Who Amung Us

Jumat, 19 Maret 2021

Sebelum Lelap

 

Sisa Aqua itu
Semoga jadi jariyah kita
Sebab aku kini seorang guru
Sedang salah satu guru ku, Anda

Senin, 15 Maret 2021

Pria Bercadar


Kau mulia

Karena usahamu menjaga

Memang banyak goda

Kau memilih yang benar, dan aku bangga


Kadang aku heran

Orang tertentu begitu mudah dijatuhi hati

Hanya karena sekelebatan pandangan mata

Orang lainnya terlunta-lunta tanpa ada yang mau peduli

Meski menghias diri sedemikian rupa


Tapi aku mengerti

Segala ini adalah ujian

Siapa yang paling takwa

Siapa yang paling baik amalnya


Mumpung masih Corona

Tetaplah pakai masker mu, wahai pria

Sebab wanita juga punya mata

Dan virus tidak perlu repot-repot memilih inangnya.


Selasa, 09 Maret 2021

Sore yang Tenang

 Kamu tahu wajah sepasang orang tua yang anak gadisnya dilamar seorang pemuda?


Wajah itu beriap riap, matanya bercahaya indah. 


Apakah aku sudah durhaka, meredupkan lagi sinar di mata mereka?

Membuat hati mereka kecewa, setelah sebelumnya membubung tinggi dengan asa?


Apakah aku terlalu berani memutuskan nasibku sendiri? Apakah aku sudah melukai hati seseorang yang baik? Apakah aku terlalu sombong, sok dan terlalu meremehkan orang yang tidak sepaham, seperti katanya?


Apakah seharusnya aku menerima tawaran minyak yang ingin bermain dengan air?


Apakah ada doa atau luka orang yang menghambat bahagia ku sendiri?


Haruskah aku minta maaf dan menarik kembali keputusan lama itu?


Atau biarkan saja berlalu? Lalu sabar saja sampai ada yang datang lagi, yang jauh lebih baik dari yang sebelumnya, yang tidak ada alasan bagiku untuk menolaknya? Dan mari kita saksikan cahaya itu berbinar kembali di kedua pasang mata mereka. Untuk selamanya. Akankah...?

Jumat, 05 Maret 2021

Aku dan Kerelawanan

Remaja yang kemarin setoran hafalan terakhir, adalah putra seorang relawan. Dia lahir ke dunia ketika ayahnya sedang diterjunkan di Aceh, Tsunami besar itu.

Tentara cahaya Muhammad ku, arti namanya. Jaisyu Nur Muhammadi. Ada yang hangat di pelupuk mata.

Tentu ada alasan kenapa aku membeli buku Jejak-jejak Kemanusiaan Sang Relawan ini. Alasan yang sama yang membuatku berbinar mengamati aktivitas mas-mas dan mbak-mbak SAR Klaten di RSPD, sewaktu aku mengurus lomba panjat dinding bersama keluarga ku di Emapal. Yang membuat ku begitu respek dengan Tim pencari Chandra, santri TPA Mipitan kami yang hilang di sungai. Yang membuat ku rela berhutang 75.000 kepada LKI kala itu, (kala biaya hidupku harus cukup dengan 200.000 sebulan) demi mengikuti pelatihan Relindo/FSLDK. Yang membuat ku begitu sayang pada kaos hitam-oranye itu walaupun gerah saat dipakai, kekecilan, dan slayer nya hilang, jatuh di jalan suatu pagi antara kos Khotimah dan kosan baru Hana di Mendung. Yang membuatku amat bersemangat di Santika Solo, meskipun kemudian riwayat militansi itu berujung dengan pamit pindahan. Yang mendorongku membubuhkan Korsad dalam sepenggal tulisan ku yang masuk antologi warna biru ungu itu.

Alasan, yang menghangatkan mata dan hati.

Buku ini ditulis oleh seorang relawan senior yang pernah kukenal lewat akh Firmansyah Abakar. Beliau adalah dosen nya di Bali sana. Dan sekarang mengajar di USU. Ahli drone dan kehutanan. Aku menyimak sepak terjang beliau. Aku tahu, bapak itu, setiap ada bencana di mana saja, pasti berangkat ke sana dan turun tangan. Begitu tahu Pak Siddik nulis buku, aku ambil kesempatan menyerap energi beliau lewat membeli bukunya. Dan tentu dibaca insyaallah.

Buku ini tersedia di perpustakaan Bu Ridla. Kusediakan untuk bisa dibaca lebih banyak orang. Sekarang minimalnya remaja remaja itu, yang rajin nongkrong di tangga depan asrama ku.

Syukur ya Allah, syukur... Cita-cita ku punya perpustakaan pribadi yang dibuka untuk umum ini sudah terwujud. Aku ingin mencerahkan, mencerdaskan, menginspirasi. Belum mampu lewat tulisan atau acara yang kuisi, maka bisa saja lewat tulisan orang yang terseleksi. Semoga jadi jariyah. Semoga Allah Ridha.


Kamis, 11 Februari 2021

Hikmah Terlambat Menikah

 Aku melihat murobbiyahku. 

Aku melihat atasan langsung ku di tempat kerja. 

Aku melihat sahabat ku semasa SMA. 

Aku melihat sepupu - sepupuku. 


Sebelumnya aku tak punya gambaran, bagaimana itu bentuknya mencinta. Apa yang harus dilakukan, bagaimana rasa dan sikap itu harus ditunjukkan. Karena yang pernah kudengar, menikah itu belajar mencintai tanpa tapi. Dan cinta itu kata kerja. Bukan sebatas rasa. 


Kalau kamu menikah nanti, mau tidak mau kamu harus belajar mencintai dia yang menikahimu. Seperti apapun kondisinya. Dan dia itu pasti punya banyak aib, punya banyak kekurangan, punya hal-hal yang membuat hatimu tak nyaman, kurang senang. 


Aku tidak bilang tentang hari akad, atau hari setelahnya. Tapi juga tentang bulan-bulan berikutnya, dan puluhan tahun selanjutnya. 


Bagaimana menjalani setiap hari bersama orang yang segala kekurangan nya nyata di depan mata? Meskipun dia kamu cintai sepenuh hati. 


Dari pengalaman orang sekitar lah aku belajar. Ada hikmahnya memang, aku belum menikah sampai usia ini. Aku berkesempatan menyerap pelajaran dulu sebelum terjun bebas ke alam yang baru. Agar aku tidak terlalu asing kelak dengan situasi baru itu. Oh pasti ada yang baru, serba baru. Tentu. Tapi setidaknya, sudah ada referensi. Dan semoga, aku tetap bisa jadi diri sendiri. 

Jumat, 05 Februari 2021

Efek Sosial

 Dengar cerita cerita mengagumkan seputar kehidupan rumah tangga teman-teman.. Lihat story teman-teman seputar tingkah polah anak-anak mereka, apalagi pas momen sedang bercengkrama dengan sang bapak.. Menerbitkan sesuatu di sudut hati : 

Harapan. 

Harapan yang amat indah. 

Bahwa suatu saat kelak, aku juga akan berkesempatan mengalami hal-hal baik itu. 


Semakin tua, segala ketakutan itu semakin menipis, digantikan harapan dan visualisasinya yang kian menebal. 


Semoga, semoga waktunya segera tiba. Dan pada saatnya, semoga aku betul betul siap, serta kuat. Sambil senantiasa bahagia. Setiap saat. 

Sabtu, 30 Januari 2021

Tisu

 Diakui sebagai perempuan. Aneh mungkin. Tapi itulah pertama kalinya aku mendengar potongan kalimat yang seindah itu. Membuat aku merasa diakui. Dan bahwa aku betul betul perempuan, di hadapan mereka, teman-teman baikmu. 


Aku malah baru tahu, perempuan itu identik dengan tisu. Waktu itu hanya sebuah kebetulan, aku membawa sebungkus kecil tisu, ketika teman-teman perempuan kita yang lain tidak ada yang membawanya. Padahal biasanya aku juga jarang punya. Waktu itu paginya rantai motor ku lepas, pas di depan warung. Aku beli tisu ukuran saku buat mbersihin tangan yang kena gemuk. 


Spontanitas yang bodoh Ku ucapkan waktu tisu kecil itu beredar di antara teman-teman mu : jangan dihabiskan ya.. 


Padahal sebenarnya aku hanya ingin punya benda kecil yang bisa menjadi pengikat kenangan untuk kita. 


Tapi ternyata kisah kita bergulir tanpa akhir yang memuaskan. Lagipula, Tisu itu sudah habis, diambil temanku yang baru izin setelah memakainya. Aku tidak bisa apa-apa. Toh itu cuma tisu, sudah buluk pula. Kalau kau melihatnya, paling juga nggak akan ingat apa-apa. 


Sekarang aku selalu punya tisu di kamar asrama ku. Meski kadang tidak kubawa saat bepergian. Bukan lagi karena ucapan penghargaan mu kala itu, (bahwa "wedok tenan" nek nggowo tisu kie), tapi karena ternyata aku memang sering membutuhkan benda itu. Dan lagi, sekarang aku punya uang sendiri yang leluasa untuk kubelikan tisu sekadarnya. Dulu mana kepikiran beli tisu? Barang mahal tak berguna, bagiku dulu. Ya, Mungkin sekarang aku banyak berbeda, menyesuaikan diri dengan hidup yang sekarang. 


Aku tidak ingin bermewah-mewah. Cukup apa yang diperlukan, diadakan. namun jangan sampai kekurangan hingga merepotkan orang lain. Dan prioritas belanja ku, tentu beda dengan teman-teman ku. 


Aku sudah mulai belajar punya harga diri. Bahwa aku bukan manusia papa yang harus selalu dikasihani orang lain. Kita hidup bersama, bersosialisasi, tapi bukan untuk saling mengasihani. 


Ya, aku rindu. Gara gara teringat sepotong tisu. Gara gara apa saja bisa. Tapi tidak lagi seperti dulu. Biasa saja.