Who Amung Us

Jumat, 24 Desember 2021

Kuliah, Ngapain?

Orang-orang mengira aku ini semangat menuntut ilmu. Entahlah, semoga itu benar. Ya walaupun sebenarnya aku kuliah S1 lagi ini adalah akumulasi dari berbagai latar belakang.


Yang pertama, aku memang sudah sejak lama berkeinginan untuk lanjut S2 jurusan psikologi atau BK. Waktu skripsi dinyatakan lulus dengan nilai A, aku sudah menumbuhkan cita-cita itu sebagai puncak berikutnya yang akan ku taklukkan. Tapi apa daya, orang tua belum mengizinkan.


Sepertinya karena khawatir soal biaya. Adikku ada banyak, dan sudah waktunya gantian membiayai adikku yang lain. Padahal aku sudah bilang, aku tidak akan S2 kalau bukan dari beasiswa. Tapi sepertinya ortu masih belum yakin. Beliau berdua mengizinkan aku kuliah lagi kalau sudah bekerja besok. Kerja dulu, biar punya status katanya. Baru nanti bebas kalau mau Nyambi S2. 


Ya sudah, aku kerja. Masuk keluar masuk keluar di awal-awal lulus. Ya, dua bulan setelah wisuda memang aku sudah berstatus karyawan. Meskipun aku belum betah karena tidak bisa berprestasi di sana. Aku tidak bisa menjalankan tugas dengan baik. Sudah kucoba melakukan berbagai trik yang ku tahu, tapi tidak satupun proposal ku berujung kesepakatan ada yang mau ngiklan di tempat kami. 


Sambil siangnya bekerja, malamnya aku browsing-browsing hunting beasiswa. Nyiapin berkas, ngirim aplikasi, ngikutin setiap tahap seleksi. Tapi qadarullah belum lulus. Dua bulan bekerja di kantor pertama, aku resign. Pengunduran diri ku dengan cepat disetujui.


Lalu aku ikutan job fair, kirim lamaran kerja, ikut seleksi, Luntang Lantung bertahun-tahun, masuk satu, sebentar kemudian keluar lagi, sampai akhirnya di tahun ke 2,5 setelah kelulusan ku, aku diterima kerja di tempat yang sekarang. Tempat terbaik, dimana ku temukan banyak hal yang aku butuhkan.


Sambil segala proses ini, aku juga masih belum berhenti hunting beasiswa. Meskipun belum satupun yang sampai lulus di tahap seleksi terakhir.


Beberapa tahun kerja, yayasan kami menyiapkan pendirian Sekolah Tinggi dengan 2 jurusan: Bimbingan Konseling Pendidikan Islam, dan Pendidikan Islam Anak Usia Dini. Aku mulai menimbang-nimbang untuk mendaftar.


Alasan kedua, adalah karena saat STIT mulai dibuka pendaftaran nya, itu bertepatan dengan saat-saat tergalau ku. Galau soal jodoh. Segala ikhtiar terhebat telah kuupayakan. Sampai aku berpikir, daripada Ikhtiar tak berujung, membuat aku galau dan lama-kelamaan jadi tidak produktif, mbok mending energiku disalurkan buat mengupgrade diri. Meningkatkan kapasitas, menambah ilmu. Apa saja yang aku ingin tahu.


Saat itu memang sih aku juga sudah sering sekali ikutan kulwap, seminar, workshop, dsb. Di samping lihat-lihat konten YouTube yang isinya tentang kajian atau life hack atau ilmu-ilmu psikologi juga. Atau suplemen pranikah. 


Tapi terus aku mikir, ini ada kesempatan kuliah S1 BKPI. Meskipun S1 lagi, tapi kan lumayan, ada gelar. Mungkin bisa berpengaruh sama karirku. Atau entahlah, biarlah, aku tidak terlalu menganggap ini penting. Tapi kesempatan kuliah murah, ada majelis ilmu yang akan ku ikuti secara rutin, berkurikulum, tahap demi tahap.. konsepnya akan ku pahami secara menyeluruh. Di jurusan yang selama ini kuidam-idamkan untuk S2. Waw.


Alasan ketiga adalah melarikan diri. Suatu hari, dini hari 17 Agustus, aku diminta pulang oleh ibuku karena akan ada yang datang. Laki-laki. Yang tidak jelas maunya apa. Tapi memang mengarah mau mengkhitbah. Cuman sayangnya, aku tidak suka sifatnya, akhlaknya, kebiasaannya, caranya menerapkan ajaran agama, pemikiran nya, gaya hidupnya. Dia sempat bilang, perempuan ngapain lah sekolah tinggi tinggi.


Wah, aku langsung ketrigger. Justru ku lakukan sebaliknya. Aku memutuskan daftar kuliah di sini tanpa banyak berpikir lagi. Aku punya pemikiran yang berseberangan dengan laki-laki itu. Perempuan harus cerdas, harus pintar, karena kami yang akan mendidik langsung anak-anak kami.


Aku tidak mau jadi Nyai yang diladeni semua orang, diajeni semua orang, sampai pada mbungkuk-mbungkuk, berebutan cium tangan, dan sebagainya, hanya karena status pernikahan. Sementara di sisi lain, anakku akan diposisikan orang orang bagaikan pangeran.. yang penuh dengan privilege.. dan akhirnya membuat dia sombong, tidak mandiri, dan seenaknya sendiri. Seperti laki-laki itu. No, jelas aku tidak mau.


Di tengah desakan orang tua dan adik-adik, juga keluarga besar.. supaya aku segera menikah. Tampaknya bagus jika aku sekarang menyibukkan diri dengan belajar.


Walaupun juga sedihnya aku seperti menjauh dari Ikhtiar itu. Aku tidak sesemangat dulu untuk menjemput jodoh. Bahkan kadangkala aku merasakan ada pikiran buruk muncul dari otakku: nikah itu ngga penting, malah merepotkan, menyusahkan, banyak tanggung jawab dan tambah banyak lagi hati yang harus dijaga perasaannya. Aku mulai menikmati kesendirian ku ini. Aku sudah sangat bahagia sekarang. Jadi diriku sendiri, seperti apapun yang aku inginkan. Aku menginginkan sesuatu, bisa langsung ku beli tanpa harus banyak berpikir, bertimbang rasa, menunggu rezeki sampai lama, atau meminta. Aku cukup dengan diriku sekarang. Aku mau melakukan apapun, bebas. Tidak perlu banyak prosedur, tidak perlu persetujuan siapapun, tinggal kerjakan saja, dan aku mendapat pengalaman yang ku cari. Mau makan apa saja, mau pakai baju apa saja, mau tidur dan bangun jam berapa saja.. bebaaaas.


Aku tahu ini tidak sepenuhnya baik. Tapi mungkin ini juga sikap dan pemikiran yang berupa pelarian dari rasa sepi. Aku tidak mau galau mikirin jodoh lagi. Jadilah aku puas-puasin diriku mumpuni masih sendiri. 


Orang melihat ku sejauh apa yang aku izinkan mereka lihat. Terima kasih banyak Ya Allah, sudah menutup aib-aib ku yang tidak terhingga. Terima kasih atas segalanya dalam hidupku yang kini Kau buat jadi seindah dan semenyenangkan ini. Terima kasih banyak untuk pengalaman pahit yang Kau ajarkan, supaya tidak akan ku ulangi lagi ke depannya. Terima kasih atas hati yang Kau jaga tetap baik-baik saja ini. Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbi Alaa diinik, tsabbit qolbi Alaa da'watik.

Jumat, 22 Oktober 2021

Cium Tangan Moment

 Ya Allah.. setiap kali aku melihat Fathin.. ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang membuat aku merasa, ada yang masih harus kuselesaikan. Ada yang masih nanggung dulu itu, saat interaksi langsung kami mau tidak mau harus purna. 


Tapi malam ini, saat kami berpapasan tak sengaja di pintu GOR seusai penutupan puncak peringatan hari santri 2021, saat mata kami beradu, dia menyapaku, lalu meminta tangan ku untuk dicium.. Ya Allah, aku merasa benar-benar jadi guru.


Aku belajar dari anak ini. Kesantunan nya alami, layak ditiru. Dan sekali lagi aku sadar, ada yang harus ku selesaikan. Sebelum terlambat. Karena sisa waktu kami sudah sangat singkat. Meski mungkin selamanya hubungan kami tidak akan berubah. Dia tetap memandang ku sebagai gurunya.. dan sepertinya memang tidak pernah ada kata mantan guru dalam kamusnya.


Ya Allah, aku malu. Aku yang bau, sampai semalam ini belum mandi (karena air masih mati), baju saja pakai baju bekas kemarin yang masih sedikit bersih, tapi bukan yang terbaik yang ada.. diambil tanganku, diciumnya. Aku yang sebobrok ini, dihargai setinggi adab muridku itu. Aku malu.


Layakkan aku di hadapan mereka Ya Allah. Mampukan aku menjadi guru yang sebenar-benar guru. Yang tindak tanduk nya patut digugu dan ditiru. Dan mohon ampuni segala khilaf ku Ya Rabb. Mohon maafkan segala kurang ku. Rahmati kami, ridhai kami. Izinkan kami menatap wajah Mu. Bersama, di syurga Mu yang tertinggi.

Selasa, 19 Oktober 2021

Kaos Seragam Santika

Malam ini aku kehabisan baju. Tidak kutemukan pakaian ganti untuk tidur walau hanya sehelai daster. Efek malas tidak mencuci sekian lama, baru tadi siang selesai nyuci, dan hari hujan sehingga tidak bisa langsung jemur. 


Baju yang ku pakai sedari nyuci tadi, lanjut males-malesan, buka puasa, ndampingi acara maulid nabi malam ini, nonton bareng film Surau & Silek, sampai motoin anak-anak rohis panitia bersama pembina nya yang diwakilkan oleh Ustadz Nasir, pulang pulang di asrama, rupanya sang gamis Lilac telah basah kuyup oleh keringat. 


Tak sengaja tertangkap mata, di pojok lemari bagian bawah, sudah ku bungkus rapat dengan plastik bekas kemasan jilbab: kaos coklat.


Jadilah malam ini aku tidur mengenakan seragam Santika. Ternyata masih muat, meski lumayan ketat. Ku kira benar-benar sudah tidak masuk, makanya ku packing sedemikian rapi seolah sudah dipensiunkan selamanya. Alhamdulillah. Aku suka manset hijau di lengannya, cocok sekali dengan warna kulit tangan ku.


Malam ini ku pungkasi dengan sejuta nostalgia. Aku pernah di sana. Bukan mustahil suatu hari nanti aku akan kembali ke sana lagi. Di lapangan, panas-panasan, pengamanan, penyisiran, berseragam kaos cokelat yang fenomenal ini.


Salah satu potongan fase hidup terbaik ku. Alhamdulillah masih muat, aku optimis tidak pensiun untuk selamanya. Beristirahat mungkin iya, beralih ke Medan yang lain juga. Tapi fase hidup terbaik itu akan berulang, insyaallah, lagi, dan lagi.

Minggu, 03 Oktober 2021

Strategi #1

 Ya Allah, terima kasih.. hidup ku sempurna.. sudah tidak ada lagi pertengkaran bodoh di grup keluarga. Ada kos adek yang bisa buat mengungsi dari kepadatan dunia kerja. Kau beri aku penghasilan rutin yang cukup untuk aku menyenangkan diri sendiri. Buku bacaan bagus tak terhitung dengan harga miring. Peluang peluang amal kebaikan setiap saat. Tempat tinggal yang bagus, aman, nyaman. Baik secara fisik maupun mental. Room mate yang menyenangkan. Pergaulan yang terjaga. Pekerjaan yang sesuai passion. Pakaian pakaian yang bagus, layak, cocok untuk ku, tidak lagi senelangsa dulu. Fasilitas mesin cuci untuk para musyrifah. Jilbab-jilbab hasil usahaku jualan jilbab. Liqo yang lancar, murabbi yang mumpuni, teman-teman yang asyik, program yang menarik, menantang, namun tidak terlalu sulit, tidak pernah membosankan. Waktu kerja yang nyaman. Jam bangun tidur yang strategis. Kesempatan tilawah panjang saat sepi pas jaga piket PPDB sendirian. Tas yang layak, bagus-bagus, tinggal disesuaikan dengan kebutuhan. Qur'an hafalan yang bagus. Jedai yang kencang, bagus, kokoh. Dompet yang bisa jadi tas sekalian. Minum yang melimpah ruah gratis tanpa harus susah-susah. Jajanan darurat jualan Wulan yang bisa buat mengganjal perut saat kelaparan. Sajadah doorprize yang bagus dan datang di saat yang tepat. Anak-anak yang bisa diasuh.. memenuhi tugas perkembangan di usia ku.. membuatku tetap merasa berharga. Kuota melimpah. Kuku yang sehat. Anggota tubuh yang lengkap. Nafas yang mudah. Kipas angin yang selalu menyelamatkan. Skincare yang selalu tersedia tinggal pakai. Sabun yang wangi dan gampang dibilas. Sprei yang seukuran kasur. 


Ya Allah, tadi aku ingin mengeluh. Tapi sampai sini saja aku sudah malu. Terlalu banyak nikmat Mu.


Biarlah aku berjuang menumbuhkan minat kembali untuk menggenapkan separuh agama. Entah bagaimana saja. Yang paling mudah adalah melihat orang orang seumuran ku yang sudah lebih dulu menikah dan berhasil menghayati perannya dalam keluarga. Tidak semua pernikahan itu berujung neraka. Banyak juga yang indah, menyenangkan, mendamaikan, memberdayakan, menerbitkan senyum di ujung bibir, mengalirkan entah apa di dalam badan yang rasanya menyenangkan saat melihat mereka: merinding, trenyuh, rasa ikut berbahagia. Dan mereka bisa kuakses.


Yang penting aku harus ingat. Jangan downgrade kriteria hanya karena desakan usia. Jangan sampai downgrade. Aku cukup berharga. Aku cukup indah bagi yang memahami. Aku tidak jelek. Allah sudah menciptakan ku dalam keadaan yang terbaik. Jangan pernah berani menghina Allah! Kamu sudah baik.



Rabu, 29 September 2021

Air Mata Senja

Ya Allah, aku sudah sempat melupakan niatan menikah. Aku sudah terlanjur nyaman dengan situasi ku sekarang. Tanpa beban, tanpa tanggung jawab yang berat. Tanpa banyak tuntutan. Aku sudah cukup jadi aku yang sekarang, melakukan apa yang aku suka, berkontribusi sesuai kemampuan, berbaur di antara orang orang baik di sini, tidak ada yang menghakimi (setidaknya di depanku).


Hidup santai, tidur dan bangun sesukaku, pekerjaan rumah tangga dilakukan sesuai mood, makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, mandi tinggal mandi, pengen jajan kalau lagi ada uang ya tinggal berangkat, mau main ke tempat adik atau orang tua, tinggal cari waktu luang, cabut, kadang minta izin kalau waktunya bukan saat liburan, kalau pas hari luang, ya nggak usah izin. Pengen jualan kalau pas ada produk bagus dan ada modal, ya tinggal upload. Ada yang beli alhamdulillah. Ada untungnya bisa buat tambah-tambah pemasukan, bisa buat beliin sesuatu yang tampak bagus untuk adikku, untuk ibuk, untuk Bapak, atau sesuatu yang aku pingin sekali dan aku butuh. Bisa buat ngasih ke yang membutuhkan, atau balik ngelarisi jualan orang. Ngajar ya tinggal ngajar, jadi diriku sendiri di depan anak-anak itu membahagiakan. Apalagi saat anak-anak jadi diri mereka sendiri di hadapan ku. Tampil apa adanya itu nyaman. Kalau pas pengen make skincare ya tinggal pake, kalau pas males atau buru-buru, ya tinggal ngga usah pake. Masker kain kusut atau kotor semua, ya tinggal pakai masker disposable. Pengen bikin mie, ya tinggal bikin pas ngga ada anak-anak atau pas udah pada tidur, udah punya alat masak alakadarnya. Pas pengen ngga ngapa-ngapain, ya tinggal lakuin aja, fasilitas tersedia. Pas pengen baca-baca, ya tinggal ambil buku atau buka aplikasi yang dimaui. Pengen nyusoh ya tinggal nyusoh. Hidup yang sangat indah, nyaman, mudah. Meskipun kurang teratur, kurang ideal di mata orang, tapi bagiku yang menjalaninya, sangat menyenangkan.


Sampai pada suatu hari aku pulang untuk kontrol lalu bercengkrama dengan orang rumah. Gantian, satu persatu seperti biasanya. Lia dulu, terus Pipi. Lalu bapak pulang, dan kami bicara seperti biasanya di teras rumah Mbah. Tapi kali ini topiknya ngga biasa. Awalnya sih ngalir. Tapi kemudian bapak nanya, apakah aku belum mikir nikah.


Oh ya jelas sudah pernah mikir, selalu mikir, sampai stres sendiri dan akhirnya aku memilih berhenti mikir. Toh hidupku sudah nyaman.


Tapi kemudian bapak menunjukkan sudut pandang nya. Bapak sudah tua. Aku juga sudah tua. Bapak sudah nggak pengen apa-apa, cuman pengen seperti normalnya orang seumuran beliau: lihat anak-anaknya mentas, pada nikah, terus bapak nimang cucu.


Ya Allah aku nggak kuat. Harapan itu sangat sederhana. Tapi kok sepertinya berat sekali bagiku untuk mewujudkan itu.


Harus bagaimana lagi aku? Sudah pernah ku kerahkan semua usaha. Tapi aku lelah dengan semua usahaku yang rasanya sendirian ini. Dan aku sudah senang dengan semua kemewahan yang ku miliki sekarang.


Ah aku baru ingat. Allah Maha mengabulkan jika Dia berkehendak. Sudahlah, pasrah saja. Turuti apa maunya Bapak. Agendakan. Bismillah, liburan Desember (semoga libur) capcus ke Blitar. Sungkem sama Ibuk. Sekalian sampai clear ngga ya? Kayaknya belum bisa sampai clear. Pasti bakal lama banget, penuh emosi, rawan saling salah paham.


Sebenarnya aku masih enggan. Ibuk sedang bahagia dan berbunga-bunga dengan dunianya yang sekarang. Tentu kontras dengan kondisi sebelum-sebelumnya. Ibuk sekarang bebas sebebas-bebasnya jadi diri sendiri. Yang aku khawatirkan, kontrol diri kami saling tidak bisa jalan. Seperti dulu-dulu. Karena tampaknya Ibuk sudah lupa dengan kondisi ku yang berbeda ini.


Tapi aku anak yang sudah dewasa. Aku yang harus bisa membawa diri dan menempatkan posisi. Biarlah. Desember masih lama. Yang akan terjadi, terjadilah. Sambil aku menyiapkan diri, melatih kedewasaan tutur dan sikap. 


Ini agenda besar. Oktober-November-Desember. Yang penting berangkat. Sungkem. Masalah sampai clear apa enggak nya lihat sikon di sana. Maksimal 3 hari di lokasi. Bagi waktu buat Klaten dan Jogja, kalau bisa malah ke Tangerang juga. Kesempatan main kan nggak banyak. Mumpung pas ada, Sekalian aja kalo bisa.

ODGJ di Mata Macam-macam Manusia

Ada banyak Orang Dengan Gangguan Jiwa terlunta-lunta di jalanan. Entah bagaimana mulanya, sampai kemudian mereka terpisah dari keluarganya, atau dibuang? Aku ingin bicara soal pahitnya stigma.


ODGJ ini, banyak sikap yang ditunjukkan manusia ketika melihat mereka. 


Ada orang yang jijik melihat ODGJ, ada yang takut, ada yang menjauhkan anaknya jika ada ODGJ di dekat mereka, ada yang lari atau mempercepat jalannya jika ada ODGJ. Ada yang menertawakan, ada yang mengejek, ada yang melecehkan, ada yang memperkosa wanita ODGJ karena dia tidak sempurna akalnya dan mudah untuk 'dikerjai', ada yang melempari batu, ada yang ngomongin di belakang, ada yang membiarkan saja karena tidak punya hubungan apa-apa. Ada lagi yang memberikan makanan seadanya, memberi baju ganti, ada yang membersihkan mereka dengan tangannya sendiri: keliling, bawa gunting rambut/alat cukur, pemotong kuku, dan perlengkapan bersih diri, juga baju baru; sengaja mencari orang yang terbuang itu, mereka rawat. Ada yang menyediakan dirinya, rumahnya, hartanya, untuk merawat mereka, mengobatkan mereka sampai pulih dari sakit jiwanya dan bisa hidup normal (meskipun memang penyakit jiwa itu rata-rata kronis, lama, perlu waktu tahunan untuk memulihkannya. Dan ketika pun pulih, ODGJ mungkin selamanya tidak akan pernah sama lagi dengan dirinya sebelum anugerah skizofrenia itu dia terima.)


Ada banyak sikap orang jika di sekitarnya ada orang dengan sakit mental. Dan sikap itu menunjukkan seberapa kualitas dirinya.


Terima kasih, Allah. Segala yang dari-Mu adalah yang terbaik untuk ku. Aku jadi tahu, apa-apa yang sebelumnya Kau sembunyikan dari tangkapan mataku. Terima kasih, Kau selamatkan aku dari yang tidak baik bagiku. 




Jumat, 10 September 2021

Nasi Megono

Pagi ini sarapan kami di pondok adalah sekul/sega/nasi megono. Makanan istimewa, karena masaknya butuh effort yang tidak biasa. Lama, kata ibu dapur tadi.

Pernah dengar, konon menu makanan ini ada sejarah nya. 

Kamu tahu kan, petani? Kerja di sawah, panas-panasan, peras keringat habis-habisan, mengeluarkan banyak tenaga, demi ketersediaan bahan pangan di dapur-dapur kita. 

Biasanya, para lelaki petani ini, pada siang hari dikirimi makan siang oleh istrinya atau anggota keluarga nya. Bisa kamu bayangkan, siang terik, membawakan makanan, jalan di pematang sawah? Itu juga bukan hal yang semudah membalikkan telapak tangan.

Kalau misal nih, menunya dibuatkan sayur berkuah, seperti sop, sayur bening, bobor, atau sayur asem. Cukup berisiko tumpah, ya kan? Apalagi kalau musim tanam dan musim panen, yang biasanya digarap bersama oleh banyak orang. Inilah salah satu wujud budaya gotong royong Bangsa kita. Tapi, mengantarkan makanan untuk orang sebanyak itu, bukankah repot juga kalau menunya berkuah?

Maka, dibuatlah inovasi berbasis kearifan lokal: nasi/sega megono. Nasi putih yang gurih dan lezat sekali karena diudak di dandang langsung bersama sayur dan lauknya: sejenis urap dan teri. Ada pelengkap misalnya gorengan tempe, peyek, dll. Biasanya para wanita mengantarkan nya dengan cara digendong menggunakan bakul.

Kalau menu dapur IF pagi ini, pelengkap nasi megono nya ada kering tempe kriuk (favorit ku), peyek ikan (tidak tahu namanya), dan sepertinya ada telur juga, hanya saja waktu aku ambil subuh tadi, masih diiris-iris telur dadar nya, belum ready.

Dengan konsep menu yang unik ini, membawakan makanan ke sawah menjadi lebih praktis. Ya, meskipun masaknya lebih repot juga. Sangat padat, mengenyangkan, dan bergizi. Cocok sekali untuk para petani yang pekerjaannya membutuhkan banyak kalori. Cocok juga untuk para pelajar, yang pada masa pertumbuhan nya memeras otak untuk belajar. Belajar kan bikin lapar, ya nggak? Proses pertumbuhan juga butuh nutrisi yang cukup. Makanya FM rame, kantin laris. Dapur pun selalu ngebul.

Kuliner ini belum pernah kutemui di Klaten, Jepara, Solo, apalagi Timor-Timur. Pertama kali aku mengenalnya adalah saat acara LTN NU di Pekalongan. Waktu itu aku penasaran, tapi baru tanya-tanya dan belum berani mencicipi. Aku mulai merasakan nikmatnya nasi megono itu di Magelang; sepotong surga di bumi: Pesantren Ihsanul Fikri (Mungkid) tempatku mengamalkan ilmu sekaligus mengais rezeki. 

Awalnya jujur terpaksa aku memakan nya, karena tidak ada pilihan lain. Tapi sekali mencoba, ternyata aku langsung suka. Nasi megono. Ini sungguh lezat. Kalian harus coba! Yakin.