Who Amung Us

Minggu, 14 April 2019

Sudahlah Sudah


Baju yang serasi itu
Kunjungan dan penjengukan itu
Semua hanya kebetulan.
Ujian untuk ku agar bisa lulus menjaga hati..

Ketika adikku dengan sungguh-sungguh mengatakan bahwa dia sudah ingin punya someone fighting for.

Berarti.. Dia belum.

Well yah, kalau mau mengasihani diri..
Aku belum punya someone fighting for me.
Ha ha ha hi hi

17 Februari 2019 15.56

Begini Aku Menikmati Pekerjaan ku

Ya Allah, hari yang berakhir indah
Well, belum berakhir sebetulnya, ini masih sore
Tapi aktivitas mengajar ku sudah terlaksana, usai, tuntas, dan bahagia

Kelas 8i2 memang istimewa
Aku mengajar mereka di jam terakhir, setelah seharian berjibaku di semua kelas lainnya.

Yang sulit ditangani memang ada.
Tapi banyak yang sholih nya mempesona.
Kayak gini ya rasanya kalau ada penyejuk hati. 😃
Robbana hablana min azwajina wadzurriyyatina qurrota a'yun waj'alna lil muttaqiina imaama.

Aku takjub dengan kelas ini.
Banyak penyair nya..!
Meski banyak juga yang tadi dan kemarin kedapatan menjiplak karya temannya.

Ya Allah, ekspresi mereka..
Tak terlukiskan indahnya.
Membuncah rasa puas di dada.

Meski hampir separuh kelas tidak hadir.
Banyak urusan nya.
Tapi pulang dari sana, rasanya ringan dan lega.

Satu catatan ku.
Jangan pernah lupa minta pada Allah pada pagi sebelum hari dimulai
Agar Dia atur segala urusan kita
Dia selesai kan segala tugas kita.
Dia cukupkan segala keperluan kita
Dia bukakan jalan keluar untuk segala persoalan kita
Dia limpahkan rezeki yang halal dan barokah.
Dia beri kita sehat dan semangat.
Lalu kerjakan bagian kita. Ikhtiar, ikhlas, doa, tawakal. Dengan sebaik yang kita bisa.
Biar Allah yang selesaikan sisanya.

31 Januari 2019

Kamis, 11 April 2019

Jawab untuk Tanya


Ya Allah, aku baca Pergi
Ilegal sebetulnya
Tapi ya Allah, aku dapat inspirasi.

Bisa jadi dia memang merasakan perasaan yang sama.. 
Tapi dia terperangkap dalam kerumitan kisah hidupnya. 
Seperti Samad, Bapak Bujang si Babi Hutan.

Bisa jadi dia sedang mempersiapkan segala sesuatu nya, entah untuk siapa.
Atau sempat bingung di persimpangan pilihan pilihan.

Yang jelas, aku sudah melepas.
Kurelakan tak mendengar jawaban.
Biar Engkau saja yang menjawab tanya ku, Tuhan
Biar Kau yang mengirim jawaban
Yang tidak lagi mengundang pertanyaan.

Siapa pun dia, jika dia adalah jawaban Mu untuk ku,
Mohon tumbuhkan cinta yang barokah di antara kami.
Kemudian jadikan cinta barokah itu menyubur di bumi, dan menyinari rumah kami di firdaus Mu yang tertinggi.

Kamis, 14 Maret 2019

Jadi Hadhonah

Desember 2012 kalau tidak salah. Aku diSMS mbak MR tentang penawaran Hadhonah untuk acara seminar Ayah Hebat.

Saat itu dengan semangat aku mengiyakan, tanpa mencari tahu apa itu Hadhonah.

Tibalah hari H. Aku datang tepat waktu meskipun jauh-jauh dari Klaten.

Aku diarahkan panitia ke sebuah ruangan. Entah apa jobdesk ku, aku belum tahu. Menunggu.

Datanglah sepasang suami isteri bersama anak nya, masih bayi. Lalu anaknya ditinggal pada ku, dengan dititipi tas berisi perlengkapan nya.

Otak ku berputar, akhirnya aku paham Hadhonah itu apa.

Satu demi satu anak diantar ke tempat ku.

Kepanikan mulai melanda.

Ada ibu muda berkomentar, duh Ammah nya cuma 1.

Di sinilah aku mulai paham arti kata ammah.

Ahhaha ha ha ha ha ha.

Satu per satu bayi mulai nangis. Kepanikan semakin pekat.

Tapi alhamdulillah, aku bisa melewati itu semua.

Sudah lama sekali. Sejak itu, belum ada tawaran jadi hadhonah lagi.

Minggu, 24 Februari 2019

Tempat Terbaik Alhamdulillah

Allah memberi ku karunia berupa tempat terbaik dimanapun aku berada.

Oekusi, Ambeno. Awal hidup yang... Panjang ceritanya 
😅
Yang jelas aku bisa menjalani masa kecil yang menyenangkan meskipun ada yang berat juga. Aku jadi anak yang kuat. Desa Palaban, sudut kompleks yang sepertinya aku nyaman di sana. Termasuk daerah yang paling aman ketika terjadi huru-hara. Di saat daerah lain sudah hancur, bahkan beberapa tetangga rumahnya rata dengan tanah, sepetak rumah kami masih bisa ditinggali. Aku baru merasakan Timor-Timur itu tidak lagi aman adalah ketika sudah sampai di pelabuhan. Kacau, tak nyaman, menakutkan. Tapi sebelumnya, tempat kami itu ya nyaman sekali. Semua ada di rumah kita. Hehe, aku belum ngerti susahnya urusan orang tua.

Jepara, di sana aku menemukan akar. Bersentuhan dengan alam yang berbeda, membuat aku sadar bahwa yang ku miliki luar biasa.

Solo, dimana aku memulai langkah menemukan jati diri. Dimana aku mencetak jejak, menatah sejarah. Bahwa aku pernah ada. Bertemu banyak teman, yang di antara mereka ada yang menjadi teman setia. Menghimpun ide, merangkai asa, menekuni suka cita perjuangan masa muda.

Solo yang bersejarah.
Solo yang menyejarah.

Klaten. Dimana aku mengalami banyak hal. Pedesaan yang dekat dengan kota. Mudah dan bebas mengakses segala fasilitas.

Magelang. Tempat yang pernah secara random kucita-citakan. Pusat pemerintahan, namun nyaman, dilingkung persawahan. Dimana kesibukan nyaris tiada jeda. Namun lega, memahami bahwa hidup ini bermakna, dan bahwa aku juga bisa. Dekat dengan orang - orang sholih nan mensholihkan.

Dimana pun, aku ditempa.
Karya Allah lah semua.

Robbi anzilni munzalam mubarokaw wa Anta khoirul munziliin

Kamis, 10 Januari 2019

Peniti 8i2


10 jam mengajar hari ini,


full tanpa jeda selain istirahat pertama dan kedua.

Full semangat. Ku hemat energi di setiap jeda, rebahan tentunya

Hingga tiba di jam terakhir.

Peniti Jilbab ku lepas.

Aku riweuh membetulkan jilbab.. Memunggungi mereka. Berkali - kali

"Kenapa to bu?" Salah satu bertanya.

Peniti nya lepas, Kata ku. (Ada yang bilang uh ribet)

"Emang ikhwan ada yang punya peniti kah?" Aku pesimis.

Ternyata ada. Padahal aku sudah pesimis duluan.

Ada, tapi guedhe guedhe kayak yang buat meniti tas jebol.

Yaudah lah. Mereka kan bukan butuh guru yang rapi jali penampilan nya tanpa cela imoet bak boneka. Mereka butuh guru yang mengajar dengan merdeka, seperti apapun peniti yang nyangkut di jilbab nya.

Aku nunggu mereka menyiapkan peniti nya.
Lama.
Eh ada yang malah ngasih kaca.

Well aku bingung itu kaca buat apa.

Kutaruh di atas lemari saja.

Oh rupanya aku dipremakke bocah-bocah lanang kuwi.

Pikir mereka pasti, bu guru  akan butuh kaca seadanya buat bercermin.

(Uh, tambah ribet, kata ku)

O-ow

Hehey

Maaf ya nak, malah kutaruh di atas lemari

Ku pakai peniti raksasa itu seadanya

Beres.

Dan aku lanjut ngajar seperti biasa.

Oya, karena aku mulai capai, bagian yang di kelas - kelas sebelumnya ku bahas langsung secara dikte, di kelas terakhir ini ku minta mereka mengerjakan di buku tugas. Tepat sesaat setelah kecelakaan peniti ku lepas. Maka ku ambil jeda untuk mengurus nya.

Lalu setelah nya, ku abadikan dengan hati berbunga riang.

Senin, 24 Desember 2018

Wahamku

Pernahkah kamu berlari mengejar bus?
Aku pernah.

Entah busnya yang terlalu lambat
Atau kakiku yang terlampau  cepat

Mengapa tak ku biarkan saja bus itu pergi?
Bus serupa kan masih ada lagi
Masalahnya..
Bus itu,
Simulasi masa depan ku.