Who Amung Us

Kamis, 15 Juli 2021

Isoman Hari ke 6 di Yayasan

Allahumma inni as-alukal Huda, wat-Tuqa wal 'afafa wal ghina


Ya Allah Rabbi, nama itu melintas lagi. Masih. Lagi-lagi.

Sampai kapankah ini harus terus ku alami? Ini menyiksa diri ku sendiri.

Ya Allah, aku mohon perlindungan dari nafsu ku sendiri. Aku mohon ampun dari pikiran-pikiran yang merusak hati. Aku mohon jalan keluar terbaik dari perangkap perasaan yang menipu ini.

Sudah cukup aku buang waktu, energi, air mata, dan segalanya, untuk dia yang bukan siapa-siapa. Berikanlah yang terbaik untuk nya, dan gantikanlah yang lebih baik lagi untuk ku, Ya Allah.

Ini semua melelahkan. Penantian dan kekosongan ini sudah sangat panjang. Engkau saksinya, aku habiskan waktu yang ku luangkan, khusus untuk mempersiapkan. Tapi kenapa masih bayangannya saja yang datang?

Aku memang lemah Ya Allah. Aku memang bodoh. Aku memang naif.

Ujian ini berat sekali Ya Allah. Mohon luluskan aku. Luluskan, dan naikkan derajat ku, Ya Allah. Gantikan segala yang memerihkan ini dengan pahala yang banyak. Dengan kebaikan yang besar di masa depan ku nanti.

Allahumma inni as-alukal Huda wat-Tuqa wal 'afafa wal ghina

Engkau saksinya Ya Rabb, betapa aku berusaha menjaga. Engkaulah saksi ku Ya Allah. Dan Engkaulah penjaga ku. Jaga aku Ya Allah. Lindungi hatiku dari segala yang merusaknya, dari segala hal yang mengganggunya.

Allahumma inni as-alukal Huda wat-Tuqa wal'afafa wal ghina. Aamiin.

Minggu, 20 Juni 2021

Standar Tinggi?

Aku mencari yang tidak perlu berubah. Cukup apa adanya dia saat kami dipertemukan Nya. Sekaligus mencari dia yang begitu juga memandang ku. Cukup baginya, apa adanya aku, saat itu.

Dengan demikian, kami akan cukup puas satu sama lain. Tidak perlu menuntut pasangan nya berubah.

Sepanjang aku belum menemukannya, aku cukup bahagia dengan diriku yang sekarang. Aku cukup menyibukkan diri dengan Segala sesuatu yang kusukai. Dan aku memang masih sibuk menjadi diri terbaik versi ku sendiri.

Siapapun kamu nanti. Semoga saat itu akan datang; saat terbaik, dimana kita sudah sama-sama jadi versi terbaik diri kita. Pada saatnya, pasti Allah akan pertemukan kita. 

Aku masih optimis. Kalau tidak dipertemukan di dunia, akan dipertemukan di surga. Tinggal aku usahakan saja supaya aku cukup layak dirahmati Allah masuk surga, dan ngga usah lama-lama dicuci di neraka. Supaya bisa cepat ketemu sama Dia.

Ya, boleh saja kalau orang bilang aku pilih-pilih. Tapi pengalaman telah membuktikan, lebih baik terlambat tapi dengan orang yang tepat, daripada disegerakan tapi dengan orang yang tidak tepat. Neraka dunia taruhannya.

Aku punya kondisi ku sekarang, punya serangkaian masa lalu, dan aku percaya aku punya masa depan. Aku tidak mau berubah hanya demi seseorang. Cukup bagiku berusaha jadi versi terbaik diriku, dan insyaallah pasti akan ada yang menghargai itu: apa adanya diriku.

Tidak hanya sekali, aku ditolak. Dan tidak cuma sekali pula aku menolak. Fair kan? Padahal yang penting adalah gimana caranya supaya setuju, bukannya saling menolak/ditolak. Masalahnya, susah menjelaskan semua standar ini. Mau dijadikan buku, subyektif sekali juga nanti jadinya. Dan aku malah takut jadi salah, karena memaksakan standar yang kuanggap benar itu, dipakai juga oleh orang lain.

Senin, 14 Juni 2021

Malam Ciwi-Ciwi di Jogja

Maaf Bapak.. kalau selama ini kita pernah pergi bareng, Bapak udah kecapekan, dan anak-anak tak tahu diri ini masih full charge.. Aku sungguh tidak sadar sebelum malam ini. Betapa usia berbanding terbalik dengan stamina. Apalagi untuk orang yang nggak pernah olahraga.

Sejarah malam ini. Menyusuri jalanan Malioboro sekitar 500 meter saja, di saat aku sudah kehabisan energi. Bersama mereka, manusia kalong yang memang hidupnya di malam hari, dan tidur selama ada matahari. Good. Nangis diam-diam. Kaki gempor, panas. Untung udah minum obat jauh sebelum berangkat. Dan Alhamdulillah asam lambung karena kepedasan makan mie setan Gacoan level 6 tadi siang, sudah teratasi setelah ngunyah promaag 2 butir.

Kami meninggalkan kos baru Lili jam 21.34 dan sampai di kos lagi jam 23.30an. Senin 14 Juni.

Kamis, 10 Juni 2021

Retoris

Maafkan aku yang tidak sempurna.

Maafkan aku yang terlalu idealis.

Maaf.

Mungkin harus begini ya, supaya hidup kita genap.


Beruntung sekali kalian yang punya orang tua lengkap sepasang saja hingga akhir usia kalian.


Mengapa di dunia ini harus ada rahasia?

Mengapa?


Mengapa dalam hidup banyak sekali hal yang berbeda?


Mengapa orang tidak mau belajar dari pengalaman?


Mengapa aku selalu salah?

Mengapa maksudku tidak pernah dipahami?


Mengapa aku tidak bisa menanyakan ini Semua pada siapapun?


Mengapa orang begitu egois?


Mengapa aku tidak pernah benar?


Mengapa hidup harus menjadi rumit?


Mengapa orang tidak bisa memaafkan?


Mengapa hari ini teramat sangat panjang?


Mengapa tak ada yang boleh ku percaya?


Mengapa pilihan ku selalu salah?


Mengapa dunia seperti masih baik-baik saja?


Pecah!

Pecah hatiku!

Biarlah!

Tak usah pedulikan lagi!

Buat apa, jika kau tak dihargai?


Besok, pergi!

Senin, 24 Mei 2021

Beneran Cuman Sakit Lapar

 Tadi malam aku baru bisa tidur jam 12 lebih. Lalu bangun menjelang adzan subuh. Langsung prepare buat berangkat, mandi, packing-packing, nyeplok telor, sarapan nggaya pake nasi 🍚 sedikit. Kacamata udah disiapin sejak semalam, jadi aman. Tapii... Habis itu nyari helm, kan. Ternyata helm nya positif beneran ilang.. huhuhu.

Maka kuputuskan untuk beli helm baru.. mumpung dapat rezeki nomplok uang saku dari bapak, banyak. Mungkin Bapak mengkompensasi uangku yang hilang tempo hari. 

Menyusuri jalan dari Pokak, mampir ke Danang ngisi bensin 10.000 doang sama beli air minum botol besar, menuju Pedan, muter-muter, masih kepagian, belum ada toko helm buka, pet shop juga. Kuputari sekali lagi jalan tembus dari Tambakboyo menuju Kedungan. Eh Alhamdulillah ada toko helm yang baru mau dibuka. Rak-rak nya belum sampai dipajang keluar. Aku masuk. 

Ada dua pilihan helm yang ditawarkan, karena aku langsung menanyakan yang murah. 75.000 dan 150.000. Ku coba, ku timbang-timbang, akhirnya aku pilih yang 150. Lebih bagus. Ku coba ngecek ulang pet shop, tetap masih belum buka. Yaudah, beli Maxi dry foodnya kapan-kapan aja. 

Aku balik kanan. Memenuhi tangki bensin. Menuju makam Yayik. Mendoakan sebentar. Cerita-cerita sebentar. Lalu pamit dan langsung menuju Magelang.

Beberapa kali lampu merah lama, aku minum sepuasnya. Di setelah Prambanan, ada tenda ⛺ semacam posko mudik polisi, atau mungkin penyekatan mudik. Di 100 meter setelah gapura selamat datang Jawa Tengah (Magelang), ada plang bertuliskan penanda penyekatan mudik.

Sampai IF, capek sekali rasanya. Kebelet pipis banget, langsung mampir KM SMA gedung akhwat. Menuju dapur IF, lokasi halal bihalal. Rupanya aku terlambat sekali. Sudah jadwalnya SMA, yang SMP sudah bubar menuju kantor masing-masing.

Ada Snack syukuran nikahnya mba Ima. Langsung salam salaman, maaf maafan. Lalu kerja. Dengan kepala cenut-cenut. Bikin soal angket, dalam 2 jam aku berhasil membuat 5 soal yang amat sederhana.

Makan siang di dapur bareng semuanya. Nggaya nasi 🍚 nya seuprit, sayur sop agak banyak tapi bukan porsiku. Soalnya keburu-buru. Dari awal aku niat pengen makan di dapur langsung. Tapi kok teman-teman rombongan ku yang ke dapur itu semua mbungkus, dimakan di asrama semua. Aku gojag-gajeg mau makan dimana. Akhirnya aku mbungkus deh. Karena aku masih lama, temen-temen tak persilakan duluan.

Ehh di saat aku tinggal mbungkus sayurnya, ternyata datanglah rombongan yang mau makan di dapur. Jadilah yang tak bungkus itu dialasi piring, buat tak makan di sana langsung. Sayur ku baru sedikit, tapi karena sudah keburu diantri rombongan panjang, yaudah, secukupnya itu aja. Aku makanlah dengan nikmat.

Tapi setelah balik ke kantor, jadi sepi, dan rasanya kok otak ku lebih kreatif memunculkan ide kalo mikir sambil ngetik di HP dalam posisi rebahan.. ketimbang duduk manis di depan laptop di kantor.

Jadilah aku ke kamar. Masih kotor. Kubersihkan. Kasur bantal kujemur di lapangan basket. Selesai 1 jam kemudian. Dengan gamis cantik basah kuyup karena keringat. Lalu aku ganti baju daster, istirahat, kipasan. Terasa sekali aku sakit kepala parah. Rebahan di lantai, masih sakit banget. Tak sambil liat video-video edukatif singkat yang menghibur. Wulan datang. Lalu kami mengobrol sambil ngemil kacang koro. Masih dengan kepala sakit.

Daster ku basah keringat. Ganti lagi pake daster satunya. Lanjut rebahan di lantai sama Wulan, sambil ngobrol diselingi nonton video. Kepala masih sakit banget. 

Langit mulai mendung, dan sebentar lagi asar. Saatnya mengambil kasur. Daster ku karena bawahnya ngatung, kudobeli gamis ijo yang niatnya mau dipakai besok. Terus Karena ngga punya tebah, guling dan bantal ku pukulkan bergantian ke kasur. Lalu kubawa naik ke hujroh Du2,5. 

Gamis ku lepas. Daster ku basah lagi. Kipasan lagi. Kepala tambah pusing sekali.

Adzan. Aku wudhu. Di perjalanan menuju KM, aku berubah niat. Mandi sekalian ah. Di KM, pusing sekali, aku takut apa kayak gini ya yang dirasakan Yayik di malam terakhir nya? Tapi kupaksakan mandi. Kusiramkan air pelan-pelan, bertahap dari kaki sampai ke muka. Wudhu. 

Sampai kamar, gantian Wulan yang ke KM. Aku ganti pakai daster yang sebelumnya, udah agak kering, tinggal lembab sedikit. Lalu kami sholat. 

Aku curhat soal sakit kepala parah ini ke Wulan. Aku curiga, apakah ini kurang gula. Secara aku hari ini capek, kurang makan, kurang tidur semalam. Terus mengecek persediaan bahan makanan. Ada mi goreng hype abis rasa pedas Korea. Air habis. Sejak bangun tidur sampai ashar, aku sudah minum 3 liter air putih, dengan 4x pipis. 

Kami berdua mengambil air ke dapur. Daster kulapis jaket, jilbab ijo yang mau dipakai besok. Habis ambil air, aku langsung bikin mie sambil menyingkirkan barang-barang supaya kasur habis ini bisa langsung digelar.

Mie matang. Aku makan. Usai makan, bikin wedang jahe instan. Langsung dihabiskan. Sakit kepala berkurang.

Ya Allah, ternyata beneran ini cuman sakit karena lapar. Huhuhu. Maaf badan, ku dzolimi seharian ini. Biasanya makan porsi besar, hari ini makan porsi kecil padahal aktivitas lebih berat daripada biasanya. 

Lain kali harus ku ingat-ingat nih, kalo mau habis liburan, sebelum waktunya balik, badan harus dikondisikan. Porsi makan dikurangi, biar nggak njeglek pas udah balik pondok. Jam biologis untuk tidur dinormalisasi. Biar hari hari awal kembali bekerja itu bisa bangun pagi dan stamina tinggi.

Ini aku belum mikirin soal angket lagi. Malah blogging. Ish ish ish...

Rabu, 19 Mei 2021

Gagal Fokus Penghujung Liburan

Aku lucu. 

Niatnya mau menggolkan makalah materi BK masa Pandemi ke prosiding nya lokakarya AKBIN Jatim. Awalnya tahu deadline mepet, sehari dua hari doang. Tapi masih nekat disela baca novel Selamat Tinggal-Tere Liye, ratusan halaman sampai tamat. 

Lalu memastikan ulang deadline yang dipertanyakan kevalidannya, langsung ke contact person. Ternyata, yang valid deadline nya masih 5 harian. Voila. Tambah ndadi. 

Malah nggladrah, dan mau bikin akun WA bisnis lah, mau bikin konten Instagram esai lah, mau ikutan WrC lagi yang grow intermediate lah, lalu mendadak tertarik baca-baca Islamic Finance gegara ditanyai ilil referensi pembicara yang ahli dalam bidang itu, dan aku secara spontan merekomendasikan teman lama di RZ apa ya kalo tidak salah. Pokoke pernah kenal.

Malah jadi kepo sama orang nya, hahaha, baca2 snap nya, dan ngalir browsing seputar UNDP+Indonesia+Unlocking yang dia rekomendasikan di snap nya itu. Harusnya sekarang kan aku lagi browsing jurnal seputar BK, Pandemi, dan semacamnya. Eh malahan sekarang blogging genti. Astaghfirullah. Fokus, fokus!

Apa kabar hafalan..??!!

Minggu, 02 Mei 2021

Pesan Kesan Mukhoyyam Qur'an Virtual Ramadan STIT 1442 H

 Seru banget. Sayangnya saya terlambat gabung karena agenda tidak sedang kosong di lembaga. Dan hari pertama kemarin sedang kurang sehat.


Saya malu banget pas lihat story' teman, dia ikut MQV dalam keadaan listrik mati, direwangi pakai lilin. Saya yang segala fasilitas tersedia, malah nggak ikut pas hari pertama.


Langsung deh ngejar ketertinggalan. Tapi ya tetep terlanjur ketinggalan jauh. Yang lain seharian kemarin berinteraksi dengan Qur'an, saya cuman tilawah alakadarnya, lupa kalau ada MQV karena berbagai agenda luring di depan mata.


Saya sudah pernah menghafalkan Ar-Rahman sebelumnya, sekitar 8-10 tahun yang lalu, sampai ayat pertengahan. Tapi karena ngga pernah dimurojaah, ngga pernah dipakai dalam salat karena takut salah, akhirnya berantakan. Lupa semua, yang sempat kepancing ingat, urutan ayat-ayat nya terbolak-balik ngga jelas. 


Semalaman berusaha nge-SAR hafalan dengan metode menirukan murottal (cara saya dulu sampai bisa pernah punya hafalan). Sampai tengah malam, akhirnya stop, tidur dulu. Saya cuma bisa tidur sebentar karena takut ngga cukup waktunya buat tahajud setengah juz. Alhamdulillah berhasil QL. Walaupun dengan penuh perjuangan, surat2nya lupa2, ayat-ayat lari ke surat lainnya.. berkali-kali ganti surat. Sampai akhirnya baru bisa ambil makan sahur di dapur pondok pas masjid-masjid sekitar udah kasih kode imsak. Sahur ngebut. Lanjut subuh dan ma'tsurat. 


Sambil ngempet kebelet, langsung join Zoom nya. Di tengah-tengah tilawah pembuka, saya tinggal dulu ke kamar kecil. Materi nya seru, dan bikin merhatiin (sedikit pusing sih) karena slide nya semua pakai Arab gundul.


Olahraga sebentar, menyerap vitamin D, terus saya curi-curi waktu buat nulis dalam rangka ikut lomba. Sampai akhirnya Zoom kedua hari Ahad. Selama materi lancar. Tapi waktu tanya jawab, saya sambil rapid antigen di Poskestren.


Tiba waktunya halaqah Qur'an, saya setorkan hafalan semalam. Dan benar, cuman dapet 1 muka aja udah kebolak-balik parah. Maka saya stop aja dulu. Perbaiki hafalan dulu. 


Bersih2 diri, sholat dhuhur, istirahat sebentar, terus lanjut halaqah terakhir. Saya pakai metode baru. Alhamdulillah impian sederhana beli Qur'an hafalan mudah sudah terlaksana, dan akhirnya tadi siang saya mulai menggunakannya. Alhamdulillah, ternyata beneran memudahkan. Di detik-detik injury time, setoran ke musyrifah. Alhamdulillah lumayan lancar. 


Hari ini aku belum tilawah lagi. Tapi Alhamdulillah, Hafalan QS.Ar-Rahman ku terselamatkan. 2 muka pertama. Bismillah, aku bertekad menjaga dan melanjutkan ini. Impian menjadi Hafidzah Qur'an itu memang hebat sekali, berat sekali, tapi bukan mustahil. Apalagi sekarang sudah punya sarana yang lebih memadai. Ini perjalanan panjang. Dan langkah pertama sudah kumulai hari ini, sejak menyobek plastik segel Qur'an baru ku ini. Bismillah, laa hawla wa laa quwwata illaa billaah.