Who Amung Us

Sabtu, 14 September 2013

Sawah Bling-bling

<<Foto asli menyusul>>
inilah ilustrasi 'wong-wongan sawah zaman dahulu'
diambil dari blog orang, dapet browsing dari search engine


Zaman dahulu, wong-wongan sawah mah bau, kadang bisa banget meden-medeni cah cilik sing hobine dolan saba tegalan, pake kresek budul sebagai kepala, badannya dari kaos buluk bekas pakai yang wanginya naudzubillah. Yang paling canggih, wong-wongane ada kalung kalengnya biar berisik.

Tak habis pikir, dan seminggu ini uda buener2 guemes pingin menjlentrehkan ini pada dunia. Tiap kali lewat 'kepyur-kepyur kemilau di hamparan permadani padi' iitu, decak hati dan senyum pahit mengiringi langkah roda motor ini (haish, gak keren blas, gak menjiwai persoalan. mbok yha settingnya lari pagi ato apalah gitu biar rada sedikit serasi!)  yang spontan melambat mengarungi jalan yang--padahal--telah beraspal RAPI (dari dulu diaspal sebenernya, tapi kasus rutin selama bertahun2 adalah jalannya cumak bagus sekitar sebulan jelang lebaran. habis itu bolong lagi di sana sini bikin ban gampangan bocor #fenomenadesa). Sayang, belum bertemu kesempatan tuk nyambung sama internet. Makanya baru sekarang, setelah pemandangan itu sudah mulai terasa agak biasa di mata penulis.

Sawah zaman sekarang, sistem pengusir burungnya ihwaw banget. Meriah euy, macam pesta apaa gitu. Bayangpun, masa model wong-wongan sawahe make plastik kado blingbling dikriwil panjang-panjang lalu dibentang puluhan meter di atas permadani padi!

Batinku, "Niat beud.." Bocah sekarang kalau main ke sawah barangkali acaranya 'pesta sawah', bukan lagi nyari belalang atau sarang burung yang tatkala penemunya sedang beruntung ada doorprize telur burung kecil atau anak burung yang melasi dan comelnya masyaallah.

ihwaw!

Istilah pesta sawah ini menarik juga kalau mau dikaitkan dengan pergeseran makna 'pesta kebun' anak sekolahan jaman sekarang. Tapi itu lain waktu sajalah. Ngantuukk berraattt.

(eh, sejak kapan saya jadi tertarik ngungkit-ungkit perkara semantik macam ini?)
#kode

*kelingan jaman cilikanku mbiyen
#vickyorapenting. saya cinta gaya bahasa saya sendiri.


uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu

NB: ini lokasi asli beberapa tahun yg lalu. Tanpa orang-orangan sawah.

Menyusuri Jalan Itu.. (1 Agustus 2010, desaku)

Selasa, 10 September 2013

Mengenang . . .

Ada suatu masa dimana manusia beranjak pergi dan sejenak lupa pada episode-episode tua yang pernah diukirnya. Tapi suatu saat kemudian akan ada saja yang menariknya untuk kembali mengingat kilasan-kilasan peristiwa.

Jika saat itu tiba, hanya tinggal indah yang terasa..

*Banyak orang datang dan pergi, tapi hanya beberapa yang meninggalkan jejak dalam hati. (Anonim)

Minggu, 01 September 2013

Nonton Film Bareng

Bahagia itu ketika malam minggu dengan segala upaya akhirnya berhasil lihat Bapak-Ibu nonton berdua dan kutemani sebagai operator filmnya sembari ngadepin setumpuk buku untuk referensi TA-ku.

Dari sudut pandangku, ga begitu konsen sih, kadang nyindir-nyindir, kadang bantu jawabin komentar-komentar yang sahut menyahut tanpa juntrungan (biar agak jelas dikit lah, heheh), kadang harus ngebantu rewind di scene tertentu atau pause kalo ada yang lagi ada perlu, kadang juga negur kalo udah mulai pada berantem dan panas lagi suasananya.. Belom lagi kalau filmnya pas sampai di quote yang aku suka.. heheheh.

Kalo gitu, seberapa coba hasil "baca buku"ku dibanding urusan nemenin nonton ortu.

Ah, tapi lupakanlah, aku bahagia. Pokoknya, bahagia!
Walau mereka masih terus saling mengelak dari masukan-masukan berbau kompak apalagi romantis.
Tetap saja, senyumku tak putus-putus dari balik meja. :)

http://en.wikipedia.org/wiki/File:Di_Bawah_Lindungan_Kabah_cover.jpg

#Dibawah Lindungan Ka'bah

Soundtrack Kartun Favorit "SHOOT"


https://www.google.co.id/search?q=kartun+shoot&tbm=isch&tbo=u&source=univ&sa=X&ei=efcjUomwOMfHrQegzYHIDQ&ved=0CFoQsAQ&biw=1360&bih=641#facrc=_&imgdii=_&imgrc=YJ-HqCblUVWRhM%3A%3BLhauyrJm5GjX0M%3Bhttp%253A%252F%252F3.bp.blogspot.com%252F-dUtKeDzoqZk%252FTg3Z30zLeSI%252FAAAAAAAAABw%252FY24tSLS5TEg%252Fs320%252Fbig-captain-tsubasa-song-of-kickers-shoot-1-ost.jpg%3Bhttp%253A%252F%252Flittlenewslittle.blogspot.com%252F2012%252F05%252F10-film-kartun-terfavorit-pada-masanya.html%3B320%3B320
Setiap saat bayang selalu hadir menerpa
Walau pikiranku selalu dipenuhi kebohongan
Namun semua, membuatku sangat suka
Karena semua beban berat tak kurasakan

Rasa itu selalu ada dalam hatiku
Membuat gelora membara di setiap langkahku
Genggam erat semangat di tiap nafasku
Oh kini, semuanya telah mulai berubah...

Kebahagiaan bukan kebohongan
Kan kubuktikan semuanya pada-MU
Bahwa diriku telah banyak berubah
Karena diri-MU

Kepercayaan kunci kemenangan
Kan kutuliskan di dalam ingatan
Memberi Kasih dan Kekuatan
Hingga ku bahagia.

Jumat, 30 Agustus 2013

KATA HATI


Bukan ia batu
Bukan mesin, bukan mesiu
Ia manusia
Sepertimu

                Ingin sama dalam ilmu
                Ingin sama dalam karya
                Ingin sama dalam dialektika
                Ingin sama dalam takwa
                Ingin sama dalam guna

Dan di dalam
Tak ingin pula fitrah-fitrah ditinggalkan
Sebabnyalah ia dimuliakan

Tak perlu mahkota berpermata atau singgasana bertatah mutiara
Tidak pengaguman, pengagungan, apalagi penguasaan
Tak pula takhta menikam ego mulia

Cukup pelibatan sebagai manusia
Adil
Sewajarnya
Dalam persaudaraan semesta



ruangbiru 22.37 010413

Marahmu, Kendalikan!


Bondan pulang sekolah dengan keringat bercucuran. Hatinya panas, sepanas matahari siang itu. Ia sedang kesal karena ban sepedanya bocor di tengah jalan, padahal uang sakunya terlanjur habis untuk jajan. Terpaksa ia tuntun sepedanya sampai rumah. Sesampainya di rumah, ia ingin langsung makan lalu tidur karena lapar dan kelelahan. Akan tetapi, dilihatnya meja makan kosong melompong. Tanpa pikir panjang, jambangan bunga ibunya dibanting hingga pecah berkeping-keping. Sejam kemudian, kakaknya datang dengan membawa bungkusan makanan. Orang tua mereka memang sedang keluar kota, tapi Bondan lupa karena terbakar emosi.

Bandingkan dengan kisah yang ini. Suatu hari di sebuah tempat ibadah, datang seorang laki-laki dari kampung nun jauh di pelosok negeri. Tanpa menghiraukan orang-orang yang tengah berkumpul, ia buang air di sudut bangunan. Para jamaah kaget dan siap menghajar laki-laki ngawur itu. Tetapi dengan sigap pimpinan mereka ambil tindakan. Jamaah yang sedang marah ditenangkan, orang kampung tadi dibiarkan menuntaskan hajatnya terlebih dahulu, lalu diajak bicara dengan wajah penuh senyuman bercahaya.

ruang tersembunyi yang adeeem bgt, gambar browsing dari google dgn kata kunci 'es', hehehe

“Ah, kita kan tak selevel dengan Nabi,” tukasmu sinis. “Kalau Nabi, wajarlah bisa tak marah sama sekali!”

Ya, cerita yang kedua memang cuplikan dari kisah hidup Nabi kita. Tapi hei, bukan berarti karena kita bukan Nabi lantas kita pantas marah-marah seenak hati. Justru kemarahan itu tantangan besar yang harus ditaklukkan oleh diri kita sendiri.

Ngomong-ngomong soal marah, jadi ingin merenungi hidupku sendiri. Aku dulu gampang marah. Parahnya, sekali aku marah, kemarahan itu tercetak nyata di wajah, suara, dan semua gerak-gerikku. Tak jarang ini menimbulkan masalah baru.

Hingga pada suatu hari, aku menemukan cara untuk menenangkan diri. Jika sedang marah, aku membayangkan sebuah ruangan yang gelap dan sepi. Tempat yang tak pernah terjamah orang lain, ia sepenuhnya milikku. Di sana sangat aman, aku bebas menyembunyikan segala aib, rahasia, asa, dan juga cinta :) Termasuk pula rasa marah, entah itu yang memang seharusnya ada, maupun yang tak seharusnya ada. Tempat itu ada di salah satu sudut dalam hatiku.

Pemikiran ini mulai muncul sejak aku mengikuti salah satu training kepemimpinan. Di sana, ada yang diam-diam menancap begitu dalam di benakku; nasehat bijak seorang kakak. Kala itu, dia sang pembicara bertutur pada forum, “Seorang pemimpin harus selalu punya ruang tersembunyi dalam dirinya untuk menyembunyikan segala kekecewaan.”

Jlebb. Begitu saja pesan itu menikam pusat memori di hatiku. Tanpa penolakan, tidak ada bantahan, tak sempat terbersit sedikitpun keragu-raguan. Aku yang pada saat itu tergolong orang yang sangat mudah marah, mendadak memiliki  paradigma baru tentang kemarahan. Bahwa ternyata, tidak selalu kita berhak marah untuk apapun yang kita mau. Benarlah kata pembicara itu..

Saudaraku, sejatinya setiap kita adalah pemimpin. Minimal pemimpin bagi diri kita sendiri. Yang namanya pemimpin itu pasti akan selalu besinggungan dengan berbagai urusan di luar dirinya. Ada yang tidak sepakat atas keputusan yang kita buat. Banyak orang tidak melakukan apa yang menurut kita ‘seharusnya…’. Saat kita mengajukan ide untuk perubahan yang positif, ada saja yang tidak memahami maksud baik kita dan justru menyalahkannya.  Bisa juga tiba-tiba seseorang datang dan menghancurkan sebuah rencana sempurna, padahal awalnya dia tidak ada hubungannya dengan rencana kita.

Kecewa. Marah. Lantas itu yang muncul? Wajar. Sangat manusiawi jika rasa itu hadir. Namun bukan berarti kita boleh kalah pada amarah, lalu emosi diperturutkan hingga kemudian segalanya jadi makin berantakan.
Setidaknya, jaga agar muka jelekmu tidak tertangkap oleh mata-mata lugu tak bersalah yang sedang punya urusan lain juga denganmu. Mereka tak layak jadi tempat pelampiasan marah itu. Janganlah kau cederai hati mereka. Ditambah lagi, kau harus ingat bahwasanya hati tiap-tiap orang  itu tidak sama tekstur serta kerapuhannya.

Ada kotak peredam kecil dalam diri kita—yang—bila digunakan sebagaimana mestinya, kita akan merasa jauh lebih baik di dalam, dan yang  di luar juga bisa berjalan dengan lebih mulus tertata. Kotak peredam ini hanya bisa dioperasikan oleh pemiliknya sendiri. Kalau ia berfungsi dengan baik, secara psikologis kita akan merasa jauh lebih tenang, mampu menjadi jernih dalam memandang persoalan. Dalam kehidupn sosial, kita akan dikelilingi oleh orang-orang yang ternyata bisa lebih menyenangkan daripada yang kita kenal sebelumnya, padahal orang-orangnya sama. Dan bukan mustahil, prestasi dan karir kita akan melejit bahkan tanpa diduga-duga. Itulah dahsyatnya manfaat pengendalian emosi.

So, jangan mau terus-terusan jadi orang pemarah. Kalau kau mulai marah, temukan segera kotak peredam itu, lalu gunakanlah pada saat yang tepat. Tidak sulit melakukannya, asal kau tidak lupa minta Tuhan memudahkannya.

Terima kasih banyak untukmu yang sudah sudi menyempatkan diri membaca coretan ini. Dan salam semangat untuk Orang Sanguinis dimanapun berada. Calm down ^_^
Untuk diriku sendiri yg selalu saja diuji..


Rie Ramadlani, thanks to Bakarsateflp 250813 13.00

Kamis, 29 Agustus 2013

Di Atas Awan

Aku menyukai lagu-lagu. Salah satunya ini,


"Cinta satukan hati
Kuatkan jiwa menghadapi dunia
Segala cinta dan luka
Kuatkan semua persahabatan
Kita penantang impian
Di atas awan kita kan menang
Kita penakluk dunia
Di atas awan kita kan menang, menang
Bila kau merasa sedih
Ingatlah bahwa kau tak sendiri
Tanpamu tak akan sama, tanpamu semua berbeda
Kisahmu juga kisahku, selalu bersama
Kita penantang impian
Di atas awan kita kan menang
Kita penakluk dunia
Di atas awan kita kan menang, menang
Melangkah di bawah mentari yang sama
Mencari tempat kita di masa depan
Berjanji kita tak akan putus asa
Walaupun semua tak akan mudah
Kita penantang impian
Di atas awan kita kan menang
Kita penakluk dunia
Di atas awan kita kan menang"
-Nidji, Di Atas Awan (OST 5cm)





Tanpamu tak akan sama, tanpamu semua berbeda


Melangkah di bawah mentari yang sama
Mencari tempat kita di masa depan
Berjanji kita tak akan putus asa
Walaupun semua tak akan mudah