مراهقته المزعجة أو انحرافه أو سبباً للأمراض الناتجة من السلوك التي تم شرحها في المدمرات سابقاً .
Terakhir, jagalah hubungan dengan anak anda sehingga dia mencintaimu, mentaatimu dan berbakti kepadamu.

Dengan program ini anda sedang membangun kepribadian anak anda, mengenali sifatnya, meningkatkan kecintaannya dan Anda menjadi ayah teladan menurut pandangannya.
Semua hal2 yang merusak hubungan yang biasa anda lakukan atau penyebab labilnya kepribadian anak, keras kepala, masa pubernya yg mengganggu, penyimpangan moral dan sebab2 penyakit lainnya akan hilang dan lenyap (secara sendirinya).

‎قل لابنك أو ابنتك : شكرا إنك موجود فى حياتي..
Katakanlah kepada anak (laku/perempuan) anda: Terima kasih anakku kamu telah mengisi kehidupanku.

‎" كونوا لطفاء وأرسلوها لكل أب وأم "
Jadilah orang tua yg lemah lembut (pada anaknya)

Selamat mendidik, menyayangi dan  mempraktekkan pada anak-anak, bismillah