Who Amung Us

Jumat, 10 September 2021

Nasi Megono

Pagi ini sarapan kami di pondok adalah sekul/sega/nasi megono. Makanan istimewa, karena masaknya butuh effort yang tidak biasa. Lama, kata ibu dapur tadi.

Pernah dengar, konon menu makanan ini ada sejarah nya. 

Kamu tahu kan, petani? Kerja di sawah, panas-panasan, peras keringat habis-habisan, mengeluarkan banyak tenaga, demi ketersediaan bahan pangan di dapur-dapur kita. 

Biasanya, para lelaki petani ini, pada siang hari dikirimi makan siang oleh istrinya atau anggota keluarga nya. Bisa kamu bayangkan, siang terik, membawakan makanan, jalan di pematang sawah? Itu juga bukan hal yang semudah membalikkan telapak tangan.

Kalau misal nih, menunya dibuatkan sayur berkuah, seperti sop, sayur bening, bobor, atau sayur asem. Cukup berisiko tumpah, ya kan? Apalagi kalau musim tanam dan musim panen, yang biasanya digarap bersama oleh banyak orang. Inilah salah satu wujud budaya gotong royong Bangsa kita. Tapi, mengantarkan makanan untuk orang sebanyak itu, bukankah repot juga kalau menunya berkuah?

Maka, dibuatlah inovasi berbasis kearifan lokal: nasi/sega megono. Nasi putih yang gurih dan lezat sekali karena diudak di dandang langsung bersama sayur dan lauknya: sejenis urap dan teri. Ada pelengkap misalnya gorengan tempe, peyek, dll. Biasanya para wanita mengantarkan nya dengan cara digendong menggunakan bakul.

Kalau menu dapur IF pagi ini, pelengkap nasi megono nya ada kering tempe kriuk (favorit ku), peyek ikan (tidak tahu namanya), dan sepertinya ada telur juga, hanya saja waktu aku ambil subuh tadi, masih diiris-iris telur dadar nya, belum ready.

Dengan konsep menu yang unik ini, membawakan makanan ke sawah menjadi lebih praktis. Ya, meskipun masaknya lebih repot juga. Sangat padat, mengenyangkan, dan bergizi. Cocok sekali untuk para petani yang pekerjaannya membutuhkan banyak kalori. Cocok juga untuk para pelajar, yang pada masa pertumbuhan nya memeras otak untuk belajar. Belajar kan bikin lapar, ya nggak? Proses pertumbuhan juga butuh nutrisi yang cukup. Makanya FM rame, kantin laris. Dapur pun selalu ngebul.

Kuliner ini belum pernah kutemui di Klaten, Jepara, Solo, apalagi Timor-Timur. Pertama kali aku mengenalnya adalah saat acara LTN NU di Pekalongan. Waktu itu aku penasaran, tapi baru tanya-tanya dan belum berani mencicipi. Aku mulai merasakan nikmatnya nasi megono itu di Magelang; sepotong surga di bumi: Pesantren Ihsanul Fikri (Mungkid) tempatku mengamalkan ilmu sekaligus mengais rezeki. 

Awalnya jujur terpaksa aku memakan nya, karena tidak ada pilihan lain. Tapi sekali mencoba, ternyata aku langsung suka. Nasi megono. Ini sungguh lezat. Kalian harus coba! Yakin.

Senin, 23 Agustus 2021

Datangnya Kawan Lama

 Ya Allah. Seperti itulah masa lalu ku. 

Aku pernah ngajak janjian di rumpun pisang belakang sekolah. Batal karena malu, suratnya dibaca teman-teman sekelas.

Aku pernah ngasih kado ulang tahun, isinya Qur'an dan kamus Inggris Indonesia. Ditolak mentah-mentah. Bertahun kemudian, ditinggal nikah.

Aku pernah ngajak kopi darat jaman pertemanan SMS-an. Menjadi pelajaran hidup, bahwa tidak semua orang bisa memahami maksud kita. Dan selalu ada orang yang bertolak belakang dengan cara pandang kita.

Aku pernah membayang-bayangi hidup orang dengan pesan-pesan kaleng. Lalu kuhentikan. Bertahun kemudian, aku mengaku dan mengiriminya puisi penghabisan. Lalu didiamkan, dan aku pun mundur.

Aku dulu begitu. Ya Allah, jika semua itu salah, aku mohon ampunan. Jika semua itu jahil, aku mohon ilmu dan akal sehat untuk selamanya. Jika semua itu nista, aku mohon disucikan dari semuanya. Jika semua itu hina, aku mohon dimuliakan Rahmat-Mu Yang Maha Cinta.

Aku bukan menyesali perbuatan yang mengatasnamakan cinta. Tapi aku takut sepenuhnya pada penilaian Mu saja. 

Ya Allah, mohon beri kesuksesan dunia akhirat untuk mereka semua. Dan mohon jaga iman hamba, jangan biarkan iman ini lepas ya Allah. Beri hamba nikmat taubat nasuha sebelum maut menyapa.

Ya Allah.. tadi Nunung teman 3f espero datang. Dengan tujuan utama menitipkan amanah untuk kubantu salurkan. Menyelipkan kabar Rindi sudah sukses sekarang. 

*Pas Rindi nikah, aku sempat tahu. Kata temen-temen cewek, aku diundang. Bahkan..Diajak berangkat barengan. Sayangnya.. Waktu itu aku sibuk.. Ngga bisa datang.. (karena sibuknya adalah: Sibuk mendamaikan perasaan.)

Ya Allah.. satu kalimat terakhir itu.. mengantar ku pada banyak ingatan. Terima kasih Ya Allah, atas teguran Mu yang teramat lembut ini. Ampunilah segala dosa yang telah hamba buat Ya Allah. Ampunilah hati yang tak terhijabi ini. Ampunilah ya Allah.. Ampuni hamba Ya Allah..

Matikan hamba dalam keadaan yang baik Ya Allah

Minggu, 22 Agustus 2021

Semacam Insecure

Ya Allah, siang ini hamba Merasa sedikit tidak nyaman di hati. Hamba menyaksikan teman-teman hamba, di usia yang hampir sama dengan hamba, mereka, pada akhir pekan nya, satu persatu memposting apa-apa yang mereka masak dan kreasikan untuk keluarga nya.

Ada yang bikin pentol balado, pempek ikan pindang, donat menul, puding pisang, cilok dan dimsum sayur, ayam rica lada hitam, Chocolate melt, pokoknya segala sesuatu yang beda dari hari-hari biasanya.

Apakah itu refreshing ala mereka, Ya Allah? Kenapa aku merasa berbeda, Ya Allah? 

Akhir pekan ku berjalan menyenangkan di atas kasur. Ikut Zoom kelas Women in Marriage, Seminar dan Praktik Relaksasi Dzikir dan Positif Self Talk, Webinar Psikoterapi Islam sesi 2, Zoominar Keuangan Keluarga. Di sela-sela pekerjaan yang masih harus dijalankan di akhir pekan: ngurusin anak-anak, sebagai musyrifah di asrama. 

Semua berjalan menyenangkan, sampai aku melihat status-status mereka yang tampak sangat Bahagia, berhasil menghadirkan menu istimewa di hari libur, untuk keluarga mereka.

Ya Allah, memasak itu sulit bagiku. Dan biasanya, setiap kali aku masak, ada saja yang dicela dari masakan ku, atau dari caraku memasak, caraku mengupas, caraku memegang pisau atau munthu atau serok.

Bahkan seperti sekarang. Aku ketrigger untuk masak kan. Mumpung nanti sore ada rencana pulang. Mumpung juga ada bumbu tomyam yang belum sempat kemasak. Tapi nyari bahan saja berat. Nanti pasti kalau sudah pulang, males mau keluar belanja bahan masakan. Sempat madik-madik ke teman kerja yang jualan ayam. Ternyata ngga kepeneran, beliau jualnya ayam kampung premium. Uangku terbatas. Lagipula untuk sekedar coba-coba kayak gini, mendingan kan pakai ayam negeri yang biasa aja. Tapi jadinya belum dapat bahan apapun. Baru tahap pra belanja saja aku sudah semacam Insecure.

Kalau ke warung... Sedikit trauma apa ya. Sempat dulu dicurigai orang kalau aku hamil. Padahal belum pernah ada kabar keluarga ku mantu. Ya emang aku makin gemuk sekarang, bentuk perut jauh dari ideal. Waktu itu sih aku berhasil membawa diri, tak tanggepi santai gitu. Tapi ternyata, sampai bertahun-tahun kemudian, badan semakin mekar, mau ke warung, kok masih ada rasa khawatir kalau lagi-lagi bakal disangka hamil.

Ya Allah. Ketika di asrama pun. Karena setiap hari dimasakin. Motivasi ku memasak semakin nyungsep. Rasanya semacam Insecure setiap kali tetangga asrama di bawah asrama ku memasak. Aku selalu tahu, karena aroma bumbu yang lagi ditumis Rosa, pasti naik ke asrama ku. Rasanya tuh langsung, "Duh kapan ya aku mau masak lagi..? Kapan ya aku bisa sesemangat dia? Kapan ya aku bisa meluangkan waktu untuk melatih motorik memasak?"

Di banyak waktu luang, seringkali kualokasikan untuk lihat contoh contoh video memasak. Sepertinya gampang. Sepertinya aku bisa. Tapi nggak tahu kapan aku eksekusi nya. Dan ngga ngerti, apakah bisa memuaskan rasanya nanti.

Mungkin sawang-sinawang, Ya Allah, ya..? Mereka yang sudah rempong itu.. mungkin mereka rindu aktivitas yang seperti ku. Sedangkan aku, yang sudah nyaman begini sebenarnya, malah insecure lihat keterampilan, kebanggaan, kesuksesan sederhana mereka.

Ya Allah.. izinkan nanti atau besok, aku bisa merasakan tomyam itu seperti apa, dari hasilku coba-coba masak sendiri. Meskipun bumbunya pakai yang sudah diracikkan sama ibunya Kintan.

Di luar itu semua Ya Allah, hamba bersyukur pada Mu.. Hamba masih Kau beri kebebasan untuk melakukan apapun yang baik yang hamba inginkan. Terima kasih Kau masih berikan hamba pilihan untuk sepenuhnya menguasai diri hamba.. mengoptimalkan segala potensi untuk memperbaiki dunia.. untuk memberikan yang sebaik-baiknya bagi mereka yang hamba cintai.

Ya Allah, hambaMu ini sedang rindu curhat padaMu. Tiada tempat curhat sebaik Engkau, ya Rabb, Ya Rahman, Ya Ghaniy.. Mohon rezekikan apa-apa yang hamba butuhkan, dan rizkikan pula apa-apa yang hamba semogakan.. Aamiin.


Sabtu, 31 Juli 2021

Sekali-kalinya Datang ke Nikahan Sodara

Memang ya. Tidak baik berkomentar seenaknya dan setahunya tentang keluarga, ataupun mantan keluarga orang lain. Dampaknya bisa fatal. Kita menyimpulkan, hanya sebatas secuil kulit luar nya saja. Padahal kulit itu masih lebar sekali, masih belum daging dan tulangnya.

Baru aku tahu, rasanya mendengar komentar orang yang sok tahu itu sakitnya seperti ini. Baru aku mengalami, lidah tak bertulang itu segininya menyakiti. Aku terlalu polos sebelum ini. Dan duniaku biasanya terlalu indah, tidak mencerminkan dunia nyata yang wajar saat ini.

Ah, wajar? Aku tidak mau mewajarkan sebuah kesalahan. Salah ya tetep salah. Semoga Allah lindungi aku, Allah jaga aku, agar aku jangan sampai menyakiti orang lain dengan lidahku.

Rabu, 28 Juli 2021

Aku Rindu Edelweiss dalam Diri ku

A Brand New Habit

Aku sedang mencoba memulai kebiasaan positif baru: membuat list Agenda Prioritas pekanan dan harian. Sudah ku mulai sejak Senin kemarin. 

Aku ingin mencoba menilai pencapaian ku sendiri. Selama ini kukira aku sudah hebat. Padahal banyak sekali batu-batu kecil yang terabaikan pada kenyataannya. Aku terlalu cuek pada lingkungan, dan terlalu fokus pada apa yang sedang ada di pikiran ku, batu-batu yang ku anggap besar itu. Akibatnya, aku tidak seimbang, belum bisa tuntas dalam kehidupan. Terlihat tidak mandiri, berantakan, egois, dan kurang peduli.

Fatal. Semua itu justru diri ideal ku. Kalau itu semua negatif, otomatis kalau dibiarkan terus terusan, citra diri ku akan jadi negatif. Padahal sebagian orang mengenal ku sebagai sosok pembelajar lah, semangat lah, prestatif lah, percaya diri lah. Mereka tidak tahu dalam dalamnya aku.

Sudah setahun ini Bu Asfi mendorong ku untuk melakukan ini. Kebiasaan positif membuat daftar agenda harian. Tapi kendalanya karena pakai buku agenda batik gelatik gitu, mana guedhe. Sering suka ketlisut, lupa, ketinggalan, dan sebagainya.

Tapi aku lihat-lihat, sejak awal kuliah, Lili adikku suka melakukan ini juga. Tapi lebih canggih. Dia pakai note HP. Kalau ada agenda mendadak, tinggal diselipkan di tengah-tengah. Kalau sudah terlaksana, tinggal dicoret/dikasih tanda. Langsung terasa gitu evaluasi diri nya.

Eh kemarin kok tiba-tiba aku tergerak membuat juga. Dan lalu setelah membuat list, kok rasanya puas dan tertantang. Kemudian aku menetapkan nya sebagai habit baru ku. Insyaallah. 

Semoga lancar, Istiqomah, dan berdampak positif.

Sabtu, 24 Juli 2021

Lelah Kami Lunas: Tugas Kedua Psikologi Perkembangan

 Makasih ya Allah.. jerih payah kami terbayar lunas. 


Terima kasih atas nikmat teman kelompok tugas yang asyik dan bisa diajak kerja sama betulan. Terima kasih untuk malam-malam produktif yang menyita banyak jam tidur. Terima kasih. Aku merasa hidup. Aku merasa berarti. Asyik sekali mengerjakan tugas ini.


Dan segala puji hanya bagi Mu, di akhir presentasi, dapat apresiasi dong dari Bu Hanifah dosen favorit ku. Katanya pasangan tim 4A dan 4B ini yang paling lengkap kontennya, padat ilmu, dan kritis telaah nya, dibandingkan dengan kelompok kelompok yang sudah presentasi kemarin kemarin. Dan kelompok 5 pekan depan diminta meneladani kami.


Uuuh ya Allah, rasanya legaaaa.. Totalitas nya kami mengerjakan tugas ini, rupanya Engkau beri hasil terbaik. Aku langsung mengabaikan 3 temanku yang sambil presentasi sempat cekikikan menertawai dirinya sendiri. Dan 2 teman lain yang nggak kebagian waktu untuk mempresentasikan hasil observasi yang 5 responden lagi.


Ariva paling responsif, bertanggung jawab atas makalah.


Isma juga aktif sekali, bersama Nadya (Nadya awalnya tidak terlalu sering muncul di grup, tapi menjalani tugas secara japri, mungkin awal-awal masih pemalu) bertanggungjawab mencarikan materi/referensi untuk konten makalah.


Lia responsif, bertanggung jawab atas slide presentasi. 

Ini bagian paling bikin deg2an, bisa selesai tepat waktu atau tidak. Soalnya makalah nya juga jadinya mepet. Lembur semalaman mereka.


Aku aktif bagian yang memancing respon teman-teman sejak jauh-jauh hari, ngopyak-opyak setiap progres, dan bertanggung jawab atas observasi 4 orang dewasa awal. Sebenarnya awalnya ada 5 calon responden, tapi yang 1 telat banget merespon, sudah mulai dipresentasikan, eh dia baru mulai menjawab 1 demi 1 pertanyaan wawancara ku.


Shibaa responsif, bertanggungjawab atas observasi 2 responden dewasa madya. Masyaallah sekali, lagi ngga ada laptop, dia tulis tangan dong laporan nya. Ketika menyadari bentuk laporan nya kurang sesuai dengan format yang diminta, dia revisi dong. Tulis tangan lagi, dengan amat rapi. Total 6 halaman buku tulis. Setelah itu Isma yang bantu mengalihmediakan laporan Shibaa.


Anisa agak telat respon, sudah menjelang deadline baru buka grup tugas. Tapi setelah itu langsung aktif sekali. Dia sukses bertanggungjawab atas observasi 1 responden perempuan yang anaknya banyak. Dalam waktu yang sangat terbatas. Dan dia yang bikin rapat fiksasi pembagian tugas presentasi kami jadi efektif dan cepat clear.


Terima kasih Ya Allah. Tugas kali ini sungguh memberi ku pengalaman untuk belajar bekerja sama dengan efektif. Kelompok kami leaderless, tapi bisa kerjasama efektif dengan hasil outstanding. Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah. Semoga di kehidupan nyata di tengah masyarakat, aku bisa menerapkan ini juga. Dan di kehidupan rumah tangga kelak, semoga lebih baik lagi daripada ini.

Btw tugasnya adalah: menyusun makalah tentang karakteristik dan tugas perkembangan masa dewasa awal dan dewasa madya, observasi minimal 3 orang responden sesuai rentang usia yang diminta, lalu membandingkan hasil observasi itu dengan teori di makalah; dipresentasikan. Seru!

Kamis, 22 Juli 2021

Idul Adha Paling Bahagia

Sejauh ingatanku, Idul Adha kali ini, 1442 H, adalah hari raya paling bahagia untuk ku. Baru sekarang aku merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya pada sebuah hari raya. Sebagai seorang individu mandiri. Yah, mungkin dalam beberapa hal, aku memang terlambat dewasa.

Idul Adha biasanya bagiku identik dengan capek, pagi-pagi harus pakai baju bagus, jalan jauh ke masjid Jami, ngelewatin rumah rumah orang tak dikenal; ketemu banyak orang tak dikenal; kerja bakti bersama ibu-ibu yang pasti disambi ghibah, ghibahin orang yang tak kukenal pula; makan bersama warga dengan menu daging yang dimasak jadi menu yang tidak kusukai: gulai; bau daging di mana mana, dapur nglinyit, cucian piring semuuua gupak lemak daging; gajih yang disimpan sampai lama; ngobori kompor tungku kayu api, lama sekali; kulkas bau nauzubillah; tempat sampah lebih kotor dari biasanya; repot sekali Bapak-Ibuk masak daging macam-macam yang aku nggak ngerti gimana cara bantunya, dan jijik juga ngebayangin ngolahnya; makan enak memang, menu daging, tapi harus nasinya banyak dengan lauk sedikit sedikit supaya hemat, supaya serumah semua kebagian dan tahan untuk beberapa hari.

Semuanya kesannya negatif. Dan aku menjalani semuanya masih sebatas bentuk rasa tanggung jawab ku sebagai anggota masyarakat. Bukan sebuah kesyukuran, kebahagiaan, dan perayaan yang aku sendiri menikmatinya.

Baru kali ini, aku merayakan Idul Adha dari hati. Bahagia itu baru muncul di hatiku sendiri.

Ya Allah, aku baru sekarang bersyukur pernah punya keluarga lengkap, dengan jumlah anggota keluarga banyak: 8 orang. Baru sekarang aku menyadari nikmatnya makan berbagi, sedikit sedikit yang penting rata. Baru sekarang aku menyadari betapa repotnya Bapak-Ibuk masakin berbagai menu daging yang menyesuaikan selera setiap anaknya. Betapa nikmatnya makan sate goreng dengan potongan kuecil-kuecil sesendok sayur mungil, untuk nasi sepiring besar, tapi makan bersama, bapak ibuk aku dan 5 adik.

Aku dulu, yang jijikan itu, tidak pernah membayangkan kalau suatu saat di masa depan, Bapak dan Ibuk ku akan berpisah. Aku juga tidak pernah kepikiran kalau di usianya yang masih sangat muda, adikku sudah akan berpulang duluan menghadap Nya. Aku tidak pernah mengira sebelumnya, di suatu hari raya, yakni tahun ini, keluarga kami akan terpencar sekian jauhnya. Bapak di Klaten sama Lia dan Pipi, Ibuk di Blitar sama suami barunya, aku di pondok IF Mungkid Magelang, Yayik di alam kubur (allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu), Mama memilih lembur di Tangerang, dan Lili dengan segudang kesibukannya di Jogja.

Tapi Ya Allah, baru sekarang juga aku merasakan senangnya keluar dari isolasi mandiri, dan diperbolehkan kembali bertemu dengan manusia sehat, tepat pada hari raya. Boleh shalat Ied, meskipun aku malah datang terlambat karena miskomunikasi. Sampai di lokasi, pada jam yang disebutkan Pak Mudhir pondok di grup, eh lha kok sudah khutbah. Jadinya cuman berdiri di luar ndengerin khutbah, jaga jarak dari ibu-ibu yang lagi haid sambil momong anak (karena Aku masih baruuuuu banget keluar dari area isolasi. Masih harus diwaspadai).

Baru sekarang aku merasakan senangnya hari H Idul Adha nyate bareng temen temen pengasuh dan musyrifah; mulai dari nyuci daging, motong2, sampai ngipasin sate di panggangan arang. Baru sekarang aku puas makan sate sampai kenyang. Biasanya dijatah, lima-enam tusuk sate kambing setahun sekali, dibagi untuk dua kali jadwal makan. Jadi makan sepiring besar nasi dengan dua atau tiga tusuk sate. Sekarang aku bisa makan sate banyak, selain bikinan kami sendiri, juga ngincipin sate bikinan anak-anak yang dilombakan; tanpa nasi bahkan, itu saja bisa sampai kekenyangan.

Baru sekarang, aku merasakan senangnya kerjasama ngurusin qurban di hari tasyrik Pertama. Aku nggak modal apa-apa, cuman bantu megangin daging, temen yang ngirisin misahin koyor nya. Bantu-bantu masukin ke plastik, nimbang, lalu mbungkus pakai plastik luar yang berlabel yayasan. Senangnya bisa ketemu teman-teman karyawan yang jarang ketemu karena beda unit, tapi aku kenal dan aku tahu persis hubungan di antara kami. Kerjasama yang lebih banyak tangan yang kerja dibandingkan mulutnya. Canda-canda sederhana sesekali yang meringankan capek di badan.

Baru sekarang juga, hari tasyrik kedua, aku memilih terjun ke area "jerohan" sapi. Bagian tersulit di antara berbagai opsi yang bisa ku ambil. Geli sendiri karena ngga bisa ngasah pisau, ngga berhasil motong koyor. Akhirnya dikasih job yang gampang, masukin jerohan ke plastik. Kujalani sepenuh hati, memastikan komposisi koyor, gajih, ati, jantung, paru, dan kerongkongan lengkap di setiap plastik nya. Sambil sepenuh tenaga ngebarisin plastik jerohan biar gampang ngitungnya. Berusaha mengimbangi gesitnya guru Ikhwan yang nanganin pemotongan koyor dan gajih, yang posisinya tepat di depan ku. Lalu tiba-tiba aku ngos-ngosan. Apa kayak gitu tadi ya yang namanya sesak nafas? Aku pun berhenti sejenak menormalkan badan. Tapi kemudian, area kerjaku tadi sekarang tidak muat lagi. Lalu aku ganti job lagi: mbukain plastik wkwkwk. Lucu sekali. Satu-satunya keahlian ku hari ini, di area jihad pemotongan dan pengemasan jerohan, adalah mbukain plastik! Sama ngebarisin dan ngitungin jerohan terkemas. Tapi aku tahu, kontribusi ku tadi lumayan mengefektifkan pekerjaan. Dan kesadaran ini membuat ku bahagia. Aku merasa berharga. Walaupun setelahnya, sekarang aku sakit, meriang nggreges-nggreges. Kecapekan, keringetan, masuk angin, dan sepertinya, kolesterol naik.

Baru kali ini, rasanya bahagia betulan dapat daging, hasil kerja keras mbagi sebelumnya. Banyak, dan masih bingung mau diapakan. Tapi senang. Jerih payahnya terbayar lunas. Dan di hati tuh rasanya puas.

Terima kasih Ya Allah atas idul Adha 1442 H kali ini. Hari raya betulan. Makan-makan enak beneran! Alhamdulillah bini'matihi tatimus Shalihaat..